
Playboy Itu Suamiku
Bab 3
Renata mematung di empatnya. Melihat dirinya sendiri di depan cermin besar. Ia bingung harus berkata apa. Ia melihat leher, pundak dan dadanya penuh dengan tanda merah.
Bekas apa ini? gumam Renata bingung. Apa ia semalam terjatuh tapi masa iya ia jatuh luka memarnya di daerah yang mustahil? Apa karena Renata memiliki alergi? Tapi, Renata tidak merasa makan sesuatu yang aneh. Itu hal yang wajar ia makan dan selama ini baik-baik saja.
Apa air kamar mandinya kotor? Ah itu lebih mustahil lagi. Rumah semewah ini air nya kotor? Bicara apa kau Rena. Renata menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kemudian Renata berfikir akan bertanya saja pada salah satu pelayan. Ia pun bergegas mandi dan memakai pakaiannya. Ya ... pakaian yang ia bawa dari rumah lamanya. Yang kini telah terjual.
Apa kalian berfikir Renata akan dibelikan gaun-gaun mewah di rumah besar ini oleh suami yang bahkan tak mencintainya. Ho ... kalian salah besar. Tentu saja tidak. Untuk apa juga Frans repot-repot membelikanya baju kalau Renata sudah memiliki baju favoritnya.
Kaos merah, celana jins belel. Kaos hijau, celana jins hitam, kaos hitam, celana jins biru. Ya seperti itu. Tetap seperti itu. Tak ada yang berubah.
Selesai berpakaian, Renata pun turun dari kamar dan pergi menuju dapur. Di sana terdapat beberapa pelayan yang tengah memasak, ada sekitar 3 sampai 4 pelayan di tempat dapur. Dan mereka semua memakai pakaian yang sama. Ya persis seperti di tv-tv itu.
Renata pun bersemangat dan bersiap untuk menyapa mereka semua.
"Pagi!" serunya dengan senyum sumringah. Tapi hanya di jawab oleh anggukan dan sedikit senyum, mereka semua masih sibuk berkutat pada pekerjaannya. Sungguh luar biasa, ia tetap saja merasa di abaikan padahal sudah berusaha untuk ramah seramah-ramahnya.
Akhirnya Renata manyun lalu duduk di kursi yang mengitari meja makan yang panjang itu. kira-kira ada sepuluh kursi. Kanan empat, kiri empat, ujung ketemu ujung 2.
"Mau sarapan apa, Nyonya?" tanya pelayan tiba—tiba yang membuat Renata mendongak ke atas melihat wajah pelayan yang menunduk itu. Bukannya menjawab pertanyaan sang pelayan ia justru ingin bertanya seputar tanda merah di sekitar tubuhnya.
"Kemari. Mendekatlah," pinta Renata. Pelayan itu pun mendekat. Lalu Renata dengan polosnya menunjukan bercak merah pada leher, pundak dan dada.
d"Kamu tau ini kenapa?" tanya Renata polos. Pelayan itu melotot sesaat sebelum akhirnya tersenyum. Renata menunggu tapi belum juga ada jawaban. Renata manyun lagi.
"Apa, aku harus ke dokter?" tanya Renata lagi. Mungkin lebih tepatnya ia bertanya pada dirinya sendiri. Pelayan itu terkejut. Benar-benar tidak tahukah nyonya nya ini. Sepolos itu kah istri tuannya?
"Eum ... maaf Nyonya. Maaf apabila saya lancang tapi benarkah Nyonya tidak tahu apa itu di leher Nyonya?" tanya pelayan itu sedikit ragu.
Renata melongo mendengar ucapan itu. Ia kesal karena kenapa ia harus pura-pura tidak tahu, kalau memang ia tidak tahu. Kalau Renata tahu ia pasti tidak akan bertanya. Kenapa pelayan ini begini bodoh. Pikir Renata. Sebenarnya kamu yang bodoh Renata. Ah sudahlah ....
"Jadi kamu tahu tidak? Kalau tidak tahu ya aku tanya saja dengan pelayan lainnya," ujar Renata. Dan hendak bangkit dari duduknya namun ditahan oleh pelayan itu.
