Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Petualangan Seka dan Kompas Perak

Petualangan Seka dan Kompas Perak

Seka, bocah yang hampir genap sepuluh tahun, terjebak dalam jeratan utang ibunya, Senia Ayu. Hidupnya berubah total saat Senia diculik oleh Raksasa Kerdil, mengungkap rahasia besar yang selama ini tersembunyi. Usai menghadapi para raksasa, Seka memperoleh Kompas Perak misterius yang membangkitkan kekuatan terpendamnya. Kini, ia memulai pengembaraan besar demi menyelamatkan sang ibu, mencari ayahnya yang hilang, serta mengungkap jati diri aslinya yang telah lama dirahasiakan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Seka oh Seka

Kenapa wajahmu selalu murung begitu?

Apa yang bisa membuatmu bahagia kembali?

Seka oh Seka

Kemarilah maka kan kuberi sesuatu untukmu

Benda yang akan membuatmu tersenyum

Nyanyian itu tak asing bagi Seka. Suaranya lembut terdengar bagai seorang dewi tengah bernyanyi diatas awan. Bahkan saat ini, anak laki-laki itu tak tahu dirinya sedang berada dimana. Celingukan menengok ke kiri dan kanan. Berharap ia tahu akan sesuatu tentang tempat ini.

"Hei, tunjukkan dirimu! Jangan hanya bisa menyanyi saja. Apa kamu mau memberiku petunjuk?"

Sunyi....

Tak ada lagi nyanyian itu terdengar apalagi jawaban bagi Seka. Dia berjalan kesana kemari berharap bertemu seseorang. Hingga dia lihat seorang kakek berdiri dengan tongkatnya.

Seka berlari kecil menghampirinya. Tanpa ada rasa takut sedikitpun. Berharap sosok ini bisa berinya petunjuk tentang dimana dia sekarang.

"Oh, Seka kurasa sudah saatnya kamu mengetahui sesuatu. Ambil ini dan bawalah!"

Kakek itu melempar sebuah benda bulat mengkilat. Seka nyaris tak mampu menangkapnya karena silau oleh pantulan sinar matahari. Tapi dia rasakan tangannya menggenggam sesuatu.

"Eh, benda ini sudah ada di tanganku!"

"Iya, aku tadi yang bantu jual koranmu!"

Sontak Seka tersadar, kalau dia tadi hanyalah bermimpi. Ramen memberinya sekeping koin perak di genggaman tangannya. Rupanya tadi ada yang mau membeli koran yang dijual Seka. Tapi karena anak ini tertidur, Ramen yang bantu menjualkannya.

"Bangun dong dasar pemimpi! Masih siang bolong begini sudah tidur saja kamu ini, Seka."

"Kamu kan tahu, Ramen. Aku ini kalau malam bekerja di warung makan untuk cuci piring. Waktu tidurku jadi berkurang."

"Iya, aku tahu! Memangnya sebanyak apa piring yang kamu cuci semalam?"

Karena masih kondisi setengah sadar, Seka malah mencoba menghitungnya dengan jari. Berapa piring yang dia cuci semalam. Ramen pun menepuk dahinya dengan keras.

"Aduh, Seka aku tidak memintamu untuk menghitung sungguhan. Ayo, basuh mukamu dulu dengan air!"

Seka pun menurutinya. Dia pergi mengambil air dari keran di taman kota. Barulah kesadarannya kembali seratus persen.

"Dengar, ibumu dalam keadaan bahaya!"

"Apalagi yang dilakukan sama ibuku, Ramen? Pasti ditagih hutang lagi!"

"Bukan itu, Seka! Ini lebih bahaya dari yang kamu kira. Ibumu itu…."

"Hei hei hei! Ada anak-anak ingusan di taman ini. Ayo, kemarikan uang kalian!"

"Simpan ceritamu nanti saja Ramen. Kita kabur duluuuu!"

"Sekaaaa! Ini lebih penting dari yang kamu kira. Aduh, kok kakiku tidak bisa digerakkan?"

Ramen terlambat kabur. Dia sudah dipegang kakinya oleh anak buah preman berambut sapu lidi. Mereka hanya tertawa saja sambil membalikkan tubuh anak jalanan itu.

"Dih, lepasin dong!"

"Enak saja! Berikan uangmu pada kamu dulu baru kita lepaskan."

Tawa ledekan terdengar keras dibelakang pimpinan preman berambut sapu lidi. Bukan Ramen namanya kalau mau menyerahkan uang itu dengan sukarela. Dia bersikeras untuk bisa lepas. Para preman itu berpikir kalau anak ini tak akan mudah lepas. Tapi rupanya perhitungan mereka salah.

