
RAHASIA AYAH ANAKKU
Bab 3
Kania melihat wajah mereka satu demi satu hingga sampai di wanita yang ditebaknya sebagai Ibu Nick yang terlihat tenang-tenang saja.
Wajahnya teduh.
"Sudah Ma, nggak usah ngurusi orang!" Tegur ayah Henny sungkan melihat kelakuan istri dan anaknya.
"Mungkin nak Nick marah karena Henny sibuk dengan geng sosialitanya, maklum jeng, Henny termasuk pendirinya." Kembali Ibu Henny berusaha mengambil hati orangtua Nick.
Kania menilai mereka dengan otaknya yang masih berkabut, hasilnya dia belum bisa menangkap apa pun selain hinaan, yah...kembali dia mendapat hinaan!
Tidak ada yang membelanya, memang penampilannya pasti mengerikan... batin Kania, setelah menangis cukup lama, dia keluar tanpa mengganti pakaian rumahnya, dia hanya ingin menjauh dari mereka semua.
Ternyata dia terjebak dalam keadaan yang sama.
Polanya berulang, kembali dia menjadi korban hinaan.
Ini hari apa? Apa dosanya hingga dia mengalami hinaan bertubi-tubi seperti ini?
Pria yang dipanggil Nick itu mengajaknya duduk bersama.
Nick mengangsurkan gelas berisi sampanye untuk Kania lalu Nick mengangkat gelasnya sendiri dan
mengajak mereka semua bersulang.
"Untuk kebahagiaan."
Kania mendengar Nick bergumam.
Lalu Nick mendekatkan kepalanya dan berbisik dengan mesra.
"Aku sudah memberitahu Mom and Dad tentang hubungan kita, Honey."
Berlawanan dengan apa yang nampak dipermukaan, Kania merasa tangan Nick di bawah meja menekan pahanya sebagai tanda peringatan.
"Ayo, kita makan dulu, ini sudah jam makan malam." Ajak Pierce Sebastian, ayah Nick yang berusaha menetralisir suasana canggung yang tercipta sejak teman bisnisnya, Mr Zack Vettel yang tanpa konfirmasi datang dengan anak gadisnya di pertemuan bisnis mereka.
Ini pertemuan mereka yang ketiga dan selalu ada Henny.
Pierce dan Nick datang mewakili PT Antampura akan tetapi Henny tidak mewakili perusahaan ayahnya, dia murni diajak karena akan disodorkan sebagai calon istri Nick Sebastian.
Sebenarnya Pierce juga heran dengan orang tua yang mencampuri urusan perjodohan anak-anaknya.
Mereka semua mulai makan dalam diam.
Nick menyuapkan roti ke mulut Kania.
Kania mengunyah pelan tanpa ekspresi.
Melihat hal itu kembali Nick memotong garlic bread dan menyuapkannya kembali.
Sebenarnya Nick kasihan melihat gadis yang memperkenalkan diri dengan Kania ini, gadis tak berdosa yang harus menjadi bulan-bulanan Henny, karena itulah Nick melayani Kania untuk sedikit meringankan perasaan bersalahnya.
Gadis ini dihina karena dia yang memanfaatkan kehadirannya, karena dia muak meladeni Henny yang sejak pertemuan pertama mereka tak punya malu mengejarnya dengan berbagai cara.
Nick kembali menyuapkan roti ke bibir Kania, ketika Henny seperti orang hilang akal mulai berulah.
"Nggak bisa dandan, nggak modis, nggak mungkin bisa memuaskan suami, terus apa yang bikin kamu pilih dia daripada aku? Jawab aku Nick, beri aku alasan satu aja kelebihan dia!" Henny sengaja bersuara keras , hingga menarik perhatian orang-orang yang ada di sekeliling mereka.
Pria yang di panggil Nick sudah mulai menipis kesabarannya, dia ditelepon orang tuanya untuk makan bersama kolega bisnis mereka, ternyata saat dia tiba sudah ada Henny dan kedua orang tuanya, dia tahu sudah lama mereka ingin menjodohkannya dengan putri mereka, gadis sombong, yang menganggap dirinya paling hebat.
Karena itu Nick mencari cara agar bisa lolos, dia bilang sedang menunggu kekasihnya, saat itulah dia melihat seorang gadis baru turun dari mobilnya, sendirian. Untunglah.
"Diamlah Hen, kekasihku dari tadi tidak membalas sedikitpun ocehanmu tapi bukan berarti kamu boleh terus menghina dia, cukup." Tegur Nick berusaha meredam kegusarannya karena di sana ada orang tua yang sangat dihormatinya.
