Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PUSTAKA CERITA DEWASA 21+

PUSTAKA CERITA DEWASA 21+

Hadir khusus bagi pembaca dewasa, karya ini menyajikan kumpulan narasi romansa penuh gairah dari beragam latar belakang tokoh. Setiap bab dirancang untuk memicu imajinasi serta memberikan hiburan intens yang sangat cocok dinikmati saat malam hari. Jelajahi berbagai dinamika hubungan yang berani dan menggoda melalui setiap untaian ceritanya. Segera selami tiap bab untuk merasakan sensasi fantasi yang mendalam dan memuaskan bagi para penggemar genre ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jam istirahat siang. Suara riuh siswa memenuhi koridor sekolah, tapi kamar mandi guru di ujung gedung tetap sepi. Pak Radit baru saja mencuci muka ketika dering ponselnya memecah kesunyian.

Pesan dari Kania:

"Pak, ada pipa bocor di kamar mandi guru perempuan. Airnya banjir!"

Radit mengerutkan kening. Itu aneh, kamar mandi guru perempuan seharusnya terkunci selama jam sekolah. Tapi sebelum sempat berpikir lebih jauh, pesan kedua masuk:

"Aku sedang membersihkan ruang OSIS dan melihat air merembes. Tapi aku tidak bisa masuk, ini kamar mandi guru..."

Dia menghela napas. Jika benar ada kebocoran, itu bisa merusak lantai bawah. Dengan langkah cepat, Radit menuju lokasi, membawa kunci master yang selalu digantung di ikat pinggangnya.

Pintu kamar mandi terkunci dari dalam.

"Ada orang di dalam?" panggil Radit sambil mengetuk.

Tak ada jawaban.

Dia membuka pintu dengan kunci master-lampu kamar mandi padam, hanya diterangi celah jendela kecil di atas. Bau sabun mandi yang manis memenuhi udara.

"Kania?"

Tiba-tiba, dari balik pintu bilik mandi...

"Aduh!"

Kania muncul hanya dengan handuk kecil melilit tubuhnya, rambut basah menempel di bahu. Dia pura-pura tersandung, dan sebelum Radit bisa bereaksi, gadis itu sudah jatuh ke pelukannya.

Tangan Kania "tak sengaja" mencengkeram erat selangkangan Radit.

"Maaf, Pak!" Kania berpura-pura terkejut, tapi jari-jarinya justru menekan dengan penuh perhitungan, merasakan bentuk keras di balik celana Radit. "Aku... aku tidak sengaja."

Radit menahan erangan. Handuk Kania sudah melorot, memperlihatkan puncak payudaranya yang basah.

Radit mencoba mundur, tapi punggungnya sudah menempel ke wastafel. Kania tidak melepaskan cengkeramannya-sebaliknya, dia semakin mendekat, nafasnya berdesir di telinga Radit.

"Pipanya tidak benar-benar bocor, kan?" desis Radit, tangannya refleks memegangi pinggang Kania untuk menstabilkan mereka berdua.

Kania menggeleng, senyum nakal muncul di bibirnya. "Tapi Bapak benar-benar 'bocor' sekarang."

Dia menggesekkan tubuhnya, membuat handuk semakin longgar. Radit bisa melihat seluruh bagian atas tubuh Kania sekarang-putingnya yang merah muda mengeras karena udara dingin.

Suara langkah kaki di koridor membuat mereka berdua membeku.

"Radit? Kau di sana?"

Suara Bu Rina, wali kelas XII.

Kania tidak panik. Alih-alih menjauh, dia malah menekan tubuhnya lebih erat ke Radit, bisikannya menggoda: "Bapak harus memilih... menjawab panggilannya, atau membiarkan aku melanjutkan apa yang aku mulai."

Tangannya merayap ke dalam celana Radit. Dan Radit sekarang hanya bisa pasrah atau sejujurnya ia juga diam-diam menikmati permainan ini.

***

Matahari mulai tenggelam ketika Pak Radit mengunci pintu ruang gym sekolah. Les privat atletik dengan Kania seharusnya hanya satu jam, tapi gadis itu selalu punya alasan untuk memperpanjang waktu.

"Gerakan start ku masih salah, Pak," keluh Kania, berdiri di garis lintasan dengan celana pendek yang nyaris tidak menutupi apa-apa. "Tolong perbaiki posisi ku."

Radit tahu ini permainan berbahaya. Tapi ketika dia berdiri di belakang Kania dan meletakkan tangan di pinggang gadis itu untuk "memperbaiki postur", nafasnya menjadi berat.

"Bukan begitu," bisik Kania tiba-tiba, menarik tangan Radit ke bawah-lebih bawah-sampai jari-jarinya menyentuh paha dalam yang hangat. "Di sini yang perlu dikoreksi."

