Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pewaris Dari Rahim Yang Disewa

Pewaris Dari Rahim Yang Disewa

Elara kehilangan pekerjaan akibat fitnah, padahal ia adalah tulang punggung keluarga. Di sisi lain, Adrian sang pewaris kaya ditekan untuk segera memiliki keturunan demi warisan. Menolak perjodohan licik ibu tirinya, Adrian menawarkan kontrak kontroversial kepada Elara: menyewakan rahimnya dengan imbalan besar. Meski awalnya transaksional, benih cinta mulai tumbuh saat mereka saling mengenal. Akankah Elara menerima tawaran ini demi keluarga dan menemukan cinta sejati?
Bab
Bagikan

Bab 2

Gedung kaca yang menjulang tinggi itu berdiri dengan angkuh di pusat kota. Elara berdiri di depan pintunya, memandangi bayangan dirinya yang memantul di dinding transparan. Tangannya menggenggam tas kecil dengan erat, keringat dingin mulai membasahi telapak. Ini hari yang akan menentukan arah hidupnya.

"Aku bisa... aku harus bisa," gumamnya, seakan mencoba meyakinkan diri sendiri.

Beberapa detik kemudian, ia melangkah masuk. Aroma khas ruang berpendingin udara segera menyambutnya. Lantai marmer putih berkilau, meja resepsionis mewah, dan lampu gantung kristal yang berkilauan membuatnya merasa kecil. Namun ia tetap menegakkan punggung, berusaha terlihat tenang.

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis dengan senyum profesional.

"Saya... Elara. Ada janji dengan Tuan Adrian," jawabnya pelan.

Wanita itu segera mengetik sesuatu di komputernya, lalu mengangguk. "Silakan naik ke lantai 28. Sudah ditunggu."

Elara mengangguk singkat dan melangkah ke lift. Jantungnya berdebar semakin cepat saat pintu lift terbuka di lantai yang dituju. Di sana, seorang pria paruh baya dengan jas hitam sudah menunggunya. "Nona Elara? Saya Herman, pengacara Tuan Adrian. Silakan ikut saya."

Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan yang luas dengan jendela besar menghadap kota. Di tengah ruangan, Adrian duduk di kursi kulit hitam, postur tubuhnya tegap, wajahnya serius namun tetap karismatik.

"Elara," sapanya dengan suara dalam. "Kau datang."

Elara menelan ludah, lalu mengangguk. "Ya. Saya sudah memikirkan tawaran Anda."

Adrian menatapnya beberapa detik, seakan mencoba membaca isi hatinya. "Dan?"

"Aku... aku akan melakukannya," jawab Elara akhirnya. Suaranya bergetar, tapi ada keteguhan di matanya.

Adrian mencondongkan tubuh ke depan, jemarinya bertaut di atas meja. "Kau yakin? Ini bukan keputusan kecil, Elara. Sekali kau menandatangani kontrak, hidupmu akan berubah selamanya."

Elara menarik napas panjang. Bayangan wajah ibunya yang lemah di ranjang dan Dita yang terus berusaha tersenyum demi menenangkannya melintas di kepalanya. "Aku yakin. Demi keluargaku, aku akan melakukannya."

Adrian memberi isyarat pada Herman. Pria itu membuka map besar berisi puluhan lembar kertas. "Ini adalah kontrak resmi. Sudah mencakup hak dan kewajiban kedua belah pihak, termasuk biaya, asuransi medis, dan perlindungan hukum," jelasnya.

Elara menerima kontrak itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia membaca setiap pasal, meski beberapa istilah hukum sulit dipahami. Ada bagian yang menegaskan bahwa ia akan mendapat kompensasi besar, ada juga pasal tentang kerahasiaan dan larangan membicarakan perjanjian ini pada orang luar.

"Jika ada yang tidak jelas, tanyakan," kata Adrian tenang.

Elara menatapnya. "Kenapa saya? Dari sekian banyak wanita, kenapa Anda memilih saya?"

Adrian terdiam beberapa saat. Tatapannya tajam, namun bukan mengintimidasi. "Karena aku percaya kau tidak hanya mengejar uang. Aku bisa melihat tekadmu. Kau tidak akan kabur setelah mengambil uang itu. Dan..." ia berhenti sejenak, "...entah kenapa aku merasa kau berbeda."

Pipi Elara memanas. Ia buru-buru menunduk kembali pada kontrak, tidak ingin Adrian membaca gejolak di hatinya. Setelah beberapa menit, ia akhirnya menandatangani. Pena hitam itu terasa berat di tangannya, seakan setiap coretan menorehkan takdir baru.

"Mulai hari ini, kau resmi terikat kontrak denganku," ucap Adrian pelan, namun mantap.

