Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Bab
Bagikan

Bab 3

POV AYU.

Aku masih berdiri di ambang pintu dapur, tapi kini dengan dada yang terasa sesak oleh campuran bingung dan kagum. Daster tipis yang kugunakan melekat di tubuhku, entah karena udara malam atau detak jantungku yang belum juga stabil.

Tubuhnya tinggi dan kokoh. Dada bidangnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu dapur, dengan garis-garis otot yang membentuk bayangan halus di kulit kecokelatan. Ia hanya mengenakan celana panjang, dan bagian atas tubuhnya telanjang sepenuhnya. Perutnya kencang, perut seorang pria yang masih rajin menjaga tubuhnya, dan entah kenapa... itu memaku pandanganku lebih lama dari seharusnya.

Aku menunduk cepat-cepat, berusaha mengalihkan pandangan. Tapi tatapannya sudah lebih dulu sampai padaku.

Hingga dia tersenyum kecil dan berkata, "Kamu Ayu, istrinya Leo?"

Suaranya berat tapi santai. Tidak terdengar marah, juga tidak terlalu akrab. Tapi cukup untuk membuatku tersadar bahwa aku baru saja menatap terlalu lama.

Aku mengangguk pelan, mencoba mengembalikan kontrol pada tubuhku yang sedikit gemetar.

"Iya," jawabku. "Saya Ayu..."

Langkah kakiku maju setapak tanpa sadar, meskipun aku tahu daster yang kupakai ini terlalu tipis. Bahkan tanpa bercermin pun aku tahu bentuk tubuhku, dadaku, lekuk pinggangku, semuanya nyaris tak tersamarkan. Tapi dia hanya berdiri di sana, menatapku biasa... atau mungkin aku terlalu gugup untuk menafsirkan sorot matanya.

"Ayah kapan pulang?" tanyaku pelan. "Lama aku menikah sama Leo, aku cuma pernah lihat Ayah sekali, itu pun pas di hari pernikahan."

Ia tertawa pelan, terdengar ringan namun tetap dalam. "Kau benar. Mungkin karena itu wajahmu masih terasa asing. Tapi aku pulang tadi sore, dan sudah sempat bertemu Leo. Beberapa bulan ke depan, aku akan tinggal di sini."

Aku mencoba tersenyum, meskipun entah kenapa wajahku terasa kaku. "Enggak apa-apa. Ini kan rumah Ayah juga," kataku akhirnya, suara nyaris tak terdengar.

Ia menatapku sejenak. Tatapan itu membuatku ingin menunduk, tapi entah kenapa, aku malah diam di tempat.

"Terima kasih," jawabnya pelan.

Hening sesaat. Hanya ada bunyi detak jam dinding dan sisa air menetes dari keran. Tapi keheningan itu bukan yang membuatku tak nyaman. Justru kehadiran pria itu yang entah bagaimana mengusik seluruh perasaanku malam ini.

"Kalau Ayah mau istirahat, kamar Ayah masih rapi. Enggak ada yang menyentuh sejak terakhir," kataku cepat-cepat, mencoba mengalihkan suasana yang tak jelas ujungnya.

Ayah hanya mengangguk pelan, lalu menatapku cukup lama sebelum menjawab.

"Nanti. Ayah masih ingin duduk sebentar."

Aku ikut mengangguk, pura-pura sibuk dengan gelas di tangan. Ada jeda di antara kami, senyap, tapi terasa ada sesuatu yang tidak terlihat ikut duduk di tengah-tengah ruang itu. Tatapan matanya menembus, seolah bisa membaca isi kepalaku, seolah tahu kalau ada yang sedang kutahan sejak tadi.

Aku mencoba tetap tenang. Tapi saat menatap wajahnya lagi, mataku kembali jatuh ke arah dadanya yang bidang, lalu sedikit turun ke perutnya yang indah. Ia masih belum mengenakan atasan, dan aku bodoh karena terus mengizinkan diriku mencuri pandang. Aku berusaha keras mengalihkan fokus, tapi lengan kekarnya terlihat jelas ketika ia meraih botol air di meja. Otot di bawah kulitnya bergerak halus, dan entah kenapa napasku terasa sedikit tidak teratur.

Berbeda denganku, tatapan matanya tak pernah berubah. Dalam dan tenang. Tak seperti tubuhku yang sejak tadi berusaha menjaga jarak, pikiranku justru seperti tertarik perlahan, tenggelam ke dalam cara dia memandang. Seakan-akan dia bisa melihat sisi dalamku yang bahkan tak pernah berhasil dibaca Leo.

"Leo bilang mau ke luar sebentar," katanya, masih dengan nada santai, tapi matanya tetap memperhatikanku, seolah mencari sesuatu dari balik wajah yang kutampilkan.

Aku menunduk sedikit, menahan napas yang terasa menggantung di dada. "Iya, dia ke rumah temannya. Katanya mungkin menginap di sana," jawabku pelan, berusaha terdengar tenang meski ada ketegangan yang sulit kusembunyikan.

Dia tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil sambil meneguk sisa air dari gelasnya, lalu meletakkannya perlahan di atas meja. Tangannya besar, kukunya rapi, gerakannya tenang. Semuanya membuat suasana jadi lebih sunyi dari yang seharusnya.

Aku pun ikut menenggak air putih dari gelasku, berharap rasa dingin itu bisa menenangkan pikiranku yang terasa panas.

"Kalau begitu, aku ke atas dulu ya," ucapku sambil menatap sekilas ke arahnya.

Dia tidak mencegah, hanya membalas dengan anggukan ringan. Tapi pandangannya masih mengikutiku sampai aku meninggalkan ruangan. Punggungku terasa seolah terbakar oleh tatapan yang tak kuketahui maknanya.

Langkahku perlahan menjauh, namun jantungku masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan karena takut. Tapi karena rasa yang tak bisa kutafsirkan, mengendap di antara dinginnya malam dan bayangan tubuh ayah mertuaku yang masih tertinggal di dalam ingatanku.

Aku menutup pintu kamar dan langsung berbaring di atas ranjang. Selimut kutarik menutupi tubuhku, tapi hangatnya tak bisa menenangkan perasaan yang bergolak di dalam diriku. Bayangan tubuh ayah mertuaku  menempel jelas di pikiranku. Dada bidangnya. Bahu lebar itu. Lengan kekar yang sempat kulihat saat ia menurunkan botol air. Semua itu membuat jantungku berdegup tak karuan.

Aku membuka perlahan kedua kakiku. Dingin malam menyentuh kulitku, tapi yang kurasakan justru sebaliknya, hangat, lembap, dan berdenyut. Di sana, masih ada sisa dari permainan panas suamiku... tapi anehnya, bukan itu yang membuat tubuhku menggeliat pelan. Bukan karena suamiku.

Yang muncul di benakku justru dia. Ayah mertuaku. Yang tak seharusnya hadir dalam pikiranku... tapi justru semakin jelas, semakin dekat. Aku bahkan bisa membayangkan bagaimana caranya menatapku, tenang, dalam, dan penuh hasrat yang nyaris tak tersamar.

Aku menarik napas panjang. Jemariku mulai bergerak, perlahan menyentuh diriku sendiri, dan tubuhku langsung merespons. Aku mendesah lirih. Napasku mulai tak teratur, dan hatiku berdetak lebih cepat. Aku tahu ini salah, tapi justru di situlah kenikmatannya bersembunyi.

Aku membayangkan dia yang melakukannya. Bukan aku. Bukan suamiku. Tapi dia. Tangannya menyentuhku dengan keinginan yang tak terucapkan, membuatku semakin berani menekan, menyentuh lebih dalam. "Ah..." helaan itu lolos begitu saja, berat dan penuh getaran. Jemariku kini basah, dan setiap gerakan terasa semakin memabukkan.

Pikiranku liar. Aku bisa mendengar suaranya membisikkan namaku, bisa merasakan berat tubuhnya menindihku, bisa mencium aroma kulitnya yang entah bagaimana terasa begitu dekat. Aku memanggilnya dalam hati, menyebut nama yang bahkan tak pernah kusuarakan di dunia nyata.

