Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel PESONA IBLIS MAFIA KEJAM

PESONA IBLIS MAFIA KEJAM

Meskipun berusaha keras menjauh dari dunia kriminal dengan melarikan diri dari sang ayah, darah mafia tetap mengalir deras di nadinya. Pria ini dikenal sangat dingin dan kejam, memiliki rupa menawan layaknya iblis Lucifer dengan gerak-gerik yang mematikan. Namun, watak keras dan berbahaya tersebut justru menjadi daya tarik yang tak tertahankan bagi para wanita serta orang-orang di sekelilingnya, menciptakan pesona gelap yang sangat memikat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Reiji tak menyahut. Setelah sampai di basement ia mengambil sebuah remot kontrol dari saku celananya. Reiji mengarahkan remot itu ke dinding di sebelah kanan, sebidang tembok dari dinding itu berputar otomatis, menciptakan dua celah masuk ke dalam ruangan rahasia di sana.

Jika sebidang tembok tadi tertutup, maka sama sekali tak akan tampak ada ruangan dibaliknya. Tempat persembunyian paling aman yang pernah Jeff lihat.

Reiji melangkah cepat ke dalam, membaringkan tubuh Kiara dengan hati-hati di atas ranjang, agar putri kecilnya itu tak terbangun. Jeff terus membuntuti di belakang Reiji. Jeff terenyuh melihat Reiji mencium kening Kiara dengan netra berkabut. Jeff mulai menduga kalau situasinya tidaklah semudah yang ia kira.

Reiji berbalik dan memegang bahu Jeff dengan sedikit kuat. "Tolong, ikuti perkataanku. Temani Kiara, jangan pernah bawa dia keluar dari ruangan ini sampai suasana benar-benar aman. Aku dan Moana akan mencari kalian nanti, kami pasti kembali. Untuk sementara aku percayakan putriku padamu, kalian akan aman di dalam bunker ini. Aku harus segera kembali kepada Moana." Netra Reiji memerah, bibirnya nyaris bergetar, tapi ia berusaha terlihat tenang. Buru-buru ia menyusupkan remot kontrol pintu ke dalam genggaman Jeff.

"Baik, Rei-sama." Jeff menghormat ala Jepang atau ojigi kepada Reiji, dengan menunduk dan kedua tangan menempel di samping paha.

"Arigato, Jeffrey-kun." Reiji membalas dengan gerakan ojigi yang sama. Kemudian ia berbalik dan berlari cepat meninggalkan Jeff bersama Kiara. Suara tembakan semakin keras terdengar. Jeff mengarahkan remot kontrol ke tembok, pintu tembok itu pun tertutup otomatis.

Reiji berlari di antara desingan peluru musuh yang tak beraturan, ia sesekali menunduk sembari mengkhawatirkan Moana yang kini tengah bertempur sendirian.

"Moa, aktiffkan semua fitur keamanan! Mereka terlalu banyak," pekik Reiji sembari menghunus machine gun M249 kesayangannya.

"Semua fitur sudah siap, bahkan sistem grenade launcher sudah melontarkan lima buah granat. Dalam pantauanku, sekitar limapuluh musuh telah tewas. Namun, jumlah mereka tiga kali lipat dari itu. Rei, kenakan alat komunikasi nirkabelmu," kicau Moana, sembari memasangkan sebuah helm ringan yang dilengkapi sistem komunikasi nirkabel di kepala Reiji Fujiwara. Reiji tengah menyusupkan moncong machine gun melalui sebuah lubang pada tembok yang memang didesain untuk itu.

Dor dor dor dor dor dor....!!

Machine gun di tangan Reiji mulai memuntahkan puluhan peluru tanpa henti, diikuti oleh teriakan kesakitan dan tubuh berjatuhan di luar rumah. Tampak musuh sangat berhasrat untuk mendekat dan masuk ke dalam rumah.

"Kita harus tetap dalam mode bertahan sambil sesekali menyerang, sampai bala bantuan tiba. Kita tidak boleh gegabah, karena ini menyangkut keselamatan Kiara," tegas Moana. Tangannya tetap di atas panel kendali sistem keamanan. Ia tengah memilih beberapa titik untuk melontarkan lagi beberapa buah granat yang tersisa.

Sementara itu, Kevin The Baracuda menyeringai sadis di dalam supercar-nya. Ia menyentuh alat komunikasi nirkabel, lebih mendekatkan lagi benda itu ke bibirnya "Habisi semua yang ada di dalam rumah itu, jangan tinggalkan jejak kehidupan sedikitpun! Nyawa harus dibayar dengan nyawa!" perintahnya.

Kevin The Baracuda tak bisa melupakan bagaimana Reiji dan Moana menghabisi nyawa Edward The Baracuda, saudara bungsunya, dalam satu tebasan samurai. Peristiwa itu sudah sangat lama, saat Moana dan Reiji berstatus sebatas partner kerja, sekitar sebelas tahun yang lalu. Namun dendam Kevin, tak berujung!

"Bos, rumah ini memiliki sistem keamanan yang sangat canggih. Dilengkapi dengan fitur-fitur teknologi tempur militer terkini. Kita sudah kehilangan enam puluh lima persen personil," lapor salah seorang anak buah Kevin dari alat komunikasi.

"Sial!! Kami, The Baracudas, sudah merencanakan ini selama bertahun - tahun, ini tak akan gagal begitu saja. Aktifkan serangan udara sebelum lebih banyak lagi personilku yang mati! Aktifkan sekarang juga!!" teriak Kevin tak sabar.

