Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Puncak Lelah Anak Tiri

Puncak Lelah Anak Tiri

Hanna menghadapi kenyataan pahit saat beranjak dewasa. Di tengah perjuangannya mencari biaya pengobatan bagi sang ibu kandung, ia justru dikhianati oleh kekasihnya. Pria yang sangat ia cintai itu ternyata menghamili kakak tirinya sendiri. Luka hati ini membuat Hanna nyaris menyerah pada keadaan. Namun, seorang pria misterius tiba-tiba hadir menawarkan bantuan melalui ikatan pernikahan. Akankah Hanna mengambil kesempatan ini demi bertahan hidup?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sudah hampir satu minggu Hanna dikurung di kamar oleh Rama, selama itu juga Hanna tidak mengunjungi Hilda di rumah sakit. Batinnya rindu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.

Jangankan untuk menemui Hilda, bekerja saja Hanna terpaksa libur. Itupun karena Rama yang meminta libur kepada atasannya dengan alasan ada keperluan keluarga.

“Haruskan aku keluar dari sini dan fokus pada pengobatan Ibu? Walaupun aku tau semua pengobatan dibantu oleh Papa, tapi apa Papa akan terus membiayai Ibu setelah dia menikah lagi dengan wanita itu?” gumam Hanna yang berada di depan kaca meja rias. Dia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan, pikirannya sangat kacau.

“Tuhan, beri aku jalan keluar atas segala cobaan yang engkau berikan.” Hanna kembali bergumam dengan memandangi wajahnya di pantulan cermin.

Nafasnya terdengar berat, setiap malam ia tidak tidur, lingkaran matanya sudah menghitam bahkan sorot matanya juga sayu.

Pipi bulatnya kini menjadi tirus, karena Hanna juga jarang makan. Ketika Bi Minah mengantarkan makanannya, Hanna bahkan terkadang tidak menyentuh makanan itu sama sekali.

“Non Hanna, boleh Bibi masuk?” teriak Bi Minah dari luar dengan tangannya mengetuk pintu.

“Masuk aja, Bi.”

Tidak lama kemudian Bi Minah membuka kunci dari luar, lalu masuk dan segera menghampiri Hanna.

“Di luar ada Den Aldo, Non. Katanya ingin bertemu sama Non Hanna,” jelas Bi Minah.

“Papa mengizinkan?” tanya Hanna.

“Tuan ke kantor, terus Nyonya Ira sedang keluar. Non Melly sama Non Sandra sudah berangkat entah kemana,” jawab Bi Minah panjang lebar.

“Ya sudah, suruh masuk aja, Bi.”

Bi Minah mengangguk lalu segera keluar dan memanggil Aldo.

Tidak lama kemudian Aldo masuk dan tersenyum manis ketika melihat Hanna memperhatikannya.

“Are you ok?” tanya Aldo. Hanna mengguk dan tersenyum.

“Maafkan aku karena akhir-akhir ini terlalu sibuk dan tidak sempat menemuimu,” ucap Aldo yang mencium pucuk kepala Hanna.

“Gak papa, aku ngerti kok. Lagian aku baik-baik saja,” ucap Hanna berbohong.

Aldo membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hanna. Dia menatap lekat wanitanya, tangannya terulur mengelus pipi Hanna. Senyumannya memudar, raut wajah khawatir terpampang jelas di wajah Aldo.

“Lihat, pipi bakpao mu sekarang sudah tirus, Sayang. Lingkaran matamu juga menghitam bagaimana mungkin kamu baik-baik saja?” lirih Aldo yang masih mengelus pipi Hanna.

Hanna tersenyum, satu tangannya memegang tangan Aldo yang masih betah mengelus pipinya. Pandangan mereka beradu, membuat hati Hanna berdegup kencang, sama seperti biasanya.

Walaupun mereka sudah menjalin hubungan selama hampir satu tahun lebih, tapi tetap saja Hanna selalu salah tingkah dengan keromantisan Aldo.