"Mi, Mas Nick kenapa kasar sekali sama Henny?" Henny merajuk dengan gaya manja yang dimata Nick sangat memuakkan.
"Sudahlah, diam Hen." Kata Ayah Henny.
"Memang dia nggak punya tata krama, Pi. Kenalan aja nggak nyebut nama, memangnya sebenarnya nama dia siapa?" Desak Henny.
Nampak Nick dan orang tuanya diam saja pura-pura tidak mendengar pertanyaan Henny.
Hanya Kania yang menatap nanar ke arah Henny.
"Eh, mari kita lanjutkan, silahkan." Terdengar suara maskulin orang tua Nick mengisi kekosongan, Mr Pierce mempersilahkan mereka semua untuk makan.
Kembali terdengar suara sang pianis yang dari tadi menghibur, menyapa setiap pengunjung cafe.
"Bapak, Ibu, selamat malam, setelah lagu pembukaan, saya melihat ada seorang sahabat saya, satu asrama dengan saya di University of Adelaide, yang sangat mahir bermain piano, ladys and gentleman kita sambut KANIAAAA."
Mereka semua memberi applaus sambil menunggu siapa yang dipanggil oleh MC.
Kania yang sedang bersedih, mendengar namanya dipanggil, dia melihat ke stage, ada Dilla di sana, temannya yang tetap berhubungan baik walau sudah kembali ke Indo, akhirnya Kania berdiri dan berjalan ke stage.
Sesampainya di stage, Dilla berbisik.
"Senang sekali dia menghinamu, satu ruangan ini semuanya sampai tahu setiap hinaan yang dikeluarkannya dengan kasar, bikin dia tambah panas Nia, ayo jangan diam aja."
Seketika Kania merasa terbangun, ada orang dipihaknya.
Ada orang yang membelanya.
'Aku tidak akan diam saja menerima semua hinaan seharian ini,' batin Kania.
"Thank you Dill," bisik Kania.
Lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap para pengunjung cafe elite yang malam ini begitu ramai.
"Lagu ini saya persembahkan buat calon suami saya tercinta, Sweetheart... this is for you, only you!" Kania sengaja mengatakannya sambil memandang lurus ke arah pria yang tadi tiba-tiba menggandengnya dan membawanya ke dalam masalah baru.
Ini pertama kalinya dia menatap pria itu yang ternyata LUAR BIASA TAMPAN.
Tinggi pria itu lebih dari 180 cm setelan bagus yang dikenakannya tidak bisa menyembunyikan tubuh kuat dan liat di baliknya. Mereka saling berpandangan dan Kania melihat mata kelabu itu memandangnya di atas hidung lurus yang tak kenal kompromi dengan bibir yang dipahat dan rahang persegi yang penuh tekad.
Sempurna.
Pria sejati!
Semua yang hadir bertepuk tangan dan tersenyum senang membuyarkan interaksi tanpa suara diantara mereka berdua.
Kemudian Kania mulai memainkan piano dengan begitu memukau, apalagi dia sedang ingin melampiaskan kemarahannya sehingga permainannya begitu hidup.
Dia memulai lagu pembukaannya dengan lagu 'La CampNella" nya Franz Liszt, segala kekesalannya ditumpahkannya ke dalam permainannya membuat para penonton tercekad, semua yang hadir terpana, begitu indahnya seakan nada-nada yang dimainkan Kania keluar dan menari-nari mengelilingi ruangan itu.
Setelah selesai Kania berdiri dan mereka semua standing applaus, hanya Henny dan ibunya yang tetap duduk di tempat.
Saat Kania sampai di mejanya, kembali Henny berusaha menyakiti hati Kania.
"Mungkin itu pekerjaannya, bermain dari satu club ke club yang lain, wanita malam!!"
Masih saja Henny mengeluarkan taringnya, bahkan kini dia semakin benci karena ternyata saingannya bisa memainkan piano begitu bagus hingga menarik perhatian banyak orang.
"Bisa tolong kamu jaga ucapanmu? Dari tadi kau menghinanya, salah dia apa? Kalian baru kenal kan? Kasar sekali kamu." Tegur Nick yang mulai bosan menahan dirinya melihat keculasan Henny.
"Halah, paling kamu juga baru ketemu dia kan? Kamu main comot biar aku kepanasan? Cemburu? Aku berani taruhan nanti kalian akan pulang ke rumah masing-masing! Kalian akan berpisah di pelataran parkir!" nyerocoslah Henny sesuka hatinya.
"Kau pikir lah sesukamu." Jawab Nick yang sudah sangat muak dengan kelakuan Henny yang merasa diri paling cantik dan paling kaya dan paling bener.
Anda Mungkin Juga Suka





