
Rahasia Gelap Sang Kekasih
Bab 3
'Iblis penggoda' Intan punya tahi lalat seperti itu.
Kenapa aku bisa tahu dengan begitu jelas?
Karena kesalahan besar yang pernah kulakukan itu melibatkan Intan.
...
Aku masih ingat hari itu Intan baru saja putus cinta. Dia menelepon Grace dan mereka berdua minum sampai mabuk berat. Aku pergi menjemput mereka untuk pulang.
Sesampainya di rumah, mereka masih mau melanjutkan minum. Karena sudah di rumah, aku juga ikut minum sedikit.
Waktu itu, aku belum sesukses sekarang. Kami hanya tinggal di apartemen kecil dengan dua kamar.
Aku tidur sekamar dengan pacarku, sedangkan Intan tidur di kamar lainnya.
Tengah malam, aku terbangun karena mau ke kamar mandi. Saat kembali ke kamar, tangan pacarku tiba-tiba melingkar di pinggangku dan membelai dengan lembut.
Sebagai pria muda yang liar, godaan seperti itu sulit untuk ditolak.
Malam itu, aku begitu bergairah, hingga akhirnya terdengar suara lembut yang memohon ampun.
Mendengar suara itu, aku terdiam.
Karena itu ... bukan suara Grace. Itu suara ... Intan.
Aku bertanya pelan dan mendapat jawaban yakin. Seketika, aku terdiam.
Aku bingung, tidak tahu harus bagaimana.
Hingga Intan berbicara pelan padaku, barulah aku menyelesaikannya dengan tergesa-gesa.
Ketika masuk ke kamar mandi, aku melihat Grace tertidur pulas di bawah kasur.
Aku sangat terkejut, tetapi tetap melangkah cepat ke kamar mandi.
Saat itu, rasa senang mengalahkan rasa bersalahku.
Tidak ada yang lebih mendebarkan daripada tidur dengan wanita lain di dekat pacar sendiri!
Begitu aku membuka shower, Intan menyusul masuk. Dia menutup pintu dengan malu-malu meyakinkanku bahwa dia tak akan pernah memberitahu Grace.
Namun, aku malah kembali kehilangan kendali ...
Saat mengenang kejadian itu, tiba-tiba pikiranku melayang ke kaki Intan yang membuatku kembali gelisah.
Namun, ada hal yang lebih penting sekarang.
Aku segera menelepon Peter, memintanya untuk membawaku bertemu wanita di video itu.
"Kenapa?" tanya Peter menggoda, melanjutkan, "Bunga di rumahmu kalah harum dengan bunga liar di luar?"
Aku tertawa kecil, tanpa memberi jawaban.
Bunga liar atau bukan, itu masih harus dibuktikan.
Pukul dua siang, aku tiba di rumah Peter. Setelah naik ke mobil, dengan santai dia berkata padaku kalau belum berniat menikah, mending siapin pengaman.
Untuk berjaga-jaga.
Mendengar nada bicaranya yang penuh makna, aku mulai larut dalam pikiran.
Tanpa sadar, aku tiba di tempat yang dituju GPS. Namun anehnya, lokasi itu hanya sekitar satu kilometer dari kantor pacarku.
Kebetulan?
Dengan perasaan tidak tenang, aku mengikuti Peter masuk ke sebuah gang kecil.
Kami harus berbelok dua kali sebelum sampai di depan sebuah pintu.
Di dalam lift, Peter dengan santainya menekan tombol lantai, seperti seorang pelanggan lama.
Sambil berjalan, Peter menjelaskan padaku. Katanya, begitu masuk akan ada seorang pengurus yang bertanya soal preferensimu. Kalau tidak ada yang menarik, kamu juga bebas berkeliling tanpa harus bayar.
Mendengar itu, aku berpikir mungkinkah ini benar?
Saat pintu lift terbuka, aroma harum yang menggoda langsung menyerang hidungku. Bau itu membuat gairahku meningkat dan langkahku menjadi sedikit goyah.
Seorang pengurus tempat itu mendekati kami. Begitu melihat Peter, wajahnya langsung memancarkan senyuman tulus, sampai kerutannya terlihat semakin dalam.
"Pak Peter, kok sempat-sempatnya datang hari ini? Mau cari Lusi lagi, ya?"
Anda Mungkin Juga Suka





