Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA SEBUAH DOSA

RAHASIA SEBUAH DOSA

Pras meninggalkan Rika yang hamil demi perjodohan, meminta anaknya dianggap yatim. Rika membesarkan John hingga dewasa, sementara Pras memiliki putri bernama Rani. Tanpa sadar, John dan Rani menjalin cinta hingga Rani mengandung. Setelah John menghilang, Rani membesarkan Juli dalam kebencian. Bertahun-tahun kemudian, John muncul kembali sebagai konsultan, bersaing dengan Vico yang mencintai Rani. Saat Juli kecelakaan, rahasia kelam keluarga Pras dan hubungan darah mereka akhirnya terbongkar.
Bab
Bagikan

Bab 3

1 hari kemudian di sebuah pagi. Rani pergi mengantar ke sekolah. Dengan melupakan kejadian itu, ia melaju dengan seraut wajah cerah. Menyisir jalan, berpacu dengan waktu. Juli hanya diam, tanpa seucap kata terucapkan. Bulian itu masih terniang-niang di kepala dan ingatan Juli. 20 menit, waktu telah mengiring Rani, pada tempat yang dituju. Tanpa berlama-lama, Juli keluar dengan wajah masamnya.

 "Jangan nakal ya sayang," ujar Rani, sambil mencium kening Juli.

Juli hanya terdiam dan melambaikan tangan, ketika sang ibu pergi.

Dari jauh balasan lambaian tangan itu dibalas Rani dalam sebuah mobil.

Nampak seperti wajah sedih masih menghias wajah Juli.

"Lihat tuh Dika, si anak hrm," sambil menjulurkan lidah seorang teman sekelas Juli meledeknya.

Juli hanya diam tertunduk sambil berjalan ke arah kelas.

Sepanjang itu ia, dikatakan anak haram oleh teman sekelasnya.

"E ... kalian tidak boleh begitu. Itu jelek awas ya kalau sampai terulang lagi." Seorang guru merelai ejekan itu. 

Juli masih diam tertunduk malu tanpa kata.

"Juli jangan sedih ya. jangan dengarkan mereka."  Sang guru mengusap kepala Juli.

 Juli tak berkata sepatah kata pun, ia meneruskan jalannya dengan di dampingi oleh seorang guru.

Semua teman sekelas memandang Juli dengan tajam, ketika Juli hendak masuk kelas.

 "Dengarkan Ibu! Kalian tidak boleh lagi memaki atau menghina Juli lagi. Karena kita di sini sama- sama belajar, jadi kalian harus saling menghargai dan menghormati!"

“Tapi Juli-kan anak haram, yang tak punya ayah, Bu," ucap salah satu teman sekelasnya yang bernama Doni.

"Huus, tak boleh begitu Doni. Itu tidak baik, Ibu tidak pernah mengajarkan seperti itu."  Dengan mengajak duduk Juli ke tempatnya, sang guru menjawabnya.

"Sudah, mari kita mulai. Saatnya kita belajar, perhatikan Ibu baik-baik."

Sang guru pun lekas memberi sebuah pelajaran di papan boor.

Doni menatap wajah Juli dengan penuh benci dan ledekkan.

Juli hanya diam tanpa kata. Beberapa jam berlalu dengan dilalui ledek-ledekkan Doni, Juli tetap diam. Sampai tiba, saat pulang.

12:00

Jam pulang telah tiba.

"Hey anak hrm." Suara itu mencoba mengganggu Juli.

"Anak hrm, anak hrm, anak haram."  Teriakan itu merasa bising di telinga Juli.

"Berhenti," bentak Juli dengan keras.

Semua Terhenyak saat Juli berteriak. Doni dan kawan-kawannya terbengong melihat teriakan Juli.

 "Aku punya ayah! Aku juga sama seperti kalian," ucap Juli dengan lantang.

"Mana ayahmu? Kami belum pernah lihat ia datang ke sini?"  tanya Doni.

 Dengan linangan  dan tangisan Juli pun menjawabnya, "Ayahku sudah meninggal,"  ucap Juli dengan marah.

 "Huuuuh, bohong itu, itu pasti bohong," ucap Doni dengan menunjuk jarinya ke arah Juli.

"Sudah hentikan, kalian tidak boleh seperti itu." Suara itu datang dari belakang Juli, yang tak lain adalah Riska, teman sekelas Juli.

"Huuuuh, dasar kau Riska, malah membela anak haram ini,"  ucap salah satu teman Doni yang bernama  Rafel.

"Apa kalian tidak dengar, apa yang diucapkan ibu guru tadi pagi? Kalian malah menghina Juli," bela Riska yang iba pada Juli.

 Selang tak begitu lama Rani datang menjemput Juli. Seketika anak-anak itu pun pergi meninggalkan Juli dengan tergesa-gesa.

 "Apa yang terjadi sayang?"

"Tadi ada anak-anak nakal yang menghina Juli Tante," ucap Riska membela Juli.

