Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Please, Jangan Panggil Ibu

Please, Jangan Panggil Ibu

Dahulu Tanika dan Faris menikah demi sebuah pertolongan saat Tanika masih menjadi guru SMA. Meski terpaut usia sepuluh tahun, benih cinta perlahan tumbuh di antara mereka hingga sebuah alasan memaksa keduanya berpisah. Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang jauh berbeda. Faris terkejut mendapati kenyataan bahwa kini Tanika telah memiliki suami. Akankah perasaan lama mereka bersemi kembali atau terkubur selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Kubuka mataku perlahan dan merasa begitu hangat. Karena itu aku mengurungkan niat untuk membuka mata malah menarik selimut yang menutupi tubuh ini.

Tiba-tiba aku mendengar guyuran air saat akan kembali memejamkan mata. Aduh, siapa sih yang mengganggu tidurku?

Aku memang bergadang malam tadi karena harus merangkum materi, materi yang akan aku berikan untuk pengganti Anatasya di olimpiade sains. Makanya cukup kesal juga kalau ada yang menganggu saat aku tidur.

Tiba tiba aku mengingat sesuatu kalau aku sedang bukan ada di rumah. Itu membuatku bangun dan langsung melihat sekeliling. Tuh kan benar, aku bukan ada di rumah, tapi rumah Faris --muridku--.

Aku menguap sesaat, untuk kemudian pelan bangkit dari tidur, lalu melihat keluar jendela. Hujan yang deras, aku menghela napas, berpikir akan berada cukup lama di rumah ini.

Aku kembali menghela napas saat melihat isi sekeliling rumah Faris, rumah yang sederhana. Ya, sangat sederhana bagiku seorang Tanika Kusuma Pratama yang hidup dengan segala kecukupan di dalamnya. Bisa dibilang hidupuku lebih beruntung dari Faris.

Jujur, aku enggak ngerti kenapa Faris bisa masuk sekolah itu, pasti Faris benar-benar pinter. Ya, dia memang anak yang pintar sih.

"Bu, Ibu udah bangun?" tanya seseorang yang aku kenal pasti Faris.

Aku menoleh dan melihat padanya. "U, Aaaa!" Bukan menjawab aku malah berteriak dan menutup mataku.

"bu, kenapa?" tanyanya dan suara itu seperti mendekatiku.

Aku tak berani melihat karena Faris sekarang sedang telanjang dada di hadapanku dan hanya mengenakan sehelai handuk, benar-benar tidak sopan anak itu.

"Kamu gila, ya?! Pake baju sana, enggak sopan depan guru," gerutuku masih menutup kedua mata dengan telapak tangan.

"Ya ampun, Bu. Kirain apa. Maaf ya, Bu. Saya baru mandi barusan. Ya udah, saya ganti baju dulu," jawabnya terdengar seperti tak merasa bersalah.

Aku memberanikan mengintip dari sela jari memastikan anak itu sudah masuk kamarnya, kemudian menghela napas lega. Syukurlah, akhirnya dia masuk kamar juga.

Aku kembali duduk dan merapikan selimut yang tadi dipakai. Sepertinya tadi Faris yang menyelimutiku, aku jadi benar benar tidur nyenyak. Tapi, baguslah malam ini aku jadi bisa ngajar Faris dengan tenang tanpa ngantuk.

"Bu, ayo kita makan dulu!" Suara Faris membuatku menoleh padanya. Pemuda berkulit putih bersih itu keluar dari kamar.

"Makan?" tanyaku heran, karena memang aku tidak membawa makanan ke sini.

"Iya, Bu," sahutnya. "Maaf ya Bu soal yang tadi." Kulihat wajah remaja berambut hitam pekat itu tampak menyesal.

"Ya udah Ibu maafin, tapi awas jangan gitu lagi. Enggak sopan apalagi depan guru kamu," jawabku kesal, karena kejadian memalukan tadi.

Faris kembali mengembangkan senyumnya. "Ya udah, kalau gitu kita makan dulu, Bu," pinta Faris yang kemudian berlalu menuju dapur.

