Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Petualangan Seka dan Kompas Perak

Petualangan Seka dan Kompas Perak

Seka, bocah yang hampir genap sepuluh tahun, terjebak dalam jeratan utang ibunya, Senia Ayu. Hidupnya berubah total saat Senia diculik oleh Raksasa Kerdil, mengungkap rahasia besar yang selama ini tersembunyi. Usai menghadapi para raksasa, Seka memperoleh Kompas Perak misterius yang membangkitkan kekuatan terpendamnya. Kini, ia memulai pengembaraan besar demi menyelamatkan sang ibu, mencari ayahnya yang hilang, serta mengungkap jati diri aslinya yang telah lama dirahasiakan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Daerah Cadas adalah tempat dimana orang terlalu sibuk. Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya mencari uang. Tak pernah percaya dengan adanya keajaiban. Apalagi hal yang berhubungan dengan dunia fantasi. Semuanya selalu bisa dipikirkan secara logis.

Tempat itu juga dipenuhi oleh manusia yang serakah. Mengambil banyak hasil alam. Hingga membuat area ini menjadi gersang. Nyaris tak ada tanaman yang membuat sejuk. Namun manusianya tetap cuek. Mereka berpendapat bahwa semuanya bisa diatasi dengan pendingin ruangan. Serta teknologi lainnya hasil temuan para ilmuwan.

"Koran, Pak?"

"Berapa, Dik?"

"Satu perak saja, Pak!"

Salah satu pengemudi mobil memberikan uang koin perak pada Seka setelah diberikan korannya. Kemudian dengan cepat jendelanya dia tutup lagi. Tak ingin hidungnya tersiksa akibat udara kotor dari asap kendaraan. Berlindung dibalik sejuknya AC dalam mobilnya. Sesuatu hal yang tak pernah dinikmati oleh Seka.

"Seka, lihat aku diberi koin emas sama pengendara mobil yang itu!"

Ramen menunjukkan satu koin emas yang dia peroleh. Serta mobil mana yang tadi memberinya. Dia begitu bangga padahal belum sempat membersihkan kaca mobilnya.

"Biasanya hanya beri satu perak saja."

"Simpan saja dulu, Ramen! Nanti preman berambut sapu lidi itu datang dan ambil uang ini."

"Eh, iya juga ya!"

Buru-buru Ramen memasukkan uang tadi ke dalam kantongnya. Dia berniat mentraktir Seka ikan bakar. Daerah Cadas memang terkenal juga dengan olahan ikan bakarnya yang khas. Bisa dibeli satuan dan cukup satu uang koin emas tadi untuk membeli dua ikan bakar.

"Kapan lagi kita makan ikan bakar, Seka!"

Koran yang dijual Seka hari ini juga habis. Artinya nanti malam dia tak perlu kerja cuci piring di rumah makan seperti biasanya. Dia bisa bersantai menyantap ikan bakar yang dibeli oleh Ramen untuknya.

"Enak kan, Seka?"

"Ya, meski ini ikan yang banyak durinya. Tapi bumbunya enak!"

Ikan bakar sudah jadi makanan mewah bagi keduanya. Ramen memang begitu orangnya. Dia tak mau senang sendirian. Selalu dibagikan pada Seka. Namun saat perjalanan pulang, mereka melihat jejak kaki yang tak biasa. Ukurannya begitu besar.

"Eh, jejak kaki siapa ini?"

"Besar sekali ya, Seka! Tapi sepertinya ini mengarah ke rumahmu."

Seka jadi teringat dengan ibunya. Spontan dia gandeng tangan Ramen. Padahal anak jalanan ini tak pernah mau sebelumnya diajak ke rumahnya. Tapi karena dipaksa dia jadi mau juga. Benar saja jejaknya makin lama mengarah ke rumah goa yang ditinggali Seka dan ibunya.

"Ibuuu…!"

"Apa ibumu meninggalkan rumah dengan api menyala seperti ini?"

Nampak api dari kayu bakar yang biasa dipakai ibunya memasak itu masih menyala. Ramen mencoba mencari air dan dia temukan dari ember yang sudah rusak bagian pinggirnya. Disiramkannya tepat pada api yang menyala.

"Bahaya kalau dibiarkan bisa kebakaran juga."

"Ibuku pasti berurusan dengan para pemberi hutang itu lagi!"

Seka kesal sambil berkacak pinggang. Sementara Ramen berusaha menjauhi bekas bakaran tungku kayu tadi. Sesekali dia terbatuk karena asap dari bakaran apinya masih tersisa. Langkahnya mendekat pada Seka lalu memegang lengan anak itu kuat. Membisiki sesuatu pada temannya yang selalu murung.

"Seka, aku tahu rahasia tentang daerah Cadas yang tidak semua orang tahu."

"Iya, katakan saja itu!"

