
Puncak Nafsu Ayah Mertua
Bab 2
POV LEO
Aku masuk ke kamar dan menemukannya sudah berbaring, membelakangiku. Daster tipisnya melipat di pinggang, seolah menunggu disentuh. Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram dari sudut meja. Hening, dan semua terasa akrab. Bukan akrab yang hangat, tapi akrab karena rutinitas.
Langkahku mendekat. Tak ada suara dari Ayu, tak juga gerakan. Seolah dia tahu aku datang hanya untuk itu, dan dia sudah siap.
Aku duduk di tepi ranjang, tanganku menyentuh pinggangnya, lalu menarik pelan daster itu ke atas. Ia diam saja. Saat kain itu naik ke punggungnya, kuangkat tubuhnya sedikit, membalikkan arahnya hingga kini dia menatapku atau setidaknya mencoba menatapku. Ada kosong di matanya, tapi aku pura-pura tidak melihatnya.
Kuposisikan tubuhku di atasnya. Jemariku menyentuh wajahnya sebentar, lalu turun ke pundaknya, menyusuri dadanya, dan akhirnya menarik daster itu sepenuhnya lepas. Sekarang dia telanjang di hadapanku. Aku menatapnya sesaat, seperti lelaki yang menemukan miliknya, meski tahu, aku tak pernah benar-benar memilikinya sepenuhnya.
Lalu aku menindih tubuhnya.
Tubuh Ayu terasa hangat, lembut, dan seperti biasa, tetap menggoda. Kulitnya halus di bawah tanganku, dada besarnya naik turun teratur saat aku menindihnya. Sudah tiga tahun kami menikah, dan entah kenapa tubuhnya tidak pernah berhenti membuatku menginginkannya.
Aku menunduk, mencium bibirnya sebentar, hanya pembuka. Tanganku langsung meraba ke arah dadanya, meremas pelan, lalu semakin keras. Ukurannya pas di genggamanku, dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memainkan putingnya dengan jari.
Dia mendesah kecil.
"Ahh... iya... Leo... pelan sedikit..."
Aku tahu suara itu palsu. Tapi kupaksakan diri untuk percaya. Toh tubuhku sudah terlalu siap untuk berhenti hanya karena kejujuran.
Aku menggerakkan pinggulku, masuk lebih dalam. Rasanya tetap sempit. Hangat. Basah.
"Hhh... Ayu..." desahku pelan. Nafasku mulai berat, napasku menyentuh lehernya, tubuhku menekan tubuhnya makin dalam.
"Enak..." ucapku tanpa sadar, suaraku serak. Aku mencengkeram pahanya, lalu memeluk pinggangnya lebih erat.
Di balik semua ini, aku masih menikmati dia. Ayu itu cantik, tubuhnya indah. Payudaranya besar, pinggulnya penuh, kulitnya putih. Dia istri yang sempurna, secara fisik. Tapi setiap kali aku ada di dalam dirinya, selalu ada suara lain di kepala yang berbisik, kenapa kamu masih kosong. Kenapa rahim ini tidak juga memberi keturunan.
Aku mencoba melupakan, tapi tidak bisa. Setiap gerakanku malam ini bukan cuma karena gairah, tapi juga karena marah. Aku menghentak lebih cepat, lebih dalam.
"Uhh... sial..." aku mengerang, tubuhku membentur tubuhnya berkali-kali.
Dia mendesah kembali. Suara yang terdengar manis, tapi tak lagi menyentuh hatiku. Aku tidak mencintainya seperti dulu. Tapi tubuhnya, tubuh ini... masih membuatku kehilangan kendali.
Aku merunduk, mencium lehernya. Kugigit pelan. Kukulum putingnya yang sudah menegang karena permainanku tadi. Lidahku memutar di sana, sementara tanganku terus meremas bagian bawah tubuhnya.
"Ahh... Ayu..." aku menggeram, kini tubuhku menegang. Aku hampir sampai. Dan beberapa hentakan lagi, aku mendorong dalam dan keras, lalu meledak di dalam.
"Hhh... fuuuck..." aku mendesah panjang, leherku menegang, mataku terpejam. Tubuhku bergetar.
Aku diam sejenak di atasnya, masih di dalam, masih merasakan sisa nikmat yang mengalir. Tapi hanya tubuhku yang puas. Sisanya tetap kosong. Aku tidak menemukan kedamaian apa-apa.
Perlahan aku menarik tubuhku, duduk di tepi ranjang. Tak ada pelukan. Tak ada kata manis. Hanya sunyi.
"Leo... kamu mau ke mana?"
Suara itu pelan. Masih lembut seperti dulu. Tapi justru karena itulah aku makin kesal. Dia masih berharap aku bersikap hangat, seolah tidak ada yang berubah.
Aku berdiri, meraih celana dari kursi.
"Wanita mandul tidak perlu tahu."
Aku tidak menoleh. Tidak berani. Karena jika aku menatapnya lagi, aku takut akan jatuh pada luka yang sama, lagi dan lagi.
Aku menuruni tangga dengan langkah pelan, masih setengah telanjang, hanya mengenakan celana yang belum sepenuhnya kukancingkan. Udara di lantai bawah terasa lebih sejuk, tapi pikiranku tetap panas, padat, penuh desakan yang tidak tersalurkan.
Kupikir aku akan sendiri. Ingin menyalakan rokok, duduk di teras, dan menatap langit yang kosong sama seperti isi kepala ini. Tapi saat langkahku mendekati dapur, langkah itu terhenti.
Seseorang berdiri di sana.
Tubuhnya tinggi dan kokoh, hanya mengenakan celana panjang. Punggungnya lebar, garis ototnya masih terlihat jelas meski usianya sudah tidak lagi muda. Ia baru saja selesai minum, menutup botol dan meletakkannya kembali ke atas meja.
Dia menoleh perlahan, lalu mata kami bertemu.
Aku mendesah kecil, lebih ke heran daripada terkejut. "Ayah?"
Pria itu menatapku dengan ekspresi datar, seolah kemunculannya tengah malam bukan sesuatu yang perlu dijelaskan.
"Bukannya Ayah di luar negeri?" tanyaku, masih berdiri di ambang ruang dapur.
"Kenapa?" katanya tenang. "Ini rumahku."
Aku diam sejenak, lalu mengangguk pelan. Tapi ia belum selesai.
"Aku akan tinggal di sini beberapa bulan ke depan," lanjutnya, suaranya tetap dingin. "Ada yang perlu aku urus. Termasuk perusahaanku yang ada di sini."
Mataku menatapnya beberapa detik. Aku tidak membalas, tidak juga menanggapi. Karena memang tidak tahu harus berkata apa.
Aku dan Abraham tidak dekat. Kami tidak pernah benar-benar bicara, apalagi soal perasaan. Hubungan kami hanya sebatas formalitas. Tidak ada luka, tapi juga tidak ada kehangatan.
"Mau ke mana?" tanyanya ketika aku melintasinya.
"Keluar."
"Tanpa baju?"
"Bajuku di mobil."
Aku berjalan melewatinya, menepuk bahunya pelan. "Langsung ke kamar aja. Kamarmu nggak pernah aku sentuh."
Lalu aku keluar. Tanpa menoleh. Tanpa niat bicara lebih jauh. Karena buat kami, satu atap tidak pernah berarti dekat.
Anda Mungkin Juga Suka





