
Please, Jangan Panggil Ibu
Bab 2
Kisah ini bermula lima tahun yang lalu. Kisahku dan guru Biologi itu.
Suara pintu yang kuketuk mungkin enggak membuat orang di dalam sadar, ada seseorang di balik pintu.
"Assalamualaikum," kataku akhirnya sembari membuka pintu ruang guru itu.
"Waalaikumsalam." Terdengar jawaban serentak dari para guru.
"Duh lagi ada banyak guru kayanya," pikir ku sebelum masuk.
"Masuk!" Suara yang tak asing terdengar menyuruh masuk. Aku pun memberanikan diri masuk membawa buku-buku ditangan.
"Taruh disana, di meja Ibu aja, Ris," pinta Bu Tanika, Guru Biologiku.
Aku menyimpan tepat di atas meja beliau. Jujur, merasa agak canggung juga saat tahu di Ruang Guru sedang ada rapat dan banyak guru di sana.
"Tunggu, Ris!" Langkahku terhenti saat suara Pak kepala sekolah menggema di ruangan.
Aku membalikkan badan dengan perasaan takut. Jelas takut, Pak kepala sekolah terkenal sebagai guru killer dan dia itu irit bicara, kan bikin sport jantung tuh kalau dipanggil sama beliau.
"Kamu kesini!" pintanya lagi masih dengan tatapan itu. Yang udah lah ... pokonya enggak bisa aku jelasin.
Jadi inget teman sebangkuku yang ditampar karena telat masuk minggu lalu. Tapi sudahlah aku memberanikan diri saja.
"Ada apa, Pak?" tanyaku dengan hati hati sesampainya di hadapan beliau.
"Kamu gantiin Anatasya buat Olimpiade Sains bulan depan," pintanya masih dengan wajah dingin, dan seakan enggak peduli aku yang sudah merasa ingin copot jantung.
"Dan kamu Tanika .." Pak Kepala Sekolah menunjuk Guru Biologiku. "Ajari Faris dalam waktu satu bulan."
"Baik, Pak," jawab Bu Tanika.
"Ya sudah, rapat selesai. Saya harus liat kondisi Anastasya." Pak kepala sekolah itu langsung keluar tanpa permisi atau memandangku yang sedang bingung plus shock, kaget dengan apa yang dia perintahkan. Bagaimana tidak kaget aku disuruh ikut lomba tingkat nasional dan belajar dalam satu bulan? Ah, apa apaan ini? Aku masih mematung dan tak tahu harus bilang apa.
Tiba tiba suara seseorang menyadarkanku dari lamunan dan kebingungan itu.
"Kamu ikut Ibu sekarang ke perpustakaan, kita belajar mulai hari ini," pinta Bu Tanika yang sedang membereskan tasnya.
"Ta-ta-pi, Bu." Aku gelagapan bingung harus bilang apa. Aku benar benar tidak bisa, tapi juga tidak bisa menolak.
"Gak ada tapi, ikut!" tegasnya sembari melewatiku yang belum selesai bicara.
Yah, inilah nasibku. Aku Juanda Alfarisi, seorang murid kelas XI di salah satu SMA di daerah Cilacap.
Awal hidup baru yang bisa dibilang aneh. Aku tidak pernah mengira semuanya akan menjadi lebih rumit dari itu. Padahal aku tidak bisa ikut belajar dengan Bu Tanika, karena kakekku di rumah sedang sakit dan tentu saja aku harus merawatnya.
Tapi, aku juga tak bisa menolak, Pak Kepala sekolah yang memintaku. Lagian kenapa juga Anatasya? Diakan sudah terpilih ikut lomba kenapa malah aku yang menggantikan?
Aku memang sering punya peringkat pertama di kelas, tapi ini bukan waktu yang tepat, karena Kakekku memang sedang sakit.
Sepanjang perjalanan menuju perpustakaan aku terus menghela napas, mencoba berpikir bagaimana cara aku mengatakan pada Bu Tanika yang saat itu sedang berjalan di depanku. Bahwa aku memang tidak bisa.
Sampailah kami di Perpustakaan. Bu Tanika langsung memilih buku-buku di rak. Sementara aku, tanpa disuruh, langsung duduk saja.
Cukup lama aku menunggu Bu Tanika. Hingga dia pun duduk di hadapanku, menaruh buku dan menyodorkannya padaku.
"Soalnya paling juga yang biasa kita bahas di kelas, cuma pasti ada tambahan dan ya ... itu belum kita pelajari. Jadi, kamu baca dulu buku ini, nanti tanya saya kalau ada yang enggak kamu ngerti" cerocos Bu Tanika tanpa membiarkanku membuka mulut.
