Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Puncak Lelah Anak Tiri

Puncak Lelah Anak Tiri

Hanna menghadapi kenyataan pahit saat beranjak dewasa. Di tengah perjuangannya mencari biaya pengobatan bagi sang ibu kandung, ia justru dikhianati oleh kekasihnya. Pria yang sangat ia cintai itu ternyata menghamili kakak tirinya sendiri. Luka hati ini membuat Hanna nyaris menyerah pada keadaan. Namun, seorang pria misterius tiba-tiba hadir menawarkan bantuan melalui ikatan pernikahan. Akankah Hanna mengambil kesempatan ini demi bertahan hidup?
Bab
Bagikan

Bab 2

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Hanna, sehingga meninggalkan jejak kemerahan.

Mata hanya berkaca-kaca tapi bib*rnya mampu tersenyum. “Tampar aku sesuka hati Papa! Tapi ingat satu hal, aku tidak akan pernah mengizinkan Papa menikah lagi dengan wanita manapun kecuali Ibu yang menyetujuinya!” ucap Hanna dengan penuh penekanan dan suara sedikit bergetar.

“Maafkan Papa, Papa kelepasan, Hanna.” Rama mencoba mendekati Hanna, tapi Hanna segera bangkit dan mundur menjauh dari Rama.

“Hanna kecewa sama Papa!” Hanna segera berlari dan masuk ke dalam kamarnya.

Air mata yang sejak tadi Hanna tahan agar tidak keluar, kini lolos berjatuhan membasahi pipinya.

Bukan sakit karena tamparan, melainkan sakit karena perlakuan sang Papa terhadap dirinya.

Tubuh Hanna bergetar, gadis itu menangis tanpa mengeluarkan suara. Dengan kedua lutut ditekuk, Hanna menenggelamkan wajahnya di sana.

Sedangkan di ruang keluarga, Rama mengusap wajahnya kasar. Dia tidak bermaksud berbuat kasar terhadap putrinya.

“Seharusnya Mas tidak boleh berbuat kasar seperti itu kepada Hanna, mau bagaimanapun juga dia tetap anak, Mas. Jika dia tidak mau pernikahan ini terjadi, lebih baik aku mundur saja,” ucap Ira, raut wajahnya menggambarkan rasa bersalah.

“Aku kelepasan, Ira. Hanna terlalu berani melawan ucapanku, dan aku tidak suka itu!” lirih Rama.

“Aku tau, tapi tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu. Mungkin Hanna hanya tidak mau jika ibunya dikhianati, jadi lebih baik kita akhiri saja hubungan ini, Mas.”

“Sebenarnya aku juga salah, tidak seharusnya aku menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mu. Meskipun aku tau jika istrimu sedang sakit,” tutur Ira, ia membuang pandangan ke arah lain ketika Rama menatapnya sendu.

“Tidak ada yang salah di sini, dan kita akan tetap menikah besok! Kamu tidak usah khawatir, aku akan mengurus semuanya malam ini!” tegas Rama.

****

Semalam Hanna tertidur karena lelah menangis, sekarang ia terbangun dengan mata yang sembab.

Hanna bangkit, gadis itu membuka gorden dan jendela kamarnya.

Namun, ada yang aneh dari halaman rumahnya. Di sana banyak orang-orang yang lalu lalang.

“Ada apa ini? Kenapa banyak sekali orang-orang pagi ini?” gumam Hanna. Karena penasaran, Hanna segera membasuh wajah dan gegas keluar kamar.

“Non Hanna sudah bangun?” sapa Bi Minah ketika Hanna berada di anak tangga.

“Sudah Bi. Kenapa banyak orang di sini, Bi?” tanya Hanna dengan mata yang terus memperhatikan keadaan sekitar.

“A-anu, Non….” Bi Minah menggantungkan ucapan nya, membuat Hanna menatapnya penasaran.

“Ada apa, Bi? Katakan saja,” desak Hanna.