“Aku beneran gak papa, Do. Kamu gak usah khawatir ya … Makasih kamu udah mau nyempetin waktu untuk datang ke sini.” Hanna meyakinkan Aldo jika dirinya baik-baik saja.

“Mau jalan-jalan?” tawar Aldo.

“Aku ingin ketemu Ibu, Do. Bisa kamu bawa aku ke sana?” tanya Hanna dengan menatap Aldo penuh harap.

“Boleh. Sekarang kamu siap-siap, aku tunggu kamu di luar.” Aldo tersenyum, mengelus pucuk kepala Hanna dengan lembut.

Hanna segera bersiap, dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.

Hanya dalam waktu 8 menit Hanna sudah rapih, dia segera turun menghampiri Aldo. Tapi, ketika Hanna sampai di tangga terakhir, Hanna melihat Aldo sedang berbincang dengan Melly— kakak tirinya yang mungkin baru pulang.

“Aldo, Melly? Kalian saling kenal?” ucap Hanna yang tiba-tiba berada di belakang mereka berdua, membuat Melly juga Aldo kaget.

“Iya, kami saling kenal. Tapi gak begitu kenal juga, Melly ini dulunya teman sekolahku. Iya 'kan, Mel?” jelas Aldo yang mendahului Melly berbicara.

Melly mengangguk. “Iya.” jawabnya singkat tapi dengan wajah yang sedikit kesal.

Hanna menganggukan kepala, lalu menggandeng tangan Aldo dengan mesra.

“Pergi sekarang?” tanya Aldo memastikan.

“Iya, yuk!” ajak Hanna.

Mereka berdua pergi tanpa memperdulikan Melly yang masih memperhatikan mereka berdua.

*****

Sampai di RSJ Harapan Keluarga, Hanna langsung bergegas ke kamar Bu Hilda.

Begitu terkejutnya Hanna ketika melihat sang Ibu dalam keadaan tangan terikat, bahkan Dokter pun berada di sana.

Keadaan Bu Hilda begitu menyedihkan, membuat Hanna tidak bisa membendung air matanya.

Aldo yang berada di samping Hanna berusaha menguatkan wanitanya.

“Kita masuk dulu ya,” ajak Aldo yang menggandeng tangan Hanna.

Hanna menurut, ia segera masuk.

“Mbak Hanna? Syukurlah, akhirnya Mbak berkunjung juga,” ucap Dokter yang menyadari keberadaan Hanna.

“Apa yang terjadi, Dok? Kenapa Ibu saya diikat seperti itu?” tanya Hana sambil menatap ibunya dengan khawatir, bahkan air matanya masih terus menetes membasahi pipinya.

Dokter terlihat menghela nafas berat, ia menatap Bu Hilda sekilas, lalu beralih menatap Hanna. “Beberapa hari ini keadaan Bu Hilda semakin memburuk, beliau kerap kali mengamuk dan hampir melukai orang-orang disekitarnya. Contohnya barusan, beliau mengamuk dan hampir melukai suster yang akan memberinya obat. Selama ini saya sudah semaksimal mungkin membantu kesembuhan Bu Hilda, tapi mungkin di sini yang paling berpengaruh adalah Mbak Hanna….”

Dokter Farah menjeda ucapannya sebentar. “Mungkin Mbak bisa menyadarinya sendiri, selama Mbak selalu menjenguk Bu Hilda, beliau sama sekali tidak pernah seperti ini. Bahkan beliau juga sering bisa diajak berbicara ketika Mbak Hanna dari sini, tapi semenjak Mbak Hanna beberapa hari tidak berkunjung, Bu Hilda seperti ini.” Dokter Farah menjelaskan semuanya kepada Hanna, membuat Hanna semakin menangis.

Gadis itu tidak dapat menahan air matanya ketika mendengar kabar tentang sang ibu.

Seorang anak mana yang bisa tegar melihat keadaan wanita yang sudah melahirkannya seperti ini? Memiliki gangguan mental dan kerap kali hampir menyakiti orang lain.

Dua tahun yang lalu Hanna masih bisa bercanda dan menikmati hari-hari bersama, tetapi setahun belakangan ini dia harus melihat sang ibu seperti ini.