"Maaf ... maaf kan aku Nyonya." Pelayan itu menunduk meminta maaf. "Akan saya jelaskan," ucapnya agak ragu. Renata pun sumringah dan mengangguk cepat.
"Itu, eum ... anu ... apa ya? Bagaimana menjelaskannya?" Pelayan itu nampak kebingungan karena sulit menjelaskannya. Renata yang sudah tak sabar langsung kesal.
"Ih, kamu tahu tidak sih sebenarnya, kalau tidak tahu ya sudah aku mau tanya yang lain saja dan kalau memang berbahaya aku harus ke Dokter, begitu saja kok repot," kesalnya.
"Baiklah, Nyonya." Dengan segenap keberanian ia pun mengutarakannya. "Sebenarnya itu di sebut kiss mark, Nyonya. Kiss mark adalah sebuah tanda merah yang terjadi akibat ... akibat ...." Ia kembali bingung menjawabnya.
"Akibat apa?" desak Renata penasaran.
"Akibat ciuman atau hisapan, Nyonya." Pelayan itu langsung berwajah semerah tomat karena malu harus menjelaskan sedetail itu pada sang Nyonya rumah.
"Hisapan, ciuman? Bukankah ciuman itu di bibir?" tanyanya lagi. "Kenapa merahnya di leher," gumam Renata sendiri.
Gemas dengan Nyonya barunya yang terlihat sangat polos atau malah terkesan bodoh. Dengan berani ia menunjukan sedikit contoh.
"Contohnya seperti ini." Pelayan itu memperlihatkan pergelangan tangannya dan mulai menghisapnya lama dan munculnya tanda merah di sana. Kini giliran Renata yang melongo.
"A ... aku ... aku tidak pernah menghisap leherku sendiri. Lagi pula bagaimana bisa aku menghisap leherku?" Renata mematung. Begidik. Mungkinkah ia vampir.
"Hahahaha." Ups ... tanpa sengaja pelayan itu tertawa. Tak kuasa menahannya kala mendengar penjelasan sang Nyonyanya. Baru kali ini ia melihat gadis sepolos ini.
"Tidak, Nyonya, bukan Nyonya yang melakukanya. Tapi ... Tuan," bisiknya.
Renata lansung terlonjak kaget , ia sampai berdiri dengan kaki gemetar.
"Apa, Tu-Tuanmu eh, maksudku suamiku, seorang vampir, begitu?"
"Hahaha." Rasanya perut pelayan itu seperti digeliti ribuan tangan. Ia tak sanggup menahannya, hancur sudah reputasinya, imagnya. Ia seorang pelayan yang gagal.
Tak mengindahkan pertanyaan Nyonya barunya yang bodoh. Ia memilih pergi ke toilet sambil terus menahan perut karena sakit akibat ledakan tawanya.
Bukan hanya Renata yang bengong tapi semua pelayan yang ada di ruangan itu juga ikut bengong. Pelayan yang lain memang tidak tahu mengenai pertanyaan Nyonyannya. Hingga mereka tidak ikut tertawa. Justru malah memasang wajah aneh.
****
Malamnya Renata bersantai di ruang Tv. Ia asik menonton acara televisi yang di isi oleh para komedian tanah air. Renata tertawa sampai terbahak-bahak.
Baru kali ini Renata merasa tenang dalam sebuah rumah bisa santai menonton tv tanpa di omeli. Ah ... rasanya surga sekali.
Tapi ini hanya sesaat.
Suara pintu rumah terdengar lalu masuklah seorang pria tampan dengan jas yang di sampirkan pada lengannya, wajah lelah nampak terlihat sekali. Tapi detik berikutnya wajah itu mulai menengang dan kala mendengar suara tawa yang nyaring berasal dari ruang tv langsung membuatnya kesal bukan main.
Ia tau betul itu adalah suara tawa sang istri. Istri yang baru ia nikahi kemarin hari. Rasanya dadanya mulai bergemuruh menahan emosi yang hampir tak terkontrol. Tak tahu malu! Umpatnya dalam hati. Ia pun menyeret kakinya melangkah menuju tuang Tv di mana sang istri masih saja tertawa melihat adegan lucu dalam sebuah tayangan. Tanpa kata-kata Frans berdiri di hadapan sang istri yang perlahan menghentikan tawanya lalu detik itu juga saat tawa itu hilang seutuhnya Frans menampar Renata dengan sangat kasar.