“Tu-tuan Rama hari ini akan menikah lagi, Non,” jelas Bi Minah sedikit terbata.

Degh!

Hanna terdiam mematung, wajahnya berubah datar.

Semalam memang Hanna sudah mendengar tentang acara pernikahan ini, tapi dia pikir setelah kejadian itu Papa nya akan berubah pikir. Namun nyatanya tidak sama sekali.

“Dimana Papa sekarang?” tanya Hanna dengan nada suara terkesan dingin.

“Di luar, Non.”

Hanna melangkahkan kakinya dengan lebar, tangannya terkepal kuat, sorot mata tajam dan wajah yang merah padam begitu terlihat.

“Hanna, kamu sudah bangun?” ucap Rama dengan wajah yang tidak merasa bersalah sama sekali.

“Jika Papa masih mau melanjutkan pernikahan ini, maka aku tidak akan segan-segan untuk membuat gaduh! Dan dapat aku pastikan pernikahan kalian akan batal!” ancam Hanna dengan emosi yang tertahan. Ia mencoba menahan emosinya agar tidak meledak dan membuat kegaduhan yang menimbulkan perhatian banyak orang.

Rama tidak berbicara, tapi pria paruh baya itu menyeret Hanna masuk ke dalam dan membawanya ke kamar pribadi Rama.

Disana Rama mengambil sebuah amplop berisikan kertas putih dengan tulisan diatasnya, Rama memberikan kertas tersebut kepada Hanna. “Ini, baca dan perhatikan baik-baik.”

Hanna menerima kertas tersebut, lalu membacanya dengan serius.

“Gak! Ini gak mungkin! Ibu tidak akan bisa menandatangani surat ini dalam keadaannya yang seperti itu!” tampik Hanna dengan sorot mata yang tajam dan memerah menatap Rama.

“Kamu lihat baik-baik tanda tangan itu, Hanna. Itu adalah tanda tangan ibu kamu! Tidak ada yang bisa membuat tanda tangan yang sama persis seperti ini!” ucap Rama.

Hanna hendak menjawab, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Ia membuka ponsel tersebut, lalu membaca isi pesan masuk yang berada di aplikasi seperti gagang telepon.

Hanna menatap Rama sekilas, tapi setelah itu dia pergi dengan langkah sedikit berlari.

*****

Di RSJ Harapan Keluarga….

Bu Hilda membanting semua barang yang ada disekitarnya, bahkan Ia juga mencoba untuk membalikan tempat tidurnya.

Suster sudah coba menenangkannya, tapi tidak ada yang berhasil. Bu Hilda justru semakin marah dan mengancam Suster tersebut. “Ahahaha, kalian semua jahat!” teriak Bu Hilda dengan menatap menatap penuh kebencian kepada orang-orang di sekitarnya.

Dokter datang tepat ketika Bu Hilda tengah menangis histeris, tanpa menunggu lama lagi, Dokter menyunt*kan obat pen*nang.

“Ada apa? Kenapa dengan Ibu saya, Dok?” tanya Hanna yang baru saja datang dan melihat keadaan Bu Hilda sudah terkulai lemas.

“Bu Hilda kembali histeris dan mengamuk, tapi saya sudah meny*ntikan obat penen*ng,” jelas Dokter yang sedang membaringan Bu Hilda.

“Kenapa ibu bisa kumat seperti ini, Dok? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?” ucap Hanna dengan menatap sendu ke arah Bu Hilda.

“Sebenarnya sejak semalam Bu Hilda memang sudah seperti ini, Mbak,” ujar Dokter.

“Apa semalam juga sama separah ini?”

Dokter mengangguk sambil menghela nafas berat. “Iya, bahkan beliau sampai mencoba untuk melukai orang-orang sekitarnya dan sangat lama untuk kami bisa menenangkan beliau.”

Hanna terdiam, hatinya berdenyut sakit mendengar penuturan Dokter.

Di kamar Bu Hilda hanya tersisa Hanna dan Bu Hilda sedang tertidur, Ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari wanita itu.

