Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PROMISE (Janji Cinta di SMA)

PROMISE (Janji Cinta di SMA)

Chelia menyimpan rasa pada Varo sejak SMA, namun cintanya tertunda saat Varo menolak kado jam tangannya. Varo berjanji akan menerimanya jika mereka bertemu lagi empat tahun kemudian. Namun, takdir berkata lain saat waktu itu tiba. Mereka dipertemukan kembali bukan sebagai kekasih, melainkan sebagai adik dan kakak ipar. Di tengah perasaan yang masih membara, Chelia dipaksa mengubur cintanya demi keluarga. Mampukah ia merelakan pria yang sangat ia nantikan itu?
Bab
Bagikan

Bab 3

Abel merangkul temannya. "Kita tidak pernah tahu takdir akan memihak kemana, Chel!"

Wajah Chelia masih terlihat sendu, mata bengkaknya tidak bisa menutupi kalau dia menangis hampir setiap malam menjelang dia tidur.

"Gua tahu itu, Bel. Tapi gua butuh waktu untuk melupakan dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi." Sesekali gadis itu menghapus air matanya dengan tisu yang dibelikan Abel di kantin kampus.

Mereka berdua sengaja memilih taman kampus yang sedikit menyudut dan sepi, agar Chelia leluasa mengeluarkan isi hatinya. Karena sejak pembelajaran pertama dia sama sekali tidak semangat. Padahal ini adalah hari pertama kuliah setelah beberapa minggu libur.

Abel hanya menjadi pendengar yang baik, sesekali dia memberi nasehat untuk temannya itu. Melihat betapa sedihnya Chelia itu membuktikan perasaannya tidak main-main kepada pria tersebut.

"Jadi, lu mau ngapain sekarang? Mau masuk ke pelajaran berikutnya atau kita jalan jalan ke mana gitu?" tanya Abel memberi penawaran.

Menurut Abel percuma saja Chelia masuk ke pelajaran berikutnya dengan situasi hati yang tidak karuan begini. Bahkan tadi saja gadis itu hanya meletakan kepala malas di atas meja. Tidak sekali saja dia menghapus air matanya saat pelajaran sedang berlangsung.

"Ayuuk lah kita nonton ke bioskop, atau lu mau duduk manja di pantai? Gua jadi bingung harus berkata dan melakukan apa kepada lu sekarang."

Abel mencebikan bibirnya ikut prihatin kepada temannya itu. Chelia menghela napas dan menepuk pelan dada kirinya.

"Bayangan kemarin itu masih melekat di kepala gua, Bel. Karena itu lah gua merasa sesak sekali, sangat sesak."

Abel berdiri dari tempat duduknya dan berpindah di dekat Chelia. Gadis itu merangkul Chelia dan menepuk punggungnya pelan.

"Lu nangis sampai sesegukan gini, Chel. Nanti dada lu bisa nyeri jika begini terus."

Lalu, Chelia terdengar menangis lagi. "Gua patah hati, Bel. Gua nggak tahu harus melakukan apa setelah ini. Selama ini gua terlalu banyak berharap bertemu lagi dengannya kembali. Tidak pernah berhenti berdoa untuk bertemu dengannya. Tapi, bukan pertemuan seperti ini yang gua harapkan."

"Lu mau gua peluk?"

Abel memeluk erat tubuh rapuh temannya, pelukan itu membuat tangisan Chelia semakin tidak tertahankan.

"Gua mesti bagaimana, Bel?  Rasanya nyeri sekali."

Abel hanya membiarkan Chelia menangis di dalam pelukannya sampai gadis itu tenang lagi.

***

"Ini," Abel menyerahkan satu plastik tisu kepada Chelia.

"Makasih, Bel."

Mereka sedang berada di toilet, Chelia mencuci wajah dan membersihkan make up nya yang sudah acak-acakan.

"So, kita tetap masuk kelas atau bolos?"

"Hari pertama masa harus bolos, masih ada waktu sepuluh menit lagi kan?"

Abel mengangguk.

"Hati lu sudah tenang?"

"Hmm... " Chelia mengangguk pelan.

"Coba tarik napas dulu lalu hembuskan biar agak plong dikit."

Chelia mengikuti intruksi dari Abel, walau sudah tidak ada air mata lagi. Sisa sisa kesedihan itu masih nampak, saat menarik napas Chelia sesegukan.

"Sudah?" tanya Abel lagi.

Chelia mengangguk lagi.

"Oke, kita masuk kelas."

