
Pesona Nona Khana
Bab 2
Part: 2
***
Langkah Husein sangat cepat hingga berada tepat di hadapan Areta, istri pertamanya.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat sempurna di wajah Areta. Panas, itu yang dirasakan saat ini.
Air mata Areta menetes, untuk pertama kali suaminya bertindak kasar padanya.
"Tuan menamparku?" Tatapan mata Areta penuh dendam. Namun, ia tak kuasa melawan.
Plak!
Husein kembali melayangkan tamparan satu kali lagi, hingga membuat wajah Areta terasa semakin panas dan perih.
"Pulang!" titah Husein singkat.
Areta menelan ludah getir. Kedua tangannya gemetar hebat. Detik berikutnya ia bergegas meninggalkan apertemen.
"Tuan aku sudah tak kuat," lirih Khana, lalu tumbang.
Husein dengan sigap menggendong selir mudanya masuk ke dalam kamar. Sedangkan dokter pribadi yang bertugas khusus untuk Khana sudah sampai.
"Ya Tuhan ... pendarahannya cukup banyak," desis Dokter Hans.
Saat Dokter Hans ingin membersihkan darah yang ada di kening Khana, tiba-tiba Husein menghentikannya.
"Jangan sentuh! Biar saya yang membersihkan lukanya! Dokter cukup berikan resep obat, dan segera menyiapkan perban untuk menghentikan pendarahan Nona Khana!"
Dokter Hans mengangguk cepat. Ia sudah terbiasa dengan ini. Husein memang tak pernah mengizinkan lelaki lain menyentuh kulit istri mudanya.
Hal itu membuat Dokter Hans mencibir dalam hati. 'Egois.'
Balutan perban mulai dipasang Husein dengan penuh hati-hati. Wajah cantik sang istri membuatnya semakin tak tega melihat selirnya terbaring tak berdaya.
"Karena tugas saya sudah selesai, jadi saya pamit dulu, Tuan Husein!" Dokter Hans membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Hm, tunggu dulu, Dokter Hans! Sebaiknya Dokter tetap di sini sampai Nona Khana sadar! Saya takut ia kenapa-napa. Dokter boleh menempati apartemen sebelah, sampai Nona Khana benar-benar pulih!" papar Husein.
"Baik, Tuan."
Dokter Hans melangkah menuju kamar apartemen yang berada di paling ujung dari kamar Khana.
Sementara itu, Husein meminta Mani menjaga Khana 24 jam di dalam kamar, Karena ia akan segera pulang ke rumah utama untuk memberi pelajaran pada Areta.
"Mani, jangan tinggalkan Nona Khana sedetik pun! Beri kabar pada saya jika dia sudah siuman. Saya akan kembali besok pagi."
"Baik, Tuan. Saya pasti menjaga Nona Khana sepenuh hati."
"Bagus!"
Husein berlalu pergi dengan gumpalan amarah yang masih berapi-api. Ia sangat murka pada Areta untuk masalah ini.
***
Di istana mewah yang dihuni Areta, kini ia merasa cemas serta ketakutan.
Areta tak menduga kalau suaminya akan menyusul ke apartemen. Sebab, malam ini adalah jadwal kunjungan sesama pengusaha kaya di salah satu pertemuan penting.
Suara bel berbunyi membuat jantung Areta semakin berdetak kencang. Salah satu pelayan di rumah besar itu bergegas keluar untuk membukakan pintu.
Suara derap kaki mulai terdengar oleh Areta. Ia hafal betul ciri khas suaminya berjalan.
Tubuh Areta menegang karena sangat ketakutan. Keringan dingin membanjiri tubuh seksinya malam ini.
"Sejak kapan seorang istri dari Husein bisa bersikap sangat ceroboh begitu?" tanya Husein dengan tatapan menggerikan.
"A--aku ... aku hanya ingin memberi pelajaran pada gundikmu itu, Tuan. Aku tak menyangka kalau Tuan sanggup menduakan aku yang selama ini selalu setia mengabdikan hidup penuh sukarela," papar Areta diiringi air mata.
Husein menyeringai. Ia sebenarnya tak tega menyakiti Areta. Sesungguhnya Areta adalah cinta pertamanya, dan masih menempati relung terdalam di hatinya. Namun, pesona Khana juga tak mampu ditepisnya.
Sebagai seorang lelaki, Husein menganggap hal ini wajar dan sah-sah saja.
"Karena kau sudah tahu semuanya, maka saya peringatkan padamu agar tak mengulang perbuatan yang sama! Khana saat ini statusnya adalah istri kedua saya. Pernikahan kami memang hanya sebatas pernikahan sirih saja. Namun, bukan berarti kau bisa sesuka hati menyakitinya!" terang Husein.
Areta semakin merasa terluka dengan sikap sang suami. Ia tak rela jika harus berkongsi cinta. Akan tetapi, ia juga tak mungkin menggugat Husein. Sebab biar bagaimana pun, Husein adalah orang yang sangat ia cinta serta orang yang disegani di kota ini.
"Baiklah, Tuan. Aku akan mencoba menerima kenyataan pahit ini, tapi aku minta satu hal padamu," ujar Areta.
"Katakan!" titah Husein.
"Aku tak mau dunia tahu tentang status Khana. Aku tak sudi dia tampil di permukaan sebagai istri keduamu, Tuan."