 Di rangkullah Juli dengan menatap wajah Juli, sang ibu berlinang air mata.

 "Sudah sayang sebaiknya kita pulang," ajak Rani dengan menuntun tangan Juli.

Riska melihat dan melambaikan tangan untuk Juli. Juli hanya menatap Riska dari jauh. Sepanjang perjalanan,  Rani melihat Juli dengan dingin. Tanpa sepatah kata pun ia bicara. Melihat hal itu Rani merasa bersalah pada dirinya sendiri, ia malah semakin benci dengan laki-laki itu.

Juli yang masih duduk di kelas 2 SD, masih belum mengerti keadaan ini. Yang seharusnya masa-masa itu bahagia, tapi ini seperti tertekan dengan perlakuan teman-teman di sekolahnya.

 "Juli kenapa kamu sayang?" tanya Rani.

Juli tak bergeming sedikit pun atas pertanyaan sang ibu.

“Juli harus sabar, Juli-kan anak laki-laki. Anak laki-laki itu harus kuat sayang,"  ujar Rani sedikit menahan air mata.

"Apakah benar, kalau Juli anak haram Mah?" tanya Juli tiba-tiba.

Rani kaget dengan pertanyaan itu.

"Tidak, tidak sayang, kau bukan anak haram, kau anak Mamah satu-satunya yang Mamah sayangi sepanjang hidup Mamah," balas Rani, dengan sendu.

 Tak terasa deraian air mata menetes di pipi Rani. Sambil ia menyetir mobil, ia merasakan pedihnya keadaan ini.

 "Tapi kenapa mereka selalu menyebut Juli anak haram Mah?" tanya Juli menatap nanar wajah Rani.

 Rani mencoba tegar dan menghapus air matanya, ia menghela napas dalam-dalam.

"Juli sayang, jangan dengarkan apa kata mereka. Mereka-kan tidak tau kita," balas Rani mengelus kepala Juli, Rani mencoba tegar.

"Ko setiap hari, Juli selalu dikatakan anak haram?" tanya Juli kembali dengan murung.

"Sudah jangan dengar itu. Yang penting Juli belajar dengan baik, kelak setelah dewasa Juli akan mengerti ini semua," tegas Rani, meyakinkan Juli.

 Juli hanya bisa menundukkan kepalanya dengan dingin.

Rani yang melihat itu, merasa amat tersiksa melihat penderitaan anaknya. Tak begitu lama, tibalah di rumah.

 "Sampai kita sayang,  Mamah mau balik dulu ke kantor ya."

Dengan muka yang masih dingin Juli hanya menganggukkan kepala saja. Juli keluar dari pintu mobil, berdiri dengan wajah murungnya.

 "Sudah belajar sana yang rajin, agar kelak kau jadi laki-laki hebat," dengan senyum Rani meyakinkan Juli.

 Juli pun berlalu dari hadapan sang ibu. Di pandanglah langkah Juli dengan tangisan air mata Rani, yang sejak dari tadi ingin menangis namun ia tahan.

 "Semoga kelak, kau bisa jadi anak yang baik Juli," ujar Rani sambil terisak-isak.

Rani pun bergegas menuju kantor. Pikiran-pikiran tentang Juli, selalu terbayang dalam benak pikiran dan hatinya. Sepanjang perjalanan itu, Rani merasa semakin benci pada laki-laki itu.  Orang yang teramat ia benci di dunia ini.

Sesampai ia di kantor tepat pukul 12:30.

"Hay Rani sini." 

Terlihat Mira sedang duduk di sebuah kantin kantor. 

Rani menghampiri dengan gontai nampak seperti tidak bersemangat.

"Ada apa denganmu Rani? Ko matamu memerah seperti itu?" tanya Mira keheranan.

Rani masih tak sadar dengan pertanyaan Mira. Melihat hal itu, Mira merasa cemas dengan keadaan Rani.

"Rani, ko malah bengong sih?" 

Tidak sedikit pun Rani bergeming. Ia hanya diam tanpa kata, seperti layaknya sebuah  patung.

"Hey Rani." Sambil menepuk bahunya Rani, Mira mencoba menyadarkan Rani.

"Oh ... ia kenapa Mira?" balas Rani dengan kaget.

“Astaga dari tadi ditanya malah bengong gitu sih?" ucap Mira.

"Sori-sori, aku agak sedikit tidak enak badan Mira."

"Ada apa sih sebenarnya? Ceritalah padaku, siapa tau aku bisa bantu kamu,"  ucap Mira dengan meyakinkan Rani.

"Aku bingung Mira," balasnya sambil menghela napas panjangnya.

"Coba katakan apa yang terjadi Rani?” tanya Mira dengan antusias.

"Ini tentang anakku Mira," balas Rani dengan murung.

"Kenapa dengan anakmu? Apa ia berantem di sekolah?" tanya Mira dengan cemas.