Aku melihat Bu Tanika yang nampak mau membuka tas nya. Aku pikir dia tak menyadarinya, tapi ....
"Ada apa? Kamu udah paham? kok enggak baca?" tanyanya lalu melihatku.
"Enggak, Bu, bukan itu. Tapi ... saya mau tanya kenapa saya jadi gantiin Anatasya?"
"Oh itu. Anastasya kecelakaan dia harus dirawat di rumah sakit. Kemarin waktu dia izin pulang ke Garut mobilnya masuk jurang," jelas Bu Tanika.
"Inalillahi, yang bener Bu?" Aku kaget langsung melotot menatap Bu Tanika.
"Iya bener, kamu jadi gantiin dia," jawabnya santai lalu mengeluarkan ponsel.
"Tapi aku enggak bisa, Bu" ungkapku jujur.
"Lho, kenapa? Kamu itu kan pinter, Ris. Kamu enggak mau banggain sekolah kita?" tanyanya terlihat agak kaget dengan pernyataanku.
"Soal itu saya juga mau, tapi kakek saya lagi sakit, Bu. Jadi, saya harus rawat dia." Aku menghela napas setelah menjelaskan itu, enggak enak juga sih.
"Kan ada orang tua kamu yang jaga" Bu Tanika begitu enteng menanggapi penjelasanku.
"Ibu saya di Arab Saudi. Kalau Bapak, saya enggak tahu Bapak saya dimana." Aku agak tersinggung dengan tanggapan Bu Tanika, tapi aku berusaha maklum. Beliau memang guru baru yang belum tahu bagaimana aku dan keluargaku.
"Oh ... ya ampun maaf ...." Nampak Bu Tanika menyesal dengan tanggapannya tadi. "Terus kakek kamu sakit apa, parah banget?" Kini Bu Tanika memasang wajah khawatir yang imut. Duh, aku belum pernah melihatnya seperti itu. Wajahnya selalu tegas kalau dikelas.
"Stroke Bu. Dia cuma tidur di kasur aja seharian, jadi aku harus rawat dia." Aku menatap Bu Tanika dengan tatapan sedih mengingat kondisi kakek di rumah.
"Oh gitu ya. Duh, gimana ini? Saya juga enggak tega sama kakek kamu, tapi juga Pak Kepala sekolah nyuruh kamu yang ganti." Wajah Bu Tanika sangat bingung dia lalu mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kalau begitu tunggu sebentar! Biar Ibu telpon Pak kepala sekolah buat ganti aja orangnya jangan kamu. Kamu tunggu di sini, okey?" sarannya lalu berdiri, memundurkan kursi dan keluar perpustakaan.
Dapat kulihat dari tempatku duduk, Bu Tanika sedang berbicara di telpon dan wajah yang awalnya ceria itu langsung berubah kecewa, setelah mendapat jawaban dari orang di balik telpon.
Bu Tanika kembali dengan wajah kecewa. Dia duduk dengan lesu di hadapan ku.
Bu Tanika menghela napas berat. "Maafin ibu ya, Ris. Kayanya kamu enggak bisa diganti. Soalnya kata Pak Kepala sekolah setelah Rama dan Anatasya, nilai kamu yang paling bagus."
Aku tertunduk lesu dan menghela napas juga.
"Tapi ibu punya ide," ucap Bu Tanika tiba-tiba. "Ayo kita pulang ke rumah kamu, nanti ibu ajarin kamu setelah kamu udah ngerawat kakek kamu. Biasanya jam berapa kamu beres ngerawat kakek kamu?"
Pertanyaan yang emang aneh. Sampai seperti itu Bu Tanika mau mengajariku. Aku sebenarnya enggak habis pikir tapi akhirnya kujawab juga pertanyaan Bu Tanika yang aneh itu.
"Jam tiga sore, Bu. Tapi Bu, rumah saya enggak bagus, Bu. Saya malu kalau ibu kesana," jelasku dengan agak tertunduk.
"Gak apa-apa, saya bakal kesana. Jadi kita bisa belajar sampai isya paling. Ibu enggak punya pilihan lain. Olimpiadenya satu bulan lagi, jadi kita harus ngejar materi," jelas Bu Tanika lalu membereskan buku buku tadi dan membawa kepangkuan.
Nampak saat Bu Tanika akan mengambil tasnya dia kesulitan karena banyaknya buku yang dibawa. Aku pun berinisiatif mengambil buku buku yang dia bawa.
