
RAHASIA SEBUAH DOSA
Bab 2
10 menit sudah mereka menunggu makanan. Akhirnya tibalah seorang pelayan mengantarkan makanan itu.
"Ayo dimakan," ajak John menawarkan makanan.
Dengan sedikit agak keki, Rani mulai menyuap sesuap demi sesuap.
Mira yang sejak tadi memperhatikan Rani, semakin bertanya-tanya dan resah melihat tingkah Rani. Sementara John, asyik dan santai menikmati makanan itu, tanpa sedikit pun beban dalam hatinya.
"Apa maksud dari semua ini John?" tanya Rani tiba-tiba.
Tercenganglah John, yang tiba-tiba mendengar pertanyaan Rani. Sejenak makan pun terhenti. John terpelongo melihat wajah Rani, yang sedikit agak marah. Ia terkesima, dan tidak paham, apa maksud Rani?
"Apa yang kamu maksud? Aku sungguh tidak mengerti Rani?" tanya John keheranan.
"Bukannya semua ini sudah kau rencanakan John?" tanya Rani.
John merasa keheranan dengan sebuah pertanyaan yang dilontarkan. Mira seperti sangat kaget melihat Rani, yang marah tidak jelas itu.
"Aku sedikit pun tidak tau, kalau yang datang itu kamu Rani," balas John dengan polos.
"Sungguh lucu kau ya John," tepis Rani tersenyum dengan sinis atas jawaban John.
John pun menghentikan makannya dan melepas sendok dan garpu yang ia pegang.
"Rani, aku tidak ada sedikit pun untuk membuatmu kecewa!" ucap John.
"Sudah John, aku muak dengan kata-kata manismu," balasnya dengan mata yang tajam dan muka yang semakin memerah, tertumpah amarah Rani.
"Rani, tahan amarahmu, malu kita dilihat orang banyak," bisik Mira di tepi telinga Rani.
Rani pun mencoba bersikap tenang atas nasehat Mira.
Beberapa pengunjung merasa ke heranan atas keributan kecil yang terjadi itu.
"Ok, ok, sekarang coba kau tenangkan dirimu, jangan terbawa emosi, kita bisa bicara ini baik-baik ko Rani," ucap John dengan tenang.
Rani mengeram tidak karuan, tangannya mengepal seluruh jari-jari, seperti ingin memukul John.
"Sabar Rani, kita sedang berada di tempat umum, kuharap kau bisa tenang," bisik Mira, mencoba menenangkan Rani.
"Sudahlah, tak baik kau membenciku seperti itu. Lagi pula masalah itu telah berlalu, jadi ku harap bisa melupakan itu," ujar John dengan santainya.
"O ..., jadi kau datang hanya untuk itu John?" balas Rani, dengan tegas.
"Apa maksudmu Rani? Aku tidak mengerti?" balasnya dengan senyum kecil John menjawab.
"Sebaiknya kita pulang Mira." Tanpa pikir panjang, Rani berdiri dan meninggalkan John.
"Sori ya John, aku pamit," ujar Mira sedikit malu.
Mira menyusul dari belakang Rani.
"Sial sebenci itukah Rani terhadapku?"
John hanya bisa menatap langkah yang kian menghilang.
Pertemuan itu, tidak sesuai yang ia harapkan. Rencana yang sudah ia atur kini harus hancur berantakan.
Di sebuah mobil Rani dan Mira terasa dingin dengan suasana hati Rani yang masih kacau balau. Entah apa yang terjadi, Mira seperti bingung, karena ia pun belum tau apa yang terjadi sebenarnya. 15 menit sudah dalam kediaman, akhirnya Mira memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf Rani, bukan maksud untuk ikut campur, sebenarnya apa yang terjadi dengan John?" tanya Mira, dengan penasaran.
Rani masih terlihat dingin menanggapi pertanyaan Mira.
Akhirnya Mira pun menghelakan nafasnya secara perlahan.
"Uhh ..., hemm ..., yasudah jika kau tidak mau cerita aku tidak akan memaksakanmu," ucap mira yang masih tersimpan banyak tanya.
"Sori Mira, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi ini bukaan saat yang tepat untuk menceritakan masalah itu!"
"Baiklah, aku mengerti suasana hatimu, kau boleh cerita kapan pun kau mau Rani," balas Mira dengan senyum.
Kembali lagi suasana itu sunyi dan dingin tanpa sepatah kata yang terucapkan. 30 menit sudah, akhirnya sampailah mereka di sebuah rumah, yang tak lain adalah rumah Mira.
"Mampir dulu ngga Rani?"
"Sepertinya aku langsung balik Mira."
"Baiklah hati-hati di jalan sampai ketemu besok ya Rani," ucap Mira dengan melambaikan tangannya.
Sepanjang perjalanan Rani masih memikirkan pertemuan itu. Tak ia sangka kalau yang akan ia temui adalah John. John adalah sosok laki-laki yang paling ia benci di dunia ini.
Di sisi lain, Mira masih merasa aneh dengan perilaku Rani, yang masih belum ia ketahui, asal penyebab kemarahan Rani.
Mira merasa terkejut dengan kemarahan itu. Sepanjang yang ia kenal, ia tak pernah melihat Rani semarah dan sebenci itu.
Inilah yang membuat Mira jadi penasaran dan terheran atas tingkah laku Rani.
Apa yang terjadi dengan Rani? Pertanyaan yang masih belum terjawab oleh Mira. Akankah bisa mengungkap yang terjadi?
Dengan wajah yang kusam dan hati yang tak karuan, kini sampailah Rani di rumah. Dengan emosi yang masih terbawa ia memarkirkan mobil dengan suara keras masuk garasi. suara mobil itu, terdengar tidak karuan hingga sang ibu pun keluar panik melihat apa yang terjadi.