Rani kembali terdiam, tanpa sepatah kata. Ia kembali terdiam, dengan wajah tertunduk murung.

"Heloo, oy." Sambil melambaikan tangannya ke muka Rani.

"Ihhhh, apaan sih kamu Mira?" balas Rani sedikit terkejut.

"Lagian, aku tanya kau malah bengong, aku-kan semakin tak mengerti Rani?"

"Sudahlah kau lanjut tuh makanmu, habiskan sebentar lagi kita-kan masuk," balas Rani sedikit menggerutu.

"Yaelah kau ini kebiasaan deh Rani." Dengan muka sedikit kecewa  Mira merasa sebel dengan Rani.

"Emang kau tidak mau makan apa Rani?"

"Lagi malas aku Mira," balas Rani sekenanya.

"Yaelah, pusing sih pusing, tapi jangan libatkan perut dong Rani," sindir Mira.

"Apaan sih, tambah ngga jelas deh kamu Mira?" balas Rani bertambah sewot.

“Iya-lah, sepusing atau seberat apa pun, perut itu-kan harus diisi Rani."

"Sudah bawel habiskan makanannya, bentar lagi kita masuk!"

"Huuuh, gitu aja kau sensi Rani," sambil menggerutu dengan muka mengejek Rani.

Rani masih terdiam memikirkan Juli yang makin hari makin tersakiti.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LTH" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LTH
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder
9.7
Raissa terancam kehilangan panti jompo tempat tinggalnya akibat rencana penggusuran oleh taipan kejam, Arkhan Alvaro. Demi menyelamatkan tempat itu, Raissa nekat menghadapi sang miliarder yang dingin. Namun, Arkhan justru memberikan penawaran mengejutkan: panti akan selamat jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Terjebak dalam dilema antara pengorbanan dan harga diri, hubungan penuh paksaan ini mulai memicu konflik emosi yang mendalam bagi mereka.
Sampul Novel DESTINY
9.5
Zeline Zakeisha sering dikhianati karena kondisi genophobia miliknya. Demi kesembuhannya, sahabat Zeline mendaftarkannya ke situs kencan internasional. Di sana, ia terhubung dengan Ricardo Fello Daniello, triliuner asal New York yang muak dengan wanita pemburu harta. Meski terpisah jarak Indonesia-New York, kepribadian Zeline yang unik justru memikat Ricardo. Kini, mereka harus berjuang melawan trauma dan jarak demi membuktikan apakah takdir akan menyatukan cinta mereka.
Sampul Novel Hello Love Sign
8.7
Sandhya Sheina Aninditha sangat membenci keluarga Levanchois, namun terpaksa bertahan demi sebuah misi rahasia di tengah intrik kantor yang toksik. Saat ingin balas dendam dan mengundurkan diri, ia justru bertemu Samuel Clark Levanchois, pria paling berkuasa di keluarga itu. Samuel menawarkan kontrak bisnis yang menggiurkan demi membebaskan Sheina dari bos lamanya. Terjebak dalam persaingan dominasi, mampukah Sheina lepas dari jerat cinta pria yang sangat ia benci tersebut?
Sampul Novel Jaring Kebohongan Suami Miliarderku
9.6
Sebagai istri miliarder teknologi bernama Kian, aku adalah penenang jiwanya. Namun, ia justru memberikan dana medis adikku kepada selingkuhannya demi suaka kucing. Saat kecelakaan tragis merenggut nyawa adikku, Kian membiarkanku terluka demi wanita itu. Puncak pengkhianatan terungkap saat aku ingin bercerai; pernikahan kami ternyata palsu dan penuh tipu daya. Kini, aku menghubungi pria dari masa laluku untuk membalas dendam dan menghancurkan kerajaan Kian.
Sampul Novel ME AND PRINCE
8.5
Terpisah dari keluarga kaya sejak bayi, Anelies berhasil meloloskan diri dari penculiknya hanya untuk jatuh ke tangan mucikari kejam. Di usia delapan belas tahun yang polos, keperawanannya dilelang kepada seorang raja minyak. Tanpa harta dan petunjuk selain liontin cincin milik sang ibu, ia harus berjuang bertahan hidup di dunia yang keras. Akankah Anelies berhasil menemukan orang tua kandungnya? Inilah sekuel ketujuh dari seri Hot and Dangerous Billionaire.
Sampul Novel Nick
8.0
Nick Gustron adalah pengusaha sukses yang mendominasi dunia informatika dengan ketegasannya. Namun, dominasinya kini ditantang oleh klien bisnisnya sendiri, Salas Cano, pria asal Venezuela. Persaingan mereka tidak hanya soal bisnis teknologi, melainkan perebutan hati seorang gadis desa yang sederhana. Kedua pria tampan, cerdas, dan kaya ini harus bersaing ketat demi cinta. Siapakah yang akhirnya memenangkan hati sang gadis? Harap bijak, terdapat konten dewasa.