
Rahasia Tersembunyi Dalam Pernikahan
Bab 2
Hanya ada lampu meja yang redup menyala di ruang kerja menyinari wajah Rose, memperlihatkan campuran kesedihan mendalam dan tekad kuat yang belum pernah ada sebelumnya.
Dia mengucapkan kata "cerai" dengan seluruh tenaganya yang tersisa. Dia telah kehilangan semua harapan dalam pernikahannya.
Yosan menatapnya, sorot matanya tajam. "Rose, apakah kamu menyadari apa yang kamu katakan?"
"Ya." Rose menatap ke bawah, getaran gugup dalam suaranya mengandung sedikit rasa bersalah. "Aku ingin bercerai."
Wajah Yosan yang rupawan dipenuhi dengan ejekan saat dia menyalakan sebatang rokok, membiarkan asap putih mengepul di sekelilingnya.
Wajahnya yang tampan memiliki pesona misterius dalam cahaya yang redup, sedangkan matanya yang gelap tidak menunjukkan emosi apa pun.
Rose menekan kesedihan di dalam dirinya dan berkata, "Lebih baik kita berpisah lebih awal daripada tetap menjalani pernikahan tanpa cinta."
"Asetku akan selalu menjadi milikku karena perjanjian pranikah. Jika kita benar-benar bercerai, kamu tidak akan mendapat sepeser pun." Yosan mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengetuk abu rokoknya.
Suara Rose datar, hampir tak melebihi sebuah bisikan. "Aku tahu."
Faktanya, dia telah tertimpa kekecewaan demi kekecewaan dalam pernikahan ini hingga yang tersisa hanyalah keputusasaan.
Kemanjaan Yosan yang tak terbatas terhadap Rina telah menghancurkan rasa sayang yang telah tumbuh dalam dirinya.
"Tiga tahun lalu, proyek energi baru Grup Santo di Kota Jingga itu juga ditempatkan di Kota Lina sebagai hadiah pernikahan untukmu. Investasi itu, yang bernilai lebih dari dua ratus miliar rupiah, membantu Arif menjadi kepala pemerintahan lokal di Kota Lina." Mata Yosan berubah dingin. "Sampai hari ini, proyek itu belum menghasilkan keuntungan, dan kamu siap menceraikanku?"
Wajah Rose berkedut, kata-katanya memukul bagian yang paling sakit.
Arif Setiawan adalah ayah tirinya. Tiga tahun lalu, investasi besar Grup Santo telah memberinya dorongan yang dibutuhkannya untuk mengalahkan tiga kandidat lain demi posisi saat ini.
Memutuskan untuk bercerai bukanlah hal yang mudah, itu adalah keputusan yang diambilnya setelah mempertimbangkan secara matang.
Meskipun dia masih merindukan sedikit kelembutan yang Yosan tunjukkan padanya, hatinya sakit setiap kali dia membayangkan pria itu berkelahi dengan seseorang demi Rina.
Dia tidak berencana untuk menolerirnya lagi.
"Kamu dan Rina bisa bersama sekarang. Aku tidak akan menghalangi jalanmu." Sudut bibir Rose melengkung ke atas, menyembunyikan segala keengganan dan rasa sakit yang dirasakannya.
"Rina dan aku tidak pernah merasa kamu menghalangi kami." Yosan dengan santai mengembuskan beberapa lingkaran asap.
Rose memperhatikan bahwa dia masih menyebut nama Rina dengan penuh kasih sayang, seolah-olah itu adalah hal terpenting di dunia.
Namun bagi Rose, kelembutannya hanya datang pada saat-saat paling intim di tempat tidur, di luar itu, pria tersebut selalu berbicara padanya dengan nada menjaga jarak.
Dia mengatupkan rahang. "Aku sudah muak hidup seperti ini, diperlakukan tanpa rasa hormat."
"Sepertinya kamu lupa bagaimana kamu menjadi istriku," ucap Yosan. Dia menyalakan sebatang rokok lagi, matanya penuh ejekan. "Katakan padaku dengan jujur, apakah kamu memenuhi syarat untuk berbicara kepadaku tentang rasa hormat?"
Rose langsung teringat pada malam hujan yang memalukan tiga tahun lalu.
Gelombang rasa sakit dan malu membanjiri hatinya.