PLAAKK !!!
Suara tamparan itu sangat keras, hingga membekas pada pipi putih milik Renata. data-p-
Renata terperangah. Dirinya baru sadar kalau baru saja di tampar oleh suaminya sendiri. Tepat pada malam pertamanya sebagai seorang pengantin.
Renata nanar menatap Frans. Apa salah dirinya. Gumam Re. Tanpa sadar tangannya mengusap pipinya. Pedih rasanya, tapi Renata tak menangis. Ia hanya bingung. Tak paham karena merasa tak salah.
Apakah suaminya juga akan memperlakukan dirinya sama seperti Tante-nya dulu. Bila ya, lantas apa bedanya?
data-p-id=5f12bb23d97072779dd98ed0e6ffb6bc,Oh ya Renata sadar. Siapakah ia sebenarnya. Hanya gadis bodoh yang sekarang menumpang hidup pada seorang pria yang sudah resmi menjadi suaminya.
Karena sang Tante telah mendapat uang dari pria tersebut. Dan seenaknya Renata yang jadi jaminannya karena pria ini tidak mau menolong tanpa adanya balasan.
Dan mungkin Tante berfikir bahwa yang masih berguna hanya Renata. Mungkin juga Tante berfikir Renata akan di jual dan di jadikan pelacur. Tapi sayangnya Renata di angkat menjadi seorang istri konglomerat.
Cih! Tak sudi Renata mengakuinya.
Pria bernama Frans itu menarik lengan Renata dengan kasar. Dan menyeretnya ke dalam kamar lalu membanting tubuh Renata ke atas ranjang besar.
Dengan kasar Frans membuka dasi dan kemejanya. Dan tak lupa celana panjang sekaligus celana dalam. Frans dengan seketika sudah telanjang bulat. Tanpa sehelai benang pun.
Renata tertegun, entah kenapa tak ada raut wajah takut sama sekali, ia justru ingin melihat dan menyentuh tubuh sang suami. Rasa penasaran itu menjalar begitu saja, mematikan otak bodoh bodohnya untuk berfikir. Frans mulai merangkak naik ke atas ranjang dan berusaha melepas pakaian kusam milik Renata.
Memperlihatkan tubuh yang tertutup pakaian dalam yang tak menggoda sama sekali di mata Frans. Tapi persetan dengan itu, yang ia butuhkan adalah isinya bukan luarnya.
Frans menarik kencang bra tersebut dan melemparnya ke sembarang arah. Renata menatap Frans ingin menyentuhnya tapi langsung di tepis oleh Frans. Renata diam, pasrah. Membiarkan apa yang di inginkan sang suami pada tubuhnya.
Renata melotot kala Frans bertindak di luar nalar, membuat Renata menahan sakit akibat perbuatannya itu. Sungguh rasa sakit itu membuat Renata tak bisa berkutik. Sakit, hanya itu yang ada di otaknya sekarang.
Renata mati rasa. Ia bagai patung yang tak bernyawa, diam, apa pun yang di lakukan sang suami ia hanya diam, tak menikmati tak juga melawan atau berontak. Renata hanya diam di perlakukan seperti apa pun juga oleh sang suami di malam pertamanya itu.
Renata meneteskan air mata dalam diamnya kala sang suami berhasil merenggut kesuciannya. Darah mungkin sudah menetes di sana, ia hanya bisa menggigit kuat bibir bawahnya agar tak berteriak, tak meronta dan tak bertindak apa pun. Renata di jual maka ia harus terima itu semua sebagai balasan uangnya. Dalam pikiran Renata,, berlakulah seperti barang yang sudah di beli, entah itu akan di robek atau di pakai dengan baik Renata sudah tak peduli.
Herannya sampai Frans selesai pun Renata tak bergerak bahkan tak berkeringat.
Frans berfikir. Apakah gadis ini patung!
Padahal jelas ia telah melukai Renata dengan sangat dalam. Frans ingin menyiksa gadis ini. Tapi kenapa gadis ini yang menyiksa dirinya.
Sialan! Umpatnya.
Anda Mungkin Juga Suka





