
Release the Darkness
Bab 3
"Heaven, ada apa? Ah... maafkan aku sayang, aku sudah keterlaluan." Kaylein langsung merengkuh kedua pundak Heaven, merasa sangat bersalah ketika melihat wajah gadis itu yang berubah pucat.
Berpikir jika gadis itu belum siap dengan sentuhannya, memang selama ini hubungan mereka sama sekali belum pernah mencapai tahap itu. Hal terjauh yang mereka lakukan hanyalah ciuman dengan saling melumat bibir dengan lembut. Tak ada pertarungan lidah, berbagi saliva ataupun tangan yang merayap kemana-mana.
Mereka memang sudah lama menjalin hubungan, hampir empat tahun, selama itu pula Kaylein selalu berusaha menjaga perasaan dan kehormatan kekasihnya. Hal itu pulalah yang membuat perasaan Heaven selalu menguat seiring dengan berjalannya waktu.
"Maafkan aku sayang, sungguh maaf," gumam Kaylein sambil menempelkan keningnya dengan kening Heaven.
Heaven hanya menggelengkan kepala dan memeluk Kaylein dengan erat. Dalam benaknya saat ini sama sekali tak mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Kaylein. Namun yang sekarang ia rasakan hanyalah ketakutan. Takut akan apa yang baru saja terjadi.
Heaven tahu dengan pasti, angin yang berhembus tadi bukanlah angin biasa, angin itu terasa... entahlah, begitu dingin dan membuat perasaan Heaven tidak enak. Semakin meyakinkan Heaven jika bangunan ini memang menyimpan sebuah kekuatan misterius, kekuatan yang tidak pernah ingin diketahui oleh gadis itu.
Sebut saja dia aneh. Bukankah ia sengaja pergi ke tempat-tempat misterius hanya untuk memenuhi obsesinya agar bisa melihat mahluk immortal? Lalu kenapa di saat dia mungkin sudah dekat dengan obsesinya, gadis itu malah ketakutan setengah mati?
"Kay, ayo kita keluar dari sini." Gumam Heaven lirih karena teredam mantel Kaylein yang masih berada dalam pelukannya.
Setelah terdiam beberapa saat, Kaylein akhirnya mengangguk dan melepaskan pelukan Heaven. Menggenggam tangannya dan menuntun gadis itu agar berjalan mengikutinya.
"Ya, kita sepertinya sudah memasuki semua ruangan, seperti biasanya, tak ada apa-apa di tempat ini. Apa mahluk immortal itu memang tak pernah ada?" gumam Kaylein sambil melangkah menuju pintu keluar. Namun langkah mereka langsung terhenti ketika melihat di luar tengah terjadi hujan salju yang sangat lebat, bahkan mungkin bisa dikatakan badai.
"Badai salju? Aneh sekali." Gumam Kaylein namun tetap masih bisa di dengar Heaven. Memang ketika mereka masuk tadi, cuaca di luar sangat cerah. Namun pergantian cuaca yang cukup ekstrim sepertinya sudah bukan hal yang baru pertama kali mereka lihat, jadi bukan hal yang aneh lagi bagi mereka.
"Aneh? Kenapa?" tanya gadis itu kemudian. Merasa kata 'aneh' di sini, karena hal yang berbeda.
"Sayang, ini New Orleans. Tempat yang beriklim subtropis basah, sangat jarang turun salju. Itu berarti badai salju sudah menjadi hal yang benar-benar mustahil." Satu fakta lagi yang meyakinkan Heaven jika tempat ini memang benar-benar aneh.
"Jadi sekarang harus bagaimana?" Kaylein terdiam sebentar, memikirkan langkah terbaik yang bisa mereka lakukan.
"Mau bagaimana lagi? Sepertinya kita harus bermalam di sini. Di luar sedang badai, bukan pilihan yang bijak jika kita keluar dalam keadaan seperti itu."
"Tapi sebentar lagi malam Kay, aku tak ingin terjebak di sini hingga malam hari."
Kaylein mengangkat tangan kirinya, melihat pada arloji yang ia kenakan. "Masih ada waktu dua jam sebelum matahari tenggelam dengan sempurna. Aku yakin sebelum itu, badai salju ini pasti sudah berhenti."
Heaven menggigit bibirnya, merasa ragu dengan ucapan Kaylein. Bagaimana jika badai salju tak akan berhenti hingga esok? Haruskah mereka bermalam di tempat ini? Siang saja Heaven sudah merasakan ada yang tidak beres dengan bangunan ini, bagaimana malamnya? Heaven bergidik dengan pikirannya sendiri. Hanya Tuhan yang tahu, mahluk apa saja yang menghuni tempat ini. Dan gadis itu, sama sekali tak ingin mengetahuinya.