"Ibumu pasti dibawa oleh para raksasa itu."

Seka tak paham dengan perkataan Ramen. Berpikir apakah temannya itu sedang menceritakan kisah dongeng? Nyatanya raksasa itu ada!

"Hei, kamu saja selalu bercerita soal kekuatan aneh dalam dirimu. Apalagi para raksasa. Jelas mereka nyata, Seka!"

"Ibuku punya hutang dengan para raksasa?"

"Bukan! Mereka pasti punya tujuan lain membawa ibumu. Ayo, kita harus segera menyelamatkannya!"

Ramen tahu dimana para raksasa tinggal. Dia yang menjadi petunjuk bagi Seka untuk pergi kesana. Anak berambut ikal itu sudah bisa menduga berdasarkan jejak kaki yang tak biasa ukurannya. Teramat besar bagi manusia.

"Aku curiga kalau dia tahu juga kekuatan aslimu, Seka."

"Seberapa menyeramkannya sih?"

"Sangat menyeramkan tapi nanti kuberitahu siapa nama aslinya. Biarkan aku cerita dulu ya!"

Ramen bercerita banyak tentang Daerah Cadas ini. Semuanya terjadi karena kendali dari satu raksasa berjulukan Raksasa Kerdil. Dia mampu mengendalikan serta membaca pikiran orang. Karena dia juga yang membuat orang-orang disini hanya sibuk mencari uang. Tanpa pernah tahu jika diluar sana banyak keajaiban.

"Termasuk makhluk lain dan juga yaah aku tidak bisa cerita semuanya."

"Apa dia bisa tahu obrolan kita ini?"

"Bisa saja, Seka! Tapi aku juga tidak terlalu yakin dia bisa lakukan itu."

"Artinya kita selama ini hidup dalam kurungan tak terlihat buatannya?"

"Benar, kamu memang anak yang cerdas Seka! Lihat saja setiap hari orang dewasa pergi bekerja lalu baru pulang saat sore atau malam tiba. Begitu saja setiap hari kecuali hari libur sih!"

"Iya, orang-orang dewasa seperti boneka saja!"

"Kalau menurutku sih seperti robot, Seka."

"Apa itu robot?"

"Ee, semacam mesin untuk digunakan memudahkan aduh apa ya intinya pekerjaan manusia jadi lebih mudah dengan adanya itu. Mereka hanya bekerja pada satu perintah saja tanpa ada rasa lelah apalagi bosan. Paling hanya berhenti di waktu tertentu supaya mesinnya tidak kepanasan."

Seka mengangguk saja meski dia masih tak begitu paham. Ramen kembali bercerita tentang si Raksasa Kerdil. Untuk apa dia berada disini serta mengendalikan manusia yang ada.

"Dulu dia sangat sakti, Seka. Tapi katanya ada yang berhasil mengalahkan dan kesaktiannya diambil. Itulah kenapa dia jadi lemah dan bersembunyi didaerah ini."

"Tapi dia kan raksasa, Ramen. Mau lemah pun tetap saja lebih besar dari kita. Belum lagi dia mampu mengendalikan dan…."

"Tidak tidak tidak! Tadinya dia sungguhan tak punya kesaktian lagi. Tapi ada yang cerita padaku kalau dia bisa seperti sekarang karena memakan seorang anak yang punya kemampuan membaca serta mengendalikan pikiran."

"Apa ini pancingan lagi buatku ya?"

"Bisa jadi begitu, Seka! Mungkin dia mau memakanmu supaya bertambah lagi kesaktiannya."

Seka tidak menunjukkan ekspresi wajah takut sama sekali. Padahal Ramen sudah bercerita dengan penuh totalitas biar seram.

"Kamu tidak takut menghadapinya, Seka?"

"Takut? Setiap hari aku selalu menghadapi ketakutan itu. Kamu kan tahu sendiri sebagai anak jalanan banyak bahaya yang mengintai."

"Iya juga ya! Eh, itu dia markas si Raksasa Kerdil ada disana. Sebenarnya aneh ya namanya begitu. Padahal badannya sama seperti raksasa pada umumnya!"

Kedua anak ini berjalan biasa saja mendekati gerbang bercat merah bata. Mencoba untuk mencari tahu bagaimana cara masuk ke dalamnya.

"Eh, iya tadi belum kuberitahu ya kalau nama asli Raksasa Kerdil itu adalah Kera."

"Sst…simpan ceritamu nanti, Ramen! Kita harus memanjat ini diam-diam lalu masuk ke dalam."

Seka menemukan beberapa celah di bebatuan penyusun dinding bangunan besar ini. Dia gunakan sebagai pijakan kakinya untuk bisa terus naik dan masuk ke dalam. Ramen mengikutinya dari belakang. Namun saat keduanya sudah berhasil sampai didalam ternyata sudah disambut oleh para raksasa.

