
Pewaris Dari Rahim Yang Disewa
Bab 3
Langit pagi itu tampak kelabu, seolah ikut menyerap kecemasan yang menggelayuti dada Elara. Ia duduk di kursi ruang tunggu klinik fertilitas, menggenggam jemarinya yang dingin. Aroma antiseptik memenuhi udara, membuat perutnya terasa mual tanpa sebab.
Sudah seminggu sejak ia menandatangani kontrak itu, dan setiap hari sejak saat itu hidupnya berjalan dalam jadwal ketat: pemeriksaan hormon, tes darah, pengukuran rahim, suntikan hormon, vitamin, dan pantangan makanan. Semua terasa begitu klinis, dingin, dan asing.
Namun yang paling membuat dadanya sesak bukan jarum suntik atau ruang laboratorium, melainkan tatapan Adrian-yang kini berubah.
Ia hadir di setiap pemeriksaan, tapi selalu berdiri di sudut ruangan, mengenakan jas rapi, tangan bersilang, mata tajam tapi tanpa ekspresi. Seolah-olah semua ini hanya sekadar urusan bisnis baginya. Dan mungkin memang begitu...
"Elara?" panggil perawat, memecah lamunannya.
Ia berdiri, menatap sekilas ke arah Adrian yang sedang duduk di sofa kulit hitam di sisi ruangan. Pria itu mengangguk tipis, dingin, namun cukup untuk menyiratkan bahwa ia memperhatikan.
Elara mengikuti perawat ke ruang pemeriksaan. Tubuhnya diselimuti kecemasan. Proses hari ini adalah langkah awal stimulasi hormon-persiapan sebelum embrio hasil pembuahan in vitro ditanamkan nanti.
Jarum kecil menembus kulit lengannya. Ia meringis sedikit, menatap langit-langit. "Semuanya baik-baik saja," ujar perawat lembut, "Tubuh Anda merespons dengan baik."
Elara mengangguk lemah. Namun pikirannya bergejolak. Bagaimana bisa ia menjalani ini tanpa melibatkan hatinya, sementara setiap kali ia menoleh, ada sosok Adrian di sana?
Siang harinya, mereka kembali ke ruang konsultasi dokter. Adrian duduk di sampingnya kali ini, namun masih menjaga jarak, kursinya sedikit ditarik ke belakang.
"Stimulasi berjalan baik," ujar dokter, "Dalam beberapa hari ke depan, kita akan mulai prosedur fertilisasi in vitro. Setelah itu, kita tunggu masa penanaman embrio."
Elara mendengarkan, tapi matanya sesekali melirik ke Adrian. Pria itu tampak serius, rahangnya mengeras, matanya menatap layar monitor yang menampilkan grafik hormon Elara. Ia tidak bicara sepatah kata pun.
Saat dokter keluar, hening menyelimuti ruangan. Elara meremas jemari di pangkuannya. "Kau... tidak perlu selalu datang," katanya lirih, mencoba memecah keheningan.
Adrian menoleh perlahan. "Ini proyek yang sangat penting. Aku tidak bisa membiarkannya gagal."
"Proyek..." Elara mengulang kata itu, merasakan dadanya menegang. "Aku bukan mesin, Adrian. Ini tubuhku. Aku juga manusia."
Ucapan itu membuat Adrian terdiam sejenak. Ia menatapnya, kali ini tanpa topeng dingin di wajahnya. "Aku tahu," ucapnya pelan. "Itulah kenapa aku memilihmu. Karena kau cukup kuat untuk melaluinya."
Kata-kata itu menancap dalam, membuat mata Elara terasa panas. Ia membuang tatapan, takut pria itu melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Beberapa hari kemudian, efek hormon mulai membuat tubuh Elara terasa aneh: mual di pagi hari, kembung, emosinya naik turun. Ia menangis karena iklan televisi, lalu tertawa pada hal sepele, lalu tiba-tiba membeku dalam keheningan.