Dengan ekspresi ragu dan mata yang terus-menerus memandang dengan defensif ke sekeliling ruangan, Heaven akhirnya menggangguk lemah dan pasrah ketika Kaylein menuntunnya duduk di sebuah sofa yang berada di ruang tengah. Tersenyum penuh kemenangan, Kaylein berjalan dengan langkah lebar ke arah perapian yang berada di pojok ruangan. Dirogohnya tas ransel yang selalu ia bawa kemana-mana dan mengeluarkan sebuah korek api dari sana.
"Hei sayang, ada sebuah perapian, setidaknya kita tak akan mati kedinginan di sini." Kata Kaylein dengan penuh semangat.
Heaven hanya tersenyum mebalas ucapan Kaylein. Ya... kita memang tidak akan kedinginan, dan aku harap, kita tak akan mati karena alasan yang lainnya. Lirih Heaven dalam hati.
Menit demi menit berlalu, di luar mulai terlihat gelap dan Heaven semakin gusar. Hingga akhirnya matahari tenggelam dengan sempurna, penerangan hanya berasal dari perapian yang tadi dinyalakan Kaylein. Badai salju tampak mulai mereda, masih terlihat butir-butir salju yang berjatuhan, hanya saja tidak selebat beberapa jam yang lalu. Heaven bergegas mengambil tasnya dan menarik tangan Kaylein agar segera berdiri, sehingga mereka bisa secepatnya keluar dari tempat ini.
"Ayo Kay, aku ingin keluar secepat mungkin dari sini, aku lapar dan semua persediaan makan kita dengan bodohnya tertinggal di mobil." Kaylein hanya tersenyum melihat kekasihnya bersungut-sungut.
Ketika hampir mencapai pintu keluar, secara tiba-tiba pintu kokoh itu menutup dengan debaman keras, bahkan hingga membuat lantai dan dinding di dekatnya ikut bergetar pelan. Kaylein tersentak dan memandang tak percaya ke arah pintu, sedangkan Heaven nyaris melompat karena tak siap melihat apa yang baru saja terjadi.
"Well, well, well... sepertinya tamu kita sedang terburu-buru."
Heaven dan Kaylein langsung menoleh ke arah tangga, di mana saat ini tengah berdiri seorang -atau setidaknya ia terlihat seperti itu, tengah menatap mereka dengan seringai mencurigakan. Pria itu sesungguhnya sangat tampan jika saja raut sombong dan congkak itu disingkirkan dari wajahnya.
"Kenapa terburu-buru manis? Bukankah kalian begitu penasaran dengan eksistensi kami? Lalu kenapa pergi bahkan sebelum kami sempat memperkenalkan diri?"
Heaven memejamkan mata, menahan nafas dan menggenggam tangan Kaylein dengan erat ketika sebuah suara lain muncul dari belakang tubuhnya. Terlalu dekat mungkin nyaris menempel karena Heaven bisa merasakan dingin yang menusuk di punggungnya.
"Ah... breath baby, breathe..." ucap suara itu lagi karena merasakan Heaven menahan nafasnya sejak tadi. Gadis itu sama sekali tak ingin menatap ke belakang, takut dengan apapun yang berada di belakangnya saat ini.
"Ehm!" pria yang masih berdiri di atas tangga mulai menunjukkan ekspresi kesal yang dibuat-buat. Sedangkan pria yang berada di belakang Heaven, hanya terkekeh mendengarnya.
"Jadi Louis, kau pilih mana? Yang pria atau wanita?" Heaven memejamkan mata, tangannya bergetar ketika merasakan jilatan pada daun telinganya.
"Kalian boleh melakukan apapun pada pria itu, tapi kalian jelas tahu, wanita itu milikku."
Kali ini Kaylein dan Heaven mengalihkan pandangan mereka ke arah sofa yang baru beberapa menit yang lalu mereka duduki. Di sana terlihat seorang pria yang sangat tampan, berkulit putih pucat dan memiliki tinggi tubuh yang sangat proforsional, hanya saja ekspresi dingin pria itu mampu membuat suasana terasa begitu mencekam.
Di sebelah pria itu terlihat seorang wanita dengan rambut pirang keemasan. Wajahnya tampak begitu cantik hingga terlihat tak masuk akal. Wanita itu duduk dengan anggun, memilin-milin rambutnya yang ikal bergelombang sambil sesekali mengerling ke arah Kaylein dan Heaven.
Pria yang sedari tadi berada di belakang Heaven mendengus kemudian berjalan ke depan, sehingga kini Heaven bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Tampan... sangat tampan. Dengan warna rambut dan bola mata cokelat keemasan. Heaven mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa semua yang ada di sini terlihat begitu rupawan? Wajah mereka bahkan terlihat nyaris tak masuk akal.
Pria di depannya kembali mendengus, "itu bonus dari kutukan, sayang~"
Anda Mungkin Juga Suka