"Bu, biar aku aja yang bawa bukunya," pintaku sembari berdiri dan menyodorkan kedua tanganku.
Bu Tanika tersenyum padaku, lalu menyodorkan buku-buku itu ke tanganku.
"Makasih, ya. Udah kamu ikut saya!" Pulangnya naik mobil saya," perintah Bu Tanika sembari menyimpan tas di bahu kanannya.
"Tapi, Bu--" Aku masih merasa tak enak dengan tawaran Bu Tanika.
"Udah enggak apa-apa. Jadi saya nanti bisa tahu rumah kamu dimana," sela Bu Tanika lalu berjalan keluar perpustakaan.
Akupun dengan pasrah mengikutinya. Kami menaiki mobil sedan miliknya. Aku duduk di samping Bu Tanika yang sedang mengemudi.
Mobil yang bagus pikirku. Ini memang pertama kalinya aku naik mobil bagus. Ya mana mungkin aku naik mobil bagus untuk biaya kakek berobat saja aku tidak punya. Aku sendiri bisa makan karena transferan uang dari ibu yang bekerja di Arab Saudi.
Aku merasa cukup nyaman naik mobil itu, meski jalan kerumah memang tidak bagus dan banyak lubang.
"Ris, rumah kamu di mana, sih? Kok jauh banget, mana jalannya jelek lagi," keluh Bu Tanika yang mulai kesal karena jalan yang kami lewati memang enggak ada bagus bagusnya.
"Rumah saya di dekat kebun Bu, jadi masih lumayan," jawabku cengengesan.
"Kamu tiap hari jalan sini, naik apa? Kayanya enggak ada angkot," tanya Bu Tanika wajahnya terlihat khawatir dan agak heran.
"Saya biasa naik ojek, Bu, atau jalan kaki," jawabku apa adanya.
"Hah! Jalan kaki?!" Bu Tanika melototiku. "Jangan gila kamu jalan kaki, sejauh ini?!" tanyanya lagi masih tak percaya.
"Iya, Bu. Lagian saya cari pahala juga, Bu. Kan mau nuntut ilmu." Lagi-lagi aku menjawab dengan cengengesan. Lucu juga guru satu itu, sampai sekaget itu tahu aku jalan kaki dari rumah ke sekolah.
Bu Tanika menghela napas panjang. "Saya kagum sama kamu, niat kamu buat belajar juga bagus. Kamu bahkan sampai rela jalan di jalan kaya gini tiap hari," puji Bu Tanika sambil tersenyum manis.
Ya ampun, senyumnya. Dia itu guru yang perpect banget sih. Bukan cuman masih muda dan cantik, beliau juga sudah jadi guru di usia mudanya. Aku hanya tersenyum menanggapi pujiannya itu.
Sekitar lima belas menit kami baru sampai di rumahku. Bu Tanika memarkirkan mobilnya tepat disamping rumahku. Rumah itu memang sangat sederhana dan juga kebetulan di RT-ku rumah cukup jarang jaraknya. Jadi, cukup leluasa untuk memarkir mobil Bu Tanika.
Bu Tanika ikut turun saat aku turun mobil. Cukup banyak orang yang memandangiku turun dari mobil mewah itu. Apalagi ibu-ibu yang mulai bisik bisik saat Bu Tanika keluar mobil bersamaku.
"Ini rumah kamu?" tanya Bu Tanika sambil menunjuk rumahku heran.
"Iya, Bu. Maaf ya Bu gak bagus," jawabku ikut memandang rumah yang hanya terbuat dari batu bata dan bilik bambu itu.
"Ya udah, Bu. Masuk dulu saya buatin minum sekalian," pintaku sembari mengiring nya masuk rumah.
Bu Tanika tak menjawab dia malah celingak-celinguk melihat sekitar dan juga rumahku. Aku tahu pasti dia sangat heran dengan rumahku, dan pasti lebih heran lagi karena aku bisa masuk sekolah seelit sekolahku itu. Ya karena memang aku masuk sekolah itu pun karena beasiswa.
"Ayo, Bu. Duduk dulu!" Aku menyuruh Bu Tanika duduk di sofa saat sudah masuk. Sofa itu tampak sudah pudar juga warna, maklumlah rumah orang enggak punya.
Bu Tanika duduk lalu tersenyum padaku.
"Bentar ya, Bu. Aku ambilkan minum." Aku menaruh buku-buku di meja samping sofa, lalu pergi ke dapur mengambil kan air minum untuk Bu Tanika.
Saat aku datang Bu Tanika masih celingak-celinguk melihat isi rumahku yang sederhana itu. Hanya ada satu sofa usang, televisi, beberapa figura, lemari, juga satu meja biasa yang ditaruh di samping sofa .