"Loh kamu kenapa Rani, ko uring-uringan gitu?"
Tanpa basa-basi Rani seolah tidak menghiraukan pertanyaan sang ibu. Masuklah Rani dan duduk di sofa dengan menyenderkan badannya. Di hampirilah ia oleh sang ibu, duduk dengan tenang.
"Apa yang terjadi?" tanya sang ibu.
Rani menghela napas secara mendalam.
"Sepertinya berat sekali sih masalahmu? Coba katakan pada Mamah apa yang terjadi?" ujarnya sambil membelai rambut Rani, sang ibu berkata pelan.
"Kenapa Mamah tidak memberitahu, kalau yang akan Rani temui itu adalah John?"
Sang ibu sedikit kaget atas pertanyaan itu.
"Loh maksudnya apa Rani?"
"Yang Rani temui itu adalah John," balasnya dengan nada sinis dan muka masam Rani menjawab.
"Ko bisa? Bukannya itu adalah Rafli, ko malah John sih?" balasnya dengan kaget sang ibu menjawab.
"Lantas kenapa yang Rani temui adalah John Mah?"
"Sepertinya ada yang aneh? Soalnya pak Handoko bilang, kalau itu Rafli. Mamah kan cuma sampaikan pesan dari pak Handoko. Jadi kurang tahu, kalau yang kamu temui adalah John," ucap sang ibu.
"Maksud Mamah apa? Rani tidak mengerti?" ujarnya dengan antusias bertanya.
"Mamah pun tak mengerti, kenapa bisa John? Pada hal yang akan kau temui itu Rafli," ucap sang ibu dengan keheranan.
"Lantas apa yang terjadi? Bisa- bisanya John yang datang?" tanya Rani dengan hati dongkolnya.
Sang ibu hanya bisa diam terpaku. Ia merasa tidak percaya, hal itu akan terjadi.
"Mamah taukan, orang yang paling Rani benci di dunia ini adalah John! kenapa harus bertemu dengan manusia seperti itu lagi?" tegas Rani dengan marahnya.
Sang ibu seperti masih bingung dengan kejadian ini. sang ibu pun seperti serius memikirkan hal itu.
"Sudahlah, biar nanti kita cari tau apa yang terjadi Rani," ucap sang ibu dengan gelisah.
"Oia Juli mana Mah?"
"Ada dia di kamar baru pulang sekolah!"
"Rani ke atas dulu mau lihat Juli."
Rani pun mengangkat badanya dan bergegas meninggalkan sang ibu yang masih kebingungan.
Perlahan-lahan Rani membuka pintu kamar Juli, nampak terlihat Juli sedang menangis lirih. Dengan bersegera Rani duduk di sebelah Juli.
"Apa yang terjadi sayang, kau anak Mamah nangis gitu sih?"
Juli langsung memeluk erat ibunya dengan isakan tangisan.
"Kenapa Juli menangis? Apa berantem lagi di sekolah?" tanya Rani dengan lembut.
Juli hanya menggelengkan kepala tanpa henti-hentinya ia menangis.
"Lantas apa yang terjadi? Coba cerita ke Mamah?" ujarnya sambil mengelus elus kepala Juli, Rani memberikan kasih sayang pada anaknya.
"Mah, semua teman Juli meledek Juli, mereka berkata kalau Juli adalah anak haram, yang tak punya ayah," ujar Juli dengan sendu.
Tersentak Mendengar kata seperti itu, Rani meneteskan air mata tanpa sadar.
Suara lirih Juli masih terdengar begitu pilu. Rani pun menghapus air mata dan merapikan wajah yang bergelinang air mata.
Di tegakkanlah Juli sambil ditatap wajah Juli oleh Rani.
"Lihat Mamah sayang! Juli itu punya ayah, tapi ayah Juli sudah meninggal," ujar Rani, menenangkan Juli.
"Tapi mengapa mereka tidak percaya Mah? mereka berkata kalau Juli sedang berbohong." Suara tangisan itu masih belum reda dalam wajah Juli.
"Sudah, Juli jangan dengar mereka. Juli-kan anak laki-laki, Juli harus tangguh," ujarnya sambil tersedu Rani menasihati anaknya.
Ia masih tak habis pikir kalau ini berdampak pada anaknya yang tidak tau apa-apa.
"Mah, makam ayah di mana? Bolehkan Juli mengunjunginya?"
Rani semakin bingung untuk menjawab pertanyaan anak kesayangannya.
"Em ... mm, Oia Juli sudah makan?"
"Belum Mah, Juli tidak mau makan, Juli ingin bertemu ayah," rengek Juli.
Rani merasa terpukul tanpa bekas luka, yang ada luka hati yang semakin perih di hati yang paling dalam.
"Sudahlah, sebaiknya Juli makan dulu ya, Mamah bawakan makanan ke sini," bujuk Rani menenagkan Juli.
Juli hanya menganggukkan kepala saja, tanpa berkata.
Dengan langkah pilu Rani turun dari tangga menuju dapur.
Pemandangan itu sempat terlihat oleh sang ibu Rani.
"Kenapa kamu menangis?" tanya sang ibu.
"Mah, kenapa aku harus dihukum seperti ini?"
"Apa yang terjadi?" ucap sang ibu dengan heran.
"Di sekolah Juli di cemooh oleh temannya. Yang paling miris aku dengar kalau ia dikatakan anak haram." Dengan tangisan yang semakin pilu Rani menjawabnya.
"Heem.., sudahlah jangan terlalu kau risaukan. Namanya juga anak kecil yang masih belum tau apa-apa," bujuk sang ibu Rani.
Rani pun melanjutkan langkahnya ke dapur dengan membawa luka yang ada.
Anda Mungkin Juga Suka