"Anak kecil sok berani! Kita injak saja sudah habis disini."

"Jangan! Biarkan saja dia berhadapan dengan pimpinan kita."

"Hei, kenapa kalian diam! Tidak berani ya menghadapi anak kecil?"

"Sombong sekali dia ingin kuinjak saja!"

"Sst…tenanglah! Biarkan aku yang bicara padanya."

Kedatangan Seka rupanya sudah ditunggu oleh pimpinan mereka. Salah satu raksasa mau mengantarnya. Tapi anak laki-laki ini berpikir kalau dia akan dijebak. Sebelum Seka mengeluarkan kekuatannya, Ramen sudah memegang lengannya.

"Jangan disini, Seka! Aku rasa pertarungannya nanti. Kita turuti saja perkataan mereka."

"Baik, aku akan turuti. Tapi jangan coba menipuku ya!"

"Kami ini lebih takut oleh pimpinan. Semua ini atas perintah darinya! Apa pentingnya kami menipumu?"

Raksasa yang lain sudah tertawa mendengar ancaman dari Seka. Mereka meremehkan kekuatan anak kecil satu ini. Sekalipun badannya kecil, bisa saja satu markas ini habis oleh kekuatan Seka.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JHB" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JHB
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Dunia gempar melihat deretan gigolo tampan dan berharta yang justru mengejar cinta seorang gadis desa miskin. Meski dianggap lugu, ia sebenarnya pembunuh berdarah dingin yang telah mencelakai para pria tersebut. Keanehan memuncak saat para gigolo ini justru merasa terhormat jika harus meregang nyawa di tangannya. Mengapa mereka tetap memuja sosok yang berbahaya bagi hidup mereka? Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang obsesi yang tidak masuk akal bagi orang awam.
Sampul Novel Gadis Milik Tentara Arogan
9.3
Amore Acresia terpaksa pulang ke Kudus akibat pandemi global saat menempuh studi di Los Angeles. Namun, kepulangannya berujung petaka ketika ia tak sengaja menabrak Alexander Yudha, seorang tentara arogan yang sedang bertugas. Ponsel Alex hancur terlindas mobil akibat insiden itu, memicu kemarahan sang prajurit yang menuntut pertanggungjawaban penuh dari Acre. Meski berawal dari konflik tajam, benih asmara mulai tumbuh di antara mereka sebelum tugas memisahkan keduanya.
Sampul Novel KEBANGKITAN HADES BAKER
9.1
Hades, seorang pemuda rupawan, mendapatkan kesempatan langka untuk bangkit kembali demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya. Ia terlempar melintasi waktu menuju tahun 2001. Di masa lalu tersebut, Hades tidak menyia-nyiakan peluang emas yang ada. Ia menyusun strategi cerdik guna mengumpulkan kekayaan melimpah dan memperkuat dirinya. Perjalanan lintas zaman ini menjadi awal bagi Hades untuk mengubah nasib serta membalas semua ketidakadilan.
Sampul Novel Pandora
9.6
Aaron Elang Cyane kembali setelah tiga tahun berlatih demi melindungi para sahabatnya. Namun, ia mendapati Guinevere Abigail belum pulang dan Aurora Bernett diculik oleh organisasi Twilight Fantasy yang memburu daemon darah murni. Di tengah konflik, Elang harus menghadapi perasaan rumitnya pada Aleasha Brunella Aoi serta ancaman musuh dalam selimut. Takdirnya kini terikat pada rencana gelap layaknya kotak Pandora, memaksanya mengambil keputusan sulit demi masa depan.
Sampul Novel Pendekar Kembara Semesta Seri 2
9.8
Suro Joyo kembali memulai perjalanannya melintasi semesta. Usai menaklukkan Putri Siluman Alas Waru, sang pendekar justru terjebak dalam pergolakan politik di Kerajaan Karangtirta. Selain harus meredam pemberontakan, ia dituntut menghadapi ancaman bajak laut Selat Utara yang ganas. Bebannya kian berat saat harus menolong Ayumanis di Penginapan Melati Jingga, hingga akhirnya ia dihadang Sanggariwut, jawara tangguh pemilik Jurus Ular Api Neraka yang mematikan.
Sampul Novel PENDEKAR TAPAK DEWA
8.5
Kelompok La Kala pimpinan La Afi Sangia menghancurkan Desa Tanaru tanpa sisa. Di tengah puing dan mayat, Jenderal Hongli menemukan keajaiban: seorang bayi yang selamat dari api. Sang mantan jenderal bergelar Wu Ying Jianke bersumpah di bawah petir untuk melatih bayi bernama La Mudu tersebut. Sebagai titisan dewa, La Mudu dipersiapkan menjadi pendekar besar guna menuntut balas atas pembantaian keluarganya dan membasmi segala kejahatan di muka bumi.