
Rahim Penebus Hutang
Bab 3
Detta menyadarkan pikirannya, dia bergegas menuju ruang dosen untuk bertemu dengan dosen pembimbingnya, ketika menunggu lift Detta tidak menyangka jika dua orang yang dia hindari datang. Tania datang bersama dengan Ghani, bahkan wanita itu tidak segan untuk melingkarkan tangannya di lengan Ghani. Tania menatap Detta dengan pandangan puas, dia merasa senang karena Detta kini melihatnya bersama Ghani.
"Lantai berapa, Ta?" Tanya Ghani pada Detta karena dia yang paling dekat dengan tombol lift.
"Lantai 7," ujar Detta pada Ghani.
Wanita itu kini merasa tidak nyaman, dia hanya tidak ingin mendengar omongan Tania yang semakin membuat hatinya sakit. Sejak awal Detta juga tahu bahwa Ghani dan dirinya tidak mungkin akan bersama, sejak pernyataan cinta itu dia juga tidak berharap apapun, sejak awal dia sadar diri dan menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh Ghani adalah omong kosong semata.
"Maaf ya, Mas Ghani kemarin hanya memenuhi hukuman pas main uno. Takutnya situ baper beneran," ujar Tania.
"Maaf sebelumnya, sejak awal saya juga nggak nganggep itu beneran." Detta merasa muak menghadapi kedua orang itu.
Ghani terlihat ingin berbicara pada Detta namun selalu dialihkan oleh Tania, Ghani hanya bisa terdiam dan merasa bersalah pada Detta yang terlihat kesal padanya. Ghani tidak bermaksud melakukan hal itu, Tania yang merancang semua ini dan Ghani merasa tidak nyaman karena menyakiti hati Detta.
"Maaf ya, Ta."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas. Lagian nggak ada yang salah," ujar Detta dia menunggu pintu lift yang sebentar lagi terbuka di lantai 7.
Detta hanya ingin segera keluar, dia sudah tidak sanggup lagi menghadapi dua orang yang membuatnya merasa muak.
"Jangan berharap ya, Mas Ghani milikku." Detta tidak menjawab ucapn Tania, dia langsung keluar dari lift setelah pintunya terbuka.
Tujuan Detta ke kampus adalah untuk bimbingan, dia tidak memiliki tenaga untuk menghadapi orang seperti mereka. Memikirkan kehidupannya yang rumit saja sudah menguras pikirannya, dia tidak memiliki waktu untuk mengurus Tania dan pacarnya.
"Maaf Bu Endang apakah sudah datang, Bu?" Tanya Detta pada salah satu dosen yang ada di ruangan.
"Bu Endang belum datang."
Detta hanya mengangguk tak lupa mengucapkan terima kasih, dia lalu kembali menunggu Bu Endang di depan ruang dosen. Banyak orang berlalu lalang dihadapannya, mereka mungkin memiliki tujuan yang sama namun bedanya mereka bersama temannya sedangkan dirinya hanya sendirian dan menunggu kedatangan dosen pembimbingnya.
Dua jam Detta menunggu, dirinya memberanikan diri untuk mengirim pesan pada Bu Endang untuk mengingatkan bahwa mereka memiliki janji untuk temu. Sebenarnya Bu Endang adalah pembimbim satu dan dia hanya butuh persetujuan Bu Endang karena dosen pembimbing dua sudah menyetujui skripsi dari Detta, bahkan Bu Ida sudah menyetujui bab 5 yang dia kerjakan.
Bu Endang memang sangat sibuk karena itulah Detta berusaha dengan keras untuk bertemu dengannya, dia sudah menunggu seminggu hingga akhirnya Bu Endang menyetujui pertemuan mereka.
Sampai pukul setengah 4 sore Detta masih belum mendapatkan jawaban, dia bahkan sudah menunggu 3 jam lebih namun Bu Endang tidak menjawab pesannya.
Detta kini berjalan dengan lemas, dia mungkin belum beruntung untuk bertemu Bu Endang hari ini padahal Detta sudah berharap dia ingin segera mengajukan sidang karena dia ingin lulus tepat waktu, beasiswanya sudah habis tahun ini dan mau tidak mau dia harus lulus tepat 4 tahun. Bagi Detta lulus tepat waktu sudah merupakan hal baik karena selama ini waktunya dia habiskan untuk bekerja dan belajar selama ini, dia tidak memiliki banyak waktu untun istirahat karena memperjuangkan pendidikan dan waktu kerjanya.
"Temui saya di gedung fikes." Detta terkejut dengan pesan yang dikirimkan oleh Bu Endang, tanpa membuang waktu dia langsung bergegas menuju gedung 4, rasanya dia sangat bersemangat dan berharap semoga tidak ada revisi yang sulit untuk dirinya agar bisa segera mengajukan sidang.
