
Pesona Wanita Pilihan CEO
Bab 2
Langkah teratur dari kedua kaki jenjang Maria menimbulkan suara ketukan nyaring hingga menarik perhatian para karyawan Franklin Corporation yang saat ini baru saja tiba di sekitar lobi.
Sapaan demi sapaan yang wanita itu terima membuat ia tak henti-hentinya menganggukkan kepala diikuti seulas senyuman. Senyum yang membuat banyak laki-laki terpesona dan perempuan lain iri karenanya.
“Selamat pagi, Ms. Ahsley,” sapa salah satu resepsionis bername tag Bella hari ini, menyodorkan sebuah dokumen kepada Maria. “Ini ada titipan untuk Anda.”
“Pagi ...” Maria melirik name tag dan kemudian tersenyum. “Bella. Sepertinya aku belum pernah melihatmu di sini?”
Maria dengan cekatan menerima dokumen itu, menelaah singkat, dan memasukkan ke dalam tas kerjanya.
“Saya memang baru masuk hari ini atas rekomendasi Mr. Johannes.”
“Ah, Mr. Johannes. Aku mengerti.” Maria mengangguk sesaat, lalu mengingat ucapan pria itu. “Kau keponakan Mr. Johannes, right?”
Wanita itu mengangguk. “Benar, Ms. Ahsley.”
“Baiklah kalau begitu. Selamat bekerja dan semoga kau betah berada di sini,” ucap Maria sebelum ia berlalu dari sana.
“Terima kasih.”
Setelah berbasa-basi sejenak, Maria melanjutkan langkahnya menuju salah satu lift khusus yang akan membawanya naik ke lantai dua puluh sembilan. Tempat di mana ruangan CEO berada.
“Aku rasa hari ini lebih awal lima menit dari kemarin,” gumam Maria melirik pada jam di pergelangan tangan kirinya. Seulas senyum kembali terbit di bibirnya mengingat wajah kesal sang kekasih beberapa saat lalu. “Kau harus membiasakan diri, Willy.”
Kedatangan Maria pagi itu langsung disambut oleh tarikan lembut dari teman baiknya, yang merupakan sekretaris kedua.
“Kenapa?” tanya Maria dengan dahi mengernyit bingung, tapi ia menurut saat Kate memintanya segera duduk.
“Kau tahu, Mr. Franklin sudah di dalam bersama adiknya,” bisik Kate lirih.
Sepasang manik keabu-abuan Maria membulat. “Sudah datang?”
Kate mengangguk sekali.
“Sejak tadi? Atau baru saja?” tanya Maria dengan raut wajah terkejut.
“Sepuluh menit yang lalu.”
Maria tampak berpikir. Namun, saat ia akan bertanya pada Kate yang masih berada di sampingnya, suara pintu ruangan CEO terbuka. Menampilkan sosok pria yang sangat ia kenal.
“Kakakku mencarimu, Ms. Ashley,” ucap laki-laki bertubuh tinggi dengan suara beratnya diikuti lirikan mata jahil kepada Maria.
Wanita dua puluh enam tahun itu seketika berdiri dan membungkukkan badan dan menyapanya. “Selamat pagi, Mr. Franklin.”
“Panggil aku Charles saja, Ms. Ashley. Tidak perlu bersikap terlalu formal,” balas pria yang perlahan mendekat kepada Maria. Sedangkan Maria sendiri mundur selangkah demi menjaga jarak di antara mereka.
Melihat reaksi itu, mata liar Charles menyipit. Egonya tersentil untuk ke sekian kalinya karena wanita itu berusaha menghindar.
Sial!
Meredam amarah yang ingin meletup, Charles kemudian meletakkan kedua tangannya mengepal ke dalam saku celana, demi menjaga harga dirinya.
“Masuklah ke dalam. George Franklin menunggumu,” ucap pria itu datar dan terkesan dingin.
