Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.
Bab
Bagikan

Bab 3

POV AYU.

Aku masih berdiri di ambang pintu dapur, tapi kini dengan dada yang terasa sesak oleh campuran bingung dan kagum. Daster tipis yang kugunakan melekat di tubuhku, entah karena udara malam atau detak jantungku yang belum juga stabil.

Tubuhnya tinggi dan kokoh. Dada bidangnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu dapur, dengan garis-garis otot yang membentuk bayangan halus di kulit kecokelatan. Ia hanya mengenakan celana panjang, dan bagian atas tubuhnya telanjang sepenuhnya. Perutnya kencang, perut seorang pria yang masih rajin menjaga tubuhnya, dan entah kenapa... itu memaku pandanganku lebih lama dari seharusnya.

Aku menunduk cepat-cepat, berusaha mengalihkan pandangan. Tapi tatapannya sudah lebih dulu sampai padaku.

Hingga dia tersenyum kecil dan berkata, "Kamu Ayu, istrinya Leo?"

Suaranya berat tapi santai. Tidak terdengar marah, juga tidak terlalu akrab. Tapi cukup untuk membuatku tersadar bahwa aku baru saja menatap terlalu lama.

Aku mengangguk pelan, mencoba mengembalikan kontrol pada tubuhku yang sedikit gemetar.

"Iya," jawabku. "Saya Ayu..."

Langkah kakiku maju setapak tanpa sadar, meskipun aku tahu daster yang kupakai ini terlalu tipis. Bahkan tanpa bercermin pun aku tahu bentuk tubuhku, dadaku, lekuk pinggangku, semuanya nyaris tak tersamarkan. Tapi dia hanya berdiri di sana, menatapku biasa... atau mungkin aku terlalu gugup untuk menafsirkan sorot matanya.

"Ayah kapan pulang?" tanyaku pelan. "Lama aku menikah sama Leo, aku cuma pernah lihat Ayah sekali, itu pun pas di hari pernikahan."

Ia tertawa pelan, terdengar ringan namun tetap dalam. "Kau benar. Mungkin karena itu wajahmu masih terasa asing. Tapi aku pulang tadi sore, dan sudah sempat bertemu Leo. Beberapa bulan ke depan, aku akan tinggal di sini."

Aku mencoba tersenyum, meskipun entah kenapa wajahku terasa kaku. "Enggak apa-apa. Ini kan rumah Ayah juga," kataku akhirnya, suara nyaris tak terdengar.

Ia menatapku sejenak. Tatapan itu membuatku ingin menunduk, tapi entah kenapa, aku malah diam di tempat.

"Terima kasih," jawabnya pelan.

Hening sesaat. Hanya ada bunyi detak jam dinding dan sisa air menetes dari keran. Tapi keheningan itu bukan yang membuatku tak nyaman. Justru kehadiran pria itu yang entah bagaimana mengusik seluruh perasaanku malam ini.

"Kalau Ayah mau istirahat, kamar Ayah masih rapi. Enggak ada yang menyentuh sejak terakhir," kataku cepat-cepat, mencoba mengalihkan suasana yang tak jelas ujungnya.

Ayah hanya mengangguk pelan, lalu menatapku cukup lama sebelum menjawab.

"Nanti. Ayah masih ingin duduk sebentar."

Aku ikut mengangguk, pura-pura sibuk dengan gelas di tangan. Ada jeda di antara kami, senyap, tapi terasa ada sesuatu yang tidak terlihat ikut duduk di tengah-tengah ruang itu. Tatapan matanya menembus, seolah bisa membaca isi kepalaku, seolah tahu kalau ada yang sedang kutahan sejak tadi.

Aku mencoba tetap tenang. Tapi saat menatap wajahnya lagi, mataku kembali jatuh ke arah dadanya yang bidang, lalu sedikit turun ke perutnya yang indah. Ia masih belum mengenakan atasan, dan aku bodoh karena terus mengizinkan diriku mencuri pandang. Aku berusaha keras mengalihkan fokus, tapi lengan kekarnya terlihat jelas ketika ia meraih botol air di meja. Otot di bawah kulitnya bergerak halus, dan entah kenapa napasku terasa sedikit tidak teratur.

