
Rahim Satu Miliar Milik CEO Arogan
Bab 3
Kelvin langsung saja memangku tubuh Devina, dan membawanya masuk ke dalam ruangan rahasia, yang dijadikannya sebagai kamar pribadi di saat dia berada di kantor.
“Buktikan padaku Devina, kalau kamu memang merindukanku,”tantang Kelvin sambil tersenyum tipis, menatap Devina dengan sorot mata nakal.
“Baiklah, sayang.”
Devina menerima dengan sangat baik tantangan dari suaminya Kelvin. Dia melingkarkan kedua lengannya di pundak sang suami, sambil menyandarkan kepalanya dengan lembut.
Begitu keduanya memasuki kamar rahasia milik Kelvin, pintu langsung tertutup kembali secara otomatis melalui remote kontrol di bawah kendali Kelvin.
Mereka berdua langsung menghabiskan waktu istirahat siangnya dengan pergulatan panas antara sepasang suami-istri yang di mabuk cinta.
“Aah …”
Desah panjang dari puncak kenikmatan yang berhasil mereka berdua capai. Suasana sejenak menjadi hening, di saat keduanya masih menikmati sisa-sisa rasa nikmat dari pergulatan panas mereka yang dipenuhi gairah.
“Aku sudah menemukannya, Kelvin,”ucap Devina, terkesan mengambang itu tiba-tiba memecahkan keheningan.
Mereka berdua masih dalam posisi tiduran dengan saling berpelukan satu sama lain, dan selembar selimut tebal tipis putih senada dengan set sepreinya menjadi penutup untuk tubuh polos keduanya.
“Menemukan apa?” tanya Kelvin, mengerutkan keningnya.
“Menemukannya. Gadis yang akan mengandung bayi kita Kelvin," jawab Devina.
Kepala Devina mendongak menatap wajah Kelvin, sambil menyunggingkan senyum bahagianya pada sang suami.
Tatapan Kelvin langsung melebar, dia langsung menyadari apa yang dimaksudkan oleh Devina Istrinya.
“Kau masih saja membahas rencana gila mu itu Devina?!”pekik Kelvin, langsung memalingkan wajahnya ke samping dengan kesal.
“Apa maksudmu dengan rencana gila, Honey?”
Devina balik bertanya, dan dia bangkit untuk setengah duduk, sambil menatap tajam pada Kelvin.
“Ya, rencana gila, yang menyuruh suamimu sendiri untuk meniduri wanita lain, hanya demi mendapatkan seorang anak!”bentak Kelvin, dengan nada tinggi.
Kelvin langsung beranjak bangkit dari atas tempat tidur, langsung memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai untuk dipakainya kembali.
“Kelvin! Apa sulitnya bagimu menuruti permintaanku untuk kali ini saja, hah?!”teriak Devina penuh tuntutan.
“Kau hanya tinggal meniduri gadis itu sampai dia mengandung bayimu, lalu semuanya akan selesai Kelvin!”
Jeritan Devina semakin histeris, dia terus mencecar Kelvin dengan tekanan yang dirasakan olehnya.
“Keluargamu tidak akan lagi menekanku untuk memberikan mereka penerus lagi!”
Kelvin mendengus kesal.“Apa sulitnya kau bilang?”
“Kau benar-benar sudah gila, Devina!”
Rasa frustrasi bergambar jelas di wajahnya yang tampan, saat menghadapi setiap tuntutan Devina yang ditekankan untuknya itu.
“Bagaimana bisa, kamu menyuruh suamimu sendiri untuk meniduri wanita lain, hah?!”bentak Kelvin tak kalah kerasnya dari Devina.
“Ya! Aku memang sudah gila, Kelvin!”
“Aku memang sudah gila oleh keluargamu!”
“Keluargamu, yang selalu mengejekku, karena kemandulanku, ini!”
“Keluargamu, mereka selalu saja mencemoohku hanya karena aku tak bisa memberikanmu seorang anak!”
“Keluargamu, yang selalu menyudutkanku sebagai sosok istri yang gagal, dan menantu yang gagal, hanya karena tak bisa memberikan mereka penerus!”