"Kamu tahu persis akan seperti apa pernikahan ini sejak awal, tapi kamu masih berencana untuk menikah denganku, dan Arif mendapatkan jabatannya karena aku. Aturan pernikahan kita adalah, selama aku tidak mau bercerai, kamu hanya bisa menggertakkan gigi dan menanggung semua ini. Aku tidak peduli kamu dihormati atau tidak," lanjut Yosan, menyadari kesunyiannya.
Tubuh Rose bergetar sedikit, dan wajahnya tampak benar-benar pucat.
Ternyata di mata Yosan, pernikahan mereka hanyalah sebuah transaksi tanpa rasa hormat.
Awalnya, dia juga berpikir seperti itu. Namun entah kenapa, setelah dua tahun menikah, dia perlahan mulai percaya bahwa pernikahan ini mungkin berubah menjadi sesuatu yang nyata.
Dia menyadari bahwa dia seharusnya tidak mempunyai pikiran seperti itu.
Untungnya, perasaan apa pun yang mulai tumbuh dalam hatinya masih bisa dihancurkan sekarang.
Yosan mematikan rokoknya di asbak dan berjalan pergi.
Beberapa saat kemudian, Rose mendengar suara pancuran air mengalir di kamar mandi.
Pada saat ini, hatinya tenggelam dalam keputusasaan total.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, mereka tidak pernah berjalan-jalan, menonton film, atau bahkan makan malam bersama seperti pasangan suami istri lainnya.
Satu-satunya saat mereka merasa dekat adalah ketika mereka berada di atas tempat tidur.
Dua tahun pertama pernikahan mereka penuh dengan perang dingin.
Baru pada tahun ketiga hubungan mereka berdua mulai sedikit berubah.
Yosan mulai menunjukkan sedikit kesabaran dan kelembutan padanya, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Pria itu pernah mengucapkan beberapa kata-kata manis selama hari raya atau mengejutkannya dengan hadiah-hadiah kecil.
Perlahan-lahan, tanpa disadari, dia mulai menyukai Yosan, mencoba peduli padanya, dan mempelajari apa yang disukainya.
Dia tidak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga, tetapi dia tetap belajar menyiapkan berbagai jenis sarapan untuknya.
Karena kehidupan mereka jarang bersinggungan kecuali di atas ranjang, dia hanya bisa menggunakan sarapan untuk membuat Yosan tetap tinggal beberapa menit lebih lama.
Meski dia tahu gagasan ini konyol dan menyedihkan, dia tetap tidak dapat menghentikan dirinya untuk melakukan hal itu.
Namun, harapan yang tersembunyi jauh di dalam hatinya selalu hancur oleh wanita bernama "Rina".
Jika Yosan mencintainya sedikit saja, kenapa dia masih menyembunyikan pernikahan mereka dari semua orang sampai sekarang?
Setelah Yosan selesai mandi, dia langsung berjalan ke kamar tamu di sebelah untuk tidur.
Rose kelelahan karena kurang tidur, tetapi dia tetap bangun pagi dan membuatkan Yosan teh susu kesukaannya sebelum berangkat kerja.
Dia bekerja sebagai pembawa berita keuangan di Jingga TV.
Dengan munculnya media Internet dalam beberapa tahun terakhir, stasiun TV tidak sepopuler sebelumnya, tetapi acara bincang-bincangnya masih mendapat rating tinggi, membuatnya termasuk sebagai selebriti lokal di Kota Jingga.
Setelah masuk dan berjalan ke kantornya, Rose mulai merasa lemah.
Dia membuka laci, mengambil kukis yang telah disiapkannya sebelumnya, memakan beberapa potong, dan akhirnya merasa lebih baik.
Berat badannya bertambah dengan mudah, terutama di bagian wajahnya.
Agar tetap tampil dengan baik di depan kamera, dia harus menjalani diet ketat.
Setiap hari, dia makan makanan sederhana seperti telur rebus, sayuran, dan daging sapi atau dada ayam tanpa lemak. Untuk seseorang yang memilik tinggi badan seratus enam puluh lima sentimeter, dia termasuk sangat kurus. Berat badannya hanya sekitar empat puluh sembilan kilogram sepanjang tahun.
Gula darahnya rendah, jadi dia tidak bisa bertahan tanpa sedikit makanan manis setiap hari.
Dengan sekitar dua puluh hari tersisa sebelum Tahun Baru, beban kerjanya meningkat tiga kali lipat.