Dan di sela itu semua, pikirannya terus kembali pada Adrian. Cara pria itu menatapnya saat ia merasa lemah, cara ia memanggil namanya dengan nada pelan, cara ia diam-diam menaruh jaketnya di bahunya saat ia menggigil usai pengambilan darah.
Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya rasa terima kasih, atau sekadar efek hormon. Tapi hatinya tahu: ia mulai jatuh.
Malam itu, saat keluar dari klinik, mereka berjalan berdampingan di lorong parkir. Suasana hening, hanya suara langkah sepatu mereka yang terdengar.
"Elara," suara Adrian memecah keheningan, "kau harus ingat, ini hanya kesepakatan. Tidak boleh ada perasaan pribadi yang mengganggu."
Elara menghentikan langkahnya. Kata-kata itu terasa seperti tamparan dingin. Ia menatap Adrian, mencoba tersenyum, meski bibirnya bergetar. "Tentu. Aku tahu batasnya."
Adrian mengangguk, lalu melangkah lebih dulu menuju mobilnya.
Elara berdiri mematung, dadanya terasa sesak. Ia sadar, cinta sedang tumbuh dalam dirinya-tapi cinta itu hanya satu arah, dan mungkin akan menghancurkannya perlahan.
Namun saat ia menoleh, ia mendapati Adrian diam-diam menoleh ke arahnya juga sebelum masuk ke mobil. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat Elara bingung: Apakah benar-benar tidak ada apa-apa di mata pria itu? Atau... ia hanya terlalu takut untuk membiarkan perasaannya muncul?
Udara pagi terasa begitu dingin saat Elara turun dari mobil hitam yang mengantarnya ke klinik fertilitas. Langit masih berwarna kelabu, seolah menyimpan rahasia. Jantungnya berdegup kencang, ritmenya tak beraturan. Hari ini... adalah hari penanaman embrio.
Tangannya berkeringat ketika pintu kaca otomatis terbuka. Adrian berjalan di sampingnya, mengenakan setelan abu-abu tua yang membuat sorot matanya tampak semakin tajam. Ia tidak banyak bicara sejak menjemput Elara dari apartemennya pagi tadi. Hanya diam, namun tatapannya selalu memerhatikan setiap langkah Elara.
Begitu sampai di ruang tunggu khusus, perawat menyambut mereka dengan senyum lembut. "Nona Elara, semuanya sudah disiapkan. Kami akan mulai dalam satu jam, setelah prosedur persiapan selesai."
Elara mengangguk pelan. Ia merasa kepalanya ringan, seolah berjalan di atas awan tipis yang rapuh.
Adrian duduk di kursi di sebelahnya, sedikit menyandarkan tubuh ke depan. "Kau yakin sanggup menjalani ini?" tanyanya, suara dalamnya menembus riuhnya pikiran Elara.
Elara menoleh perlahan, menatap wajahnya. "Aku sudah sejauh ini, Adrian. Tidak ada jalan kembali."
Mata mereka bertaut. Ada sesuatu di sana-getaran halus yang tak mau mereka akui. Adrian memalingkan tatapan lebih dulu, menghela napas dalam.
Ruang prosedur berwarna putih bersih, aroma antiseptik menusuk hidung. Elara berbaring di atas ranjang khusus dengan pakaian rumah sakit, selimut tipis menutupi tubuhnya. Monitor detak jantung berbunyi pelan di sisi tempat tidur.
Dokter menjelaskan langkah-langkah dengan suara tenang. "Ini prosedur sederhana, tidak menyakitkan, dan hanya berlangsung sekitar lima belas menit. Kami akan memasukkan embrio hasil pembuahan ke dalam rahim Anda. Setelah itu, Anda harus banyak istirahat agar peluang keberhasilan lebih tinggi."
Elara mengangguk, meski jantungnya berdebar seperti genderang perang.
