
RAHASIA SANG BODYGUARD
Bab 2
Dari bisnis yang dikelolanya, Nara banyak belajar, terutama tentang sifat manusia yang tidak pernah puas. Jangan jauh-jauhlah, dirinya sendiri bisa dijadikan contoh. Bagaimana lipstik merah menyala yang berjejer di meja riasnya bisa dijadikan simbol ketidakpuasan manusia.
Setiap bulan, kadang malah dua atau tiga kali sebulan, pasti kotak lipstiknya ada penghuni baru. Kadang warnanya sama tapi merk berbeda, ada juga yang merknya sama tapi shadenya beda tipis. Bisa dibilang, sebagian besar penghasilan Nara teralokasi ke sana.
Dirga bilang itu pemborosan, tapi Nara menyebutnya investasi. Dirga mencibir mendengar pembelaan diri Nara itu. Hah? Investasi? Investasi macam apa itu? Memangnya berapa harga jual kembali segambreng lipstik second yang warnanya hampir sama semua itu? Mana warnanya mentereng? Situ siapa sih? Marilyn Monroe? Dirga mencibir tiap kali berdebat dengan Nara soal kecanduannya dengan lipstik merah menyala.
Sekarang, adalagi yang sejenis dengan Nara. Klien yang punya sifat tak pernah puas. Ya, klien cantik di depannya ini juga masuk dalam kategori manusia tak pernah puas. Ditilik dari sisi manapun, klien Nara yang satu ini bisa dibilang nyaris sempurna. Tinggi semampai, kulit bersih cerah, wajah mungil dengan hidung bangir, tulang pipi tinggi, dan bibir yang tipis. Tapi tetap saja, dengan kondisi nyaris sempurna seperti itu, si klien masih belum merasa cantik dan masih ingin operasi lagi.
"Kalau mbak Nara operasi dimana?" tanya si klien sambil menatap Nara dari atas ke bawah. Tatapan matanya perpaduan dari rasa kagum dan iri. Dan selalu pertanyaan yang sama lagi yang di dengar Nara. Dirinya selalu dituduh melakukan operasi plastik, mentang mentang dia pemilik tempat ini.
"Saya belum pernah operasi apapun, Bu. Jangankan pisau bedah, suntik vaksin bulan lalu saja, saya hampir ngompol ketakutan." jawab Nara dibalas dengan tatapan tidak percaya perempuan di depannya itu.
"Ooh.. berarti mbak Nara ini memang jago make up ya. Buktinya bisa kelihatan cantik begini. Mana mungkin orang bisa cantik kayak barbie gini kalau nggak di edit edit mukanya. Kalau nggak oplas, pasti make up deh." perempuan itu menjawab lagi dengan nada sinis. Satu sisi mulutnya terangkat ke atas, dan dia memasang wajah angkuh, dan mengatakan semua itu tanpa melepaskan pandangan dari brosur yang dari tadi bolak balik dibacanya. Nara hanya menanggapi dengan anggukan samar sambil diam diam menggeretakkan gigi. Sesukamu mau bicara apa, Bu. Yang penting transaksi kita berjalan lancar. Kalau bukan karena uang, sudah lama mukamu itu ku operasi sendiri tanpa bius. Batin Nara menahan kesal.
"Saya cuma mau filler bibir. Tapi yang bagus. Sama hidung nih, bisa dimancungin lagi dikit kan? Ini pipi juga kayaknya udah mulai kempot deh.." Lisa Natania, perempuan cantik mantan model itu terus mengeluhkan kekurangannya sambil menatap cermin. Ia lalu melanjutkan.
"Sudut mata juga mulai ada keriputnya nih, iya kan sayang?" Lisa menoleh ke arah suaminya. Meminta pendapat.
"Mau jujur apa bohong?" tanya Fernando, sang suami pada istrinya.
"Ya jujur lah sayang." jawab Lisa sambil terus mematut diri di cermin besar di meja Nara.
"Aku nggak suka kamu oplas. Kamu tu udah cantik. Kurang apalagi coba?" tanya Fernando yang terlihat kesal dengan pilihan istrinya untuk oplas.
"Aku cuma nggak suka keliatan tua, Sayang. Cewek-cewek di sekeliling kamu tuh masih muda-muda semua, bisa kesalip pelakor kalo aku nggak berusaha mempertahankan kecantikan!" bantah Lisa dengan suara meninggi.
"Itu lagi yang dibahas! Memangnya kapan sih aku lirik perempuan lain?" Suara Fernando naik ikut ikutan satu oktaf seperti sang istri.
Nara memutar bola mata. Helloooww.. Bapak, Ibu, di sini kantor agen wisata medis dan konsultan operasi plastik. Bukan ruangan penasehat perkawinan. Ini kenapa malah berantem bahas rumah tangga di sini sih?
Jangan sampe ni kantor berubah jadi sasana tinju ya, aku ogah alih profesi dari konsultan jadi wasit dadakan. Batin Nara dalam hati sambil menatap sepasang suami istri di depannya itu dengan tatapan jengkel.
"Kamu pelit banget sih! Ini tuh nggak seberapa biayanya!" Lisa mulai berteriak.
"Ini bukan masalah duit! Ini paling berapa sih, mana pernah aku mempermasalahkan uang? Beli apartemen sama tanah kemarin aja aku nggak hitung kok, apalagi cuma biaya operasi yang recehan begini." Fernando tak terima dibilang pelit. Dia membalas istrinya dengan sengit.
Receh? Sepuluh digit dia bilang receh? Dia siapa sih? Crazy Rich? Atau CEO terkaya yang pernah masuk forbes? Shombong Amhat! Nara membatin kesal.
