
Pesona Wanita Pilihan CEO
Bab 3
Maria tampak tenang setelah berhasil menguasai diri. Celetukan dari Michael Johnson barusan memberikan dampak yang cukup mengejutkan hingga membuatnya sempat goyah.
Beruntung, gadis dua puluh enam tahun itu mampu mempertahankan sikap profesional saat terlibat dalam pekerjaan ketimbang urusan pribadi.
Lain Maria lain pula dengan William. Pria tiga puluh tahun itu mengepalkan kedua tangannya di saku celana dan tak sedikit pun mengalihkan pandangan mata dari sang kekasih.
Manik kebiruan yang menenggelamkan lawan bicaranya itu tampak berubah menjadi tajam, dingin, dan mengisyaratkan peperangan. Diikuti bagaimana William ingin sekali menyeret Maria untuk memberikan penjelasan.
“Apa ini tidak terlalu terburu-buru, Mr. Johnson? Sepertinya anak-anak selalu memiliki pilihan sendiri tentang pendamping hidup,” tanya George Franklin ramah.
“Tidak,” jawab Michael cepat. “Sudah seharusnya kita segera mengambil keputusan ini. Bagaimanapun juga usia William dan Stefanie sudah pantas untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Apalagi mereka sudah saling mengenal.”
George Franklin membenarkan hal itu. Bahkan berulang kali putri semata wayangnya sempat mengatakan secara langsung jika dia hanya akan menikah dengan William Johnson.
“Aku rasa, pernikahan adalah hal paling tepat ketimbang pertunangan yang akan membuat gosip di sana sini bila ada sesuatu di antara mereka,” imbuh Michael dengan sorot menggebu-gebu. “Bukankah begitu?”
“Anda benar,” timpal George menganggukkan kepalanya.
Secercah senyuman di bibir Michael mengembang diikuti ucapan yang membuat suasana semakin mencekik bagi Maria dan William.
“Aku tunggu kedatangan kalian malam ini.”
*
[Hadapi dengan jantan, Willy.]
[Kau tahu bukan, spesifikasi menjadi pendampingku adalah pria yang akan menghadapi rintangan apa pun ketimbang lari, dan bersembunyi.]
[Ingat! Aku tidak ingin melihat paparazi menuliskan sebuah berita jika William Johnson adalah seorang pecundang.]
[Di sini, aku baik-baik saja.]
Sederet pesan yang dikirimkan Maria siang tadi membuat William menggeram kesal. Pasalnya, sampai malam datang, nomor wanita itu tak bisa dihubungi, setelah mengatakan akan lembur.
Pria dengan setelan jas mewah yang telah bersiap untuk menghadiri makan malam itu pun masih tak bergeming dari atas ranjang. Padahal waktu pertemuan akan berlangsung dua puluh menit lagi.
“Kau ke mana, Maria?” desis William meremas ponsel di tangannya. Seolah saat ini benda itu ingin ia hancurkan karena dianggap tak berguna.
Melihat waktu semakin menipis, mau tak mau, suka tak suka, ia pun segera bangkit. Meraih kunci mobil kesayangannya dan menuju tempat yang telah ditentukan.
Sesampainya di sebuah restoran yang telah di privasi oleh Michael, William bisa melihat banyaknya paparazi menunggu di tempat itu.
Pria bermanik kebiruan yang kini masuk ke portal pintu masuk tak yakin jika salah satu di antara mereka tak melihat kedatangannya. Tak ingin menjadi bulan-bulanan mereka, ia kemudian mengambil tempat parkir di lantai satu.
Tak heran bila kedatangannya saat itu langsung disambut oleh pelayan dengan ramah. Pasti ini salah satu rencana sang ayah yang telah menyiapkan semuanya.
“Mari, Tuan.”
William mendengkus, tapi tak menolak saat ia harus berjalan mengikuti arahan pelayan yang membawanya ke salah satu lantai di mana ruangan itu berada.
Pintu keemasan dengan ukiran mewah menjulang di hadapan William. Dalam sekejap pintu itu dibuka dan menampilkan kehadiran tamu yang tidak ia harapkan.
Masih mengingat pesan sang kekasih, William terpaksa menyapa mereka satu per satu tanpa terkecuali. Termasuk seorang gadis yang duduk di dekat sang ayah dan tersenyum manja sejak melihat kehadirannya.
“Duduklah di sini, William.” Michael berpindah ke tempat duduk yang lain dan mengisyaratkan putranya segera mengambil tempat yang telah ia berikan.
Tak menolak, William pun mendaratkan bokongnya di sana tanpa sepatah kata apa pun, dan dengan raut wajah yang tak ramah.
“Bagaimana kabarmu, Wil?” tanya gadis pemilik nama Stefanie Aurora Franklin dengan suara mendayu manja.
Menahan untuk tidak mengeluarkan nada tak ramah, William menyembunyikan tangannya yang mengepal di bawah meja.
“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja,” jawab William dingin dan datar. Namun, dasarnya gadis itu tak tahu malu hingga mencondongkan tubuhnya.
“Kenapa? Masih mau menolakku?” tanya Stefanie lirih. “Sebentar lagi, aku akan membuktikan jika aku bisa memilikimu sepenuhnya Liam.”