Elara hanya bisa mengangguk. Perasaan lega bercampur takut menyelimutinya.

Keesokan harinya, tahap berikutnya dimulai: pemeriksaan medis. Adrian sudah menyiapkan segalanya di salah satu rumah sakit swasta terbaik. Elara mengenakan gaun pasien, duduk gelisah di ruang tunggu VIP.

"Tenang saja, semua prosedur akan aman. Kami hanya perlu memastikan kondisi tubuhmu," kata seorang dokter wanita ramah.

Namun ketenangan itu sulit didapat. Elara merasa dirinya seperti bahan percobaan. Ia tahu apa yang ia lakukan legal, tapi hatinya tetap memberontak.

Pintu terbuka, dan Adrian masuk. Kehadirannya membuat ruangan yang dingin terasa berbeda. Ia tidak mengenakan jas formal, hanya kemeja putih sederhana dengan lengan digulung. Namun aura wibawanya tetap kuat.

"Bagaimana?" tanyanya, duduk di samping Elara.

Elara menatap tangannya sendiri. "Aku... takut."

Adrian terdiam sejenak, lalu berkata lembut, "Kau tidak sendirian. Aku akan mendampingimu."

Elara menoleh, sedikit terkejut mendengar ketulusan di balik suaranya. Matanya bertemu dengan mata Adrian, dan untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Ada sesuatu di sana-hangat, tulus, namun juga berbahaya bagi hatinya.

Dokter datang kembali, memutus momen itu. "Baiklah, Nona Elara. Kita akan mulai pemeriksaannya."

Beberapa jam berikutnya, Elara menjalani berbagai tes: darah, jantung, hormon, bahkan psikologis. Setiap kali ia merasa lelah atau takut, tatapan Adrian yang tenang membuatnya bertahan. Meski ia tahu hubungan mereka hanyalah kontrak, hatinya diam-diam merasakan ketertarikan yang tidak seharusnya ada.

Setelah semua selesai, Elara kembali ke ruang tunggu. Adrian duduk di sampingnya lagi. "Kau sudah melakukan hal yang sulit hari ini. Aku menghargainya."

"Ini... masih awal, bukan?" tanya Elara pelan.

Adrian mengangguk. "Ya. Masih banyak proses yang harus kau lalui. Tapi aku ingin kau ingat satu hal: kau tidak sendirian. Apa pun yang terjadi, aku ada."

Elara menatapnya, merasa jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia buru-buru memalingkan wajah, takut Adrian menyadari sesuatu.

Malam itu, di rumah kontrakan, Elara duduk termenung. Dita sudah tidur, ibunya juga terlelap setelah minum obat. Elara menatap langit-langit, hatinya penuh gejolak.

"Apa yang sebenarnya aku lakukan? Apa aku hanya menjual tubuhku? Atau... ini jalan yang memang harus kuambil?" bisiknya.

Namun bayangan wajah Adrian selalu muncul. Cara pria itu menatapnya, suaranya yang tenang, perlindungannya yang diam-diam menenangkan. Hatinya menolak, tapi ada sesuatu yang perlahan tumbuh.

Sementara itu, di apartemennya yang mewah, Adrian berdiri di balkon menatap kota malam. Angin malam menyapu rambutnya, pikirannya melayang pada sosok Elara. Ia tahu kontrak ini seharusnya hanya soal keturunan. Namun setiap kali menatap Elara, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

"Aku tidak boleh goyah," gumamnya. "Ini hanya bisnis... hanya bisnis."

Namun hatinya sendiri tahu, kalimat itu mulai kehilangan makna.

Hari-hari berikutnya, Elara menjalani pemeriksaan lanjutan dan konseling. Setiap kali ia datang ke rumah sakit atau kantor Adrian, mereka semakin sering berinteraksi. Mulai dari percakapan singkat hingga diskusi panjang.

"Kenapa kau selalu terlihat dingin?" tanya Elara suatu kali.

Adrian tersenyum tipis. "Karena aku terbiasa begitu. Dunia bisnis mengajarkan kalau kelembutan bisa jadi kelemahan."

"Tapi kau tidak selalu dingin," balas Elara spontan, lalu menunduk malu.

Adrian terdiam. Matanya menatap Elara dengan intens, membuat gadis itu gelisah. "Mungkin kau benar," katanya akhirnya.

Percakapan sederhana itu membuat hati Elara berdebar kencang. Ia mulai menyadari bahwa di balik sikap tegas dan dingin, Adrian adalah pria dengan luka dan kerentanan yang tersembunyi. Dan entah bagaimana, ia ingin menjadi orang yang bisa menyembuhkan luka itu.

