
Petualangan Seka dan Kompas Perak
Bab 2
"Seka, Ibu tahu kamu akan datang kemari!"
Senia Ayu, ibu dari Seka hanya bisa membatin seperti itu. Dia memang sudah sangat yakin anaknya akan kemari. Tanpa berkata apapun lagi, Seka lepaskan ikatan ibunya dengan mudah. Lalu berusaha membawa kabur ibunya. Tapi tidak ada jalan keluarnya disini. Anak buah Juragan Gurame menutupnya langsung dengan galian tanah. Hanya ada satu lubang ventilasi yang dilewati Seka tadi.
"Tapi lewat jalan mana nak?"
Seka diam sambil mengamati dinding tempat ibunya berada. Dia baru sadar kalau bangunan ini sepenuhnya terbuat dari tanah. Dia memusatkan pikirannya untuk bisa menggali tanah dengan cepat.
"Ah, kamu buat terowongan dari sini ya!"
Terus saja dia menggali tiada henti. Jari-jarinya bagikan Tikus Mondok yang bisa membuat terowongan dalam tanah. Semakin lama sudah jauh saja terowongan buatan Seka. Senia Ayu cukup mengikuti anaknya itu dari belakang. Hingga mereka berdua berhasil keluar.
"Dapat!"
"Arrgh! Lepaskan aku! Ramen?"
"Maaf Seka aku belum sempat memberitahumu. A-aku juga tertangkap oleh mereka!"
Anak buah Juragan Gurame itu tertawa kencang. Mereka mengikuti instruksi sang juragan. Ternyata benar jika Seka akan kemari bersama Ramen. Kini ketiganya tertangkap oleh para anak buah Juragan Gurame. Terdengar suara tepuk tangan dari balik orang-orang itu.
"Wah, aku pikir sehebat apa Seka itu ya! Ternyata masih mudah ditangkap oleh anak buahku juga."
Kemenangan ada di pihak Juragan Gurame. Dia bisa bawa ketiganya ke dalam rumah. Juragan Gurame sudah lama merencanakan untuk menangkap Seka dengan pancingan ibunya. Sebab santer terdengar jika anak ini selalu mampu untuk meloloskan diri.
"Kamu berharga bagiku, Seka. Mungkin temanmu itu ku buang saja. Siapa yang mau pelihara anak jalanan dekil seperti dia?"
"Hei, biarpun kulitku hitam tapi aku selalu mandi tiap hari!"
"Hahaha…iya mandi air got!"
Ramen memang berkulit gelap dengan rambutnya yang ikal. Hanya giginya saja yang putih. Tetapi dia sama istimewanya dengan Seka. Hanya tak banyak yang tahu tentang dirinya.
"Errgh! Jadi, ini bukan karena Ibu berhutang padanya?"
"Oh, tentu saja soal itu juga! Tapi kita semua di daerah Cadas tahu kalau Senia Ayu tak akan pernah mampu untuk bayar hutangnya."
"Seka, maafkan Ibu nak…."
"Jadi, aku minta penawaran lain dan dia setuju aku mengambilmu. Hehehe…."
"Ibu mau menjual ku pada juragan ini? KETERLALUAN!"
Senia Ayu hanya menunduk saja. Sebab dia juga tak mampu berbuat apapun untuk melunasi hutang-hutangnya pada Juragan Gurame. Kebetulan juragan satu ini pernah mendengar kelebihan Seka yang mampu lolos dari apapun. Dia ingin mempertontonkan anak ini semacam sirkus untuk mendapatkan uang. Dalam situasi ini, Ramen gunakan kemampuannya.
"Hei, kemana anak hitam dekil tadi?"
"Disini tuan-tuan berbadan kekar!"
Anak buah Juragan Gurame itu sontak berteriak-teriak. Mereka geli melihat tubuh Ramen yang sudah berbentuk seperti mi. Mengikat kedua kaki salah satu anak buah Juragan Gurame itu. Kepanikan pun terjadi dan mereka berlarian tak karuan. Melepaskan Seka dan Ibunya begitu saja.
"Astaga, kalian takut dengan anak kecil! Eh, makhluk apa itu?"
Sebelum ketahuan oleh Seka dan ibunya. Ramen sudah memadatkan kembali badannya. Kini ketiganya sudah bebas karena para anak buah Juragan Gurame kocar-kacir lari entah kemana.
"Ayo, kita lari dulu!"
"Eh, tapi kenapa itu juragan sampe ngompol begitu?"
"Ah, sudah tidak usah kamu pikirkan! Penting kita kabur dari sini."
Ketiganya dengan mudah keluar dari area Juragan Gurame. Meninggalkan si juragan yang ngompol sambil kakinya gemetaran. Karena melihat bentuk fisik Ramen yang aneh tadi. Malam ini pun Seka dan ibunya bisa kembali pulang. Berpisah dengan Ramen di pertigaan jalan.
