Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Istri CE0

Pesona Istri CE0

Neysa Ayudia tumbuh besar hanya dengan kasih sayang neneknya setelah ditelantarkan orang tuanya. Hidupnya berubah saat ia dipaksa menikahi Alby Delano Prabu, CEO pewaris Prabu Group, demi memenuhi wasiat sahabat neneknya. Meski Alby berusaha keras menggagalkan perjodohan ini, pernikahan tetap digelar. Neysa harus menghadapi kenyataan pahit saat suami dan keluarga besarnya justru membencinya. Mampukah Neysa bertahan dan memenangkan hati keluarga Prabu?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Ya ampun, mampus gue!"

Kepanikan terlihat di wajah cantik wanita berusia dua puluh satu tahun bernama Neysa Ayunda. Dia akan menghadapi ujian pagi ini. Kalau telat, dia harus mengulang sendirian. Wanita berbola mata cokelat itu baru saja memakai pakaiannya. Penampilan sedikit berubah, tidak seperti biasanya.

Dia tidak lagi memakai kemeja dengan kaos di dalamnya. Penampilan Neysa sekarang terlihat sedikit lebih feminim dari sebelumnya, memakai jeans dan baju wanita sewajarnya. Wajahnya sudah sedikit diberi make up dan lipbalm untuk menambah kesegaran bibirnya.

Langkah kakinya terayun menuju meja makan. Wanita tua yang satu-satunya dia miliki di dunia ini telah menunggu kehadirannya.

“Maaf ya, pagi ini kita sarapan apa adanya. Dagangan nenek kemarin lakunya sedikit, jadi kita nggak bisa...”

“Iya, Nek. Nggak apa-apa. Apapun yang Nenek masak untukku, adalah menu terenak yang aku sukai. Jadi, nenek nggak perlu merasa bersalah ya,” ujar Neysa, mengembangkan senyumnya.

“Syukurlah, kamu memang cucu nenek yang paling baik.”

“Selalu dan selamanya, Nek,” ucap Neysa, seraya memeluk neneknya.

Setelah itu, dia mengambil posisi di depan neneknya. Lalu mereka menikmati sarapan yang apa adanya tersebut. Neysa menghabiskan sarapannya dengan cepat, karena dia harus segera ke kampus. Dia meneguk teh hangatnya dan berniat untuk beranjak.

“Neysa, kamu sehat, kan?” tanya sang Nenek.

“Emangnya kenapa, Nek?”

“Penampilanmu lucu,” ledek Mira.

Sebenarnya Mira lebih senang penampilan Neysa yang sekarang. Namun, karena ia baru melihatnya, sehingga ia merasa lucu melihat cucunya tampil feminim.

“Ih! Nenek apaan sih. Ngeledek deh,” keluh Neysa, tampak malu.

“Nggak jelek kok. Malah ini penampilanmu yang paling cantik. Kalau kayak gini, baru cewek namanya,” sahut Mira yang terlihat senang dengan perubahan cucunya. “Pasti karena Exel, kan?”

“Nggak karena siapa-siapa kok, Nek,” dalih Neysa. Dia mengembangkan senyumnya. “Exel itu baik, Nek. Aku berpenampilan gimana pun, dia tetap akan sayang aku, Nek,” sambungnya terkekeh.

“Masa sih,” ledek sang nenek lagi.

“Ihh, Nenek reseh deh. Udah ya, aku berangkat dulu.”

Wanita cantik itu lalu mengecup punggung tangan neneknya sebelum beranjak. Dia melangkah penuh semangat menuju motor matik pink kesayangannya.

Sebelum ia melajukan motor dan meninggalkan kediamannya. Lagu selow, turut menghiasi paginya seraya menikmati macetnya kota Jakarta pagi ini.

Imajinasinya pun melayang. Dia membayangkan jika kelak akan memakai gaun berwarna putih di acara pernikahannya, sangat romantis. Lalu diringi lagu “Beautiful in White” seperti yang dia impikan selama ini.

“Uhh, aku nggak sabar ingin menjadi nyonya Exel,” ucap Neysa.

Dia menyalakan motor, dan menarik gasnya dengan santai. Dia tidak ingin buru-buru mengemudi motornya, dan memilih menikmati setiap detik waktunya hingga tiba di kampus.