Aku penasaran lalu mengikutinya. "Makan? Kamu masak?" tanyaku penasaran pada remaja yang sedang mengangkat nasi dan makanan itu. Dia nampak kesulitan membawa dua mangkuk dan satu bakul nasi.

"Sini Ibu bantu!"  Aku mengambil dua mangkuk yang dia pegang.

"Makasih, Bu." Faris cengengesan karena bantuan itu.

Aku dan Faris pun menyimpan menu makan malam yang bisa dibilang sederhana itu di atas karpet lipat, samping sofa yang aku tiduri tadi.

Menu makan ini sangat sederhana, bisa dibilang sangat jauh dengan yang sering aku makan di rumah. Hanya ada nasi putih, Cah Kangkung, Tempe Goreng, dan Tahu Goreng.

Aku hanya menatap saja makanan itu, meski aromanya cukup memikat, aku malah berpikir bisa memakannya atau tidak, ya?

Faris mungkin melihatku yang hanya bengong. Dia pun menyodorkan sepiring nasi dengan kangkung, tempe dan tahu.

"Ibu pasti laper makan dulu, Bu. Emang makanannya sederhana tapi enak kok, Bu," jelas Faris dengan percaya diri.

Aku tersenyum lalu mengambil piring itu. Aku melihat Faris makan begitu lahap. Apa benar ya rasanya enak?

"Makan Bu, enak kok," pinta Faris lagi. Sepertinya dia sadar aku hanya menatap makanan di piring itu.

"Iya, Ibu makan." Aku pun memberanikan diri memakannya.

Lalu, satu suapan berhasil masuk mulut, aku mengunyahnya perlahan. Dan, wow rasanya enak sekali ini. Gurihnya pas, Cah Kangkung yang enak. Padahal dulu, aku tak pernah memakannya karena Bi Nia --pembantuku-- selalu gagal membuat Cah Kangkung. Tapi, masakan Faris ini benar-benar enak.

"Enak kan, Bu?" Suara Faris membuatku menoleh padanya.

"Em, ini enak Faris, kamu pinter masak juga rupanya," pujiku sambil memandang anak itu.

"Alhamdulillah kalau Ibu suka, saya jadi seneng."

Kami pun melanjutkan makan malam. Setelah makan awalnya aku ingin membantu Faris mencuci piring, tapi dia melarang dengan alasan cucinya harus sambil jongkok.

Dia bilang, tidak mau bajuku kebasahan, padahal sebenarnya tidak apa-apa. Akhirnya aku menurut saja pada muridku itu. Lalu memilih duduk di sofa sembari membaca materi yang akanku ajarkan pada Faris.

"Bu, aku mau nyuapin Kakek dulu, enggak apa-apa, kan Bu?" Tiba-tiba Faris muncul begitu saja mengagetkanku yang sedang membaca buku.

"Ya enggak apa-apa," jawabku singkat lalu kembali membaca buku.

Sekitar lima belas menit Faris baru keluar dari kamar kakeknya. Kami baru memulai belajar pukul 18.30. Ya, karena tadi pas magrib Faris pamit untuk sholat dulu di masjid, sedangkan aku sedang tidak sholat saat itu.

Kami belajar dengan khusyu, Faris hanya menanyakan beberapa pertanyaan saja. Itupun pelajaran yang memang belum dibahas di kelas sebelas.

Aku juga memberi beberapa pertanyaan yang ditulis di buku, lalu Faris mengerjakannya sementara aku membaca materi berikutnya.

Sesuatu hal terjadi mungkin beberapa detik kemudian. Mata ini tiba-tiba gelap, aku mulai merasa keringat bercucuran di tubuh. Kupegang tangan seseorang yang entah siapa. Ya, malam itu terjadi mati lampu secara tiba-tiba dan parahnya aku punya phobia pada kegelapan.

"Aaa ...!" Aku menjerit karena mulai merasa takut dan gelap itu seakan menutup mata. Keringat terasa semakin bercucuran dan aku mulai merasa tubuh ini menegang, lalu sesak tiba-tiba.

