
Rahasia Istri yang Terlantar
Bab 2
"Nona Arina, maafkan aku! Aku tidak bermaksud menjatuhkan kopermu!"
Kartina bergegas menuruni tangga dengan menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan.
"Apa barang-barang ini aku masukkan ke dalam kantong untuk sementara?" imbuhnya sambil menyembunyikan rasa jijik di balik senyum manisnya. Kartina sudah lama muak dengan Arini karena dia menganggapnya tidak lebih dari gadis desa miskin yang tanpa malu-malu bergantung pada Kristian untuk kehidupan yang lebih baik.
Melihat pakaian-pakaian yang berserakan di lantai, Kristian mengerutkan kening dengan jengkel dan membentak, "Kamu ceroboh sekali!"
Tidak banyak yang ada di dalam koper, hanya beberapa potong pakaian dan hampir tidak ada perhiasan.
Tampaknya dia tidak menggunakan uang yang diberikan Kristian padanya selama bertahun-tahun. Melihat betapa sederhana dan hematnya dia menunjukkan bahwa dia tidak pernah mencoba mengambil keuntungan dari statusnya.
Namun, cinta tidak bisa dipaksakan atau dipalsukan.
"Koper Melani harus diprioritaskan terlebih dahulu. Masukkan saja barang-barang Arini ke dalam kantong untuk sementara. Aku akan menyuruh pelayan untuk membelikanmu koper yang baru besok," ucap Kristian sambil melirik ke arah koper yang rusak itu.
Arini tersenyum tipis dan pahit saat berkata, "Koper itu adalah koper yang kucuri dari para penculik saat kita kabur untuk menyelamatkan diri. Jika tidak ada koper itu, saat itu kita pasti sudah tenggelam."
Selama bertahun-tahun, Arini menjaga koper itu dengan baik, sama seperti dia menjaga pernikahan mereka. Namun sekarang, koper itu hancur, sama seperti pernikahan mereka saat ini.
Kristian tertawa dingin dan berkata, "Cerita itu mungkin bisa menipu kakekku, tapi tidak denganku."
Meskipun tidak dapat mengingat apa pun saat dia diculik ketika masih kecil, dia selalu merasa bahwa orang itu tidak mungkin Arini.
Beralih ke Kartina, Kristian meninggikan suara saat memerintah, "Cepat kemasi barang-barangnya!"
"Baik, Tuan," ucap Kartina sambil membereskan pakaian Arini dengan penuh semangat sambil menginjak pakaian itu dengan sengaja untuk mengotorinya.
Dengan nada manis yang memuakkan, dia mengejek, "Nona Arini, nenek Tuan Kristian selalu berkata bahwa manusia itu seperti pakaian. Jika pakaian seseorang terkena noda, tidak peduli seberapa banyak kamu mencucinya, nodanya tidak akan pernah benar-benar hilang."
Arini telah memperlakukan Kartina dengan baik selama bertahun-tahun.
Bagaimanapun juga, Kartina adalah kerabat jauh nenek Kristian.
Beberapa tahun yang lalu, ketika Kartina melakukan kesalahan yang hampir membuat Keluarga Sulistio berselisih dengan Kevin Lintang, putra tertua Keluarga Lintang, Arini-lah yang meredakan suasana. Dia telah menegosiasikan kesepakatan dengan Kevin, yang lumpuh, untuk mengamankan lahan yang strategis bagi proyek komersial Keluarga Sulistio. Pada saat itu, Kartina sungguh berterima kasih padanya. Namun kini, karena didorong oleh angin perubahan dalam Keluarga Sulistio, Kartina bertindak seolah-olah dia tidak pernah berutang budi padanya.
Semuanya bermuara pada satu hal, yaitu dukungan nenek Kristian telah memudar sehingga sikap keluarganya pun berubah.
"Kamu benar, pakaian yang kotor tidak akan bisa dicuci bersih sepenuhnya," ucap Arini, sambil melirik ke arah Kristian, lalu mengangkat bahu dan berkata dengan tenang dan tegas, "Jadi, aku tidak membutuhkannya lagi."
Lagi pula, pakaian yang polos dan biasa seperti itu bukanlah gayanya. Pakaian-pakaian itu tidak pernah cocok untuknya.
"Tapi, saat seseorang melakukan kesalahan, mereka harus menghadapi konsekuensinya," lanjutnya dengan suara yang dingin dan tidak seperti biasanya.
Udara di ruangan berubah. Untuk pertama kalinya, Kristian melihat Arini dari sudut pandang yang baru, di mana sifatnya yang lembut dan penurut kini tergantikan oleh sikap yang dingin dan tajam. Bahkan Kartina juga merasakan perubahan ini, tetapi dia buru-buru berkata dengan polos, "Aku hanya melayani Keluarga Sulistio, Nona Arini. Karena kalian sudah bercerai ...."
Plak!
Sebelum Kartina menyelesaikan kalimatnya, telapak tangan Arini mendarat pipi kirinya dengan sangat kuat sampai suaranya bergema di ruangan itu.
Kartina membelalak tidak percaya dan bertanya, "Beraninya kamu menamparku?"
"Suka-suka aku."
"Jika Nyonya tahu ...."
Plak! Tamparan kali ini mendarat di sisi pipinya yang lain dengan lebih kencang sehingga Kartina terhuyung mundur. Sekarang, kedua pipinya bengkak sehingga terlihat simetris.
Tamparan kedua sukses membuat tubuh Kartina tumbang dan terjatuh ke lantai. Pergelangan kakinya terkilir, dia menjerit kesakitan dengan raut wajah malu sekaligus marah.
Air mata mengalir di mata Kartina saat dia merengek, "Tuan Kristian, dia sudah keterlaluan!"
Namun sebelum Kartina sempat mengeluh lagi, Arini menghampirinya dan mencengkeram lehernya untuk menarik seuntai kalung dari lehernya.
"Ini adalah kompensasi untuk koper dan pakaian."
Arini mencengkeram lehernya sampai memerah dan air matanya tumpah.
"Sekarang, aku akan mengambil kembali apa yang sejak awal bukan milikmu."
Kalung itu terbuat dari batu zamrud bertatahkan berlian. Meskipun bukan perhiasan yang berharga, ukiran pada bagian belakangnya menunjukkan dengan jelas bahwa kalung itu bukan milik Kartina.
"Kamu ... kamu menyerangku dengan sengaja!" seru Kartina dengan suara serak sambil bernapas terengah-engah. Dalam kepanikannya, tanpa sadar dia mengompol.
Hampir mati lemas karena dicekik Arini, Kartina baru menyadari bahwa dia tidak pernah benar-benar mengenal Arini. Tidak hanya menyakitinya, wanita itu bahkan sanggup membunuhnya jika mau.
Namun, setelah menarik kalung itu dari leher Kartina, Arini berbalik dan pergi begitu saja.
Merasa putus asa, Kartina bangkit berdiri dan menghampiri Kristian sambil berkata dengan nada memohon, "Tuan, ini semua salah paham, kumohon ...."
"Keluar!"
Kesabarannya habis, Kristian menendang Kartina sehingga wanita itu terjatuh lagi.
Bau pesing yang tajam dan menyengat menusuk hidungnya, amarah Kristian yang sudah mencapai puncak pun meluap.
"Keluarga Sulistio tidak punya tempat untuk orang yang suka mencampuri urusan orang lain."
Sudah keluar dari vila dengan ponsel di tangan, Arini menghubungi nomor yang dikenalnya. Ketika panggilan telepon itu tersambung, dia berkata dengan santai, "Rania, aku sudah bercerai dan meninggalkan vilanya. Rumah dan mobilku berada di Nere. Apa kamu keberatan kalau aku menginap di tempatmu malam ini?"
Di ujung telepon lainnya, Rania Ghani tertegun sejenak sebelum menjerit kegirangan dalam hitungan detik.
"Astaga! Akhirnya kamu menceraikan pria idiot itu! Dari pada menginap, lebih baik kita berpesta! Pesta lajang!"
Bahkan dari kejauhan, Arini dapat mendengar tawa Rania yang berlebihan terdengar melalui telepon. "Jika orang-orang di Weco mengetahui sang pendiri telah kembali, servernya pasti akan meledak!"
Anda Mungkin Juga Suka