Abel merangkul Chelia menuju kelasnya, saat di kelas mereka mengambil tempat duduk paling belakang dan di dekat jendela.

"Katanya ada dosen pengganti, semacam asisten dosen gitu. Karena dosen yang sebelumnya cuti."

Chelia hanya diam dengan berita yang dikatakan oleh Abel. Dia sama sekali tidak tertarik siapa dosen penggantinya.

"Dari mahasiswa sebelumnya yang gua dengar, dia cakep loh Chel. Banyak mahasiswi yang menyukai dosen baru itu."

Rochelia tidak tertarik sekalipun mendegar berita kedatangan dosen yang dihebohkan oleh kelas sebelumnya. Gadis itu melihat keluar jendela sambil menopang kepalanya dengan satu tangan.

Lamunan Chelia terhenti saat Abel mencoba menyikutnya.

"Chel.."

"Rochelia," bisik Abel gregetan dengan Rochelia yang bergerak malas.

"Itu dia,"bisik Abel melihat ke depan kelas.

Chelia melihat siap dosen yang dikatakan oleh Abel itu. Baru saja air matanya kering karena mengingat pertemuan Rachel dengan pria yang dia cintai. Rochelia harus menerima kenyataan kalau pria yang ditemuinya beberapa hari yang lalu sekarang berdiri di depannya. Dosen yang sedang dinanti oleh mahasiswi itu ternyata orang yang sama yang telah menghancurkan hatinya.

Gadis itu melihat dengan tenang ke arah Rivaro. Walau hatinya sudah bergemuruh tapi sebisa mungkin dialihkan oleh Chelia.

"Senyuman itu masih sama," lirih Chelia.

Rivaro sedang memperkenalkan dirinya di depan mahasiswa/mahasiswi dengan senyuman indahnya.

Ketika mata mereka saling menatap, Chelia langsung berpaling kembali ke luar jendela.

Abel kembali menyikut lengan Chelia. "Namanya juga bagus sebagus wajahnya," gumam Abel dengan senyuman genit.

"Rivaro Dewa Garendra,"gumam Abel lagi seperti memuja nama itu.

Seketika Chelia ingin keluar dari kelas secepat yang dia bisa."

***

Abel tidak berhenti berbicara berapa gantengnya Rivaro kepasa Chelia.

"Lu harus move on, Chel. Mumpung kita kedatangan dosen kece seperti Sir  Varo. Gua yakin lu cepat move on, tapi lu harus buka hati. Lupakan pria itu, lu kudu dapat yang baru seperti dia."

Chelia mempercepat langkahnya menuju parkiran. Hatinya kembali tidak enak karena harus bertemu dengan Varo kembali.

"Jangan marah dong, Chel," sahut Abel ketika mereka sudah diparkiran mobil Chelia. Sedangkan mobil Abel masih jauh ke ujung jalan.

"Gua hanya memberi saran aja, siapa tahu wajah seperti Sir Varo bisa memikat lu."

"Abel," gumam Chelia sedih.

"Bagaiman mungkin dia bisa membuat gua move on. Sedangkan pria yang selama ini gua harapkan dan juga yang mematahkan hati ini adalah Kak Varo itu. Pria yang baru saja lu kenal sebagai dosen pengganti itu adalah pria yang menjadi penyejuk hati ini sekaligus juga yang mematahkannya."

Ingin rasanya Chelia berteriak di sini agar plong hatinya.

"Rivaro Dewa Garendra, nama yang tidak akan pernah bisa gua lupakan seumur hidup ini. Sekalipun nantinya gua menemukan pria yang lain, tapi nama itu sudah ada tempat khusus di hati ini, Bel."

Senyuman Abel langsung memudar saat dia baru mengetahui kenyataannya.

Tubuh Chelia terduduk di lantai di dekat mobilnya.

"Maaf, Bel, mungkin hari ini suasana hati gua sedang tidak baik-baik saja. Lu pikir gua terlalu berlebihan, tapi gua sudah berusaha untuk bersikap baik-baik saja."

Abel mengangguk paham dengan kondisi Chelia.

"Lu hati hati di jalan ya, Chel. Jangan macam macam, pikiran harus tenang." Abel mencoba memberi pengertian kepada gadis itu.

Dengan sisa air mata Chelia mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya. Ketika Abel sudah menjauh darinya gadis itu tidak langsung menghidupkan mesin mobil. Chelia menutup wajahnya kembali menangis.