Namun di balik semua kebersamaan itu, bayangan kontrak selalu menghantui. Hubungan mereka bukan cinta-setidaknya belum. Dan Elara tahu, semakin dekat ia dengan Adrian, semakin besar risikonya terluka.

Malam demi malam, Elara terus berdoa, berharap jalan yang ia pilih benar. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu sesuatu yang berbahaya mulai tumbuh: perasaan yang tidak bisa diikat kontrak mana pun.

Bab 2 berakhir dengan sebuah adegan sederhana namun penuh makna. Elara pulang dari rumah sakit setelah pemeriksaan terakhir. Adrian mengantarnya dengan mobil. Saat mobil berhenti di depan rumah kontrakan, hujan deras turun.

"Elara," panggil Adrian sebelum gadis itu keluar.

Elara menoleh. "Ya?"

Adrian menatapnya dalam-dalam. "Apa pun yang terjadi nanti... aku ingin kau ingat satu hal. Kau lebih dari sekadar bagian dari kontrak ini."

Elara terdiam, hatinya bergetar. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Hanya anggukan kecil yang akhirnya ia berikan sebelum menutup pintu dan berlari menembus hujan.

Namun di dalam hatinya, kata-kata Adrian terus terngiang.

Lebih dari sekadar kontrak.

Dan sejak saat itu, ia tahu: perjalanannya baru saja dimulai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sang Ladyboy
8.4
Vanya adalah ladyboy menawan yang kecantikannya mengancam wanita tulen. Di sebuah klub, ia terpikat pada Ricardo Esteban, namun ragu akan statusnya. Pesonanya sebagai penari juga memicu obsesi Peter Hallmark, miliarder New York, serta Don Salvatore, bos mafia Italia yang ingin mengubahnya. Di balik karier MUA, Vanya terjebak dalam gelapnya perdagangan manusia. Mampukah ia bertahan hidup dan menemukan cinta sejati di tengah badai penderitaan tersebut?
Sampul Novel Cinta wanita kutubuku
8.6
Elia menghabiskan hari-harinya bekerja di sebuah gedung perkantoran megah tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, segalanya berubah saat ia dipertemukan dengan Edward, putra dari pemilik perusahaan tersebut. Keduanya mulai menjalin kedekatan intens karena harus mengelola sebuah proyek besar yang sama. Tanpa disadari, benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Elia terhadap Edward, dan ternyata sang pewaris kaya itu pun merasakan hal yang sama.
Sampul Novel Dikira Miskin Oleh Keluarga
9.6
Penampilan sederhana Gunawan sering kali membuat orang tuanya salah paham hingga mereka menganggapnya hidup dalam kemiskinan. Namun, di balik kesederhanaan yang ia tunjukkan sehari-hari, tersimpan sebuah rahasia besar mengenai status finansialnya yang sesungguhnya. Siapa sangka bahwa pria yang dipandang sebelah mata oleh keluarganya sendiri ini sebenarnya adalah seorang miliarder sukses dengan kekayaan yang sangat luar biasa melimpah.
Sampul Novel Lyana
8.4
Lyana adalah wanita sederhana yang bekerja keras demi menyokong hidup keluarganya di desa. Namun, masa depannya hancur seketika setelah bertemu dengan Justin, seorang pria kaya raya yang memiliki sifat sangat angkuh. Dalam kondisi mabuk berat dan hilang kesadaran, Justin melakukan tindakan keji yang merusak hidup Lyana. Kini, Lyana terjebak dalam nestapa akibat perbuatan Justin. Apakah sang miliarder akan bertanggung jawab, atau justru melarikan diri?
Sampul Novel Mendapatkan Kembali Yang Kumiliki
9.8
Valerie mendekam lima tahun di penjara akibat cinta buta, hanya untuk menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan saudari tirinya saat bebas. Kembali ke masa lalu secara misterius, ia kini bertekad menuntut balas tanpa belas kasihan. Menggunakan strategi cerdas, Valerie menghancurkan kerajaan bisnis mereka dan bangkit sebagai pemimpin tangguh. Di tengah kejayaannya, seorang pria masa lalu datang membawa lamaran, membuka babak baru dalam hidupnya yang kini penuh kuasa.
Sampul Novel Of Love Trilogy
8.9
Ayana Ranisya terjebak dalam penderitaan akibat utang suaminya, Ares Adiswara. Takdir membawanya bertemu Arga Arkhilendra, pengusaha sukses yang terikat pertunangan bisnis dengan Sheryl Claudia Wibowo. Insiden cinta satu malam mengubah segalanya, memicu perasaan tulus dalam hati Arga yang sebelumnya dingin. Di tengah komitmen formal demi kekuasaan, Arga kini harus memilih antara logika bisnis atau cintanya pada Ayana. Akankah Arga meninggalkan Sheryl demi mengejar kebahagiaan sejati?