“Apa masih besar kemungkinan untuk Ibu saya kembali seperti dulu lagi, Dok?” tanya Hana sambil menatap Dokter Farah dengan penuh harap.

“Kemungkinan pasti ada, Mbak. Tetapi saya tidak bisa menjamin … Dan saya hanya berharap mungkin kedepannya Mbak bisa lebih sering lagi ke sini, karena Mbak begitu berpengaruh untuk Bu Hilda,” ucap Dokter Farah.

Rambut yang dulunya selalu rapi, pakaian yang dulunya selalu terlihat mewah kini berbeda 180 derata. Kulitnya sangat kusam, badannya semakin kurus dengan rambut yang acak-acakan.

“Maafkan Hanna yang tidak bisa terus menjaga Ibu, maafkan Hanna yang sudah lalai ini, Bu. Hanna berjanji setelah ini kita akan selalu terus bersama, Hanna akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Ibu.” Hanna membatin.

Beberapa saat kemudian Dokter dan Suster keluar, meninggalkan Hanna, Aldo dan Bu Hilda. Dokter memberikan kesempatan untuk Hanna agar bisa berinteraksi dengan ibunya.

Bu Hilda yang belum sadar karena pengaruh obat p*nenang yang di s*ntikan oleh Dokter, tapi Dokter yakin beliau sebentar lagi akan sadar.

Dan benar saja, Bu Hilda membuka matanya perlahan-lahan.

“Ibu sudah sadar?” ucap Hanna ketika dirinya menyadari Bu Hilda terbangun.

Bu Hilda menatap Hanna dengan lekat, mungkin dia mengingat-ingat wajah Hanna yang belakangan ini memang tidak menemuinya.

“Kamu? Kamu anak baik itu?” tanya Bu Hilda, dia mencoba bangun tapi kesusahan karena tangannya yang terikat.

Dengan sigap Hanna membantu Bu Hilda untuk duduk. “Iya, ini Hanna … Hanna anak Ibu, dan akan selamanya menjadi anak Ibu!” terang Hanna.

“Kamu bukan anak saya, anak saya itu masih kecil!” tegas Bu Hilda.

Hanna memaksakan senyuman, dia mengangguk berusaha mengerti. Aldo juga mengusap punggung Hanna, pria itu terus menguatkan Hanna.

“Ibu sudah makan? Mau Hanna suapin?” tanya Hanna.

“Saya tidak lapar! Tolong bawa saya pergi dari sini!” ucap Bu Hilda dengan tatapan mata yang berubah kosong.

“Kita akan pergi, tapi Ibu harus mandi dan makan terlebih dahulu. Bagaimana?” ucap Hanna memberikan tawaran.

“Kamu tidak akan berbohong?”

“Hanna janji akan menuruti kemauan Ibu, asalkan Ibu mau menuruti setiap ucapan Hanna serta Dokter yang berada di sini.”

Bu Hilda mengangguk, membuat Hanna menghela nafas lega.

Hanna segera membawa Bu Hilda ke kamar mandi, dengan cekatan Ia menggosok seluruh badan Bu Hilda.

Sedangkan Aldo, pria itu menunggu di luar. Dia tetap setia menemani Hanna, bahkan Aldo juga membantu membersihkan tempat tidur Bu Hilda.

“Makasih ya, Do. Kamu baik banget mau bantuin aku urusin Ibu,” ucap Hanna yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Aldo sedang membetulkan sprei.

“Kamu tidak usah berterima kasih, Sayang. Aku ikhlas kok ngelakuinnya,” jawab Aldo.

Hanna tersenyum manis, dia segera menuntut Bu Hilda untuk duduk. Lalu Hanna segera menyuapi Bu Hilda dengan penuh kasih sayang.

“Setelah Ibu makan dan minum obat kita akan keluar, jadi cepat habiskan makanannya ya,” bujuk Hanna.

Dengan semangat Bu Hilda mengangguk dan mengunyah makanannya.

Karena Bu Hilda terus meminta Hanna untuk mereka segera keluar, dengan cepat Hanna menuntun Bu Hilda.