"Tenang saja, Areta. Khana memang hanya untuk di belakang layar. Lagi pula saya bukan orang yang ceroboh sepertimu. Semua yang saya lakukan tentu sudah saya pertimbangkan."
Areta bergeming. Setidaknya saat ini ia sedikit merasa lega. Sebab status Khana tak akan pernah melampauinya.
***
Hari berganti. Khana sudah sadar dari pingsannya semalam. Mani dan dua pelayan lainnya sangat cemas menunggu kesadaran Khana semalaman.
"Syukurlah, Nona Akhirnya sudah siuman," ucap Mani.
"Dimana, Tuan Husein?" tanya Khana sembari memanjangkan lehernya mencari keberadaan sang suami.
"Tuan Husein pulang ke rumah utama, tapi beliau berpesan agar kami semua menjaga Nona."
"Hm, baiklah."
Tak lama kemudian Dokter Hans pun datang untuk kembali memeriksa keadaan Khana.
Dokter muda yang masih membujang itu sangatlah tampan. Dua pelayan muda teman Mani sering mencuri-curi pandang ke arahnya. Namun, Dokter Hans sangat cuek dan acuh tak acuh terhadap perempuan.
"Nona Khana sudah siuman? Bagaimana perasaan Nona sekarang? Apa masih terasa sakit luka di kening Nona itu?" tanya Dokter Hans.
"Sudah mendingan," jawab Khana cuek.
"Berarti saya sudah bisa pulang ke rumah sekarang?"
"Pulang? Aku berkata sudah mendingan. Bukan berarti aku sembuh total. Lukaku harus tetap dirawat. Aku tak mau luka ini meninggalkan bekas di keningku. Kau paham itu?" hardik Khana.
Ia memang sangat galak dan angkuh. Namun, hal itu pula yang membuat Husein bertekuk lutut padanya. Husein menikahinya sebab ia terlihat beda dari wanita pada umumnya.
Begitu pun bagi Dokter Hans. Khana sangat spesial, hingga membuat dirinya sering salah tingkah dan tak berani terlalu lama berdekatan. Detak di jantung Dokter Hans selalu tak terkendali setiap kali berhadapan dengan Khana.
Diam-diam ia mengagumi sosok istri Husein tersebut.
"Saya akan memberikan obat untuk Nona."
"Itu harus! Kau juga tak boleh ke mana-mana! Suamiku membayarmu bukan untuk makan gajih buta saja!"
"Baik, Nona."
Dokter Hans mengeluarkan salep untuk luka yang ada di kening Khana. Perlahan ia membuka perban, tapi seperti perintah Husein, tangannya tak boleh menyentuh langsung kulit Khana.
Setelah perban dibuka, Dokter Hans meminta Mani untuk mengoleskan salep ke kening Khana.
"Tolong oleskan obat ini!" titah Dokter Hans dengan sangat sopan.
Mani mengangguk.
"Tidak. Ini adalah tugasmu, Dokter Hans!" sanggah Khana.
"Hm, tapi saya dilarang menyentuh kulitmu, Nona Khana."
"Kau bisa melakukannya tanpa menyentuhku, bukan?"
"Bagaimana mungkin?" Dokter Hans sangat kebingungan kali ini.
"Gunakan sarung tangan! Kenapa otakmu tak berjalan?"
Tajam kalimat Khana membuat Dokter Hans sedikit merasa geram. Ia tak bisa membantah sebab kekuasaan memang dikendalikan oleh mereka yang miliki banyak uang.
Dengan berat hati Dokter Hans melakukan tugasnya sesuai seperti perintah Khana.
Khana menatap wajah Dokter Hans secara diam-diam. Ia sebenarnya mengakui ketampanan Dokter pribadinya itu dalam hati. Namun, wibawa serta karisma Husein tentu jauh lebih memikat baginya.
Saat Dokter Hans mengoleskan salep ke kening Khana, jarak mereka menjadi sangat dekat. Debar di dada Dokter Hans semakin kuat. Kedua tangannya gemetar hebat.
Khana dapat merasakan kegugupan Dokter Hans. Ia sengaja membuat suasana semakin menegang.
"Mani, tolong siapkan sarapan yang baru untukku! Aku tak mau makan nasi goreng. Jadi kau ganti dengan menu lain!" perintah Khana.
"Baik, Nona."
Mani segera keluar dari kamar Khana. Sementara dua pelayan lainnya juga disuruh keluar.
Hal tersebut tentu membuat Dokter Hans semakin merasa gugup.
Khana mengukir senyum manis. Kemudian ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi sebelah kiri Dokter Hans.
Dokter Hans menahan napas sesaat. Ia tak menduga akan tindakan Khana barusan.
Suasana membisu. Khana tak berkata apa-apa, begitu pun dengan Dokter Hans.
Lalu, pintu kamar terbuka. Husein telah tiba. Seketika Dokter Hans menarik tubuhnya menjauh dari Khana.
"Bagaimana keadaanmu, Nona Khana?" tanya Husein sembari mendekat.
"Aku sudah sedikit lebih baik, Tuan. Dokter Hans memberikan obat sangat mujarab," ujar Khana.
"Baguslah. Terima kasih, Dokter Hans. Anda bisa keluar sekarang!" titah Husein.
Dokter Hans mengangguk dan berlalu.
Anda Mungkin Juga Suka





