
Pesona Istri CE0
Bab 2
Tanpa sepatah kata pun, sebuah tamparan mendarat di pipi pria itu dengan cepat. Membuatnya merasa nyeri.
“Sebaiknya lo perbaiki etika dan belajar cara menghargai seorang wanita,” tegas Neysa.
Dia pun bergegas pergi dari hadapan pria itu. Bersama dua sahabatnya yang terus mengekor. Sementara pria itu, tampak dendam dengan Neysa, dan memandangi langkah wanita itu dengan penuh kekesalan.
“Sialan, awas lo ya,” gerutunya, seraya mengusap-usap pipinya. “Lo belum tahu siapa gue sebenarnya,” keluhnya. Lalu berlalu dari tempat itu.
Sementara itu, Neysa baru tiba di depan ruangan Exel berada. Bersamaan dengan itu, si dokter keluar dari ruangan itu, bersamaan dengan jenazah yang sudah ditutupi kain kapan.
“Dok, itu jenazah siapa?”
“Korban kecelakaan maut beberapa menit yang lalu.”
Deg!
Neysa langsung berlari dan meminta petugas untuk berhenti. Dengan perasaan rapuh dan takut, dia membuka kain kapan di bagian wajah.
“TIDAK!!!!” teriak Neysa, histeris. “Sayang! Lo nggak boleh ninggalin gue. Kita mau nikah. Bangun, sayang! Bangun!” teriaknya.
Suasana menjadi penuh dramatis. Linda dan Serly hanya pasrah melihat kenyataan itu. Dia tidak menyangka kalau Exel akan meninggalkan mereka secepat ini.
Mereka memahami perasaan sahabatnya sekarang. Tidak mudah menghadapi itu semua. Apalagi, Neysa baru satu bulan menjalani kebersamaan setelah berpisah lama. Tentu itu akan menjadi pukulan keras bagi Neysa.
“Ney, sabar ya. Exel udah tenang di sana,” ucap Linda mencoba memotivasi.
“Semua udah takdir Tuhan, Ney,” sambung Serly.
Neysa sangat rapuh, dan terus menangis. Semua orang di sana juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Neysa sekarang. Tidak ada satu wanita pun yang tidak akan rapuh menerima kenyataan sepahit itu.
“Kenapa Tuhan tega sama gue. Kenapa Tuhan jahat sama gue,” keluh Neysa, yang sudah tekulai lemas di ranjang Exel.
“Nggak boleh bicara begitu, Ney. Lo harus tahu, nggak ada ketentuan Tuhan yang salah. Semua pasti ada hikmahnya,” tutur Linda dengan bijak.
“Iya, Ney. Lo harus ikhlas ya. Semua pasti ada maksud dari Tuhan.”
Dua sahabatnya langsung mengangkat tubuh Neysa yang rapuh. Lalu merema memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu, petugas membawa jenazah Exel ke kamar mayat menunggu keluarga Exel datang untuk membawa jenazah Exel kembali ke Bandung.
Beberapa jam berlalu, kedua orang tua Exel tiba di rumah sakit. Sang calon ibu mertua langsung memeluk Neysa. Kedua sama-sama rapuh atas kematian Exel. Sungguh kematian memang rahasia Tuhan, bahkan mereka tidak menyangka kalau Exel akan pergi lebih dulu di usia muda.
“Ma, Exel udah pergi ninggalin aku, Ma. Apa yang harus aku lakukan Ma,” lirih Neysa, meneteskan air matanya.
Lalu wanita patuh baya itu, memegang bahunya dan tersenyum kepadanya.
“Kamu boleh sedih, tapi jangan sampai kamu larut dalam kesedihan. Exel bukan punya kita, dia hanya titipan dan udah waktunya kembali kepada penciptanya. Mama berharap, kamu bisa menemukan pria yang baik,” ujar wanita itu.
“Benar, Neysa. Kamu wanita yang baik. Kami tahu kamu akan sulit menerima kepergian Exel. Tapi takdir berkata lain, kalian nggak bisa bersama. Papa harap, kamu nggak rapuh banget, dan jangan menutup diri kalau ada pria yang datang melamarmu,” tutur pria paruh baya menasehati Neysa.
“Makasih, Ma, Pa. Aku benar-benar sedih. Hanya itu yang aku rasakan saat ini,” ungkap Neysa.
Wanita itu kembali memeluk Neysa. Dia mencoba menenangkan wanita itu. Meski dia sendiri sangat kehilangan putranya. Namun, mereka sadar kalau anak adalah titipan dari sang maha kuasa.