Kring!!!

Sejak tadi ponsel Hanna terus berbunyi, tapi dia tidak memperdulikannya sama sama sekali. Karena Hanna tahu jika yang menghubunginya adalah Papa Rama.

“Ibu kenapa tiba-tiba seperti ini lagi, Bu? Baru kemarin Hanna merasakan kebahagiaan karena Ibu sudah mau berbicara dengan Hanna, lalu sekarang kenapa Ibu seperti ini lagi?” Tangan Hanna membelai lembut pipi Bu Hilda, pipi yang sekarang semakin tirus dan kusam.

Ting!

Sebuah pesan masuk mampu membuat Hanna mengalihkan pandangannya, tapi seketika matanya berembun dan tidak lama kemudian buliran bening membasahi separuh wajah cantiknya.

“Berani-beraninya orang tua itu tidak mendengarkan ucapanku! Aku tidak akan pernah tinggal diam, kalian dengan sengaja melukai hati wanita yang sudah melahirkanku!” lirih Hanna, tangannya terkepal erat.

“eunghh!” lenguh Bu Hilda, membuat Hanna segera menghapus air matanya.

“Ibu sudah bangun?” tanya Hanna dengan tersenyum manis.

“Kamu?” ucap Bu Hilda.

“Iya, ini Hanna. Anak cantiknya Ibu,” jelas Hanna dengan memegangi kedua telapak tangan Bu Hilda.

“Orang jahat!” teriak Bu Hilda dengan sorot mata yang begitu tajam. “Manusia licik! Manusia tidak punya hati nurani!” teriaknya lagi membuat Hanna kebingungan.

“Sttt, tenangkan diri Ibu. Disini gak ada siapa-siapa, sekarang hanya ada kita berdua, oke?” Hanna memeluk tubuh Bu Hilda, wanita itu bergetar dalam pelukan Hanna.

Tanpa disadari Hanna ikut menangis, dulu dirinya yang sering dipeluk dan di tenangkan ketika sedang menangis. Tapi, sekarang justru Hanna yang memeluk dan menenangkan Bu Hilda.

“Ibu harus kuat ya, Ibu harus cepet sembuh biar kita selalu bersama-sama terus. Hanna berjanji, Hanna akan selalu ada di samping Ibu,” bisik Hanna.

“Mereka jahat! Mereka semua licik! Tolong selamatkan anak saya, jangan biarkan manusia itu memanfaatkan anak saya!” raung Bu Hilda.

*****

Brak!!!

Hanna mendobrak pintu rumahnya dengan kasar, dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi ia tahan.

Di ruang makan terlihat kedua orang manusia sedang menikmati makan malam mereka dengan menyuapi satu sama lain, hal tersebut semakin membuat Hanna tersulut emosi.

“Dari mana saja kamu? Anak gadis jam segini baru pulang! Orang tua memiliki acara penting kamu malah menghilang!” ucap Papa Rama sedikit dingin.

“Bukankah Papa senang jika aku tidak ada di rumah? Buktinya kalian berdua bisa dengan mudah menikah tanpa ada gangguan sedikitpun!” dengus Hanna.

“Berani sekali kamu meninggikan suara saat sedang berbicara dengan Papa! Siapa yang telah mengajarimu menjadi anak yang durhaka seperti ini, hah!” sentak Rama menatap tajam anak gadisnya. “Kamu terlalu sering mengunjungi Ibumu, sehingga kamu berani berbicara lantang kepada Papa! Seharusnya kamu tidak usah mengunjunginya, dia membawa pengaruh buruk untuk mu, Hanna. ”

“Bukan Ibu yang menjadi pengaruh buruk untuk Hanna, tapi Papa!” tampik Hanna.

Plak!! Plak!!

Kedua kalinya Hanna mendapatkan tamparan keras dari sang Papa.