“Baik, Sir. Terima kasih mengingatkan saya,” jawab Maria singkat dan sopan.
Pria dengan sudut bibir terangkat sebelah itu berlalu setelah menatap lama pada penampilan Maria pagi ini.
Berbeda dengan Maria yang masih tampak tenang, Kate sudah menggigil di tempatnya berdiri. Jangankan untuk bersuara, menopang berat badan pun rasanya tak lagi bisa ia lakukan.
“Aku akan menemui Mr. Franklin dulu, Kate,” ucap Maria tanpa melihat kepada sahabatnya yang masih membatu.
Menarik napas dan mengembuskan pelan, Maria mengetuk pintu di hadapannya tiga kali. Kemudian ia masuk setelah mendengar suara dari dalam.
“Selamat pagi, Mr. Franklin.”
Seorang pria yang baru saja duduk di kursi itu segera menengadah. “Duduklah, Ms. Ashley.”
Tanpa berpikir lama Maria segera duduk dan tak kama kemudian bertanya, “Anda memanggil saya, Sir?”
Tak menjawab, pemilik nama George Franklin itu memberikan satu dokumen kepada Maria. Lantas, ia menegakkan tubuh dan memberi isyarat kepada sang sekretaris untuk membuka file itu.
“Bawa dokumen ini dan pelajari dengan baik, Ms. Ashley,” ucap George tegas. “Aku ingin kau membantu Dariel Johannes mengambil alih kendali pada proyek perusahaan bulan depan.”
Maria tampak berpikir. Proyek terbaru yang sedang dalam rencana hanya satu dan ia tak yakin dengan perintah atasannya itu. “Maksud Anda, proyek dengan Johnson Corporation, Sir?”
George mengangguk. “Ya. Proyek yang akan kita bahas pagi ini.”
Wanita dua puluh enam tahun itu mendadak bingung. Dan semuanya tertangkap jelas oleh George Franklin yang menarik sudut bibirnya.
“Dariel Johannes sedang bertugas. Jadi, kau yang akan menemaniku rapat bersama CEO Johnson Corporation.” Pria itu melihat pada jam di pergelangan tangannya. “Kita akan berangkat dua puluh menit lagi. Masih ada waktu untuk bersiap, Ms. Ashley.”
Tanpa perlu bertanya lagi Maria mengangguk sopan dan segera mengambil dokumen itu sebelum berpamitan.
“Saya akan bersiap-siap, Sir.”
Sementara itu, di lobi Johnson Corporation, seorang pria dengan penampilan yang menghipnotis para wanita berjalan tegas tanpa memerhatikan keadaan sekitar.
Aura dingin dan mematikan yang biasanya terlihat, kini menghilang digantikan dengan senyuman tipis.
Pria yang tak lain adalah William, pemilik tahta tertinggi di perusahaan itu bahkan membalas sapaan para karyawan yang memiliki kepentingan di sana. Hal langka yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Masih mempertahankan senyuman di bibir, William masuk ke dalam lift menuju ruangannya. Running text yang menampilkan deretan angka membuat pria itu menghitung hingga pintu itu membuka.
Dan kedatangannya pagi ini disambut seperti biasa oleh sang asisten. Pria bersetelan jas itu membungkukkan badan.
“Selamat pagi, Mr. Johnson.”
William membiarkan sang asisten mengambil alih tas kerjanya dan berjalan di belakang hingga ia masuk ke ruangannya.
“Di ruang berapa meeting pagi ini, Erick?” tanya William yang baru saja duduk di kursi kebesarannya.
“Ruang delapan, Sir,” jawab pria itu sopan. “Ah, hampir saja saya lupa. Tuan Besar akan datang dalam meeting kali ini.”
“Daddy?” tanya William ragu.
“Ya, Sir. Baru saja beliau mengatakan akan segera tiba sepuluh menit lagi.”