"Baik, Bos," sahut suara di seberang.

Adapun Jeffrey Tanaka yang berada di dalam bunker persembunyian, mencoba mempelajari situasi di sekelilingnya. Manik mata hijau yang selalu tampak dingin dan misterius itu memindai seluruh isi bunker. Pandangannya berhenti pada sebuah monitor lebar yang tergantung di tembok, dengan penyangga sebuah brankar besar. Jeff segera bangkit mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk menghidupkan benda itu. Sebuah remot kontrol tentunya!

BUUUMM!!!

BUUMMM!!

DUAAARRRR!!

Dua dentuman dan sebuah ledakan keras menusuk indera pendengaran Jeff, membuat bunker langsung bergetar, benda-benda di dalamnyapun tampak bergoyang, termasuk kaki Jeff, sehingga Jeff semakin gelisah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di luar.

Tak lama berselang, Jeff akhirnya menemukan remot kontrol yang ia cari tengah teronggok bisu di dalam laci kabinet, tepat di bawah sebuah panel kontrol. Di atas panel kontrrol itu sendiri ada sebuah keyboard dengan begitu banyak tombol. Pastinya setiap tombol memiliki fungsi-fungsi tertentu. 'Akan kupelajari satu-persatu." Jeff membatin.

Jeff menyalakan monitor, ia terkesiap dan ternganga melihat tampilan video pada layar monitor. Rumah di atas bunker telah hancur lebur di beberapa bagian, di halaman depan tampak pula sebuah helikopter sedang terbakar, sepertinya baru saja ditembak jatuh.

"Kakak, mengapa kita berada di sini?" Kiara yang terbangun karena suara dentuman,  langsung menghampiri Jeff. Dengan refleks Jeff menggerakkan mouse di tangannya, sehingga tampilan pada layar monitor berubah. Jeff bermaksud agar Kiara tak melihat keadaan rumahnya. Yang tampak kini adalah para pria bengis berseragam ala tentara yang berusaha merangsek masuk ke dalam rumah.

"Siapa orang-orang itu, Jeffrey-san? Mereka terlihat menyeramkan seperti di film-film yang pernah aku tonton," desis Kiara mulai curiga. Reiji dan Moana pernah memperkenalkan bunker ini kepadanya, otak cerdasnya mulai berpikir, 'mungkinkah keadaan di luar sedang berbahaya, sehingga ia harus berada di dalam bunker?' Kiara masih menyimpan pertanyaan itu di dalam hati.

Jeff terdiam, masih memikirkan jawaban yang tepat untuk Kiara, tapi otaknya masih buntu.

"Kakak, di mana Ayah dan Ibuku? Mengapa mereka tak ikut masuk ke dalam bunker?" tanya Kiara lagi dengan rasa keingintahuan yang besar.

"Mmmm..., eeee...., kita dalam mode simulasi, semua yang telihat dalam layar monitor ini hanyalah simulasi. Mereka berperan sebagai penjahat, sementara Ayah dan Ibumu, juga aku, berperan sebagai pelindung Princess Kiara. Sekarang kamu adalah Princess Kiara. Duduklah yang manis, Kakak akan putarkan film animasi favoritmu." Akhirnya Jeff menemukan alasan yang tepat untuk Kiara. Kalimat-kalimat itu tercetus begitu saja di kepalanya pada saat-saat yang mendesak.

"Wah, benarkah? Nah, iya, itu film animasi favoritku," pekik Kiara girang, begitu Jeff mengganti tampilan video pada layar monitor dengan film animasi kesukaan Kiara.

"Oh iya, Yang Mulia Princess Kiara, apakah di istana ini memiliki sebuah tempat penyimpanan senjata?" selidik Jeff. Ia percaya Kiara pasti mengetahui banyak rahasia jika Rei dan Moana pernah memperkenalkan bunker ini padanya.

"Senjata...? Mmm..., Ayah bilang di loker 017 ada tombol, tekan tombol itu maka pintu bilik senjata akan terbuka otomatis," jawab Kiara tanpa menoleh ke arah Jeff, ia asyik dengan tontonannya dan tak ingin di ganggu.

Jeff bergegas menuju lemari loker yang berada di ruang pertama bunker, kemudian ia mengikuti arahan Kiara.

TREEEEEEEEEET.

Pintu bilik penyimpanan senjata terbuka secara otomatis. Jeff tak habis pikir mengenai apa sebenarnya profesi Reiji dan Moana,  sehingga mereka bisa memiliki semua ini.

Sebagian besar senjata yang terpajang pernah Jeff pelajari dan gunakan. Usianya memang masih empat belas tahun jalan, tapi secara fisik ia tampak sangat kokoh dan matang. Semua berkat latihan keras yang didapatkannya dari Ayumi Tanaka sang ibu, Alex Rodriguez sang ayah, dan Diego Rodriguez, pamannya. Mereka membuat Jeff terampil dalam menggunakan hampir semua jenis senjata.

Jeff meraih sebuah senjata api laras panjang, lalu melingkarkan tali senjata itu ke tubuhnya. Kemudian ia mengambil satu pistol revolver dan beberapa pisau kecil super tajam. Ia melakukan tes kelayakan singkat terhadap senjata-senjata itu terlebih dahulu, barulah kemudian ia menghampiri Kiara.

"Princess Kiara, Jendral Jeffrey akan bertempur menghadapi musuh, harap Yang Mulia tetap menonton film Frozen 2 hingga usai," ujar Jeff, berpamitan kepada Kiara.Ia merasa tak bisa berdiam diri setelah melihat kondisi di luar tadi. