
Puncak Lelah Anak Tiri
Bab 2
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Hanna, sehingga meninggalkan jejak kemerahan.
Mata hanya berkaca-kaca tapi bib*rnya mampu tersenyum. “Tampar aku sesuka hati Papa! Tapi ingat satu hal, aku tidak akan pernah mengizinkan Papa menikah lagi dengan wanita manapun kecuali Ibu yang menyetujuinya!” ucap Hanna dengan penuh penekanan dan suara sedikit bergetar.
“Maafkan Papa, Papa kelepasan, Hanna.” Rama mencoba mendekati Hanna, tapi Hanna segera bangkit dan mundur menjauh dari Rama.
“Hanna kecewa sama Papa!” Hanna segera berlari dan masuk ke dalam kamarnya.
Air mata yang sejak tadi Hanna tahan agar tidak keluar, kini lolos berjatuhan membasahi pipinya.
Bukan sakit karena tamparan, melainkan sakit karena perlakuan sang Papa terhadap dirinya.
Tubuh Hanna bergetar, gadis itu menangis tanpa mengeluarkan suara. Dengan kedua lutut ditekuk, Hanna menenggelamkan wajahnya di sana.
Sedangkan di ruang keluarga, Rama mengusap wajahnya kasar. Dia tidak bermaksud berbuat kasar terhadap putrinya.
“Seharusnya Mas tidak boleh berbuat kasar seperti itu kepada Hanna, mau bagaimanapun juga dia tetap anak, Mas. Jika dia tidak mau pernikahan ini terjadi, lebih baik aku mundur saja,” ucap Ira, raut wajahnya menggambarkan rasa bersalah.
“Aku kelepasan, Ira. Hanna terlalu berani melawan ucapanku, dan aku tidak suka itu!” lirih Rama.
“Aku tau, tapi tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu. Mungkin Hanna hanya tidak mau jika ibunya dikhianati, jadi lebih baik kita akhiri saja hubungan ini, Mas.”
“Sebenarnya aku juga salah, tidak seharusnya aku menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mu. Meskipun aku tau jika istrimu sedang sakit,” tutur Ira, ia membuang pandangan ke arah lain ketika Rama menatapnya sendu.
“Tidak ada yang salah di sini, dan kita akan tetap menikah besok! Kamu tidak usah khawatir, aku akan mengurus semuanya malam ini!” tegas Rama.
****
Semalam Hanna tertidur karena lelah menangis, sekarang ia terbangun dengan mata yang sembab.
Hanna bangkit, gadis itu membuka gorden dan jendela kamarnya.
Namun, ada yang aneh dari halaman rumahnya. Di sana banyak orang-orang yang lalu lalang.
“Ada apa ini? Kenapa banyak sekali orang-orang pagi ini?” gumam Hanna. Karena penasaran, Hanna segera membasuh wajah dan gegas keluar kamar.
“Non Hanna sudah bangun?” sapa Bi Minah ketika Hanna berada di anak tangga.
“Sudah Bi. Kenapa banyak orang di sini, Bi?” tanya Hanna dengan mata yang terus memperhatikan keadaan sekitar.
“A-anu, Non….” Bi Minah menggantungkan ucapan nya, membuat Hanna menatapnya penasaran.
“Ada apa, Bi? Katakan saja,” desak Hanna.
“Tu-tuan Rama hari ini akan menikah lagi, Non,” jelas Bi Minah sedikit terbata.
Degh!
Hanna terdiam mematung, wajahnya berubah datar.
Semalam memang Hanna sudah mendengar tentang acara pernikahan ini, tapi dia pikir setelah kejadian itu Papa nya akan berubah pikir. Namun nyatanya tidak sama sekali.
“Dimana Papa sekarang?” tanya Hanna dengan nada suara terkesan dingin.
“Di luar, Non.”
Hanna melangkahkan kakinya dengan lebar, tangannya terkepal kuat, sorot mata tajam dan wajah yang merah padam begitu terlihat.