10 menit berjalan akhirnya Detta sampai di gedung fikes dengan terengah-engah, lokasinya lumayan jauh dan Detta sudah berusaha sebaik mungkin agar Bu Endang tidak pergi sebelum menemui dirinya.
"Bu, saya kira tidak bisa bertemu lagi."
"Maaf Detta, saya lupa jika ada janji denganmu." Detta mengangguk dia lalu memberikan skripsinya, dia sadar bahwa Bu Endang sangat sibuk sebagai dosen, dirinya juga sering pergi keluar kota dia sebagai mahasiswa yang membutuhkan Bu Endang harus memaklumi semua kesibukannya.
"Saya setujui untuk mengajukan sidang, Bu Ida sudah setuju juga kan?" Tanya Bu Endang.
Detta mengangguk, dia menunjukkan tanda tangan dari bu Ida yang mengatakan bahwa Bu Ida setuju jika dirinya mengajukan sidang.
"Segera ajukan sidang agar tidak melewati semester 8 ini, maaf jika saya susah ditemui."
Detta mengangguk dia berterima kasih atas kebaikan Bu Endang, akhirnya Detta bisa tenang kini dia langsung kembali ke kosnya dia sudah mengirimkan pesan pada admin di fakultasnya untuk bertanya apa saja yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mengajukan sidang akhir.
"Terima kasih Tuhan, akhirnya aku bisa ngajuin sidang." Detta tersenyum lebar, dia merasa sangat bangga dengan pencapaiannya selama ini. Detta bekerja keras dan berjuang untuk hidupnya, walau kehidupannya terasa menyedihkan setidaknya ada hal yang bisa dia banggakan.
***
Detta sudah bersiap dan kini dia menuju ke apartemen Aleandro dengan taksi online, awalnya dia merasa sayang dengan uangnya namun dia tidak punya pilihan lain karena barang bawaannya lumayan merepotkan jika harus menggunakan motor.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Satpam pada Detta ketika dirinya sudah sampi di apartemen.
"Saya orang yang bekerja di apartemen lantai paling atas," ujar Detta.
Satpam kini paham dirinya lalu mempersilahkan Detta masuk karena lantai teratas adalah kekuasaan Aleandro, mereka sudah tahu jika tidak boleh mencari masalah dengan orang kaya raya di negara ini.
"Capek banget ya Tuhan," ujar Detta.
Detta sudah sampi di dalam apartemen, dia pikir Aleandro belum datang namun ternyata pikirannya salah karena ketika dirinya berjalan menuju ruang tamu kini Aleandro menghampirinya dengan baju tidurnya.
"Kenapa baru datang?" Tanya Aleandro ketika melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan.
"Maaf, tadi pulang dari kampus udah jam setengah 5 an terus siap-siap kesini malah kejebak macet," ujar Detta jujur.
"Sudah makan?" Pertanyaan Aleandro membuat Detta tertegun.
"Jangan baper, aku hanya ingin kamu sehat agar segera bisa hamil anakku." Detta mengangguk, sejak awal memang dia tidak boleh terbawa perasaan, walaupun memang dia merasa terharu karena baru kali ini ada yang memperhatikannya, namun dia juga harus menjaga sikap dan menepati semua aturan yang ada.
"Aku mengerti, aku akan membersihkan diriku lalu makan malam." Aleandro mengangguk dia lalu kembali ke kamarnya setelah memberitahu kamar Detta.
Wanita itu kini masuk ke dalam kamarnya, walau tidak sebesar kamar Aleandro namun bagi Detta kamar ini sangat bagus dan besar baginya. Selama ini Detta tidak pernah memiliki kamar sebagus ini, rasanya dia merasa sangat nyaman bahkan setelah dia menata semua barang dan menyimpan kopernya ruangan ini tetap luas, memang berbeda jika dirinya hidup dalam kesenangan orang kaya seperti Aleandro ini.
"Wah memang gila, bahkan aku tidak pernah membayangkan bisa tinggal ditempat seperti ini." Detta bergegas membersihkan diri dia tidak ingin terlalu lama mengagumi semuanya karena dia sadar bahwa apa yang dia rasakan saat ini hanya sementara.
Detta akhirnya menuju ruang makan, dia melihat begitu banyak menu yang tersedia dan Detta kini sadar bahwa suami kontraknya memang sungguh menyiapkan semua hal terbaik demi agar bisa mendapatkan keturunan dengan segera.
"Banyak makan-makanan yang bergizi, mulai sekarang jangan makan sembarangan." Aleandro yang tiba-tiba muncul membuat Detta terkejut, hampir saja dia mati tersedak jika Aleandro tidak membantunya.
Lelaki itu menatap Detta dengan diam, dia memang salah karena membuat Detta terkejut namun sejak awal dia bahkan berjalan seperti biasanya jika salah itu merupakan kesalahan Detta yang tidak sadar dirinya sudah melihat wanita itu makan beberapa waktu.