Berbeda denganku, tatapan matanya tak pernah berubah. Dalam dan tenang. Tak seperti tubuhku yang sejak tadi berusaha menjaga jarak, pikiranku justru seperti tertarik perlahan, tenggelam ke dalam cara dia memandang. Seakan-akan dia bisa melihat sisi dalamku yang bahkan tak pernah berhasil dibaca Leo.

"Leo bilang mau ke luar sebentar," katanya, masih dengan nada santai, tapi matanya tetap memperhatikanku, seolah mencari sesuatu dari balik wajah yang kutampilkan.

Aku menunduk sedikit, menahan napas yang terasa menggantung di dada. "Iya, dia ke rumah temannya. Katanya mungkin menginap di sana," jawabku pelan, berusaha terdengar tenang meski ada ketegangan yang sulit kusembunyikan.

Dia tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil sambil meneguk sisa air dari gelasnya, lalu meletakkannya perlahan di atas meja. Tangannya besar, kukunya rapi, gerakannya tenang. Semuanya membuat suasana jadi lebih sunyi dari yang seharusnya.

Aku pun ikut menenggak air putih dari gelasku, berharap rasa dingin itu bisa menenangkan pikiranku yang terasa panas.

"Kalau begitu, aku ke atas dulu ya," ucapku sambil menatap sekilas ke arahnya.

Dia tidak mencegah, hanya membalas dengan anggukan ringan. Tapi pandangannya masih mengikutiku sampai aku meninggalkan ruangan. Punggungku terasa seolah terbakar oleh tatapan yang tak kuketahui maknanya.

Langkahku perlahan menjauh, namun jantungku masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan karena takut. Tapi karena rasa yang tak bisa kutafsirkan, mengendap di antara dinginnya malam dan bayangan tubuh ayah mertuaku yang masih tertinggal di dalam ingatanku.

Aku menutup pintu kamar dan langsung berbaring di atas ranjang. Selimut kutarik menutupi tubuhku, tapi hangatnya tak bisa menenangkan perasaan yang bergolak di dalam diriku. Bayangan tubuh ayah mertuaku  menempel jelas di pikiranku. Dada bidangnya. Bahu lebar itu. Lengan kekar yang sempat kulihat saat ia menurunkan botol air. Semua itu membuat jantungku berdegup tak karuan.

Aku membuka perlahan kedua kakiku. Dingin malam menyentuh kulitku, tapi yang kurasakan justru sebaliknya, hangat, lembap, dan berdenyut. Di sana, masih ada sisa dari permainan panas suamiku... tapi anehnya, bukan itu yang membuat tubuhku menggeliat pelan. Bukan karena suamiku.

Yang muncul di benakku justru dia. Ayah mertuaku. Yang tak seharusnya hadir dalam pikiranku... tapi justru semakin jelas, semakin dekat. Aku bahkan bisa membayangkan bagaimana caranya menatapku, tenang, dalam, dan penuh hasrat yang nyaris tak tersamar.

Aku menarik napas panjang. Jemariku mulai bergerak, perlahan menyentuh diriku sendiri, dan tubuhku langsung merespons. Aku mendesah lirih. Napasku mulai tak teratur, dan hatiku berdetak lebih cepat. Aku tahu ini salah, tapi justru di situlah kenikmatannya bersembunyi.

Aku membayangkan dia yang melakukannya. Bukan aku. Bukan suamiku. Tapi dia. Tangannya menyentuhku dengan keinginan yang tak terucapkan, membuatku semakin berani menekan, menyentuh lebih dalam. "Ah..." helaan itu lolos begitu saja, berat dan penuh getaran. Jemariku kini basah, dan setiap gerakan terasa semakin memabukkan.

Pikiranku liar. Aku bisa mendengar suaranya membisikkan namaku, bisa merasakan berat tubuhnya menindihku, bisa mencium aroma kulitnya yang entah bagaimana terasa begitu dekat. Aku memanggilnya dalam hati, menyebut nama yang bahkan tak pernah kusuarakan di dunia nyata.