Setelah lama berbincang di sana, kedua orang tua Exel membawa jenazah putranya ke Bandung. Tentu Neysa akan bertolak ke Bandung untuk mengikuti prosesi pemakaman kekasihnya.
“Kami akan ikut denganmu, Ney,” ujar Linda.
“Iya, Ney. Sebaiknya kita ambil pakaian dulu, lalu kita berangkat ke Bandung.”
“Thanks banget ya. Karena mau menemaniku.”
Linda dan Serly memeluk sahabatnya. Mereka bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Neysa sekarang.
Keesokan harinya, Neysa dan dua temannya sudah berada di pemakaman Exel. Banyak orang yang datang melayat. Banyak sekali yang datang mendoakan pria itu. Satu persatu meninggalkan tempat itu setelah pemakaman selesai.
Berbeda dengan Neysa yang masih belum ingin beranjak. Air matanya tidak berhenti sejak tadi malam. Kesedihannya begitu dalam. Dia pun menangis di kuburan kekasihnya itu.
“Sayang, aku tahu takdir nggak bisa ditolak. Tapi jujur, aku belum terbiasa tanpamu, sayang,” lirih Neysa.
Isakannya membuat Linda dan Serly ikut bersedih. Sejenak mereka membiarkan Neysa meluapkan kesedihannya. Beberapa menit kemudian, Linda memegang bahu Neysa.
“Ney, udah ya. Kita balik. Exel udah tenang di sana,” ucap Linda.
Neysa tampaknya sudah lega setelah meluapkan kesedihannya di depan makam sang kekasih. Ketiganya lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke Jakarta.
***
Satu minggu telah berlalu. Neysa masih merenung di dalam kamarnya. Tiba-tiba sang nenek datang ke kamar menemui Neysa.
“Nenek boleh bicara sebentar?”
“Iya, Nek.”
Mira lalu duduk di samping cucunya dengan penuh keprihatinan. Wanita itu mengusap-usap bahu cucuknya. Lalu dengan cepat, Neysa yang sejak tadi sedih langsung memeluk neneknya.
“Nenek tahu perasaanmu. Tapi apapun itu, kamu harus tetap menjalani hidupmu tanpa Exel,” pinta Mira.
“Iya, Nek. Tapi berat, Nek. Aku udah terbiasa dengan sapaan Exel, dengan canda tawanya, dengan perhatiannya, dan semua tentangnya,” ungkap Neysa, merengek.
“Nenek tahu, Ney. Nggak mudah melakukan itu.”
Mira memeluk cucuknya dengan penuh kasih sayang. Dia tidak menyangka kalau kejadian ini akan terjadi. Apalagi lusa adalah acara pernikahan cucunya. Undangan juga sudah tersebar.
“Ney, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Di menunggu di luar,” ujar Mira.
“Siapa, Nek?”
“Dia sahabat baik Nenek. Kita temuin dia ya.”
Mira dan Neysa melangkah ke ruang tamu menemuai wanita tua yang ingin berbicara dengan Neysa. Sesampainya di ruang tamu, wanita itu menyambut Neysa dengan penuh senyum dan kebahagiaan.
“Cucumu sangat cantik, Mira. Dia sangat cocok jadi istri cucuku,” sahut wanita bernama Zainab.
Neysa terkejut dengan kalimat itu.
“Apa maksudnya, Nek?”
Nenek Zainab mengajaknya duduk. Lalu memandang Neysa dengan penuh harapan. Dia bisa melihat kesabaran dan ketulusan di dalam diri Neysa.
“Neysa, nenek momohon sama kamu. Nenek ingin kamu menikah dengan cucu nenek. Dia bernama Alby. Nenek udah mendengar apa yang terjadi denganmu. Sejak lama, nenek udah kenal sama kamu. Hanya kamu yang pantas mendampingi Alby. Nenek mohon, menikahlah dengan cucu nenek,” pinta nenek Zainab.
Sejenak Neysa bingung harus menjawab apa. Apalagi permintaan itu datang dari wanita tua di depannya. Dia bisa melihat ada harapan yang mendalam di dalam mata itu.
Mira memandang cucunya, dan mengangguk seolah memberi isyarat kepada Neysa untuk menerima permintaan dari Zainab.
Tatapan sang nenek berbeda dari sebelumnya. Neysa melihat sebuah harapan besar di dalam mata kedua wanita dua itu.
“Maafin nenek ya. Nenek rasa inilah waktunya, Neysa. Nenek harap kamu menerimanya, Ney,” pinta Mira. “Nenek mohon,” pintanya memelas.
Neysa tidak bisa melihat neneknya memohon seperti itu. Dia merasa bersalah karena membuat neneknya harus melakukan hal semacam itu.