Aku merintih, pelan, tertahan. Tapi juga begitu nyata. Tubuhku mengejang, menahan sesuatu yang sebentar lagi pecah. Jemariku terus menari, meniru bayangan yang menggoda di dalam pikiranku, dan saat akhirnya aku mencapai puncaknya, aku menggigit bibir, merasakan gelombang itu menerjang hebat dari dalam, menghanyutkanku sepenuhnya.

Aku terbaring diam. Napasku masih berat, kulitku basah oleh peluh dan rasa bersalah. Tapi lebih dari itu... aku takut. Takut karena aku tahu, yang membuatku lepas malam ini... bukan dia yang kupanggil suami.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JDJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JDJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam
9.6
Adikara, duda berkuasa yang divonis mandul, melampiaskan rasa frustrasinya melalui hubungan singkat yang ceroboh. Takdir mempertemukannya dengan Alara, model 19 tahun sekaligus putri bawahannya. Setelah malam tragis yang merenggut kesucian Alara, kejutan besar muncul sebulan kemudian saat Alara mengaku hamil. Kini, di tengah perbedaan usia 15 tahun dan rahasia medisnya, Adikara harus memilih: bertanggung jawab atau menghancurkan masa depan gadis itu demi egonya.
Sampul Novel Cinta Nekatnya, Kehidupan Hancurnya
9.5
Dua belas tahun lamanya hidupku diabdikan sepenuhnya bagi Davian Adhitama, pewaris takhta teknologi. Sejak usia enam belas, aku dijual demi biaya pengobatan kanker ibuku, berperan sebagai sekretaris hingga kekasihnya. Namun, kembalinya Kania, cinta masa kecil Davian, mengubah segalanya. Dia memutuskan menikahinya dan membuangku dengan tawaran pesangon miliaran rupiah sebagai ganti atas seluruh masa muda yang telah kuhabiskan bersamanya.
Sampul Novel HASRAT NAKAL ISTERI KECIL
9.5
Naura tumbuh besar di bawah asuhan Gilbert Louise Tom, asisten ayahnya yang telah ia panggil Daddy sejak balita. Seiring berjalannya waktu, sosok duda tampan berusia empat puluh tahun dengan perawakan kekar itu justru terlihat semakin memikat di mata Naura. Kedekatan yang terjalin sejak kecil kini berubah menjadi ketertarikan yang mendalam. Naura pun mulai merasa sulit untuk melepaskan diri dari pesona laki-laki matang yang sangat menggoda tersebut.
Sampul Novel Istriku Cacat, Istriku Malang
9.7
Dendam membara menyelimuti hati Ellard Willard setelah kecelakaan tragis merenggut nyawa tunangannya. Ia meluapkan amarah kepada Emily Laura, sosok yang dituding sebagai dalang di balik tragedi tersebut. Terjebak dalam jerat kebencian, keduanya terikat dalam hubungan kompleks yang penuh penderitaan. Namun, di tengah konflik yang kian memanas, Ellard justru tersesat dalam keintiman yang membingungkan, membuat batas antara benci dan obsesi menjadi kian kabur.
Sampul Novel Kepingan Hati
9.5
Rafa Dwindra Athaya harus menghadapi kenyataan sulit saat jatuh hati pada gurunya sendiri, Khafa Aseanda Zayn. Meski Khafa terus menolak karena perbedaan usia dan status sosial, takdir justru menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Kini, Rafa berjuang keras memenangkan hati sang istri yang masih menutup diri. Baginya, mencintai Khafa adalah pilihan hidup, namun membangun masa depan bersama perempuan itu adalah tujuan akhirnya yang paling utama.
Sampul Novel Kutukar Hidupku untuk Kalian
8.7
Menghadapi gagal ginjal stadium akhir, harapan wanita ini pupus saat ginjal yang cocok untuknya justru diberikan sang suami kepada adiknya. Ia memilih keluar dari rumah sakit dan menyerahkan seluruh hartanya pada sang adik demi senyum orang tuanya. Ia bahkan membiarkan suaminya merawat adiknya, dan merelakan anaknya memanggil sang adik dengan sebutan "ibu". Ketika semua keinginan mereka telah terpenuhi, mengapa kini penyesalan justru datang menghampiri mereka?