Radit tidak tahu bagaimana mereka berakhir di atas matras senam.

Satu saat dia mencoba melepaskan diri, saat berikutnya Kania sudah mendorongnya hingga terjatuh, tubuh gadis itu menindihnya dengan sengaja.

"Kania, ini salah-"

Bibir Kania menyambar mulutnya sebelum kalimat itu selesai. Ciuman itu kasar dan ceroboh, lidah gadis itu langsung menyerbu tanpa permisi. Tangan kecilnya meraba-raba celana training Radit, menemukan apa yang dicarinya.

"Bapak sudah lama ingin ini, kan?" Kania mengatupkan giginya di leher Radit sambil membuka kancing celananya.

Suara pintu gym yang berderak membuat mereka berhenti tiba-tiba.

"Kurasa kamu perlu hukuman," geram Radit setelah memastikan mereka sendirian lagi.

Dia menarik Kania ke ruang penyimpanan peralatan, mendorong gadis itu menghadap rak sepatu. Dengan gerakan kasar, dia menarik celana pendek Kania ke bawah.

"20 kali squat," perintahnya, suara serak. "Dan setiap kali turun, kau akan merasakan ini."

Tangannya yang besar menampar pantat Kania yang merah saat gadis itu menurunkam tubuh.

"Ah! Pak..."

Tamparan kedua lebih keras. Kania mendesah, bukannya kesakitan.

***

Ketika Radit pulang malam itu, ponselnya bergetar. Sebuah foto dari Kania-gadis itu di kamar mandi sekolah, memegang sesuatu yang jelas sekali adalah celana dalamnya yang basah.

Pesan berikutnya:

"Aku masih mencium bau Bapak di tanganku. Besok kita lanjutkan?"

Di latar belakang foto, cermin kamar mandi memperlihatkan sesuatu yang membuat darah Radit beku.

Ponsel lain yang sedang merekam.

***

Lampu neon merah hotel "Surya" berkedip-kedip, menerangi wajah Pak Radit yang tertutup topi baseball. Dia mengetik pesan cepat di ponselnya:

"Kamar 203. Jangan pakai seragam."

Lift tua hotel itu berderit membawanya ke lantai dua. Bau disinfektan dan rokok basi memenuhi koridor. Radit mengetuk pintu tiga kali-dua kali pendek, sekali panjang-kode yang mereka sepakati.

Pintu terbuka.

Kania berdiri di sana, hanya mengenakan kaos oversized milik klub atletik sekolah, nyaris tidak menutupi pahanya yang mulus.

"Telat lima belas menit, Pak," godanya sambil menarik Radit masuk. "Harusnya aku dapat hukuman."

Radit melemparkan tas olahraganya ke tempat tidur. "Bolos latihan lagi hari ini, ya?" ujarnya, mencoba mempertahankan nada guru yang marah.

Kania berlutut di atas karpet kotor hotel, mata berkilau. "Aku memang murid nakal, Pak. Harus dihukum."

Dengan gerakan cepat, Radit menarik tali skipping dari tasnya. "Tanganmu."

Kania menyilangkan pergelangan tangannya di belakang punggung, bibirnya melengkung saat Radit mengikatnya dengan kencang. Tali nilon itu mengikis kulit halusnya, tapi gadis itu justru mendesah puas.

"Keras sekali, Pak," bisiknya.

Radit menarik tali itu lebih kencang. "Ini baru permulaan."

Dengan tangan yang masih terikat, Kania dibaringkan di atas tempat tidur. Radit berdiri di depannya, mata gelap menatap tubuh gadis itu yang hanya tertutupi kaos tipis.

"Posisi start lari," perintahnya.

Kania menggeliat, berpura-pura tidak mengerti. "Tapi tanganku terikat, Pak. Bagaimana caranya?"

Radit tidak sabar. Tangannya meraih pinggang Kania, membalikkan gadis itu hingga telungkup, dan mendorong pantatnya ke udara. "Seperti ini."

Dia menampar keras pantat Kania yang hanya ditutupi celana dalam renda hitam. Gadis itu menjerit kecil.

"Posisi lompat jauh," Radit bergumam, membalikkan Kania kembali dan menarik kakinya terbuka lebar.

Kania mendongak, matanya berbinar. "Ajariku semua posisi lapangan, Pak!"

Radit tidak bisa menahan diri lagi.

Dia merobek celana dalam Kania, mulutnya langsung menyambar bagian paling basah dari gadis itu. Kania menggeliat, tapi tali skipping membuatnya tidak bisa melarikan diri.

"Tidak... tunggu... aku belum-"

Radit mengabaikan protes gadis itu. Lidahnya menjelajahi setiap lipatan, menggigit klitoris yang sudah bengkak. Kania menjerit, tubuhnya melengkung saat orgasme pertama datang.

