Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PULANG KAMPUNG

PULANG KAMPUNG

Ningrum dan Huda memutuskan kembali ke desa demi mengurus sang ibu yang kian menua. Namun, pengabdian tulus mereka justru berbalas cemoohan dari warga sekitar hanya karena mereka mengendarai motor tua. Padahal, di Jakarta mereka adalah pemilik showroom mobil yang sukses. Di tengah derasnya fitnah dan pandangan sebelah mata, mampukah pasangan ini tetap bersabar dan membuktikan kebenaran? Ikuti perjuangan mereka menghadapi ujian sosial ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

DIHINA KARENA MOTOR JADUL PADAHAL PUNYA SHOWROOM MOBIL

Dua tetanggaku makin ngoceh saat aku diam saja tak menjawab pertanyaan mereka. Mbak Sinta pun sepertinya tak ada niat untuk membelaku. Entahlah. Mendadak aku punya pikiran buruk padanya kalau begini.

"Kasihan ibumu, Rum. Harus pindah-pindah tiap bulan. Kakak sama adikmu juga sibuk kerja, tapi mereka masih berusaha merawat ibumu dengan baik. Meski harus gantian tiap bulan. Sementara kamu? Bukannya ikut andil merawat ibumu malah nggak pulang-pulang. Ingat, Rum. Surga anak itu terletak pada kaki ibunya. Lah kamu, nggak pernah mau mendekati ibumu gimana mau masuk surga?" ucap Budhe Nur sembari melipat tangannya ke dada, menatapku dengan sinisnya.

Kuhirup napas panjang lalu menghembuskannya. Baru duduk di kursi kayu di ruang tamu untuk melepas lelah, kembali mendapatkan ceramah mereka. Budhe Narni, Budhe Nur sama Mbak Sri.

"Lagian kalau di sana nggak ada kerjaan lebih bagus di sini jaga ibumu, Rum. Buat apa merantau kalau di sana juga nganggur. Anak-anakmu sekolah aja di kampung, biaya juga lebih murah. Suamimu biar aja di Jakarta sendiri. Tetangga juga banyak tuh yang suaminya merantau, tapi anak istri tinggal di kampung. Bisa nabung banyak. Pada beli sawah sama ternak. Daripada sekeluarga ikut semua tapi nggak punya apa-apa buat apa?" Budhe Narni ikut menimpali.

"Aku memang nggak kerja di sana, Budhe tap--

"Nah, kan. Kalau istri cuma pengangguran, anak-anak sekolah semua sementara yang kerja cuma laki doang ya pantes kalau nggak punya tabungan. Biaya hidup di sana juga mahal. Memangnya suamimu kerja apa sih, Rum? Sampai kamu nekat ikut merantau di sana? Apa kamu nggak mikir masa depan?" Mbak Sri yang usianya tak terpaut jauh dariku itu pun ikut menimpali.

Sejak dulu dia memang selalu iri denganku. Di sekolah, tiap kali aku mendapatkan peringkat lima besar, dia selalu menyindir nggak jelas. Tiap kali aku nggak bisa ngumpul bersama teman-teman, dia juga memfitnahku macam-macam. Padahal jelas aku di rumah sibuk membantu ibu membuat keripik yang akan dititipkan ke warung-warung.

Apalagi saat aku menikah dulu, Mbak Sri juga paling nyinyir. Dia bilang, "Buat apa cari jodoh jauh-jauh kalau kerjanya juga cuma serabutan. Lebih baik tetangga sendiri yang sudah kenal sejak awal. Lihat jelas bibit, bebet dan bobotnya."

"Sudah ya Mbak dan Budhe-budhe, aku mau istirahat. Malas berdebat. Yang pasti suamiku itu punya pekerjaan halal dan selalu semangat cari nafkah buat keluarga. Dia juga penyayang dan setia. Itu sudah cukup buatku, soal harta yang lain itu kuanggap sebagai bonusnya," ucapku lagi demi mengakhiri perdebatan nggak jelas ini.

"Halah, Rum. Kamu dulu waktu sekolah 'kan paling pintar diantara aku sama Betty, tapi lihat sekarang hidup kamu paling biasa aja. Sementara aku meski tinggal di kampung, kami sudah punya rumah, sawah, ternak, dan kendaraan. Betty juga sama, dia malah udah kredit mobil segala. Kami mikirin masa depan soalnya, bukan kebahagiaan sesaat saja."

Aku hanya tersenyum. Malas menanggapi mereka yang dari dulu memang sibuk menghina keluargaku. Aku masih ingat betul, dulu saat ibu bersikeras menyekolahkan anak-anaknya sampai SMA, para tetangga dengan entengnya menghina ibu sedemikian rupa.

"Buat apa sekolah, lebih baik langsung kerja. Sekolah SMA 3 tahun itu menghabiskan banyak biaya. Coba kalau langsung kerja, malah dapat duit bisa bantu orang tua."

"Sekolah juga buat apa kalau ujung-ujungnya di dapur? Lebih baik kerja, kalau sudah cukup umur ya nikah saja. Biar nggak terus-terusan menjadi beban orang tua."

"Kasihan ibumu, Rum. Demi kamu dan kakak adikmu sekolah, dia harus pontang-panting cari duit. Nggak kenal panas, nggak kenal hujan. Putus sekolah aja sih mumpung masih kelas dua, kerja sana. Itu Mbak Ambar cari orang buat diajak kerja jadi asisten rumah tangga di Bandung. Ikut aja."

Kata-kata itu kembali terngiang di benak. Sejak dulu, mereka memang selalu meremehkanku dan keluargaku. Membuatku down saat sekolah dulu. Namun aku sangat beruntung karena memiliki ibu yang berpendirian kuat.

"Ibu nggak punya modal harta buat kalian semua, Nak. Ibu cuma punya tenaga, jadi selama ibu masih kuat kerja ibu akan terus bekerja. Ibu beri kalian modal pendidikan sampai SMA, setelah itu ... cari uang sendiri untuk modal kalian nikah nanti. Sekarang jangan pikirkan ibu, fokuslah sekolah. Buktikan pada mereka kalau kalian akan sukses suatu saat nanti. Setidaknya, bisa hidup mandiri dan jauh lebih baik dari kehidupan kita saat ini."

Kuseka air mata yang menetes di pipi. Betapa aku merindukan hadirnya ibu di sini. Sekarang, aku akan merawat ibu dan suami juga anak-anak di rumah ini kembali. Rumah yang penuh kenangan bersama ibu dan almarhum bapak dulu.

"Kalau nggak bisa pulang, harusnya kamu juga kirim uang, Rum. Bukannya malah enak-enakan dan lepas tangan. Kaishan tuh kakak dan adikmu kadang cari pinjaman buat belikan ibumu ini itu. Merawat orang tua itu nggak mudah, Rum. Mereka beralih seperti anak kecil lagi," ucap Budhe Narni dengan ketus sebelum meninggalkan rumah ibu.

Mendadak aku menoleh ke arah Mbak Sinta. Apa dia ngomong yang nggak-nggak tentangku selama ini? Kenapa dia dan Mila harus cari pinjaman segala? Padahal jelas aku selalu mencukupi kebutuhan ibu tiap bulan, bahkan aku juga sering mentransfer lebih untuk anak-anaknya dan juga anak Mila. Apa uang empat juta untuk ibu di kampung masih kurang?

💕💕💕

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Telah Padam, Jalan Kita Berpisah
9.6
Dipandang rendah oleh suami sendiri karena latar belakangnya sebagai wanita petani adalah kepedihan sehari-hari bagi sang protagonis. Keadaan kian menyakitkan karena suaminya juga bersikap dingin pada anak mereka yang masih bayi. Namun, segalanya berubah saat cinta pertama sang suami kembali ke Kota Jenang. Pria itu tiba-tiba menunjukkan kehangatan yang tidak pernah ada sebelumnya, bahkan bersikap manis di meja makan demi menyenangkan kekasih lamanya. Menyadari bahwa senyuman palsu suaminya bukan untuk mereka, sang ibu memeluk erat anaknya dan bersiap melangkah pergi demi memulai hidup baru.
Sampul Novel Dari Pengasuh ke Cinta
7.8
Mengemban tugas di negeri asing, seorang pengasuh mendedikasikan dirinya untuk menemani proses studi anak dari majikannya. Namun, tanggung jawab pekerjaan ini perlahan melintasi batas profesional ketika dia harus merelakan dirinya demi memenuhi keinginan dan hasrat terpendam sang putra majikan yang begitu mendalam. Di tengah keterasingan lingkungan baru, pengorbanan pribadi ini menghadapkannya pada konflik batin dan dinamika hubungan rumit yang menguji batas ketahanannya.
Sampul Novel Istri Polos sang Milyarder
8.6
Hidup Cantika hancur saat seseorang tak bertanggung jawab membuatnya gagal membayar biaya medis ayahnya. Demi melunasi utang rumah sakit, ia terpaksa menjadi istri kedua seorang milyarder dan setuju mengandung anaknya. Namun, impian akan pernikahan indah sirna saat realita berubah menjadi penderitaan layaknya neraka. Akankah gadis polos ini tetap bertahan dalam siksaan tersebut, atau justru memilih melarikan diri dari sang suami demi kebebasannya?
Sampul Novel Kembalinya Sang Penguasa
9.0
Ledakan rumah yang menewaskan sepasang suami istri memicu kepanikan besar di kalangan polisi dan tentara. Hilangnya putri mereka menandai kembalinya sosok legendaris, Red Everlasting Dragon. Sang penguasa yang ditakuti dunia ini turun gunung demi membalas dendam atas kematian orang tuanya dan penculikan adiknya. Tanpa ampun, ia bersumpah akan menghancurkan siapa pun pelakunya. Amarah sang naga kini membara, siap mengguncang tatanan dunia dari timur hingga ke barat.
Sampul Novel Ketika Karma Berbicara
8.5
Setelah delapan tahun menempuh pendidikan di Jerman, kepulanganku untuk memimpin Cakra Group justru disambut kekacauan. Di lobi perusahaan keluarga, seorang wanita tiba-tiba menyerangku secara fisik dan menuduhku menggoda kekasihnya, Bakti Rahadi, yang kini menjabat sebagai direktur di sana. Tak hanya mempermalukanku di depan umum, ia bahkan merusak tas edisi terbatas serta segel berharga dari ayahku, sambil meremehkan barang-barangku sebagai barang palsu. Mereka tidak menyadari bahwa ganti rugi atas seluruh barang asli milikku itu tak akan pernah sanggup mereka bayar seumur hidup.
Sampul Novel Pacarku Adalah Mantan Sepupuku
7.8
Kekasihku selalu enggan menemui orang tuaku, namun diam-diam dia menyamar sebagai calon istri mantannya di hadapan para kerabat. Pertemuan itu bahkan digelar di rumah yang kusiapkan untuk pernikahan kami. Tanpa dia sadari, aku adalah sepupu jauh dari mantannya. Saat dia berpura-pura tidak mengenalku dan mengancam akan putus jika aku mengacau, aku justru tersenyum sinis. Kutawarkan hadiah pernikahan atas kesamaan selera kami, yang seketika membuatnya panik.