Selain memiliki acara siaran langsung, Berita Finansial, dua kali seminggu, dia merekam acara bincang-bincang untuk persiapan. Sekarang, dia juga harus ikut mempersiapkan acara untuk pesta Tahun Baru.
Saat makan siang di kantin, dia mendengar beberapa rekan kerja bergosip dan mengetahui perkelahian Yosan di klub telah menjadi viral.
Kedua tangannya tidak bisa berhenti bergetar saat dia mengambil ponselnya untuk memeriksa media sosial.
Di dunia maya, orang-orang menggambarkan Yosan dan Rina seperti dalam kisah dongeng—sang triliuner yang menawan, dan sang Cinderella yang menyedihkan.
Banyak orang yang tidak tahu apa-apa tentang kebenaran sudah mendesak agar Yosan menikahi Rina.
Rose hanya makan beberapa gigitan dari makan siang ringan yang telah disiapkan sebelum kehilangan nafsu makannya.
Setelah pulang kerja, dia mampir ke apotek untuk membeli pil kontrasepsi darurat.
Dia meluangkan waktunya, dengan hati-hati memilih salah satu pil impor yang memiliki efek samping paling ringan.
Namun, saat dia hendak membayar, dia bertemu Yosan.
Pria itu tidak sendirian. Rina bersamanya.
Dahi Rina ditutupi perban sepanjang lebih dari tiga sentimeter dan ada beberapa luka cakar yang baru saja mengering di punggung tangan kanannya.
Tatapan lembut dan menyedihkan yang dia tunjukkan sudah cukup untuk membangkitkan keinginan pria mana pun untuk melindunginya.
Rina dan Yosan masuk ke apotek bersama, tertawa dan mengobrol. Mereka tampak seperti pasangan yang penuh kasih sayang.
Ini bukan pertama kalinya Rose melihat pemandangan semacam ini, tetapi dia masih merasa sangat tidak nyaman hingga hampir tidak bisa bernapas.
"Yosan." Dia mencoba untuk tetap tenang, menelan emosinya saat dia menyapanya dengan kaku.
Yosan hampir tidak memedulikannya, pandangannya tertuju pada kotak pil. "Ambil lebih dari satu, aku tidak mau hal yang tak diinginkan sampai terjadi."
Kata-katanya menusuk hatinya bagai pisau, tetapi dengan Rina yang berdiri di sana, dia tidak punya pilihan selain tetap tenang.
"Jangan khawatir. Tidak akan ada hal yang tak diinginkan terjadi," jawabnya sambil tersenyum palsu.
Orang sering mengatakan bahwa anak adalah hasil cinta, tetapi di mata Yosan, mereka tidak lebih dari sekadar hal yang tidak diinginkan.
Atau mungkin hanya anak-anak Rose saja yang dilihatnya seperti itu.
Jika anak-anak Rina yang bersamanya, segala sesuatunya mungkin akan sangat berbeda.
"Kebetulan sekali bisa bertemu denganmu di sini, Nona Rose," ucap Rina kepada Rose dengan sopan dan manis. "Tahukah kamu, terlalu banyak pil semacam itu dapat menyebabkan efek samping. Bahkan merek terbaik pun dapat mendatangkan menopause lebih awal dari yang kamu inginkan."
Meskipun Rina tahu Rose telah menikah dengan Yosan, dia tetap memanggilnya dengan sebutan "Nona Rose" setiap kali bertemu dengannya, tidak pernah mengakuinya sebagai istri Yosan.
Rose tahu Yosan-lah yang memberi Rina keberanian untuk bertindak seperti ini.
Dia berpikir jika Yosan dan Rina adalah pasangan yang bahagia, kenapa Yosan tidak menceraikannya dan menjadikan Rina sebagai istrinya?
Lagi pula, tiga tahun telah berlalu sejak mereka menikah, pengaruh apa pun yang pernah dimiliki Arif terhadap Yosan telah lama kehilangan pengaruhnya.
Rose tidak punya niat untuk berdebat dengan Rina. Dia berbalik untuk membayar obatnya.
"Yosan minum terlalu banyak tadi malam dan merasa tidak enak badan sepanjang hari ini," ucap Rina kepada Rose. "Bukankah seharusnya kamu lebih merawatnya sebagai istrinya?"
Teguran ringan itu terdengar di belakang Rose.
Dia berbalik perlahan dan menatap tajam ke arah Rina. "Ternyata kamu masih tahu bahwa aku adalah istri Yosan ...."
Anda Mungkin Juga Suka