“Hanna, kamu sudah bangun?” ucap Rama dengan wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali.
“Jika Papa masih mau melanjutkan pernikahan ini, maka aku tidak akan segan-segan untuk membuat gaduh! Dan dapat aku pastikan pernikahan kalian akan batal!” ancam Hanna dengan emosi yang tertahan. Ia mencoba menahan emosinya agar tidak meledak dan membuat kegaduhan yang menimbulkan perhatian banyak orang.
Rama tidak berbicara, tapi pria paruh baya itu menyeret Hanna masuk ke dalam dan membawanya ke kamar pribadi Rama.
Disana Rama mengambil sebuah amplop berisikan kertas putih dengan tulisan diatasnya, Rama memberikan kertas tersebut kepada Hanna. “Ini, baca dan perhatikan baik-baik.”
Hanna menerima kertas tersebut, lalu membacanya dengan serius.
“Gak! Ini gak mungkin! Ibu tidak akan bisa menandatangani surat ini dalam keadaannya yang seperti itu!” tampik Hanna dengan sorot mata yang tajam dan memerah menatap Rama.
“Kamu lihat baik-baik tanda tangan itu, Hanna. Itu adalah tanda tangan ibu kamu! Tidak ada yang bisa membuat tanda tangan yang sama persis seperti ini!” ucap Rama.
Hanna hendak menjawab, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Ia membuka ponsel tersebut, lalu membaca isi pesan masuk yang berada di aplikasi seperti gagang telepon.
Hanna menatap Rama sekilas, tapi setelah itu dia pergi dengan langkah sedikit berlari.
*****
Di RSJ Harapan Keluarga….
Bu Hilda membanting semua barang yang ada disekitarnya, bahkan Ia juga mencoba untuk membalikan tempat tidurnya.
Suster sudah coba menenangkannya, tapi tidak ada yang berhasil. Bu Hilda justru semakin marah dan mengancam Suster tersebut. “Ahahaha, kalian semua jahat!” teriak Bu Hilda dengan menatap menatap penuh kebencian kepada orang-orang di sekitarnya.
Dokter datang tepat ketika Bu Hilda tengah menangis histeris, tanpa menunggu lama lagi, Dokter menyunt*kan obat pen*nang.
“Ada apa? Kenapa dengan Ibu saya, Dok?” tanya Hanna yang baru saja datang dan melihat keadaan Bu Hilda sudah terkulai lemas.
“Bu Hilda kembali histeris dan mengamuk, tapi saya sudah meny*ntikan obat penen*ng,” jelas Dokter yang sedang membaringan Bu Hilda.
“Kenapa ibu bisa kumat seperti ini, Dok? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?” ucap Hanna dengan menatap sendu ke arah Bu Hilda.
“Sebenarnya sejak semalam Bu Hilda memang sudah seperti ini, Mbak,” ujar Dokter.
“Apa semalam juga sama separah ini?”
Dokter mengangguk sambil menghela nafas berat. “Iya, bahkan beliau sampai mencoba untuk melukai orang-orang sekitarnya dan sangat lama untuk kami bisa menenangkan beliau.”
Hanna terdiam, hatinya berdenyut sakit mendengar penuturan Dokter.
Di kamar Bu Hilda hanya tersisa Hanna dan Bu Hilda sedang tertidur, Ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari wanita itu.
Kring!!!
Sejak tadi ponsel Hanna terus berbunyi, tapi dia tidak memperdulikannya sama sama sekali. Karena Hanna tahu jika yang menghubunginya adalah Papa Rama.
“Ibu kenapa tiba-tiba seperti ini lagi, Bu? Baru kemarin Hanna merasakan kebahagiaan karena Ibu sudah mau berbicara dengan Hanna, lalu sekarang kenapa Ibu seperti ini lagi?” Tangan Hanna membelai lembut pipi Bu Hilda, pipi yang sekarang semakin tirus dan kusam.
