
RAHIM YANG DIPINJAM SAHABATKU
Bab 2
🏵️🏵️🏵️
“Tapi Siska sangat percaya padamu. Dia yakin kalau kamu mampu menjadi istri yang terbaik untukku.”
“Aku bersedia melakukan semua ini demi orang yang aku sayangi. Aku harus berusaha ikhlas menerima kenyataan pahit ini.”
“Jadi, kamu merasa terpaksa menikah denganku? Padahal aku sangat bahagia karena kamu akan mewujudkan harapkanku dan orang tuaku. Aku anak tunggal yang mengharapkan keturunan dan penerus dalam keluarga. Siska tidak dapat mewujudkan harapan itu.”
“Selama ini, aku selalu berpikir kalau kamu sangat mencintai Siska dengan tulus, tapi ternyata ….”
“Aku ini laki-laki normal, wajar ingin memiliki istri yang mampu memenuhi hakku. Aku juga tidak mau mengecewakan orang tuaku.” Kenzo memberikan penjelasan kepada Tasya.
“Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Aku akan mewujudkan harapanmu itu malam ini. Demi sahabat dan orang yang kusayangi, lakukanlah sesuai dengan keinginanmu.”
Tasya pasrah dengan apa yang Kenzo lakukan. Hatinya menangis pilu karena harus menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya kepada laki-laki yang tidak dia harapkan sama sekali. Dia juga membayangkan bagaimana perasaan Siska saat ini.
Dia telah berhasil memenuhi hak suami sahabatnya yang juga merupakan suaminya sendiri. Sementara Siska yang kini berada di kamarnya, harus menitikkan air mata mengingat laki-laki yang dia cintai berada dalam pelukan wanita lain.
Siska harus rela berbagi suami demi laki-laki yang dia cintai. Dia ingin mewujudkan harapan Kenzo dan orang tuanya yang ingin segera memiliki keturunan dan penerus dalam keluarga. Dia berpikir kalau Tasya dapat membantunya.
Sebenarnya, Siska tidak rela menyerahkan suaminya kepada wanita lain, walaupun sahabatnya sendiri. Dia berharap setelah Tasya melahirkan anak untuk dirinya dan Kenzo, dia akan meminta istri kedua suaminya itu menjauh dari kehidupan rumah tangganya.
🏵️🏵️🏵️
Siska melihat pancaran keceriaan di wajah Kenzo hari ini. Dia sangat tahu kalau laki-laki yang sangat dia cinta itu telah mendapatkan hak yang selama ini diinginkan. Tasya sebagai istri kedua suaminya itu yang telah memberikannya. Siska merasa sesak membayangkan hal itu, tetapi dia berusaha kuat dan tegar.
Harapan Kenzo dan orang tuanya ingin memiliki keturunan sebagai penerus keluarga. Siska ingin mewujudkan keinginan itu melalui Tasya. Dia tahu kalau sahabatnya tersebut sangat terpaksa memenuhi permintaannya, tetapi berusaha menerima semuanya demi orang-orang tersayang.
“Pagi, Sayang.” Kenzo menghampiri Siska yang telah menunggunya di meja makan untuk menikmati sarapan. Dia mencium keningnya.
“Pagi juga, Mas. Tasya mana?” Siska menanyakan keberadaan Tasya yang tidak bersama Kenzo.
“Masih di kamar mandi,” jawab Kenzo lalu duduk di kursi yang telah tersedia.
“Sepertinya bahagia banget hari ini, Mas.” Siska ingin tahu jawaban suaminya.
“Kamu yang membuatku bahagia, Sayang.”
“Syukurlah kalau kamu akhirnya kembali merasakan kebahagiaan itu.”
“Terima kasih, Sayang.”
Hati Siska sangat sakit mendengar kata terima kasih yang keluar dari mulut Kenzo. Dia merasa yakin bahwa dugaannya selama ini ternyata benar. Kenzo mulai tidak perhatian kepadanya karena merasa tidak bahagia setelah dirinya tidak mampu memenuhi hak laki-laki tersebut.
Sekarang, Siska kembali bingung. Dia tidak pernah mengatakan kepada Kenzo kalau pernikahan dengan Tasya hanya sementara. Setelah sahabatnya itu melahirkan anak untuk keluarga kecil mereka, Siska akan meminta Tasya menjauhi mereka.
“Oh, ya, Sayang, aku minta maaf.” Kenzo kembali membuka suara.
“Minta maaf untuk apa, Mas?”
“Jangan salahkan aku jika akhirnya makin mengagumi Tasya. Dia telah menyerahkan sesuatu yang sangat berharga padaku.” Hati Siska terasa perih mendengar pengakuan suaminya.
“Apa kamu ingin mengungkit masa laluku, Mas?” tanya Siska kepada laki-laki itu.
“Jangan salah paham, Sayang. Aku ikhlas menerima kamu dulu, karena aku mencintaimu.” Kenzo meraih tangan Siska.
“Udahlah, Mas. Sekarang aja kamu udah berani membandingkan aku dan Tasya. Bagaimana nanti? Apa kamu akan mencampakkan aku?” Siska sedih karena merasa dibanding-bandingkan dengan Tasya.
“Itu nggak mungkin. Kamu istriku.”
“Lupakan masalah ini. Sekarang kamu sarapan.” Siska makin ragu dengan hati suaminya saat ini.
Sementara itu, Tasya masih bertahan di kamar mandi. Dia meratapi apa yang telah terjadi terhadapnya. Dia belum mampu menepiskan bayangan penyerahan diri kepada laki-laki yang tidak pernah dia cintai, juga merupakan suami sahabatnya sendiri.
Dia merasa semua ini masih seperti mimpi yang datang menghantui. Dalam hitungan menit saja, sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya telah jatuh ke tangan orang yang tidak dia harapkan sama sekali. Dia melakukan semua itu demi keluarga, juga membantu sahabatnya.
===============
Anda Mungkin Juga Suka