“Nenek, aku sayang banget sama nenek. Bagaimana mungkin aku membiarkan nenek menangis dan bersedih. Kalau emang itu pilihan nenek yang terbaik. Aku menerimanya, Nek,” ungkap Neysa tersenyum tipis.
Mira langsung memeluk cucunya. Tidak ada tujuan lain menikahkan Neysa dengan cucunya Zainab. Dia hanya ingin hidup Neysa lebih baik dari sekarang.
“Makasih, Neysa. Makasih udah memenuhi permintaan nenek,” ucap Zainab dan memeluk Neysa juga.
Dua hari berlalu, Neysa tetap menikah di hari pernikahan yang telah ditentukan. Namun, mempelai prianya berbeda. Tidak pernah terbesit di benak Neysa kalau akan menikah dengan pria selain Exel.
Anehnya lagi, dia menikah dengan pria menyebalkan yang dua kali membuatnya naik darah. Seolah takdir telah merencanakan ini semua. Pria itulah yang harus menjadi suaminya.
“Andai lo masih ada, sayang. Gue pasti nikah sama lo. Dan gue nggak tahu, apa gue bisa melupakan semua tentang lo atau nggak,” ucap Neysa, dalam hati. Lima detik setelah ijab kabul selesai.
Mira yang menyadari kesedihan cucunya ikut memberinya semangat. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan Neysa sekarang. Dia tahu kalau Neysa menerima pernikahan itu bukan karena menyukai pria itu, tapi karena tidak ingin membuatnya sedih.
Wanita tua itu menatap wajah cucunya yang memandang ke arahnya, seolah memberi isyarat supaya Neysa tak boleh bersedih.
Nenek Zainab juga ikut memberikan selamat kepada cucunya yang bernama Alby Delano Prabu dan Neysa. Dia tampak senang sekali karena berhasil menikahkan Alby dengan wanita yang dia inginkan.
Bahkan setelah ini, Neysa akan menetap di rumah mereka. Karena itulah tradisi yang ada di keluarga Prabu. Semua menantu harus berada di dalam rumah besar itu.
“Jadilah suami terbaik dan bijak bagi Neysa,” anjur nenek Zainab memandang cucunya. Dia tahu bagaimana watak cucunya selama ini. Sehingga, ia perlu memperingatinya setiap waktu.
Berbeda dengan kedua orang tua Alby. Tampaknya mereka tidak pernah menyukai kehadiran Neysa dalam keluarganya. Bukan hanya mereka, akan tetapi adik Alby juga keluarga yang tidak setuju dengan keputusan nenek Zainab.
Setelah acara prosesi akad nikah berjalan dengan lancar. Neysa dan Alby pun resmi menjadi pasangan suami-istri hari ini.
Kedua tentu tidak bahagia dengan pernikahan itu, karena terdapat unsur paksa dan tidak saling mencintai. Namun, di depan keluarga besar, mereka seolah memakai topeng untuk menyenangkan hati nenek mereka masing-masing.
Kini Alby dan Neysa melangkah menuju pelaminan diiringi oleh keluarga dan sahabatnya serta alunan lagu “Beautiful in white” terus mengiringi langkah mereka.
Mereka melangkah melewati para tamu undangan yang sudah hadir sejak tadi. Rekan-rekan kantor dan teman-teman alumni serta kerabat hadir. Mereka seperti raja dan ratu sehari.
Sesampainya di pelaminan, mereka berdiri di depan para tamu undangan dengan penuh kebahagiaan.
Neysa tidak bisa berbohong dengan segala hal yang dia rasakan saat ini. Siapa yang tidak akan sedih, di hari bahagianya ini ia seharusnya berdampingan dengan Exel, malah dengan pria menyebalkan yang sama sekali tidak dia cintai.
“Lo baik-baik aja, kan?” tanya Alby berbisik pelan. “Nggak usah cengeng, senyum aja.”
“Bukan urusan lo,” ketus Neysa.
“Tapi gue nggak mau mereka menilai kita buruk. Paham!”
Neysa muak dengan semua perintah suaminya. Dua berharap acara ini segera selesai karena ia ingin menangis sepuasnya di kamar.
Semua tamu undangan sudah memberi selamat. Tidak lama kemudian, terlihat seorang wanita yang dengan pakaian mewah dengan tatapan tajam mengarah ke mata Neysa.
Wanita itu tiba di depan Neysa, dan tersenyum sinis. Dia langsung memeluk Neysa dengan begitu akrab.
“Gue akan membuat lo menyesal telah merebut Alby dari gue,” bisiknya.
Deg!
***
Anda Mungkin Juga Suka





