
Rahasia Gelap Sang Kekasih
Bab 2
Gaun hitam panjang yang dikenakan membuat kulit putih mulusnya semakin menonjol. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang mempertegas wajahnya yang terlihat begitu polos. Namun, rona merah samar di pipinya memberikan pesona yang tak bisa lepas dari pandangan.
Akhir-akhir ini, dia seperti kehilangan aura polos seorang gadis muda dan mulai memancarkan daya tarik wanita dewasa.
Matanya sedikit memerah dan pandangannya yang berbinar-binar tertuju padaku.
Seketika, tubuhku membeku.
Aku memaksa diri untuk tidak berpikir macam-macam. Dengan cepat, aku melangkah mendekat dan mengambil tas dari tangannya.
Aku langsung mengernyit begitu tas itu berpindah ke tanganku, karena aku mencium aroma samar alkohol dari tas itu.
"Kamu habis minum?"
Tanyaku dengan sedikit kerutan di dahi, merasa agak tidak senang.
Aku teringat dua bulan lalu, saat reuni teman sekolah, beberapa teman lama mencoba membujuk Grace untuk minum, tetapi dia menolak, mengatakan bahwa dirinya alergi alkohol.
Sejak itu, aku baru tahu dia tidak bisa minum alkohol. Bahkan, aku langsung membuang semua minuman beralkohol yang teman-temanku berikan.
Grace terdiam sejenak, lalu memeluk lenganku dan menjelaskan bahwa tadi malam ada acara di kantor. Bau alkohol itu menempel padanya saat dia mengantar rekan kerja pulang.
"Kamu kan tahu, aku alergi alkohol."
Kulit halusnya menyentuh lenganku, jakunku bergerak naik turun.
Dengan suara yang agak serak, aku menjawab, "Baguslah kalau kamu nggak minum. Aku sudah siapkan air mandinya, cepat mandilah."
Usai aku bicara, Grace berjinjit dan mencium pipiku, lalu berlari kecil menuju kamar.
Ciuman itu membuatku berdebar. Aku langsung menarik tangannya sebelum dia masuk ke kamar.
"Grace, kita ... "
Belum selesai aku bicara, Grace memotongku dengan wajah memelas dan berkata bahwa dirinya lelah, mau istirahat lebih awal.
Aku menghela napas kecewa dan perlahan melepaskan tangannya.
Keesokan paginya, setelah sarapan, dia mengenakan pakaian dengan sedikit lamban. Sebelum pergi, dia berkata padaku,
"Nelson, kalau kamu begitu mau, kita bisa bermain besok."
Mendengar itu, semangatku langsung bangkit. Semua ketidakpuasan semalam lenyap begitu saja.
Dengan senyuman nakal, aku menjawab, "Kalau begitu, kamu harus istirahat yang banyak ya siang ini."
"Ah, kamu ini~"
Aku mengantarnya pergi dengan hati riang. Sambil bersiul, aku masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Namun, aku langsung membeku saat mataku tertuju pada tumpukan baju kotor di keranjang ...
Bukannya itu ...
Celana dalam berwarna ungu dari video yang dikirim oleh Peter?!
Sekilas pandang itu membuat tubuhku kaku dan aku hanya bisa berdiri mematung. Suasana di sekitar begitu sunyi hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Tak mungkin salah.
Aku sudah melihat video itu berulang kali!
Dan celana dalam ini benar-benar sama persis dengan yang ada di video itu!
Sama persis dengan yang baru saja dipakai pacarku!
Aku mengambil kain itu dan memeriksanya dengan seksama. Dalam hati, aku berdoa ribuan kali bahwa aku salah.
Namun, saat aku membuka video di ponsel lagi, semua harapanku sirna.
Ternyata benar, aku tidak salah.
Jadi ... wanita itu benar-benar Grace?
Begitu benih kecurigaan tertanam, sangat sulit untuk dicabut.
Dengan tangan gemetar, aku terus menatap video itu selama sepuluh menit penuh sebelum akhirnya menghela napas lega.
Wanita dalam video itu memiliki tahi lalat kecil di bagian pangkal pantatnya, sedangkan Grace tidak punya.
Namun, hatiku kembali terusik.
Tahi lalat itu ... aku pernah melihatnya.
Anda Mungkin Juga Suka