Rahang William mengeras. Mendengar gadis itu memanggil nama kecil yang diberikan sang ibu membuatnya geram. Namun, ia tak bisa berkutik karena tatapan dua orang pria saat ini menghunjam tajam.
“Jangan tegang, Liam.” Stefanie dengan sengaja melarikan tangannya ke bawah meja. Ia menyeringai tipis saat melihat apa yang terjadi. “Ini baru permulaan.”
Berniat tak merusak suasana, ia pun menarik diri setelah berhasil melabuhkan kecupan spontan di pipi William. Tak ada penolakan membuat dirinya tersenyum kemenangan dan berubah menjadi manis saat pandangannya bertemu dengan sang ayah serta calon mertuanya.
Diam-diam baik Michael maupun George saling berbicara dengan isyarat mata dan mengangguk ketika saling memahami.
Suasana yang semua tegang berubah menjadi tenang saat hidangan tertata rapi di atas meja. Berkali-kali Michael memberikan isyarat kepada William agar tahu diri. Namun, semuanya berakhir sia-sia.
Dan pada akhirnya, sampai makan malam itu berakhir, William tak banyak bicara demi mengendalikan emosi. Berbeda dengan Stefanie yang aktif menimpali ucapan Michael, sehingga pria 57 tahun itu semakin tak terkendali.
“Kau memang paling tahu kesukaan Daddy, Fanie,” ucap Michael tanpa sadar. Atau memang pria itu sengaja.
Hal sekecil itu membuat ego Stefanie melambung. Seolah tanpa cinta, ia bisa memikat William dengan mendekati Michael terlebih dahulu.
“Kita lihat saja, Liam. Aku atau kau yang menang,” batin Stefanie dengan seringai tipis di bibirnya.
Atmosfer di dalam ruangan itu berubah begitu cepat. Apalagi saat dengan terang-terangan Michael memerintah William mengantar Stefanie pulang.
“Baiklah. Satu kali ini saja,” ucap William tanpa basa-basi. Setelah mengucapkan itu, ia pun berpamitan, dan segera bangkit.
Mengabaikan teriakan Stefanie, pria bermanik kebiruan itu merogoh ponsel dalam saku jas. Menghubungi seseorang yang ia yakini bisa membantunya.
Sementara itu, di kantor Franklin Corporation, Maria ditemani Kate baru saja selesai mengerjakan tumpukan dokumen yang diperlukan untuk rapat anggota dewan. Berbeda dengan Maria yang tampak tenang, Kate tampak mengeluh sejak sepuluh menit lalu.
“Oh, Maria. Pekerjaan ini bahkan bisa kita kerjakan besok, tapi mengapa kau mengerjakan semua hari ini?” tanya Kate dengan bibir mengerucut setelah mendekat pada rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
Alih-alih menanggapi pertanyaan itu, Maria dengan cekatan membereskan mejanya berikut mematikan layar komputer yang digunakan untuk bekerja. Setelah semua selesai, barulah ia memutar kursi, menghadap kepada Kate yang sejak tadi mengeluh.
“Kau dengar, Kate. Pekerjaan itu lebih baik cepat diselesaikan daripada menundanya,” jawab Maria kemudian.
“Aku tahu, tapi apa harus selalu lembur? Ini sudah hari ketiga, Maria. Come on, aku butuh bertemu kasur dan guling untuk memulihkan kepintaranku yang jauh di bawah ini,” pungkas Kate masih tak mau kalah.
“Baiklah. Lain kali kau tidak perlu menemaniku, OK.” Maria beranjak, tapi langsung dicegah oleh gadis yang kini membulatkan matanya.
“Mana bisa begitu!” sergah Kate tak terima. “Di sini terlalu berbahaya untukmu, Maria. Jangan bercanda!” Ucapan itu diikuti raut wajahnya yang berubah menjadi ngeri.
Maria tertawa, lantas memeluk sahabatnya erat. Kembali teringat di mana kejadian tak menyenangkan terjadi padanya tiga bulan lalu. Dan beruntung waktu itu, Kate harus mengambil barangnya yang tertinggal. Sehingga tak ada apa pun menimpanya.
“Kalau begitu, kau harus menemaniku setiap lembur, OK?” Maria menepuk punggung Kate sebelum mengurai pelukannya.
Tak ada jawaban lain, selain anggukan dari gadis itu.
“Ayo kita pulang,” ajak Maria kemudian.
Akan tetapi, lagi-lagi Kate menahan lengan sahabatnya, dan menatap gadis itu lekat.
“Apa kau tidak berpikir untuk memiliki seorang kekasih, Maria?”
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
Spoiler bab selanjutnya
“Menikah denganku, Maria,” ucap William yang sudah menarik bibirnya. Dan kini ia menyatukan kening mereka masih dengan mata tertutup.
Deg
Hati Maria berdebar hebat. Jantungnya terpacu cepat diikuti deru napas yang memburu.
“Menunda hanya akan membuka celah bagi orang lain untuk merusak hubungan kita, Maria. Jadi, aku berpikir untuk segera menikahimu,” lanjut William dengan penuh ketegasan yang tak ingin dibantah.
Anda Mungkin Juga Suka