Aku terus menarik tangan Faris. Ya, pasti ini tangan muridku itu. Pelan tapi pasti aku merasakan sebuah dekapan hangat menyentuh tubuh, dia memelukku dengan lembut.

"Bu, Ibu yang tenang, Ibu kenapa ?" Sayup-sayup kudengar suara Faris.

"Aku takut gelap ...." Repleks, aku memeluk Faris dengan erat masih dengan keringat yang bercucuran.

"Ponsel-ponsel, ada senter di sana. Cepat ambil! Ada di saku rok, cepat ambil! Aku takut ...," titahku takut, karena mulai terasa tangan ini gemetar memegang pinggang Faris.

Faris mencoba merogoh saku rokku, tapi dia tak kunjung mendapatkan ponsel itu. Aku masih takut menutup mata, berharap segera ada cahaya, dan kedua tanganku masih setia memeluk tubuh Faris. Oh, Tuhan! Aku sangat berharap Faris bisa cepat mengambil ponsel itu.

Tiba-tiba ada sebuah cahaya yang sayup-sayup mendekati, tapi aku belum bisa melihat dengan jelas. Hingga air mata meleleh tiba-tiba kemudian kututup mata dan tangan ini semakin gemetar.

"Bu-Bu." Terdengar Faris seperti memanggil.

Aku akan menyahut, saat tiba-tiba suara pintu didobrak membuat aku sedikit terperanjat. Tiba-tiba pintu rumah Faris terbuka aku dapat melihat cahaya, meski samar.

Aku tak menyadari apa pun, mata ini masih mencoba dibuka perlahan, demi meyakinkan cahaya yang ada di hadapan ku itu. Keringat mulai berhenti bercucuran dan gemetarku mulai mereda.

"Astaghfirullah! Kalian ngapain pelukan malam-malam, lagi mesum, ya?!" sentak seorang Bapak-Bapak.

"Iya, mentang mentang sepi terus mati lampu malah berduaan," sambung Bapak yang lainnya.

Aku mulai tersadar dengan sentakan kedua Bapak itu. Lalu melihat seseorang di sampingku yang ternyata masih kupeluk. Langsung saja kulepas pelukan itu tanpa peduli wajah Faris yang nampak kebingungan.

Faris langsung berdiri lalu menghadap Bapak-Bapak yang baru kusadari ada tiga orang.

"Bukan, Pak, Bapak salah paham. Tadi saya sama Bu Tanika bukan lagi berduaan." Faris menyangkal.

"Alah bukan berduaan gimana? Jelas-jelas tadi kita liat kalian lagi pelukan. Kalau bukan mesum terus apa namanya?" sahut si bapak membentak.

Aku yang duduk masih mencerna apa yang baru terjadi.

"Pokonya kalian harus ikut kita ke kantor RW. Jelas-jelas tadi si Mbak-nya teriak teriak. Gimana kita enggak curiga, coba?" Bapak satunya memberikan saran yang cukup aneh di telingaku.

"Tapi, Pak. Demi Allah, kami enggak melakukan apa-apa. Tadi, Bu Tanika cuma kaget jadi peluk saya."

"Udahlah enggak usah ngeles. Kalian harus tanggung jawab dengan perbuatan kalian, kalian harus segera dinikahkan."

Apa nikah?! Aku mulai mengerti arah pembicaraan itu lalu memilih berdiri untuk ikut menyangkal juga. Enak aja, aku kan enggak salah, kenapa tiba-tiba harus nikah?

"Maaf, Pak. Tapi, Bapak salah paham. Faris murid saya dan saya lagi ngajar dia," jelasku mencoba meluruskan kesalahpahaman.

"Ngajar apa malam-malam, ngajar yang enggak-enggak itu mah." Satu dari Bapak itu nampak sewot dengan penjelasanku.

Tanpa basa-basi lagi. Bapak-Bapak itu langsung menarik kami berdua. Bahkan, satu Bapak mencengkram tanganku dengan kuat agar aku tak kabur, sementara dua lainnya menyeret Faris ikut dengan mereka.