"Hah! Kemana anak itu?"

"Bweeeek! Ayo coba tangkap aku!"

"A-astaga! Dia jadi lembek seperti cacing eh seperti mi instan rebus."

"Pantas saja dia diberi nama Ramen! Ayo kejar dia!"

Kalau tubuh Ramen sudah lembek seperti mi, dia bisa melata bagaikan cacing. Anak jalanan itu mencari tempat persembunyian yang bagus. Sementara anak buah preman berambut sapu lidi jijik melihatnya.

"Bos aja deh yang kejar anak itu!"

"Aargh! Punya anak buah tidak berguna semua!"

Terpaksa pimpinan preman rambut sapu lidi itu yang mengejarnya sendirian. Dia sudah kehilangan jejak Ramen. Sementara anak ini bersembunyi dibalik semak sambil memadatkan dirinya. Tiba-tiba pundaknya ditepuk keras. Nyaris saja dirinya berteriak heboh.

"Astaga! Seka? Kenapa kamu bisa ada disini? Bukannya tadi sudah lari jauh ya!"

"Sedari tadi aku disini, Ramen!"

Mulut Seka langsung ditutup oleh Ramen. Dia tahu pimpinan preman rambut sapu lidi tengah melewati semak dekat persembunyian keduanya. Bahkan sampai mereka tahan napas supaya tidak ketahuan. Ketika dirasa sudah aman, barulah keluar dari sana.

"Uangmu utuh kan, Seka?"

"Tentu saja! Mana mungkin aku tinggalkan disana. Aku ambil dulu koran-koran tadi. Mau setor ke pemilik kios."

Ramen pun berjalan mengikuti Seka. Memang benar preman berambut sapu lidi itu sudah pada pergi. Menyisakan sampah di taman ini. Beruntung koran yang dibawa Seka tidak dirusak oleh mereka.

"Biasanya mereka merusak kalau tidak dapat uang dari anak jalanan."

"Iya, tapi apa untungnya buat mereka menyobek koran-koran ini? Kecuali aku penjual asongan minuman atau makanan. Mereka pasti bakalan ambil sepuasnya."

Seka pun membawa kembali koran tadi diantar Ramen. Dia setorkan hasil jualannya dan si pemilik kios beri keuntungan hasil jualannya pada Seka. Termasuk bonus, karena Seka bisa menjual buku TTS pada salah satu pengemudi mobil ketika di lampu merah.

"Huh! Apa bagusnya buku TTS itu ya?"

"Untuk mengasah otak katanya. Ah, aku belum pernah mencobanya! Jadi, apa yang mau kamu beritahu padaku tadi?"

Ramen teringat akan hal itu. Sementara hari sudah makin sore saja. Dia beritahu pada Seka kalau ibunya ditahan oleh si Juragan Gurame.

"Memangnya ibuku mencuri ikan Gurame di kolamnya?"

"Eh, tidak tahu Seka! Mungkin karena berhutang lagi?"

Seka hanya mengangguk saja. Dia sudah paham sifat ibunya yang suka berhutang pada siapapun demi memenuhi kebutuhan hidup. Anak ini pun berpikir, andai ayahnya masih ada. Mungkin hidupnya tak akan seperti ini.

"Aku temani kamu deh, Seka! Aku kan tahu dimana ibumu disekap."

"Kamu ini serba tahu ya!"

Ramen membusungkan dada sambil menepuknya. Dia bangga dengan segala apa yang dia tahu. Selama ini pun setiap ibunya Seka mengalami masalah pasti dia yang beritahukan. Keduanya berjalan menuju ke rumah Juragan Gurame.

Seka dan Ramen mencoba menebak apa yang akan dilakukan oleh juragan ikan itu. Apakah mau dijadikan pelayan di rumah besarnya? Atau justru dijadikan istri ke-100.

"Ibuku memang cantik tapi menyusahkan! Memangnya juragan itu mau? Lagipula sejak dulu memang tidak mau menikah lagi. Hanya mau menunggu ayahku datang."

"Iya, masalahnya ayahmu itu kemana? Kerja di daerah lain atau sudah berpisah sama ibumu?"

Pantang bagi Seka bertanya begitu pada ibunya. Sebab Ibu Seka sangat percaya kalau Ayah Seka akan kembali entah kapan. Hanya diceritakan kalau Ayahnya adalah pahlawan di masa lalu.

"Itu sih dulu Seka. Lihatlah dirimu sekarang ini! Adakah orang yang menghargai mu atau ibumu?"

"Terus cerita ibuku itu bohong dong, Ramen?"