Dia menyadari dia sudah berlebihan, tapi dia sudah berusaha tetap saja rasanya sama. Chelia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.

"Ya Tuhan apa yang harus aku perbuat? Mana mungkin aku sanggup melihat nya setiap hari di saat hatiku sudah berantakan karena dia," gumam Chelia.

Gadis itu menenangkan hatinya terlebih dahulu. Beberapa kali dia mengehela napas untuk mengatur keadaan hatinya.

Ketukan kaca mobil menghentikan tangisan Chelia. Sambil menghapus jejak air matanya, gadis itu menoleh siapa yang telah mengetuk kaca mobilnya.

"Kak Varo," bisiknya melihat Varo berdiri menjulang di samping mobilnya.

Varo tersenyum kepada Chelia, bukan senyuman ramah seperti dulu yang pernah dilihat Chelia. Akan tetapi senyum canggung dan sedih.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Ipar Duda
9.6
Viona terjebak dalam kemelut pelik setelah memutuskan tinggal di kediaman mertuanya. Di sana, ia harus menghadapi gangguan Dion, kakak iparnya yang bertindak nekat dan melampaui batas. Sambil berjuang memperbaiki keretakan rumah tangganya, Viona justru menemukan berbagai rahasia gelap dan fakta mengejutkan mengenai jati diri Dion yang sebenarnya. Mampukah Viona bertahan di tengah intimidasi ini? Misteri besar mulai terungkap saat ia mencari kebenaran.
Sampul Novel I Love You Om
9.4
Setelah sepuluh tahun menetap di Malaysia, Tania pulang ke Indonesia demi mencari Rian, cinta pertamanya. Namun, Rian justru bersikap asing dan tidak mengenali benda kenangan mereka. Pencarian ini membawa Tania bertemu Bian, paman Rian. Tak disangka, pertemuan itu mengungkap luka lama Bian yang kelam. Ternyata, sosok Rian yang selama ini Tania cari adalah Bian yang menyamar. Rahasia besar ini pun mengancam kestabilan hidup mereka yang penuh misteri.
Sampul Novel Luka Yang Tak Termaafkan
8.5
Tujuh tahun Celeste Marvina mengabdi sebagai istri Darian Elwood sebelum fitnah keji Ivana Greer menghancurkan segalanya. Dituduh selingkuh dan diusir tanpa harta oleh mertuanya, Celeste kehilangan segalanya. Namun, dua tahun kemudian ia bangkit sebagai direktur teknologi yang berkuasa. Celeste kembali bukan untuk mencari cinta, melainkan menuntut balas dan harga diri. Kini, kendali ada di tangannya untuk menghancurkan mereka yang pernah mengkhianatinya.
Sampul Novel Mencintaimu Lebih Dari Yang Aku Bisa
8.4
Dua tahun menikah, Berman selalu menghindari tatapan Clarissa saat berhubungan intim. Clarissa merasa hanya menjadi bayang-bayang adiknya di mata sang suami. Meski telah mencintai Berman selama sebelas tahun dengan penuh rasa rendah diri, Clarissa akhirnya menyerah dan mencoba pergi. Namun, saat ia berusaha menghapus Berman dari hidupnya, rasa sakit yang muncul justru mengancam jiwanya. Ternyata, mencintai Berman telah menjadi kebiasaan fatal yang tak bisa ia hentikan.
Sampul Novel Menikah dengannya
8.8
Hasna memulai harinya pukul lima pagi untuk beribadah dan membantu ibunya di dapur. Di tengah perjuangannya yang belum membuahkan hasil dalam mencari pekerjaan baru, ia tetap berusaha tegar meski berbagai penolakan telah ia lalui. Namun, suasana setelah sarapan mendadak berubah serius saat kedua orang tuanya mengajak bicara. Sebuah kejutan besar menanti Hasna ketika mereka mengungkapkan niat untuk menjodohkannya dengan pria pilihan keluarga tersebut.
Sampul Novel Perjanjian Rahim
9.6
Terhimpit kebutuhan, Calista menyewakan rahimnya kepada Darian demi imbalan besar. Rencana gila ini dipicu oleh Mireya, sahabatnya sekaligus kekasih Darian, yang enggan memiliki anak. Calista awalnya yakin hubungan mereka murni bisnis demi uang. Namun, kehamilan tersebut justru menumbuhkan perasaan terlarang di antara Calista dan Darian. Situasi kian rumit saat sisi gelap Mireya terungkap, mengubah kontrak rahim ini menjadi konflik emosional yang penuh risiko.