Di tengah perjalanan, sebuah mobil menabrak genangan air sisa hujan kemarin. Hingga membuat pakaian Neysa basah dan kotor. Emosinya meluap, langsung mengejar mobil sedan merah tersebut.

Sesampainya di depan sedan merah itu, dia menghentikan motornya di depan mobil yang tengah melaju itu. Dengan cepat mobil itu berhenti mendadak.

“Woy, bosan idup lo?” teriak seorang pria yang mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil.

Neysa tampak kesal, lalu melepas helmnya. Dia ingin membuat perhitungan dengan pria itu. Lalu menghampiri pemilik mobil itu dengan penuh amarah. Tanpa diduga, pemilik mobil juga keluar dari mobilnya.

“Napa lo? Mau marah?” tanya pria asing itu.

“Mobilmu udah membuat pakaianku kotor, ngerti!”

“Iya udah, marah aja sama mobilnya. Silakan!” seru pria itu dengan ekspresi yang menyebalkan.

Neysa benar-benar kesal dengan sikap pria di depannya. Bukannya minta maaf, malah memamerkan wajah yang menyebalkan.

“Kenapa? Lo nggak tahu caranya marah sama mobil?” ejek pria itu.

Neysa merasa buang waktu berada di tempat itu. Dia langsung menendang tulang kaki pria itu, hingga membuatnya menjerit.

“Mampus lo,” ujar Neysa, dan bergegas naik ke motornya.

“Woy, tunggu lo. Arghhh, sakit!” jerit pria itu.

Neysa tidak peduli dengan keadaan itu. Dia memilih meninggalkan pria tak tahu diri itu. Sepanjang perjalanan, dia menggerutu dan mengumpat-umpat pria sombong itu.

***

Neysa baru saja membuka ponselnya ketika tiba di parkiran kampus. Dia membaca pesan dari sang kekasih tercinta. Lantas bibirnya membentuk senyuman setelah tiga kalimat itu ia baca.

Segera ia membalasnya dengan perasaan bahagia. Jangan tanya sebahagia apa Neysa hari ini, tidak bisa dideskripsikan dengan apapun, sangat bahagia.

“Thanks ya! Gue seneng lo selalu menyapa pagi gue dengan kata-kata manis lo.”

Neysa membalas pesan kekasihnya. Ketika selesai mengetik pesan tersebut, dia lalu turun dari motornya dan melangkah menuju lobi fakultas. Tanpa diduga dua sahabatnya sudah menunggu Neysa.

“Ney, Wait! Wait!” panggil Linda.

Neysa pun berhenti melangkah. Dia menduga ada hal yang ingin disampaikan oleh sahabatnya. Tentu saja ratusan pertanyaan sudah siap dia terima dari dua sahabat yang super kepo ini.

“Cieee, yang udah nggak LDR lagi,” ejek Serly.

“Hemmmm! Katanya bosen LDR mulu,” ledek Linda lagi. “Sekarang udah enak dong endehoy-nya,” ledeknya lagi.

“Kalian apaan sih, pagi-pagi ghibahin orang aja. Exel juga lagi bahagia, kalian omongin. Entar dia gigit lidah sendiri, gimana?”

“Ah lebay lo. Percaya aja sama mitos,” kekeh Linda.

“Iya nih. Udah nggak ngaruh di zaman sekarang,” sambung Serly.

Mereka pun bergegas menuju kelas, karena akan ada mata kuliah semester bawah yang harus mereka ulang.

Namun tanpa diduga, di perjalanan mereka bertemu dengan Exel yang baru saja keluar dari ruangannya. Linda dan Serly pun memahami keadaan itu, dan bergegas meninggalkan Neysa sendirian.

“Kalian memang sahabat yang peka. Tahu aja kalo gue lagi ingin berdua sama calon suami,” gumam Neysa, dalam hati seraya mengedipkan mata melihat dua sahabatnya yang naik ke lantai dua.

Exel yang menyadari kehadiran Neysa. Langsung menghampiri wanita itu dengan senyum hangat terlukis di wajahnya. Jantung Neysa berdegup kencang menyambut calon suaminya yang super tampan itu.

“Ada kelas?” tanya Exel canggung. Padahal sudah 7 tahun hubungan percintaan mereka sejak SMA.

“He-em,” jawab Neysa, dengan sedikit gugup.