Ting!
Sebuah pesan masuk mampu membuat Hanna mengalihkan pandangannya, tapi seketika matanya berembun dan tidak lama kemudian buliran bening membasahi separuh wajah cantiknya.
“Berani-beraninya orang tua itu tidak mendengarkan ucapanku! Aku tidak akan pernah tinggal diam, kalian dengan sengaja melukai hati wanita yang sudah melahirkanku!” lirih Hanna, tangannya terkepal erat.
“eunghh!” lenguh Bu Hilda, membuat Hanna segera menghapus air matanya.
“Ibu sudah bangun?” tanya Hanna dengan tersenyum manis.
“Kamu?” ucap Bu Hilda.
“Iya, ini Hanna. Anak cantiknya Ibu,” jelas Hanna dengan memegangi kedua telapak tangan Bu Hilda.
“Orang jahat!” teriak Bu Hilda dengan sorot mata yang begitu tajam. “Manusia licik! Manusia tidak punya hati nurani!” teriaknya lagi membuat Hanna kebingungan.
“Sttt, tenangkan diri Ibu. Disini gak ada siapa-siapa, sekarang hanya ada kita berdua, oke?” Hanna memeluk tubuh Bu Hilda, wanita itu bergetar dalam pelukan Hanna.
Tanpa disadari Hanna ikut menangis, dulu dirinya yang sering dipeluk dan di tenangkan ketika sedang menangis. Tapi, sekarang justru Hanna yang memeluk dan menenangkan Bu Hilda.
“Ibu harus kuat ya, Ibu harus cepet sembuh biar kita selalu bersama-sama terus. Hanna berjanji, Hanna akan selalu ada di samping Ibu,” bisik Hanna.
“Mereka jahat! Mereka semua licik! Tolong selamatkan anak saya, jangan biarkan manusia itu memanfaatkan anak saya!” raung Bu Hilda.
*****
Brak!!!
Hanna mendobrak pintu rumahnya dengan kasar, dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi ia tahan.
Di ruang makan terlihat kedua orang manusia sedang menikmati makan malam mereka dengan menyuapi satu sama lain, hal tersebut semakin membuat Hanna tersulut emosi.
“Dari mana saja kamu? Anak gadis jam segini baru pulang! Orang tua memiliki acara penting kamu malah menghilang!” ucap Papa Rama sedikit dingin.
“Bukankah Papa senang jika aku tidak ada di rumah? Buktinya kalian berdua bisa dengan mudah menikah tanpa ada gangguan sedikitpun!” dengus Hanna.
“Berani sekali kamu meninggikan suara saat sedang berbicara dengan Papa! Siapa yang telah mengajarimu menjadi anak yang durhaka seperti ini, hah!” sentak Rama menatap tajam anak gadisnya. “Kamu terlalu sering mengunjungi Ibumu, sehingga kamu berani berbicara lantang kepada Papa! Seharusnya kamu tidak usah mengunjunginya, dia membawa pengaruh buruk untuk mu, Hanna. ”
“Bukan Ibu yang menjadi pengaruh buruk untuk Hanna, tapi Papa!” tampik Hanna.
Plak!! Plak!!
Kedua kalinya Hanna mendapatkan tamparan keras dari sang Papa.
“Mulai hari ini dan 7 hari kedepan kamu tidak boleh keluar kamar apalagi sampai keluar rumah!” Rama menyeret tangan Hanna masuk ke dalam kamarnya, bahkan Rama juga mengunci kamar Hanna dari luar.
“PAPA EGOIS! PAPA GAK PERNAH MENTINGIN KEBAHAGIAAN HANNA, SELAMA INI YANG PAPA PIKIRKAN HANYA KEBAHAGIAAN PAPA! HANNA BENCI SAMA PAPA!”
Anda Mungkin Juga Suka