"Besok apakah kau akan pergi?" Tanya Aleandro.
"Tadi skripsiku di acc dosen, besok rencananya ke kantor fakultas ketemu admin mau tanya syarat ngajuin sidang, jujur saja aku nggak mau nambah semester." Detta hanya tidak ingin menguarkan banyak uang karena banyak hal yang dia butuhkan demi kesembuhan neneknya.
"Ya sudah hati-hati, sopir yang akan mengantar dan menjemputmu. Ini kartu bank mu, aku sudah mengisi 100 juta di sana," ujar Aleandro.
"Kebanyakan," ujar Detta tidak ingin memiliki resiko besar.
"Sudahlah, lagi pula kamu hanya perlu menggunakannya anggap saja uang nafkah." Aleandro pergi meninggalkan Detta setelah mengatakan hal itu, Detta merasa berdebar ini dia tidak menyangka bahwa akun bank miliknya di isi saldo 100 juta oleh Aleandro yang bahkan tidak lama dia kenal.
Detta sudah selesai makan dia langsung membawa sisa makanan dan piring yang kotor ke tempat cuci, wanita itu mulai kembali menatap menu yang masih banyak, Detta sayang dengan makanan itu karena dia tahu mencari uang tidaklah mudah bahkan dia sering hanya makan nasi saja untuk menghemat uanganya.
Detta tersenyum, dia lalu menaruh makanan sisa di kulkas setelah itu kembali ke kamar untuk istirahat, dibalik semua itu Aleandro diam-diam memperhatikan apa yang Detta lakukan, dia hanya tidak menyangk jika Detta akan menyimpan makanan sisa padahal dia bisa membeli lagi.
"Malang kali nasib anak ini," ucap Aleandro dalam hatinya lalu kembali ke kamarnya sendiri, mereka memang pisah kamar karena bagaimanapun Aleandro tahu mereka tidak sedekat itu untuk tidur bersama kecuali memang waktunya mereka untuk persiapan memiliki keturunan.
***
Pukul enam pagi Aleandro terbangun dari tidurnya karena mencium bau makanan, lelaki itu langsung menuju ke toilet untuk membasuh wajahnya setelah itu bergegas ke dapur melihat apa yang wanita itu lakukan di sana.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Aleandro.
Detta agak terkejut, dia takut jika Aleandro marah kepadanya terlebih dia menggunakan bahan-bahan yang ada di kulkasnya.
"Kalau aku yang masak nggak papa kah? Aku nggak enak tinggal dengan cuma-cuma," ujar Detta.
"Terserah, lakukan sesukamu." Aleandro lalu kembali ke kamar untuk bersiap mandi karena memang hari ini dia akan rapat di pagi hari.
Aleandro memang membebaskan wanita itu, karena dia harus menjaga mood wanita itu agar nantinya bisa segera memiliki momongan dengannya. Tak lama kemudian dia sudah siap dengan pakaian kerjanya, Aleandro lalu duduk di kursi makan dan Detta menyiapkan segalanya. Sejak awal Detta sendiri bukan menganggap dirinya sebagai istri namun dia adalah pekerja di rumah Aleandro.
"Enak juga, kau boleh masak jika ingin. Kalau capek ga usah masak, aku akan memesan makanan dari luar," ujar Aleandro.
"Aku aja yang masak, asal ada bahan makanan aku akan memasak." Detta mengatakan itu dengan senyuman ceria di wajahnya.
Aleandro memberika satu kartu baru untuk Detta, dia memberikan ini untuk membeli keperluam rumah dan lain-lain.
"Ini untuk apa? Kemarin udah," ujar Detta.
"Uang kemarin kau simpan saja, ini khusus untuk belanja. Kau jangan lelah bersihkan apartemen karena 2 hari sekali akan ada orang yang datang bersihkan, kau cukup masak saja."
Detta mengangguk dia tidak ingin membuat Aleandro kesal, setidaknya dia merasa senang karena diijinkan Aleandro untuk memasak, dia merasa senang karena ada hal yang bisa dia lakukan disini.
"Aku sudah selesai, aku sudah mengirimkan nomor sopir. Pergi dengan dia."
"Tapi aku nggak biasa, aku-"
"Aku tidak menerima penolakan, lakukan apa yang aku katakan." Aleandro lalu berdiri setelah menyelesaikan sarapannya, dia pamit akan berangkat kerja sekarang.
Detta kini merasa aneh dengan sikap Aleandro, terkadang lelaki itu dingin namun Detta merasa di balik sikapnya itu ada sedikit rasa baik bahkan Aleandro tidak melarang Detta melakukan apa yang dia inginkan.
"Aku harap kamu tidak akan membuatku merasa kehilangan ketika sudah tidak dibutuhkan."
Anda Mungkin Juga Suka