“Semangat ya. Kali ini lo harus lulus. Jangan ngulang lagi,” ujar Exel, bernada ejekan ke kekasihnya karena tidak lulus di semester sebelumnya.

Pria tampan itu lalu tersenyum lagi, dan mengacak-acak poni wanita cantik di depannya. Neysa mengembangkan senyumnya mendapatkan perlakukan manis itu.

“Lo tahu nggak?” tanya Exel dengan sorot mata yang menyenangkan.

“Apa?”

“Tiap kali lo senyum, gue merasa jadi manusia paling beruntung di dunia. Tolong, jangan pernah sedih di hadapan gue ya. Lo harus janji sama gue. Apapun yang lo hadapi, lo harus tetap bahagia sama gue,” pinta Exel.

Neysa hanya tersenyum mengangguk, ia berharap demikian sekalipun ia tidak pernah tahu bagaimana keadaannya nanti. Dia cuma bisa pasrah dan berusaha mempercayai janji yang pernah Exel ucapkan di depan sunset di kota Amsterdam kala itu.

Beberapa jam berlalu, Neysa yang tengah bersenda gurau bersama dua sahabatnya, tiba-tiba terhenti ketika suara ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor calon suaminya.

“Halo, sayang...”

“Maaf, Anda keluarganya?” potong seseorang yang Neysa tidak kenal. “Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan maut!”

Deg!

Degup jantungnya seolah berdetak dengan cepat mendapat kabar buruk itu. Dia seperti mimpi di siang bolong.

“Exel, ini nggak benar. Ini hanya mimpi,” gumam Neysa mencoba memukul-mukul pipinya pelan. Hanya untuk memastikan kalau berita yang barusan dia dengar hanyalah sebuah mimpi.

Namun, ia merasakan perih di pipinya, yang menandakan kalau semua ini bukanlah mimpi. Kedua sahabatnya tampak bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Neysa. Lalu Linda menyentuh bahu wanita itu, memastikan kalau wanita itu baik-baik saja.

“Ada apa, Ney? Apa yang terjadi?” tanya Linda, penasaran.

Neysa tidak menjawab pertanyaan itu. Dia langsung bangkit meninggalkan dua sahabat. Tentu saja Linda dan Serly langsung mengikuti Neysa yang melenggang pergi.

“Ney, ada apa dengan Exel?” tanya Serly.

“Dia kecelakaan, Ser,” jawab Neysa, sebelum menyalakan motornya.

Linda yang peka, langsung mengajak sahabatnya naik mobil bersamanya. Serly juga ikut dengan mereka.

Keduanya sangat sedih melihat Neysa yang menangis sepanjang perjalanan. Padahal ini merupakan bulan pertama yang Neysa dan Exel lewati semenjak Exel kembali dari Prancis.

“Semoga Exel nggak kenapa-napa ya. Lo tetap berdoa ya. Gue nggak mau lo mikir yang nggak-nggak sekarang,” pinta Linda seraya fokus menyetir.

Bukannya tenang. Neysa malah menangis dengan kencang. Tampaknya wanita itu tidak mampu lagi menangan kesedihan dan ketakutannya kalau sampai terjadi sesuatu dengan calon suaminya.

“Neysa, everything will be okay,” ucap Serly mencoba menenangkan sahabatnya.

Neysa malah terus menangis dengan keras.

“Bagaimana bisa gue nggak khawatir. Satu minggu lagi gue dan Exel mau nikah. Undangan udah tersebar. Dan kalau sampai Exel kenapa-napa, bagaimana nasib pernikahan kami,” lirih Neysa.

Kedua sahabatnya sangat memahami keadaan yang dihadapi oleh Neysa. Bukan situasi yang baik-baik saja sekarang. Apalagi waktu pernikahan sudah mepet sekali.

Di tengah perjalanan, Neysa menghubungi orang tua Exel yang ada di Bandung. Dia benar-benar rapuh dengan situasi itu.

Sesampainya di rumah sakit, Neysa bergegas menuju UGD tempat Exel berada. Dua sahabatnya mengekor dari belakang dengan langkah yang sangat cepat.

Karena tidak memperhatikan arah langkahnya, Neysa bertabrakan dengan seorang pria berjas hitam yang juga sedang buru-buru.

“Shit! Pake mata kalau jalan,” teriak pria itu.

Neysa tidak peduli, terus melangkah melewati pria itu.