Namun, ketika mereka keluar kamar, manik mata Hanna melihat seseorang yang tidak jauh dari tempatnya. Orang yang tidak asing bagi Hanna, dia dengan Suster yang merawat Bu Hilda sedang berbicara.

“Papa?” panggil Hanna ketika dia semakin dekat dengan posisi Rama dan Suster.

“M-mbak Hanna?” ucap Suster yang begitu terkejut karena kehadiran Hanna yang tiba-tiba.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Captain's Ravenge
9.4
Arya Bimantara terpaksa meninggalkan posisinya di perbatasan Kalimantan setelah menerima berita duka yang mendadak. Aryo, saudara kembarnya, ditemukan tewas bersama istrinya tak lama setelah mereka saling berkirim pesan. Saat pulang untuk menghadiri pemakaman, Arya mencium adanya kejanggalan. Penyelidikan mandiri mengungkap bahwa pasangan itu sebenarnya dibunuh secara terencana. Kini, sang kapten harus melacak pelaku di balik tragedi berdarah ini demi membalaskan dendam keluarganya.
Sampul Novel Cinta yang dinantikan
9.2
Hidup Anggun Nirmala hancur saat sang ayah menjadikannya jaminan untuk melunasi hutang. Di tengah keputusasaan, seorang pria misterius muncul menyelamatkannya dari nasib buruk. Merasa berhutang budi, Anggun bersumpah akan melakukan apa pun demi membalas kebaikan penyelamat yang tak ia kenal itu. Namun, komitmen tersebut langsung diuji saat sang pria mengajukan satu permintaan tak terduga yang membuat Anggun terdiam seribu bahasa. Akankah ia sanggup memenuhinya?
Sampul Novel Istri Kedua
7.9
Indira sangat antusias memulai karier sebagai sekretaris pengganti di perusahaan raksasa ibu kota. Namun, sebuah momen canggung terjadi saat ia memergoki bosnya, Edbert, bermesraan dengan sang istri, Merry. Alih-alih marah, Merry justru meminta Indira duduk dan mengajukan permohonan gila agar suaminya menikahi sekretaris itu. Edbert sangat terkejut mendengar ide poligami tersebut. Akankah Indira bersedia menjadi istri kedua demi memenuhi permintaan Merry?
Sampul Novel MAHLIGAI: Istana yang Kujaga
8.0
Kehidupan harmonis Dara Kahiyang bersama Adam dan anak kembar mereka kini terancam bahaya besar. Ibu serta kakaknya datang membawa dendam membara untuk menghancurkan kebahagiaan tersebut. Sebagai mantan putri terbuang yang pernah diabaikan keluarganya, Dara menyimpan rahasia masa lalu yang sangat kelam. Kini, ia harus berjuang sekuat tenaga melindungi istana cintanya dari serangan kerabatnya sendiri. Sanggupkah Dara bertahan menghadapi teror itu?
Sampul Novel Menggerebek Suami Dan Selingkuhannya
8.8
Maura tak tinggal diam saat mendapati suaminya berkhianat. Alih-alih meratap, ia justru memanggil warga untuk menggerebek dan memaksa pasangan gelap itu segera menikah. Sang suami dan selingkuhannya merasa sangat bahagia karena impian mereka bersatu terwujud dengan mudah. Namun, mereka tidak menyadari bahwa semua itu adalah bagian dari rencana cerdik Maura untuk menghancurkan hidup mereka lewat cara yang paling mematikan dan tak terduga.
Sampul Novel Sienna's story
8.4
Dunia Sienna terasa hampa dan kehilangan warna sejak perceraian orang tuanya menghancurkan kebahagiaannya. Ia terbiasa menghabiskan malam dalam kesendirian yang kelam sampai sosok CEO penuh intrik muncul di hidupnya. Meski pria itu melakukan berbagai cara mesum dan nakal demi mencuri perhatian, Sienna tetap membentengi diri dengan sikap yang sangat dingin. Akankah kegigihan sang miliarder mampu mencairkan hati Sienna yang sudah terlanjur membeku?