"Diminum dulu, Bu," kataku sambil menaruh air putih di hadapan Bu Tanika lalu duduk di sampingnya.
"Enggak apa-apakan, Bu air putih aja," Aku agak malu dan ragu Bu Tanika tak mau menerimanya.
Tapi ternyata dia malah tersenyum.
"Iya enggak apa-apa. Ibu minum, ya." Bu Tanika mengambil lalu meminum air putih di gelas itu.
"Oh iya. Maaf lho sebelumnya, emang Ibu kamu belum pernah pulang?" tanya Bu Tanika, sepertinya dia memang mulai penasaran dengan hidupku.
"Enggak, Bu. Paling kalau lebaran," jawabku lalu meminum air putih yang kubawa untuk sendiri.
"Oh, tapi Ibu kamu udah tahu kondisi Kakek kamu?"
"Tahu, tapi dia enggak bisa kasih uang lebih buat berobat kakek," sahutku sembari menaruh gelas kembali.
Bu Tanika nampak iba kepadaku, tiba tiba dia memegang bahuku lalu mengusap-ngusapnya dengan lembut. Aku jadi merasa terharu, perlakuan itu membuatku seperti bertemu Ibu yang lama tak kutemui.
"Kamu yang sabar, ya. Anak pinter kaya kamu pasti nanti bakal sukses." Bu Tanika melukis senyum, yang bagiku manis sekali.
"Iya makasih, Bu," sambutku terharu. "Eh, ya Bu. Saya mau langsung bersihin kakek, kasihan soalnya dari pagi saya belum sempet washlap dia." Aku beranjak dari duduk.
"Okey kalau gitu." Bu Tanika masih melukis untuk, dia lalu melihat jam tangan putih di pergelangan tangannya.
"Kamu yakin beres jam tiga, ini udah jam dua siang lho?" tanyanya tiba-tiba.
Benar juga. Karena Hari Senin waktu pulang sekolah jadi telat, aku langsung panik mengingat itu, sekilas kupandang Bu Tanika.
Aku mencoba meyakinkan dia. "Akan saya usahakan, Bu."
Setelahnya aku segera pergi ke kamar mandi, mengambil alat washlap, lalu langsung mewashlap kakek juga menyuapi beliau makan. Kemudian aku beres beres rumah, mengambil jemuran, mencuci piring juga memasak. Aku memasak cukup banyak, karena aku kira Bu Tanika juga butuh makan, kami kesini tanpa makan siang dulu tadi.
Aku menengok jam usang di dinding dapur. Jam menunjukan pukul 15.00 tepat, membuatku benar benar kaget, lalu mempercepat masakku.
Setelah selesai masak, aku menengok ke ruang tamu untuk melihat Bu Tanika. Sungguh, aku kaget melihat Bu Tanika sudah tertidur lelap di sofa usangku dengan posisi terduduk dan wajahnya yang tertunduk.
Kasihan sekali aku pun mendekati dan mencoba membetulkan posisi tidurnya. Kutaruh bantal di sisi sofa, mencoba menidurkan kepalanya. Lalu, kaki Bu Tanika kurentankan di sisi sofa yang lain.
Bu Tanika yang masih memegang tas dan lekas kuambil juga tasnya. Sepertinya Bu Tanika sangat lelah, bahkan dia tak bergerak saat posisi tidurnya ku betulkan.
Aku menghela napas saat berhasil menyelimutinya. Mata ini menatap keluar jendela, nampak hujan begitu deras juga kilat yang sesekali terlihat di langit.
"Hmm, hujan. Bagaimana Bu Tanika, ya? Apa dia harus menginap di sini? Tapi aku tidak punya kamar lagi," batinku bertanya-tanya mengingat nasib Bu Tanika.
Aku menghela napas resah. Tentu saja aku tak punya kamar lagi, karena di rumah ini hanya ada dua kamar, kamar aku dan kakek.
Setelah itu aku mencium bau asam, dan saat kucium ternyata itu bau badanku.
"Ya Allah, aku bau sekali, lebih baik mandi sekarang. Aku enggak mungkin bangunin Bu Tanika, kan? Nanti saja kalau aku sudah mandi," gumamku kemudian memilih melenggang ke kamar mandi. Biarlah tentang Bu Tanika, tubuh ini lebih jadi prioritas.
°°°
Terima kasih untuk yang sudah baca. Salam hangat dan semangat dari Author. ( ◜‿◝ )♡
Anda Mungkin Juga Suka





