
Rahim Satu Miliar Milik CEO Arogan
Bab 2
“Sayang sekali. Padahal aku sudah sangat berbaik hati menawarimu secara baik-baik Arsyana.”
Devina membalas dengan seringaian licik terukir di wajah cantiknya, itu semakin membuat Arsyana merinding.
Namun, Arsyana berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menghadapi Devina. Dia tidak mau terlihat lemah di depan wanita, yang menurutnya sangat aneh sekaligus gila itu.
Devina lalu melirik pada asistennya yang duduk di kursi depan, menandakan sebuah perintah.
“Telepon dia, sekarang.”
Laki-laki yang sedari tadi hanya diam dan menyimak dan duduk disamping sopir itu langsung mengeluarkan sebuah smartphone dari dalam tas hitam yang dipangkunya. Lalu dia menghubungi seseorang dengan menekan beberapa nomor, dan memastikan panggilan telepon itu tersambung, baru dia memberikannya kepada Devina.
“Ini, Nyonya.”
Devina mengambil ponsel itu, dan langsung menyapa seseorang di balik telepon.
“Halo, paman. Ini aku Devina.”
Devini melirik tipis ke arah Arsyana di sampingnya, sambil mengulas senyuman licik.
“Apa pasien bernama Qyanara Jasmine, benar dia dirawat di rumah sakit milikmu, paman?”
Seketika mata Arsyana langsung melebar saat Devina menyebut-nyebut nama ibunya.
“Aku minta, paman keluarkan saja wanita itu dari rumah sakit–”
Kata-kata Devina langsung terputus saat Arsyana merebut paksa ponsel itu dari tangannya.
“Apa-apaan ini, Bibi?!”
“Dengarkan aku Arsyana, aku sama sekali tidak main-main. Jadi sebaiknya kamu tidak menolak tawaranku.”
Seketika raut wajah Devina langsung serius, dan kembali melanjutkan perkataannya untuk mengancam Arsyana.
“Karena, jika kamu menolaknya, aku bisa saja menendang ibumu saat ini juga dari rumah sakit pamanku!”
Kali ini tampak jelas, kalau ancaman Devina pada Arsyana tidaklah main-main.
Arsyana menatap Devina dengan penuh rasa tidak percaya. Bagaimana bisa, wanita itu menawarkan hal yang gila kepadanya dan mengancamnya seperti itu?
Sekalipun gadis itu memang sangat membutuhkan uang. Namun tetap saja, untuk mengandung bayi dari suami orang lain, itu hal yang gila menurut Arsyana.
Bahkan, meski sesulit apapun kehidupannya sekarang ini, Arsyana tidak pernah sekalipun memiliki pikiran untuk menjual diri hanya demi mendapatkan uang.
Arsyana menggenggam erat smartphone yang direbutnya dari Devina dengan gemetar, sekalipun napasnya terasa memburu karena menahan emosi, tapi tubuhnya justru terasa sangat lemas. Tatapan mata gadis itu mulai berkaca-kaca menahan buliran bening yang seakan menyeruak memaksa untuk keluar dari pelupuk matanya.
Arsyana tertunduk sesaat, dia menahan kuat untuk tidak menangis di hadapan wanita yang dianggapnya gila itu.
Segenap kemampuannya, Arsyana berusaha keras untuk terlihat tegar di hadapan Devina yang saat ini menatapnya, seakan-akan wanita itu sedang mengejek keadaan dirinya saat ini.
Devina memperhatikan gelagat Arsyana yang tertekan sekaligus kebingungan untuk mengambil keputusan yang tepat. Dia kemudian berinisiatif untuk memberikan waktu kepada Arsyana agar bisa berpikir lagi.
“Baiklah, aku beri waktu kau dua hari. Ingat, hanya dua hari! Dan kamu harus memutuskan dengan suka rela, sebelum aku benar-benar memaksamu!”pungkas Devina penuh penekanan.
“Keluarkan dia!”titah Arsyana pada asistennya.
“Baik, Nyonya,”sahut Sang Asisten, menganggukan kepala.
Lalu asisten Devina pun keluar dari dalam mobil, membukakan pintu mobil di samping Arsyana untuk mempersilahkannya keluar dari dalam mobil.
“Silahkan keluar Nona,”ucap Sang Asisten pada Arsyana.
Arsyana yang sesaat diam membeku, sontak menoleh ke arah asisten Devina, lalu mengangguk pelan, bersiap keluar dari dalam mobil.
Setelah Arsyana keluar, asisten Devina pun kembali memasuki mobil. Lalu mobil sedan mewah berwarna hitam itu berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Arsyana di tempatnya semula.
Seketika Arsyana terjatuh ambruk di trotoar jalan sambil menatap mobil sedan itu menjauh, dan menghilang dari pandangannya.
Arsyana kembali mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia mencerna kembali detail ancaman yang dilayangkan Devina padanya, serta tawaran gila untuk mengandung bayi dari laki-laki yang tidak dikehendakinya.
* * *
Di sepanjang perjalanan menuju kantor suaminya, Devina terus saja berpikir sambil tersenyum licik. Karena akhirnya dia menemukan seorang gadis yang tepat untuk mengandung bayi dari suaminya, Kelvin, dengan membayar rahim gadis itu seharga satu miliar. Nominal yang terbilang kecil untuk orang kaya sepertinya.
Niatan Devina mungkin terkesan gila. Namun dia melakukan itu untuk bisa mewujudkan segala ambisinya, agar tidak ditendang dari keluarga Daviandra karena kemandulannya, yang menyebabkan Devina tidak bisa memberikan keturunan untuk Kelvin.
Hingga akhirnya, muncullah ide gila di benak Devina. Dia mendapatkan ide untuk membayar rahim gadis lain, agar bisa mengandung bayi dari suaminya sendiri, hingga bisa memiliki seorang bayi yang selama lima tahun terakhir sangat dinantikan di dalam pernikahannya bersama Kelvin selama ini.
Setibanya di gedung kantor, Devina bergegas menuju ke lantai 18, dimana ruangan kerja Kelvin berada.
“Sayang!”
Devina langsung saja berteriak memanggil Kelvin, begitu dia memasuki ruangan kerja suaminya.
“Ah, Devina. Sayangku.”
Kelvin langsung tersenyum menyambut kedatangan istri tercintanya.
Devina menghampiri Kelvin, lalu mengambil posisi duduk di pangkuan Kelvin dengan manja.
“Tumben sekali kamu datang, Devina?”tanya Kelvin.
Tangan kekar sang pengusaha muda itu merangkul pinggang ramping milik Devina, dan merapatkan tubuh keduanya sampai begitu rapat.
“Aku sangat merindukanmu, Kelvin sayang. Tentu saja aku akan datang berkunjung untuk melepaskan rinduku ini," jawab Devina, matanya berkedip nakal menggoda Kelvin.
Kelvin seketika terkekeh dengan kelakuan nakal istrinya itu, dan dia pun langsung meraih sebuah remote kontrol di atas meja kerjanya. Lalu menekan tombol remote itu, hingga sebuah pintu menuju ke sebuah ruangan rahasia di balik dinding ruangan kantornya terbuka secara otomatis.
Anda Mungkin Juga Suka