“Jangan kabur lo!” seru pria itu menarik tangan Neysa, hingga membuat wanita itu terjatuh di lantai.

“Seenaknya udah nabrak, malah pergi-pergi aja. Minta maaf sama gue. SEKARANG!” titah pria itu.

Neysa merasa kesal, ketika melihat pria yang sama yang menabrak genangan air yang membuat pakaiannya kotor. Dua kali pria itu membuat masalah dengannya.

Serly dan Linda membantu sahabatnya bangkit. Lalu Neysa melangkah ke arah pria itu.

Plakk!

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANTARA BISNIS DAN CINTA
9.4
Pasca kematian ayahnya, Jessica Marie Armantyo harus memimpin PT Gembira Raya karena Arnold, kakaknya, terjerat judi. Masalah memuncak saat Joshua Danujaya merebut posisi pemegang saham mayoritas lewat utang Arnold. Jessica yang skeptis terpaksa bekerja sama dengan Joshua yang ambisius. Di sisi lain, hubungan sepuluh tahun Jessica dan Alan kandas karena karier YouTube Alan. Di tengah patah hati, pesona Joshua mulai menggoyahkan kebencian Jessica. Akankah cinta bersemi dari persaingan bisnis ini?
Sampul Novel Kesempatan Keduaku, Penyesalannya
8.7
Wasiat mendiang ayah mengharuskan Alya menikahi anggota keluarga Adhitama saat ia berusia 22 tahun. Dulu, ia mencintai Bima meski pria itu kejam, berselingkuh dengan Jelita, bahkan tega meracuninya hingga tewas setelah menikah. Namun, keajaiban membawanya kembali ke masa lalu tepat di hari ulang tahunnya. Kini, Alya terbangun dengan ingatan pahit tentang pengkhianatan Bima. Ia bertekad mengubah takdir dan tidak akan memilih pria yang sama lagi.
Sampul Novel Lelaki Kedua
9.5
Dunia Arimbi Maulida hancur saat Nina, sepupunya, mengungkap pernikahan rahasia dengan Seno, tunangan Arimbi. Pengkhianatan ini terungkap tepat sebelum hari besar mereka akibat kehamilan Nina. Demi menutupi aib keluarga, ayah Arimbi menuntut Ganesha, kakak Seno yang dingin dan gila kerja, untuk menggantikan posisi mempelai pria. Meski Arimbi takut dan membenci Ganesha, ia terpaksa menikah. Kini, ia terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta sementara Seno mencoba mengejarnya kembali.
Sampul Novel Mrs Bodyguard
8.7
Kendra, pewaris otomotif Tanaka yang manja dan rupawan, nyaris tewas akibat gaya hidup bebasnya. Demi keamanannya, sang ayah menyewa Drupadi, mantan anak asuh mafia yang dingin, sebagai pengawal pribadi. Menyamar jadi pria, Dru harus melindungi Kendra yang kerap kesal namun mulai bergantung padanya. Meski terpaut usia empat tahun dan terikat sumpah profesional untuk tidak jatuh cinta, benih asmara mulai tumbuh di antara pengawal tangguh dan majikan manis ini.
Sampul Novel Partner Satu Malam Jadi Istri Kontrak
8.0
Dahulu bintang ice skating, masa depan Alessa hancur saat sang ayah menjualnya pada pria misterius demi melunasi utang judi. Usai malam itu, Alessa hamil lalu diusir keluarga hingga mengalami keguguran akibat jebakan wanita licik. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali untuk membalas dendam pada Jovian Arsenio Heide, pria dari masa lalunya. Namun, Jovian justru menawarinya pernikahan kontrak. Di tengah kasih sayang Jovian, Alessa harus menghadapi kekejaman ibu mertua dan obsesi wanita lain.
Sampul Novel Patah Hati, Pengkhianatan, dan Balas Dendam Miliaran Dolar
8.7
Setelah perjuangan bayi tabung yang berat, pengkhianatan Hardian terungkap lewat video mesra dan pencurian dana perusahaan. Di pesta kantor, selingkuhannya, Celine, mengaku hamil hingga memicu insiden yang membuatku keguguran. Hardian justru mengabaikan penderitaanku demi Celine. Di tengah kehancuran, rival bisnisku, Baskara Prayoga, datang menyelamatkan. Kini, kami menjalin aliansi rahasia untuk merebut kembali segalanya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatiku.