Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA IBU MERTUAKU

RAHASIA IBU MERTUAKU

Ada misteri kelam yang terselubung di balik keluarga suamiku. Aku selalu dicekam rasa takut yang luar biasa tiap kali harus berhadapan dengan ibu mertuaku sendiri. Tatapan matanya yang liar serta bunyi kecapan aneh dari mulutnya terasa sangat mengerikan. Situasi semakin mencekam saat ia menyadari bahwa hari persalinanku sudah di depan mata. Aku merasa terancam oleh rahasia besar yang ia sembunyikan dariku di saat aku sedang sangat rentan.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Aku sudah cerita ke ibu. Mungkin ibu lupa. Aku juga tau kamu hamil dari ibu," ujar mas Harto, setelah mengatakan itu langsung menutup mulutnya.

"Kenapa Mas? Keceplosan?" tanyaku, memicingkan mata.

Mas Harto tampak salah tingkah. Ia mendekat dan menatapku lekat. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan dengan isyarat matanya.

"Bagaimana kalau kita menyewa rumah Yank?"

Tawaran mas Harto sukses membuatku terkejut. Maksudnya apa? Aku tanya apa, ia malah menawariku pindah rumah. Memangnya apa yang salah jika diam di sini bersama kedua orang tuanya? Toh ibu bukan seperti ibu mertua pada umumnya yang cerewet atau banyak mengatur. Aku merasa betah tinggal di sini. Ibu tidak pernah memintaku membersihkan rumah. *anjuga tidak marah, kalau kerjaku hanya berada di dalam kamar seharian. Bukan karena aku malas. Aku hanya ingin mas Harto berbakti pada ibunya selagi masih ada.

"Mas, kenapa kamu selalu mengajakku pindah rumah? Kalau kita pindah, kasihan ibu. Dia pasti kesepian kalau bapak kerja. Kita tinggal di sini saja Mas! Sedari kecil aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Aku besar hanya dirawat kakak-kakakku. Di sini aku bisa merasakan rasanya punya ibu, punya bapak, punya orang tua lengkap," ucapku, sudut mataku mulai berair saat mengatakan itu.

"Aku tau apa yang kamu mau Yank. Tapi kan tidak etis saja, kalau kita selamanya tinggal di sini. Biar bagaimanapun kita sudah menikah, dan aku wajib memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk kamu. Sekalian belajar mandiri juga," terang mas Harto, mengatakan alasannya.

Semua yang Harto katakan memang benar. Kami sudah menikah. Dan, sudah sepantasnya tinggal di rumah sendiri, walaupun itu hanya mengontrak. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku ingin terus tetap tinggal di sini. Rasanya berat sekali.

"Kita bicarakan ini nanti. Sekarang aku mau tanya ke kamu. Aku perhatikan, semenjak kita pindah ke rumah ini, kamu sepertinya menjaga jarak dengan ibu. Kamu lagi ada masalah sama ibu?" tanyaku, berharap mas Harto bisa menjawab rasa penasaranku.

"Tidak! Aku dan ibu baik-baik saja. Kita tidak usah membahas masalah ibu lagi. Aku lelah, bagaimana kalau kita sholat sebentar, terus setelah itu kita keluar cari makanan?" tawar Mas Harto, sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan kami.

Aku mengangguk setuju. Lagi pula, ini juga sudah memasuki waktu sholat maghrib. Dengan bergandengan tangan, kami berdua berjalan keluar kamar menuju arah dapur.

Dari luar, saat kami melewati kamar ibu. Suara berisik terdengar samar. Jika sudah masuk waktu magrib, kebiasaan ibu pasti akan berdiam diri di dalam sana sampai pagi menjelang. Entah apa yang ibu lakukan di dalam sana.

"Mas, suara apa itu?" tanyaku, penasaran.

"Jangan dihiraukan! Sekarang kita ambil wudhu, setelah itu masuk kamar lagi!" titah mas Harto, menarik tanganku menjauh dari depan kamar.

"Mas, aku mau ke kamar kecil dulu. Sudah kebelet ini," ujarku, berniat memisahkan diri.

"Pipis di sini saja! Jangan ke kamar kecil!" sahut mas Harto, melarangku.

Mendengar larangannya, tentu saja aku menolak. Aku tidak mungkin menunaikan hajat di ruang terbuka seperti ini. Biarpun mas Harto adalah suamiku, tetap saja aku malu.

"Malu Mas, aku ke kamar kecil saja!" tolakku, berniat pergi.

"Sudah, di sini saja! Memangnya malu kenapa? Aku kan suami kamu, masa kamu malu? Di sini tidak mungkin ada orang lain juga," ucap mas Harto, bersikeras menahanku.

Yang dikatakan mas Harto memang ada benarnya juga. Rumah ibu berjarak cukup jauh dari tetangga lain. Di desa ini, jarak antar rumah yang satu ke yang lain memang lumayan jauh. Wajar saja ia memintaku tidak usah malu.

"Tidak mau Mas! Aku ke kamar kecil sebentar saja. Kamu ambil wudhu duluan saja!" Aku juga bersikeras menolaknya.

Tanpa mempedulikan larangan mas Harto, aku menjauh, lalu mengayunkan langkah menuju kamar kecil.

"Uek..."

Kakiku melangkah mundur, saat pintu kamar kecil terbuka lebar. Pencahayaan memang remang di dalam sini. Karena memang hanya menggunakan lampu minyak. Yang membuat aku ingin muntah, aku tidak tahan dengan bau kamar kecil ini.

"Kamu kenapa Yank?" tanya mas Harto, sigap menyusulku.

"Bau sekali Mas. Kenapa kamar kecilnya bau seperti ini? Padahal tadi pagi sudah aku bersihkan. Setiap hari dibersihkan, tapi setiap hari juga bau pesing dan anyir," sahutku, bicara sambil menutup hidungku.

"Hem, biarkan saja! Kamu pipis di sana saja! Sekalian siram bersih-bersih, terus ambil wudhu!" titah mas Harto, dengan cepat menutup pintu kamar kecil.

Dengan tergesa-gesa aku menunaikan hajat, lalu mengambil wudhu di dekat sumur. Malam ini suasananya terasa seram sekali. Entah hanya perasaanku saja, atau memang menyeramkan.

Sejenak aku mendongak menatap langit. Cahaya bulan benar-benar terang malam ini. Bentuknya bulat sempurna. Sepertinya bulan sedang dalam bentuk terindahnya.

"Yank, ayo cepat! Nanti keburu masuk waktu isya!" Panggil mas Harto, mengejutkanku.

Aku gegas mendekatinya. Namun, sebelum aku mencapai mas Harto. Sempat aku berbalik ke belakang. Diantara rimbunnya batang-batang pohon bambu, sesuatu melayang cepat, menyisakan bau anyir yang sangat menyengat. Terakhir sebelum sosok itu menghilang, dapatku lihat cahaya merah melesat cepat.

"Yank, ayo!" Panggil mas Harto lagi.

Kali ini ia tidak hanya memanggilku, melainkan menarik tanganku sedikit kasar menjauh dari belakang rumah.

Sesampainya kami di dapur. Bapak sedang sibuk menyiapkan makan malam. Entah kapan bapak datang. Hanya bapak, sedangkan ibu sama sekali tidak terlihat. Aku sudah biasa dengan pemandangan ini setiap malamnya. Awal-awalnya aku memang curiga dengan kebiasan ibu. Tapi lama-lama aku sudah mulai terbiasa.

"Pak, kapan pulang?" tanyaku, menghentikan langkah.

"Baru aja Na. Kalian dari mana?" tanya bapak, menatap kami berdua.

"Dari belakang Pak, ambil wudhu. Bapak tidak sholat?" tanyaku.

Mas Harto hanya diam. Ia bahkan tidak menyapa bapaknya sendiri.

"Nanti saja Na," jawab bapak mertuaku, tersenyum masam.

Entah apa arti dari senyuman bapak. Aku tidak terlalu menanggapinya. Dari arah belakangku, mas Harto mengajakku untuk cepat ke kamar.

"Pak, kami ke kamar dulu!" pamitku, berjalan lebih dulu.

"Har, ini malam purnama. Kamu dan istrimu di kamar saja! Jangan keluar kamar sampai menjelang subuh! Kunci pintu dan jendela rapat-rapat!" titah bapak, dapat aku dengar sangat jelas.

Dalam hati mulai bertanya-tanya. Apa maksud bapak mengatakan itu? Memangnya ada apa dengan malam purnama? Kenapa kami harus mengurung diri sampai subuh menjelang? Banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku. Mungkin nanti aku tanyakan langsung ke mas Harto saat di kamar.

"Baik Pak," jawab mas Harto, kemudian menyusulku.

Saat kami berdua melewati kamar ibu. Suara bising tadi sudah tidak terdengar. Senyap dan sepi sekali. Mungkin ibu sudah tidur lebih dulu. Biasalah ibu-ibu, rasa kantuk sangat cepat mendera, apalagi jika sudah seharian berberes rumah. Pasti badan rasanya lelah sekali.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PLL" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PLL
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dersik: Begu Ganjang Telah Kembali
9.1
Dendam lama bangkit saat Dersik kembali ke Desa Mangpusu. Meski puluhan tahun berlalu, ia tetap awet muda dan mempesona, siap menuntut balas atas tragedi masa lalunya. Sunarni, sang mantan majikan, kini tunduk karena rasa bersalah saat keluarganya dihabisi satu per satu. Di tengah teror Begu Ganjang, Surya sang dukun sakti mencurigai Dersik sebagai mantan kekasihnya. Ironisnya, putra Sunarni justru jatuh cinta pada wanita misterius yang bertekad menghancurkan mereka.
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Upaya Laras melarikan diri dari rumah berubah menjadi mimpi buruk saat ia dan ketiga buah hatinya diculik oleh seorang sopir travel. Di dalam penyekapan yang penuh siksaan, Laras harus menelan pil pahit kehilangan salah satu anaknya. Tragedi ini memicu dendam membara dalam dirinya. Ia bertekad mengungkap dalang serta motif keji di balik penderitaan mereka. Mampukah Laras menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa dan lolos dari jeratan maut yang mengancam nyawa?
Sampul Novel Escape
8.1
Emily Watson, model cantik yang terancam bahaya, berada dalam lindungan Ethan Davis, pemilik perusahaan keamanan elite di London. Dr. Watson menyewa jasa Ethan demi menjaga rahasia besar putrinya, sebelum ia ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala. Di tengah pelarian dan ancaman pembunuhan, Ethan dan Emily harus menghadapi trauma masa lalu mereka yang kelam. Akankah cinta yang lahir dari kegelapan ini mampu menyelamatkan mereka dari intrik mematikan yang mengintai di setiap sudut kota?
Sampul Novel Ibu Angkat Psikopat
8.5
Diadopsi bersama kembarannya yang rupawan, sang protagonis mengira kehidupan barunya akan normal. Namun, rahasia kelam keluarga angkatnya terbongkar saat ia menyaksikan putra ibu angkatnya, Donny, melecehkan kakaknya demi menghasilkan plasenta. Sang ibu percaya plasenta kerabat dekat adalah obat segala penyakit. Setelah melahirkan tiga anak untuk dikonsumsi plasentanya, kelahiran anak keempat justru membawa petaka misterius yang membuat ibu angkat mereka kehilangan akal sehat.
Sampul Novel KAHINA
8.1
Tahun 1982, Laksmi menemukan kenyataan pahit saat putrinya, Kahina, tewas mengenaskan di tangan wanita tua gila. Tragedi ini menjadi kunci pembuka rahasia kelam keluarga Laksmi yang terkubur sejak era kolonial. Melalui perjalanan raga sukma ke tahun 1881, terungkap keterlibatan leluhurnya dengan sekte pemuja setan dan konspirasi Logi Persahabatan. Dari zaman VOC hingga pandemi 2021, jaringan kriminal ini terus bergerak dalam bayang-bayang sejarah Indonesia yang penuh darah.
Sampul Novel Misteri Masalembo (Crash Landing)
8.8
Airbus A320 terhisap badai dahsyat menuju portal masa lalu di benua asing. Selama dua jam mencekam, kabin dipenuhi gas beracun dan arwah penuh dosa. Di kokpit, Adam bersama Ingrid Rose, ahli astrofisika asal Austria, berjuang memecahkan teka-teki misterius demi menemukan jalan pulang. Meski berhasil kembali, pesawat kehabisan bahan bakar akibat badai tersebut. Tanpa pilihan lain, pendaratan darurat di perairan luas terpaksa dilakukan demi bertahan hidup.