Aku merintih, pelan, tertahan. Tapi juga begitu nyata. Tubuhku mengejang, menahan sesuatu yang sebentar lagi pecah. Jemariku terus menari, meniru bayangan yang menggoda di dalam pikiranku, dan saat akhirnya aku mencapai puncaknya, aku menggigit bibir, merasakan gelombang itu menerjang hebat dari dalam, menghanyutkanku sepenuhnya.

Aku terbaring diam. Napasku masih berat, kulitku basah oleh peluh dan rasa bersalah. Tapi lebih dari itu... aku takut. Takut karena aku tahu, yang membuatku lepas malam ini... bukan dia yang kupanggil suami.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah panas sang presdir
8.0
Joshua berubah menjadi pria dengan gairah seksual berlebih yang tak terkendali setelah dikhianati oleh kekasih masa lalunya. Luka perselingkuhan itu mengubah kepribadiannya secara drastis tanpa ia sadari sepenuhnya. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang mahasiswi muda dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga. Akankah kehadiran gadis ini mampu menyembuhkan trauma Joshua dan mengembalikannya menjadi sosok pria yang dulu, atau justru memperumit keadaan?
Sampul Novel Godaan Desah Majikan
8.1
Kisah romansa modern ini menyajikan narasi provokatif yang secara spesifik ditujukan bagi pembaca dengan pengalaman masa lalu dalam pengkhianatan cinta. Melalui alur yang emosional, cerita ini menggali sisi gelap hubungan antara majikan dan bawahan, di mana godaan terlarang menjadi pusat konflik utama. Sebuah bacaan dewasa yang mengeksplorasi konsekuensi perselingkuhan serta dinamika hasrat yang sulit dikendalikan di tengah komitmen yang seharusnya dijaga.
Sampul Novel Berhantu: Pengejaran Tanpa Henti dari Kekasihnya yang Kejam
8.8
Tujuh tahun Claudia habiskan demi mencintai Eddie, berharap kesetiaannya berbalas. Namun, pengabdian itu hanya berujung sia-sia. Usai hubungan mereka berakhir, Claudia pergi dengan tenang tanpa menuntut apa pun. Siapa sangka, di hari pernikahannya dengan pria lain, Eddie muncul dalam kemarahan besar. Dengan tatapan liar penuh obsesi, Eddie memprovokasi sang mempelai pria dan menegaskan bahwa dialah yang pertama kali memiliki Claudia.
Sampul Novel Ketika Cinta Berubah Menjadi Abu
8.9
Dunia Savi hancur saat Jaka, rockstar yang ia puja sejak remaja, mengkhianati janji manisnya. Di sebuah bar Senopati, Savi mendengar rencana kejam Jaka untuk menyingkirkannya dengan sandiwara tunangan palsu. Tak hanya dihina sebagai pengganggu, Savi bahkan dibiarkan terluka fisik demi wanita lain. Muak dengan kekejaman dan rasa malu di depan umum, Savi memutuskan untuk bangkit. Ia memutus semua akses komunikasi dan memulai hidup baru di Florence tanpa bayang masa lalu.
Sampul Novel Kontrak Eksklusif untuk Kanaya
8.7
Keserakahan sering kali membutakan nurani, seperti nasib malang yang menimpa Kanaya. Akibat ketamakan ibu tirinya, masa depan gadis ini terancam hancur dalam sekejap. Tanpa izin, ia dijadikan jaminan utang kepada rentenir paling kejam di kota. Kini Kanaya terjebak dalam situasi pelik yang mempertaruhkan hidupnya. Apakah ia mampu bangkit melawan takdir pahit tersebut, atau justru terpaksa menyerah pada keadaan yang merenggut kebebasannya?
Sampul Novel Menikahi Suster Cantik
8.3
Brian Carlos Pratama adalah dokter ramah di Korea Selatan yang sering disalahpahami karena wajah dinginnya. Di rumah sakit, ia bekerja bersama Fayyana Bethani, seorang perawat anggun yang memikat hati banyak pria. Meski Betha sudah memiliki rencana pernikahan, Brian nekat mengejar cintanya tanpa memedulikan label perusak hubungan orang lain. Ambisi Brian hanya satu, yaitu memenangkan hati Betha. Akankah perjuangan nekat sang dokter berhasil mendapatkan cinta sang perawat?