"Ya udah, kalo gitu kenapa dilarang coba?" si istri mulai ikut-ikutan meninggikan suara. Mereka tidak sadar sedang ada dimana. Bagai permen karet di ujung lidi, pertengkaran mereka memancing minat lalat-lalat tukang gosip yang mulai melebarkan telinga, siap menebar berita panas layaknya akun Lambey Tumpah.
"Ya sudah terserah kamu ajalah! Aku cuma nggak mau muka kamu jadi berubah! Siapa sih yang hasut kamu sampe segini ngototnya pengen oplas? Paling-paling nanti hasilnya juga sama aja!" Fernando mengomel lagi. Menyulut kemarahan sang istri. Brosur dengan foto wajah Kim Ji Won dan Yua Shinkawa mendadak remuk dalam genggaman Lisa.
"Ya udah, kalo memang nggak boleh aku batalin aja. Kamu emang tega." air mata Lisa mulai menggenang. Drama deh. Nara memutar bola mata. Mulai jengah dengan kelakuan dua sejoli tak punya urat malu ini.
"Bukan gitu sayang.." Fernando melunak. Dimana-mana sama, lelaki selalu lemah dengan air mata, seperti perempuan yang selalu luluh dengan lelaki yang punya mulut manis berbisa.
"Aku pengen cantik, Yang. Anita yang rekomendasiin agen oplas ini ke aku. Kamu liat dong dia makin cantik dan keliatan lebih muda. Masa dia bisa aku nggak bisa?" rengek Lisa.
Ah, si Anita rupanya. Istri anggota dewan juga, jebolan ajang pencarian bakat yang tereliminasi pertama kali. Mantan sekuter, selebriti kurang terkenal yang beberapa bulan lalu sempat menggunakan jasa kantor mereka untuk mempermudah proses oplas di korea. Pasti Lisa dan Anita bertetangga. Nara menebak dalam hati.
Ternyata si Lisa ini penganut paham rumput tetangga lebih hijau. Sungguh klise. Horang kayah macam mereka ini tak ada bedanya dengan emak-emak kampung yang biasa dilihat Nara. Selalu iri dengan apa yang dimiliki tetangga, padahal punya sendiri tak kalah bagusnya. Kalau emak-emak kampung nyinyirin tetangga yang beli kulkas baru padahal miliknya sendiri masih bagus, si Lisa ini iri dengan muka baru sang tetangga padahal dia sendiri jauuuh lebih cantik dari Anita.
"Kamu ni selalu aja iri dengan punya tetangga. Kemarin beli apartemen gara-gara Mbak Yuli, istri Pak Heru juga baru beli apartemen kan? Terus apalagi? Mobil kamu minta diganti juga ngikutin gayanya si Renata kan? Anaknya Pak Salman? Terus beli tanah itu? Hasutan siapa lagi itu?" Fernando meradang lagi.
"Itu bukan hasutan. Tanah itu aku beli karena semua pada beli tanah disitu, masa aku sendiri nggak? Masa tetangga investasi di mana-mana aku cuma gigit jari aja?" Lisa membela diri.
Nara mendesis. Sampai kapan drama ini mencapai episode akhir? Live lagi, mana bisa di skip! Harus di cut ini, sebelum jumlah episodenya ngalahin sinetron tukang cucur naik bajay.
"Ehm.. Bapak, ibu.. Maaf saya menyela. Saya coba jelaskan pilihan kliniknya dulu ya. Setelah itu, nanti Bu Lisa bisa diskusikan lagi dengan Bapak, karena untuk tindakan yang tadi Bu Lisa sebutkan tadi, saya ada rekomendasi beberapa klinik yang terkenal di Korea. Bu Lisa dan Bapak bisa berdiskusi dulu. Jadi atau tidaknya bisa dibicarakan nanti." Nara menjelaskan dengan santai.
Kedua orang didepannya memasang ekspresi terkejut, malu, bercampur kesal. Mungkin karena babak pertama pertarungannya diinterupsi.
Tapi akhirnya, kedua orang itu pulang juga setelah Lisa bersikeras mengambil beberapa brosur dan berjanji pasti datang lagi untuk proses selanjutnya.
Dirga, yang sudah hampir sekarat karena lelah, lapar dan kesal, langsung mengajak Nara pulang. Rumah mereka memang searah. Dengan dalih menghemat ongkos, Dirga selalu nebeng Nara setiap hari.
"Rumputnya sih sudah bukan lagi hijau." gerutu Nara sambil menutup pintu.
"Hah? Apa? Rumput? Rumput apa? Kok tiba tiba kamu bahas rumput sih?" kening Dirga berkerut mendengar Nara bergumam sendiri soal rumput. Dirga paham kalau sahabatnya ini sering bicara random. Tapi ini terlalu random. Kenapa tak ada angin tak ada hujan, tiba tiba membahas rumput?
"Itu, si Lisa. Rumput tetangganya warnanya jingga. Semenarik itu, makanya si Lisa ngotot banget pengen punya juga. Ah, sudahlah. Ayo kita pulang. Kalau sampai dia jadi, kita harus berterimakasih ke Anita, si tetangga yang rumputnya berwarna jingga." ujar Nara menganalogikan sifat iri hati Lisa pada Anita dengan rumput tetangga. Sementara Dirga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung dengan apa yang dibicarakan Nara.
Seandainya Nara tau, warna jingga rumput tetangga itulah yang nanti jadi sumber malapetakanya.
Anda Mungkin Juga Suka