Devina mulai menjerit kesetanan sambil menangis histeris. Dia meluapkan seluruh rasa sesak serta sakit di dadanya dengan berteriak pada Kelvin.
“Devina, tolong tenanglah!”
Kelvin kembali membentak Devina yang menjerit-jerit semakin histeris. Dia langsung memeluk istrinya, berusaha untuk menenangkan Devina. Kelvin merasakan tubuh Devina gemetar hebat karena luapan emosinya yang semakin tidak terkontrol, dan itu justru membuatnya semakin tidak tega melihat Devina yang seperti tersiksa seperti. Karena pernikahan mereka, serta tekanan keluarga besarnya selama ini, membuat Devina menjadi lebih cepat marah, emosinya tidak terkontrol dan sering kali menjerit histeris seperti sekarang ini.
“Sayang, Devina, aku mohon tenanglah sayang.”
Kelvin terus berupaya membujuk Devina dengan lemah lembut, pelukannya semakin erat pada tubuh Devina, berharap kalau istrinya itu akan segera tenang.
“Kamu jahat, Kelvin!”
“Kamu sengaja mau menyiksaku!”
“Sepertinya kamu lebih senang, kalau aku mati karena tertekan oleh keluargamu!”
Devina terus saja menjerit, menuduh Kelvin, meskipun gerak tubuhnya kian melemah di dalam pelukan hangat suaminya.
“Tidak, sayang. Itu semuanya sama sekali tidak benar. Aku sama sekali tidak suka melihatmu seperti ini,” bantah Kelvin dengan lembut.
“Aku mohon sayang, tenanglah.”
Kelvin terus berusaha membujuk dan memohon pada Devina.
Namun, Devina tetap saja berteriak sambil menangis histeris. Dia meluapkan segala emosinya, dengan menumpahkan semua kesalahan pada Kelvin. Devina seakan ingin melimpahkan semua kesakitan yang dirasakannya pada Kelvin. Kelvin semakin dibuat kelimpungan serta tak berdaya oleh istrinya sendiri.
“Iya!”
“Iya, sayang. Oke, aku mau. Aku mau melakukan apa yang kamu minta!”
Kelvin akhirnya menyetujui keinginan Devina. Karena perasaan cintanya yang begitu besar terhadapnya, membuat Kelvin menjadi tak berdaya disaat Devina bersikap seperti itu.
“Apa kamu serius, Kelvin?" tanya Devina, memastikan.
“Iya, aku serius sayang.”
Kelvin mengangguk, mengiyakan.
Devina langsung bersikap tenang, dia tak lagi menjerit histeris seperti sebelumnya. Namun, Devina tetap saja menangis sesenggukan, sambil membenamkan diri ke dalam pelukan Suaminya Kelvin.
Kelvin memeluknya Devina dengan begitu erat, napasnya memburu, serta detak jantungnya begitu kencang, hingga mungkin Devina juga dapat mendengarnya.
“Berjanjilah Kelvin, kamu akan memenuhi impianku untuk bisa memiliki seorang anak?”tuntut Devina sambil terisak di dalam pelukan Kelvin.
“Ya, aku berjanji, Devina.”
Kelvin menghela napasnya dengan sangat berat sambil memejamkan mata. Dia menahan kuat perasaan amarahnya sendiri, atas apa yang menjadi permintaan Devina untuknya.
“Baiklah, tunggu dua hari lagi Kelvin. Aku akan membawa gadis itu ke rumah kita. Dia adalah teman dari keponakanku, Karin. Aku yakin, dia gadis yang bersih, terjaga, dan juga masih perawan. Dia sangat cocok untuk mengandung bayi kita Kelvin,” jelas Devina, begitu antusias. Dia langsung melepaskan pelukannya, lalu dia menyeka air mata yang membasahi wajahnya.
“Apa?!”pekik Kelvin, terkejut.
“Devina, gadis itu adalah teman dari Karin? Bagaimana kamu bisa tega melakukan itu pada teman dari keponakanmu sendiri, Devina?!”
Kelvin semakin dibuat tak habis pikir oleh tindakan istrinya.
Anda Mungkin Juga Suka