Tapi Radit tidak berhenti.

Dia melepas celananya sendiri, mengarahkan kemaluan yang sudah keras ke mulut Kania. "Pemanasan sudah selesai. Sekarang pelajaran utama."

Kania dipaksa berlutut di depan cermin kamar mandi, tangan masih terikat, sementara Radit berdiri di belakangnya.

"Lihat dirimu," geram Radit sambil menekan masuk tanpa persiapan. "Lihat betapa kotornya kamu."

Kania menjerit. kesakitan dan nikmat bercampur, sementara di cermin, dia bisa melihat setiap gerakan Radit yang kasar.

"Murid baik tidak bolos latihan," desis Radit, menggenggam rambut Kania dan menarik kepala gadis itu ke belakang.

Gadis itu hanya bisa mengangguk, air mata mengalir di pipinya yang memerah.

Ketika mereka selesai, Kania mengambil ponselnya dari bawah bantal.

"Lupa mematikan rekaman," katanya polos, memperlihatkan video mereka yang sudah tersimpan di cloud.

Radit membeku.

"Tenang, Pak," Kania mengecup pipinya yang pucat. "Aku hanya ingin jaminan... bahwa Bapak tidak akan tiba-tiba berhenti memberi pelajaran khusus."

Dia tersenyum, lalu pergi meninggalkan Radit yang terduduk di tempat tidur basah, menyadari dia baru saja melintasi garis yang tidak bisa kembali.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Andai Cinta Datang Lebih Awal
8.4
Setelah didorong ke timbunan longsor oleh Julia, Siena ditinggalkan begitu saja oleh kekasihnya, Billy, yang memilih menyelamatkan sepupunya itu. Terkubur selama tujuh hari, Siena justru disalahkan dan diancam penundaan pernikahan setelah diselamatkan. Namun, Billy tidak tahu bahwa Siena telah membuat kesepakatan dengan Dewa Bulan. Dalam enam hari, ia akan menukarkan seluruh ingatan dan cintanya pada Billy demi memulai hidup baru. Siena yang dulu sangat mencintainya kini telah tiada.
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!
9.7
Setelah mengetahui kebenaran kejam bahwa lima keguguran yang dialaminya adalah ulah sengaja sang suami—bukan karena kelemahan tubuhnya sendiri—sang istri memilih mengakhiri hidup dengan cara yang paling tragis. Namun, takdir membawanya bangkit kembali dari kematian. Bertekad memulai hidup baru, ia bersumpah untuk pergi sejauh mungkin dari pria kejam itu. Sayangnya, pelarian tersebut tidak mudah karena ia mendapati dirinya tengah mengandung janin milik suaminya yang terus tumbuh di dalam rahim.
Sampul Novel Kitab sihir kristal biru
8.9
Fatima menjaga rahasia Perpustakaan Empat Kunci di Murra Kish hingga kedatangan Alfonso mengubah segalanya. Pria misterius itu mencari sebuah grimoire kuno, memicu benih cinta sekaligus kecurigaan di hati Fatima. Ternyata, Alfonso menyimpan rahasia besar kerajaan, sementara Fatima sendiri adalah pewaris permata legendaris yang diincar banyak pihak. Di tengah pengkhianatan dan ambisi gelap, ia harus memilih antara rasa cintanya atau bertahan dari kebohongan yang mengancam.
Sampul Novel Luka Abadi, Cinta Tak Berarti
8.1
Setelah mengetahui bahwa anak angkatnya adalah hasil perselingkuhan suaminya, Yobel, dengan adiknya sendiri, sang protagonis dikhianati oleh seluruh keluarganya yang meminta ia mengalah. Namun saat Yobel menolak bercerai dan memohon ampun, ia berpura-pura memberi waktu tujuh hari untuk membuktikan ketulusan pria itu. Di balik kepatuhan ekstrem Yobel yang mengira akan dimaafkan, sebuah rahasia kelam menanti. Sebenarnya sang istri telah meninggal tujuh hari lalu, dan waktu yang tersisa hanyalah izin dari malaikat kematian untuk berpamitan.
Sampul Novel Misteri Mata Air Kembar Yang Tak Pernah Kering
9.2
Kampung Serigi memiliki mata air kembar ajaib yang terus mengalir meski kemarau melanda. Aliran air dari bambu sederhana ini menjadi tumpuan warga, namun menyimpan rahasia kelam. Ada banyak pantangan ketat yang wajib dipatuhi siapa pun. Jika dilanggar, sosok gaib penghuni tempat keramat itu akan mendatangi rumah pelaku. Rentetan kejadian mistis terus menghantui penduduk dan pendatang, menciptakan teror nyata di balik ketenangan sumber air yang tak pernah kering tersebut.