“Mulai hari ini dan 7 hari kedepan kamu tidak boleh keluar kamar apalagi sampai keluar rumah!” Rama menyeret tangan Hanna masuk ke dalam kamarnya, bahkan Rama juga mengunci kamar Hanna dari luar.

“PAPA EGOIS! PAPA GAK PERNAH MENTINGIN KEBAHAGIAAN HANNA, SELAMA INI YANG PAPA PIKIRKAN HANYA KEBAHAGIAAN PAPA! HANNA BENCI SAMA PAPA!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Captain's Ravenge
9.4
Arya Bimantara terpaksa meninggalkan posisinya di perbatasan Kalimantan setelah menerima berita duka yang mendadak. Aryo, saudara kembarnya, ditemukan tewas bersama istrinya tak lama setelah mereka saling berkirim pesan. Saat pulang untuk menghadiri pemakaman, Arya mencium adanya kejanggalan. Penyelidikan mandiri mengungkap bahwa pasangan itu sebenarnya dibunuh secara terencana. Kini, sang kapten harus melacak pelaku di balik tragedi berdarah ini demi membalaskan dendam keluarganya.
Sampul Novel Cinta yang dinantikan
9.2
Hidup Anggun Nirmala hancur saat sang ayah menjadikannya jaminan untuk melunasi hutang. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya dari nasib buruk. Merasa berhutang budi, Anggun bersumpah akan melakukan apa pun demi membalas kebaikan penyelamat yang tak ia kenal itu. Namun, komitmen tersebut langsung diuji saat sang pria mengajukan satu permintaan tak terduga yang membuat Anggun terdiam seribu bahasa. Akankah ia sanggup memenuhinya?
Sampul Novel Istri Kedua
7.9
Indira sangat antusias memulai karier sebagai sekretaris pengganti di perusahaan raksasa ibu kota. Namun, sebuah momen canggung terjadi saat ia memergoki bosnya, Edbert, bermesraan dengan sang istri, Merry. Alih-alih marah, Merry justru meminta Indira duduk dan mengajukan permohonan gila agar suaminya menikahi sekretaris itu. Edbert sangat terkejut mendengar ide poligami tersebut. Akankah Indira bersedia menjadi istri kedua demi memenuhi permintaan Merry?
Sampul Novel MAHLIGAI: Istana yang Kujaga
8.0
Kehidupan harmonis Dara Kahiyang bersama Adam dan anak kembar mereka kini terancam bahaya besar. Ibu serta kakaknya datang membawa dendam membara untuk menghancurkan kebahagiaan tersebut. Sebagai mantan putri terbuang yang pernah diabaikan keluarganya, Dara menyimpan rahasia masa lalu yang sangat kelam. Kini, ia harus berjuang sekuat tenaga melindungi istana cintanya dari serangan kerabatnya sendiri. Sanggupkah Dara bertahan menghadapi teror itu?
Sampul Novel Menggerebek Suami Dan Selingkuhannya
8.8
Maura tak tinggal diam saat mendapati suaminya berkhianat. Alih-alih meratap, ia justru memanggil warga untuk menggerebek dan memaksa pasangan gelap itu segera menikah. Sang suami dan selingkuhannya merasa sangat bahagia karena impian mereka bersatu terwujud dengan mudah. Namun, mereka tidak menyadari bahwa semua itu adalah bagian dari rencana cerdik Maura untuk menghancurkan hidup mereka lewat cara yang paling mematikan dan tak terduga.
Sampul Novel Sienna's story
8.4
Dunia Sienna terasa hampa dan kehilangan warna sejak perceraian orang tuanya menghancurkan kebahagiaannya. Ia terbiasa menghabiskan malam dalam kesendirian yang kelam sampai sosok CEO penuh intrik muncul di hidupnya. Meski pria itu melakukan berbagai cara mesum dan nakal demi mencuri perhatian, Sienna tetap membentengi diri dengan sikap yang sangat dingin. Akankah kegigihan sang miliarder mampu mencairkan hati Sienna yang sudah terlanjur membeku?