"Aku sih tidak menuduh begitu, Seka! Tapi orang dewasa begitu rumit. Nah, ini penjara bawah tanahnya!"

Ramen menunjuk pada satu lubang. Seka berusaha mengintipnya. Memang nampak samar ada tubuh ibunya disana. Matanya terpejam dengan tangan terikat serta mulut dilakban.

"Aku jaga disini, kamu yang masuk ya!"

Lubang yang rasanya tak mungkin dimasuki oleh seorang anak laki-laki seperti Seka. Tapi dia berhasil memasukinya. Tubuhnya bisa mengecil lalu membesar lagi di dalam ruangan tempat ibunya ditahan. Dia cukup memikirkan apa yang dibutuhkan saat itu. Sayangnya, kemampuan Seka ini tidak mampu untuk memunculkan uang dihadapannya.

"Ibu memang payah!"

Mendengar suara itu, perempuan yang tengah disekap itu pun terbangun. Nampak dia bahagia melihat siapa yang datang. Tahu kalau penyelamatnya akan datang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Dunia gempar melihat deretan gigolo tampan dan berharta yang justru mengejar cinta seorang gadis desa miskin. Meski dianggap lugu, ia sebenarnya pembunuh berdarah dingin yang telah mencelakai para pria tersebut. Keanehan memuncak saat para gigolo ini justru merasa terhormat jika harus meregang nyawa di tangannya. Mengapa mereka tetap memuja sosok yang berbahaya bagi hidup mereka? Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang obsesi yang tidak masuk akal bagi orang awam.
Sampul Novel Gadis Milik Tentara Arogan
9.3
Amore Acresia terpaksa pulang ke Kudus akibat pandemi global saat menempuh studi di Los Angeles. Namun, kepulangannya berujung petaka ketika ia tak sengaja menabrak Alexander Yudha, seorang tentara arogan yang sedang bertugas. Ponsel Alex hancur terlindas mobil akibat insiden itu, memicu kemarahan sang prajurit yang menuntut pertanggungjawaban penuh dari Acre. Meski berawal dari konflik tajam, benih asmara mulai tumbuh di antara mereka sebelum tugas memisahkan keduanya.
Sampul Novel KEBANGKITAN HADES BAKER
9.1
Hades, seorang pemuda rupawan, mendapatkan kesempatan langka untuk bangkit kembali demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya. Ia terlempar melintasi waktu menuju tahun 2001. Di masa lalu tersebut, Hades tidak menyia-nyiakan peluang emas yang ada. Ia menyusun strategi cerdik guna mengumpulkan kekayaan melimpah dan memperkuat dirinya. Perjalanan lintas zaman ini menjadi awal bagi Hades untuk mengubah nasib serta membalas semua ketidakadilan.
Sampul Novel Pandora
9.6
Aaron Elang Cyane kembali setelah tiga tahun berlatih demi melindungi para sahabatnya. Namun, ia mendapati Guinevere Abigail belum pulang dan Aurora Bernett diculik oleh organisasi Twilight Fantasy yang memburu daemon darah murni. Di tengah konflik, Elang harus menghadapi perasaan rumitnya pada Aleasha Brunella Aoi serta ancaman musuh dalam selimut. Takdirnya kini terikat pada rencana gelap layaknya kotak Pandora, memaksanya mengambil keputusan sulit demi masa depan.
Sampul Novel Pendekar Kembara Semesta Seri 2
9.8
Suro Joyo kembali memulai perjalanannya melintasi semesta. Usai menaklukkan Putri Siluman Alas Waru, sang pendekar justru terjebak dalam pergolakan politik di Kerajaan Karangtirta. Selain harus meredam pemberontakan, ia dituntut menghadapi ancaman bajak laut Selat Utara yang ganas. Bebannya kian berat saat harus menolong Ayumanis di Penginapan Melati Jingga, hingga akhirnya ia dihadang Sanggariwut, jawara tangguh pemilik Jurus Ular Api Neraka yang mematikan.
Sampul Novel PENDEKAR TAPAK DEWA
8.5
Kelompok La Kala pimpinan La Afi Sangia menghancurkan Desa Tanaru tanpa sisa. Di tengah puing dan mayat, Jenderal Hongli menemukan keajaiban: seorang bayi yang selamat dari api. Sang mantan jenderal bergelar Wu Ying Jianke bersumpah di bawah petir untuk melatih bayi bernama La Mudu tersebut. Sebagai titisan dewa, La Mudu dipersiapkan menjadi pendekar besar guna menuntut balas atas pembantaian keluarganya dan membasmi segala kejahatan di muka bumi.