"Ibu sungguh tega mau menjual ku ke juragan itu!"
"Ibu tidak ada niat begitu nak!"
"Tadi kata juragan itu…."
"Kamu percaya dengan perkataannya?"
Senia Ayu dulunya adalah bangsa peri. Tak mungkin dia bisa berbohong. Sekedar menghindar pun masih bisa. Seperti meminjam uang lalu tak pernah mau mengatakan kapan bisa mengembalikannya. Tetapi mulutnya akan sulit sekali untuk diajak berbohong. Sekalipun kini dia sudah bukan peri seutuhnya. Karena telah menikah dengan Ayah Seka yang manusia. Dirinya jadi setengah peri. Menyisakan sedikit kekuatan saja.
"Juragan itu memaksa Ibu untuk menyerahkan mu."
"Karena tahu aku punya kemampuan aneh itu. Tapi ini semua berawal dari Ibu yang berhutang padanya kan?"
Hanya diam, itu yang Senia Ayu lakukan saat ini. Seka menatapnya tajam dan berharap Ibunya akan berkata "Ya".
"Ibu pikir dia hanya meminta pelunasan yang biasa saja, Seka."
"Apa cerita tentang Juragan Gurame yang hobi menyimpan banyak perempuan itu tidak sampai ke telinga Ibu?"
Perempuan macam Senia Ayu itu terlalu polos. Dia tak bisa membedakan mana yang ada niat jahat dan bukan. Padahal sudah banyak yang tahu jika juragan itu sengaja menyediakan dirinya sebagai tempat berhutang. Bila yang tidak mampu melunasinya adalah laki-laki, maka akan dijadikan budak. Tetapi bila yang tidak mampu adalah perempuan apalagi kalau bukan dijadikan istrinya.
"Ini yang terakhir kalinya ibu berhutang padanya. Jangan sampai dia tahu rumah kita."
"Kamu tidak kerja di rumah makan untuk cuci piring nak?"
"Tidak! Karena aku memilih untuk menyelamatkan Ibu daripada kerja disana."
Mau kesalnya seperti apa Seka pada Ibunya. Dia masih memiliki rasa sayang pada Senia Ayu. Sekalipun tak pernah ditunjukkan dan hanya wajah murungnya saja. Ibu Seka membelai kepalanya lembut. Bahagia bisa memiliki anak sepertinya. Meski jauh dalam hatinya dia sedih jika suatu saat Seka harus pergi meninggalkannya.
"Oh, Seka jangan tinggalkan Ibu ya!"
Padahal sudah lama Seka hendak meninggalkan ibunya. Dia kesal dengan kehidupannya saat ini. Senia Ayu tak ada usaha sama sekali untuk mendapatkan uang. Dia bahkan tinggal jauh dari pemukiman padat penduduk. Di sebuah goa kecil yang diberi teras ala kadarnya dengan selembar terpal plastik. Disekitarnya terdapat beberapa tanaman yang kadang bisa dimanfaatkan oleh keduanya untuk makan. Termasuk jamur serta tanaman sayuran lainnya yang tumbuh liar.
"Kalau ayah ada, kita tidak akan hidup seperti ini."
"Ayahmu sudah lama pergi untuk semua orang yang tinggal di Nussa Antara. Tapi Ibu yakin ayahmu masih hidup!"
Senia mulai menyalakan api untuk memasak. Ada tetangganya yang meletakkan bahan mentah untuk mereka masak. Sering keduanya dapat bantuan dari siapapun.
"Ayahmu adalah seorang pahlawan, Seka!"
"Ya, tapi Ramen tadi bilang toh tidak ada yang anggap kita ini ada. Untuk apa Ayah jadi pahlawan kalau kita hidup susah seperti ini?
"Kalau menurutmu kita ini hidup susah. Lalu apa yang mau Ibu masak ini?"
Seka melirik sedikit ke bahan mentah yang hendak dimasak ibunya. Anak itu akhirnya sadar kalau dia dan ibunya masih bisa hidup karena ada yang memberinya. Bukan semata karena dia bekerja. Meski tentu saja pemberian itu tidak setiap hari.
"Tapi aku tetap mau mencari Ayah!"
Senia Ayu melihat sorot tajam pada mata anaknya. Itu sama seperti yang dimiliki oleh Ayah Seka. Perempuan ini hanya tersenyum saja.
"Apa Ayah tidak meninggalkan petunjuk apapun?"
"Kenapa kamu begitu ingin mencari ayahmu?"
"Karena aku yakin kalau ayah ada, hidup kita jadi lebih baik."
Ayah Seka menghilang begitu saja. Ibunya juga tidak tahu kemana perginya. Hanya meninggalkan satu stel bajunya yang masih ada disini. Satu-satunya kenangan yang tersisa. Bahkan baju itu dipakai oleh Seka sebagai alas kepalanya saat tidur.
Anda Mungkin Juga Suka