***

Tibalah kami di rumah Pak RW. Bapak-Bapak itu terlihat menjelaskan sesuatu pada Pak RW saat kami baru saja sampai.

Di tengah padam listrik itu ada sebuah lampu senter yang ditaruh di atas meja. Banyak pula warga yang sudah mengepung rumah Bapak RW. Kebanyakan mereka sedang berbisik-bisik dan sudah jelas pasti sedang membicarakan kami.

"Ya sudah, kalian tunggu di dalam. Saya bawa penghulu dulu, dan kamu." Pak RW yang keluar dari rumahnya tiba tiba menunjukku. "Hubungi orang tuamu, kamu akan saya nikahkan dengan dia malam ini juga," jelas pak RW itu lalu pergi meninggalkan kami.

Aku masih menatap bingung. "Tapi, Pak-- " Aku dan Faris mencoba menarik tangan Pak RW, tapi dia tak menghiraukan malah pergi begitu saja.

"Sudah, ayo kalian masuk dulu!" pinta Bapak yang membawa aku dan Faris tadi.

"Dan untuk warga silahkan pulang ke rumah masing-masing masalah ini akan kami selesaikan," jelas Bapak itu pada warga yang sudah berkerumun di rumah Pak RW.

"Huuuuu! Dasar Tante Girang, main mesum sama anak ABG," teriak Ibu-Ibu yang disusul sorakan menghina dari yang lain.

"Apa dia bilang tadi Tante Girang? Dia mengataiku Tante Girang? Dasar Ibu-Ibu Tukang Gibah!" umpatku dalam hati dengan mengepalkan erat jari-jariku seakan ingin memukul mulutnya yang tak tahu diri itu.

"Sudah Ibu! Sudah! Ayo pulang semuanya!" usir si Bapak.

"Huu! Nikahin aja biar gak bawa sial, dasar mesum!" Kembali terdengar seorang Bapak-Bapak berteriak, diikuti sorakan dari yang lain.

"Tenang semuanya! Sudah saya bilang masalah ini akan kami selesai kan, semuanya bubar sekarang," titah si Bapak sekali lagi.

"Huuuuu!" Riuh sorakan dari warga, yang kemudian berangsur bubar.

"Ayo kalian masuk!" Bapak itu menyeret kami masuk ke rumah Pak RW.

Aku dan Faris pun duduk setelah di dalam. Karena merasa enggak terima aku pun berdiri lalu mendekati Bapak itu  "Pak, Bapak salah paham, saya tadi enggak berbuat mesum, itu murid saya." Kemudian aku menunjuk Faris yang pasti sedang bingung juga.

"Ya, Pak. Bu Tanika ini guru saya, Bapak dan yang lainnya salah paham." Benarkan, dia akhirnya ikut berdiri dan menjelaskan.

"Tolong, Pak! Jangan nikahkan kami!" pintaku memohon.

"Ya, Pak. Mana mungkin saya menikah dengan guru saya sendiri? Tolong, Pak biarin kita pulang." Faris juga tak kalah memelas. Pasti perasaannya sepertiku, enggak terima. Tentu saja, masa aku nikah dengan murid sendiri?

"Tapi kalian harus tetap nikah, apa yang kalian lakukan tadi itu menimbulkan fitnah. Daripada jadi fitnah lebih baik kalian menikah. Toh, saya memang melihat kalian berduaan, kok." Heran, Bapak itu masih saja bersikukuh dengan pendapatnya.

"Sekarang dari pada kalian kaya gini, mending kamu hubungi ayah kamu, minta dia kesini buat jadi wali," jelas Bapak itu sembari menunjukku.

"Pak, tolong, Pak! Jangan seperti ini, Bapak salah faham," melasku, sembari menahan air mata karena tak percaya dan juga tak ingin memberitahu ayah. Tentu masalah itu hanya akan membuat Ayah malu.

Beberapa menit kemudian aku pasrah menelpon Ayah karena paksaan Bapak yang terus menjaga kami di depan pintu, seakan takut sekali kami akan kabur.