Dari balik kaca bening ruangan observasi, Adrian berdiri diam, menatapnya. Mata gelapnya tajam, namun ada ketegangan samar di rahangnya. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi menahan diri.
Saat kateter kecil dimasukkan, Elara menggigit bibir, menahan sensasi dingin dan tekanan halus di tubuhnya. Nafasnya memburu. Ia tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba merasa ingin menangis.
Mungkin karena ia sadar... saat ini ia benar-benar menyerahkan tubuhnya untuk membawa kehidupan yang bukan miliknya.
Dan seseorang di luar sana-Adrian-adalah ayah biologis dari kehidupan itu.
Air mata menetes tanpa ia sadari.
Prosedur selesai. Dokter menepuk lembut lengannya. "Selesai. Sekarang tinggal menunggu dan berharap yang terbaik."
Beberapa jam kemudian, Elara terbaring di kamar pemulihan yang disediakan klinik. Ruangan tenang, tirainya setengah terbuka memperlihatkan cahaya matahari yang perlahan menembus awan.
Adrian duduk di kursi di samping tempat tidurnya, diam, tapi kehadirannya terasa begitu nyata.
"Kau menangis tadi," ucapnya pelan.
Elara menoleh. "Aku bahkan tidak sadar."
"Mengapa?"
Elara menatap langit-langit, menahan napas. "Mungkin... karena ini terasa terlalu besar. Terlalu berat untukku tanggung sendirian."
"Dan aku di sini," suara Adrian terdengar lebih lembut dari sebelumnya, "Kau tidak sendirian."
Tatapannya membuat dada Elara menghangat sekaligus berdebar. Ia ingin menolak kenyamanan itu, tapi tubuhnya lelah, hatinya rapuh.
Keheningan menggantung di antara mereka. Adrian meraih selimut yang tergeser dan menutupkannya perlahan ke tubuh Elara. Jemarinya tanpa sengaja menyentuh tangan Elara-hangat, kuat, namun juga bergetar halus.
Elara menahan napas. Sentuhan singkat itu memicu kilatan listrik di kulitnya.
"Terima kasih..." bisiknya.
Adrian menatapnya lama, lalu berdiri dengan gerakan pelan, seolah takut menimbulkan kebisingan. "Istirahatlah," katanya, tapi suaranya terdengar nyaris pecah.
Saat pintu menutup di belakangnya, Elara menatap langit-langit sambil menggenggam selimut di dadanya. Air mata kembali jatuh, tapi kali ini bukan karena ketakutan... melainkan karena hatinya mulai remuk oleh sesuatu yang tak boleh ia rasakan-cinta.
Sore harinya, Adrian kembali ke kamar pemulihan, membawa sekotak kecil makanan ringan dan sebotol air mineral. "Dokter bilang kau harus makan yang cukup agar hormonmu stabil," katanya datar, menaruhnya di meja.
"Terima kasih," Elara menjawab lirih.
Adrian duduk, kali ini lebih dekat. "Berapa lama... sebelum kita tahu ini berhasil?"
"Sekitar dua minggu," jawab Elara, menatap tangannya sendiri.
Dua minggu... Dua minggu yang akan menentukan apakah tubuhnya berhasil menjadi rumah bagi benih kehidupan mereka. Dua minggu yang mungkin akan mengikat mereka lebih jauh-atau memutus segalanya.
Adrian tampak ingin berkata sesuatu, tapi hanya terdiam. Elara merasakan ketegangan itu-jarak yang mereka bangun mulai retak, tapi tidak ada yang berani melangkah lebih dekat.
Mereka hanya duduk dalam diam, terlalu sadar akan detak jantung masing-masing.
Dan di malam yang hening itu, ketika lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram, Elara memejamkan mata dengan air mata membasahi pipi. Ia tahu ia tidak boleh mencintainya. Tapi bagaimana caranya menolak rasa... pada pria yang sedang ia bawa keturunannya di dalam tubuhnya sendiri?
Anda Mungkin Juga Suka





