
Rapat Penting Itu Hanya Dusta
Bab 3
(Alea Zahra POV)
Pagi berikutnya, aku sudah siap untuk berangkat kerja. Tiba-tiba, Roni muncul di pintu kamarku.
"Alea, biar aku antar kamu ke kantor," katanya, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
Aku menatapnya. Waktu sudah mepet, jika aku naik taksi online atau bus, aku pasti terlambat.
"Oke," kataku singkat.
Aku berjalan menuju mobilnya. Saat kubuka pintu penumpang, aroma parfum Chika langsung menyeruak, menohok hidungnya. Lebih kuat dari kemarin malam. Aku melongok ke dalam. Di jok penumpang, ada sebuah bando kelinci berwarna pink, sebuah botol minum berwarna ungu dengan stiker karakter kartun, dan sebuah tas kecil berisi perlengkapan make up. Semuanya barang-barang miliknya.
Roni yang melihatku menatap barang-barang itu, sedikit terbatuk. "Chika lupa barangnya kemarin. Dia memang ceroboh."
Aku hanya mengangguk, tanpa ekspresi. Aku tahu Chika tidak ceroboh. Chika sengaja. Chika sengaja meninggalkan barang-barang itu, seolah ingin mengatakan bahwa dia berkuasa di sini.
Bahkan dia juga pernah memposting foto mobil Roni di fitur 'Close Friend' dengan caption, "Mobil Pak Bos sudah jadi mobilku sekarang hihihi."
Aku tidak tahu kenapa Roni melakukan ini. Apa dia ingin membuatku cemburu? Atau dia hanya ingin menunjukkan betapa dia mencintai wanita itu?
Aku memilih tidak berkomentar. Berdebat tidak akan ada gunanya.
"Aku duduk di belakang saja," kataku, lalu berbalik dan membuka pintu belakang.
Roni terdiam, tapi tidak membantah. Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Di tengah perjalanan, Roni menyodorkan sebotol minuman kemasan kepadaku. "Sudah sarapan? Ini, minum dulu."
Aku melihat ke sampingnya. Di atas jok, ada banyak snack dan makanan ringan berserakan. Semuanya adalah makanan favorit Chika. Aku mengenalinya karena Chika sering mempostingnya di Instagram.
Aku teringat betapa Roni dulu selalu menjaga kebersihan mobilnya. Dia tidak akan pernah membiarkan sebutir remah pun jatuh di jok mobilnya. Pernah suatu ketika aku demam dan mual di perjalanan pulang. Aku memohon sebungkus biskuit agar perutku terisi.
"Jangan makan di mobilku," katanya dingin. "Nanti kotor."
Aku menghela napas. Ah, ya. Cinta dan tidak cinta, memang terlihat jelas.
Aku menggeleng. "Tidak, terima kasih." Lalu aku memalingkan wajah ke jendela, menatap gedung-gedung yang berlalu lalang.
Kami tiba di kantor. Aku segera turun dan masuk ke dalam. Aku masih punya tanggung jawab. Proyek penting yang sudah lama kukerjakan harus selesai. Aku tidak ingin meninggalkan perusahaan dalam keadaan kacau.
Sepanjang pagi, aku sibuk dengan pekerjaanku. Mataku terasa berat karena kurang tidur. Aku beranjak ke dapur untuk membuat kopi. Tiba-tiba, seorang kurir masuk, membawa beberapa kardus besar.
"Ini ada kiriman untuk Bapak Roni," katanya.
Kardus-kardus itu berisi minuman dan makanan ringan. Rekan-rekan kerjaku langsung heboh.
"Wah, Pak Roni memang yang terbaik!"
"Iya nih, tahu saja kita lagi kelaparan."
"Pasti buat Chika nih, kan Chika lagi diet dan suka banget minuman ini."
Obrolan mereka seperti kaset rusak yang terus berputar, mengorek luka lama.
Anda Mungkin Juga Suka