Aku terus menatap pintu kamar mandi. Entah apa yang Faris lakukan di sana yang jelas setelah aku menelepon Ayah, Faris langsung meminta izin ke toilet. Dia belum keluar juga sampai aku selesai menelepon. Ah, apa dia kabur? Tidak, tidak mungkin Faris membiarkan aku menderita sendirian.

Tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan atensiku ke pintu utama rumah itu. Hm, Siapa itu?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKSARA HUJAN
7.9
Julie mendedikasikan hidupnya sebagai penari pole dance di klub malam demi masa depan Gemma, adik tercintanya. Namun, segala pengorbanan dan kerja keras Julie seolah tak berarti saat Gemma justru menggoreskan luka mendalam melalui tindakannya. Di tengah perjuangan mencari kebahagiaan, Julie harus menghadapi kenyataan pahit atas pengkhianatan sang adik. Apakah Gemma akan menyadari kesalahannya, atau malah semakin menjerumuskan Julie ke dalam penderitaan?
Sampul Novel December to January
7.9
Mengapa sebuah perpisahan menyakitkan yang terjadi pada bulan Desember mampu meninggalkan jejak yang begitu mendalam? Saat kalender berganti menuju Januari, bayang-bayang masa lalu itu tetap bertahan dan memberikan dampak besar yang mengubah seluruh tatanan hidup. Kisah ini menelusuri bagaimana duka dan kenangan dari akhir tahun terus menghantui setiap langkah di awal yang baru, menciptakan dilema emosional yang sulit untuk dilepaskan begitu saja.
Sampul Novel Dendam Mrs. Ilona
9.7
Setelah genap berusia dua puluh lima tahun, Ilona Roselani Belvania kembali ke tanah air dengan satu ambisi: membalas kematian tragis ayahnya, Tuan Belvara. Tragedi itu tak hanya menghancurkan ekonomi keluarga, tapi juga membuat ibunya kehilangan kewarasan. Kesempatan emas muncul saat Ilona berhasil menjadi guru di sekolah elit tempat pewaris keluarga Altaresh belajar. Dendam harus dibayar tuntas, namun mampukah Ilona menyelesaikan misinya terhadap musuh sang ayah?
Sampul Novel Digoda Gairah Masa Lalu
9.0
Alicia kini memulai hidup baru sebagai Annisa demi melupakan memori kelamnya. Namun, takdir mempertemukannya kembali dengan Palma, pria masa lalu sekaligus ayah dari anak sulungnya. Kehadiran Palma memicu amarah Dewi, istrinya. Di tengah kemelut itu, Annisa memilih Radit sebagai pendamping hidupnya. Melintasi Bandung hingga Mesir, kisah ini menguji keteguhan hati mereka. Akankah gairah masa lalu mengalahkan kesetiaan, ataukah cinta tulus Radit yang akan menang?
Sampul Novel Istri Sah Hanya Dianggap Pembantu
9.2
Aluna Maheswari menderita akibat sikap dingin Renandio serta pengkhianatan keluarga besarnya. Usai menggugat cerai, ia bertemu Dion Ardianata, duda kaya yang membesarkan putranya, Elvano, sendirian. Hubungan mereka bermula saat Aluna menyelamatkan Elvano dari kecelakaan. Bocah yang merindukan kasih sayang ibu itu pun mulai melekat padanya. Meski benih cinta tumbuh, masa lalu yang kelam dan orang-orang yang iri menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan baru mereka.
Sampul Novel Misteri Reagan Harvest
9.0
Clare Stewart, mahasiswi cerdas yang terikat perjodohan sejak lahir, mulanya enggan mengenal calon suaminya. Namun, pendiriannya goyah saat ia jatuh hati pada senior kampusnya, Reagan Harvest. Reagan yang kaya raya ternyata putra dari sahabat ayahnya sendiri. Meski saling mencintai, Clare bimbang antara mandat orang tua atau perasaannya. Reagan pun memohon agar mereka tetap menjalin kasih sebelum pernikahan terpaksa terjadi. Akankah Clare memilih cinta sejatinya?