William yang mendadak merasa pusing memijit pangkal hidungnya. Meeting kali ini pasti akan tersabotase dengan pembahasan tak berguna. Begitu pikirannya menganalisa.
“Ada sesuatu yang mengganggu Anda, Sir?” tanya Erick hati-hati.
Tangan William melambai. “Tidak. Siapkan berkasnya dan usahakan dalam meeting nanti kau melakukan presentasi dengan baik. Jangan beri celah pada Daddy untuk merusak pembahasan pagi ini dengan hal lain.”
Ada satu hal yang tak dimengerti oleh Erick. Namun, saat William melayangkan tatapan mata penuh arti, ia tahu apa yang harus dilakukannya.
Waktu yang telah disepakati tiba. Bersama sang asisten, William memasuki ruangan yang akan digunakan untuk meeting bersama Franklin Corporation.
Pemandangan yang tersaji kali ini membuat pria bermanik kebiruan itu terkejut. Kehadiran Maria membuatnya kaku dan nyaris lupa diri.
Sial!
Dua jam lamanya meeting antara dua perusahaan yang paling berpengaruh di New York itu berlangsung tanpa hambatan. Baik dari William selaku CEO Johnson Corporation dan George Franklin selaku CEO Franklin Corporation menemui kata sepakat setelah perwakilan dari masing-masing pihak mempresentasikan proposal yang dibuat dengan baik.
Sepasang manik kebiruan William tak henti-hentinya hanya tertuju pada Maria yang tampak tenang dan menyimak dengan baik meeting kali ini.
Lain dengan William, wanita dua puluh enam tahun itu menunjukkan sikap profesional dengan pandangan tertuju pada layar di depan, dan dokumen bergantian. Mengabaikan sepasang mata yang menghunjam lurus padanya.
“Jadi, bagaimana jika kita memulai pembangunan ini bulan depan di tanggal muda, Mr. Johnson?” tanya George Franklin memastikan jika proyek ini akan dikerjakan secepatnya. Mengingat ini adalah kesempatan emas untuk mendekat ke dalam lingkaran bisnis Keluarga Johnson.
Alih-alih segera menjawab, William melirik pada sang ayah untuk melihat reaksi pria itu. Namun, tak ada tanda-tanda Michael memberikan pendapat.
“Sesuai proposal yang kalian ajukan saja. Aku tidak keberatan kapan pun proyek ini dimulai,” jawab William dengan pandangan tertuju pada Maria sepenuhnya. “Lebih cepat lebih baik.”
Senyum di bibir George mengembang. Ia melirik pada Maria sekilas dan mendapat anggukan singkat dari sekretarisnya itu.
“Baiklah, Mr. Johnson. Dan untuk memaksimalkan keberhasilan proyek ini, saya akan melibatkan sekretaris andalan Franklin Corporation memantau dari awal hingga selesai.”
“Bagus. Aku pikir ini ide yang cukup brilliant,” sahut William tanpa basa-basi. Memangnya siapa juga yang menolak kesempatan sebagus ini.
Setelah kata sepakat diikuti penandatanganan dokumen dari kedua belah pihak selesai, George bangkit, dan menjabat tangan William. Pun dengan Michael. Sedang Maria hanya tersenyum tipis ketika pandangannya bertemu dengan sang kekasih.
Beberapa detik saja mereka hanyut dalam pembicaraan tanpa kata. Dan suara Michael menyadarkan Maria hingga wanita itu mendadak kaku.
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
Spoiler bab selanjutnya
“Kenapa? Masih mau menolakku?” tanya Stefanie lirih. “Sebentar lagi, aku akan membuktikan jika aku bisa memilikimu sepenuhnya Liam.”
Rahang William mengeras. Mendengar gadis itu memanggil nama kecil yang diberikan sang ibu membuatnya geram. Namun, ia tak bisa berkutik karena tatapan dua orang pria saat ini menghunjam tajam.
Anda Mungkin Juga Suka





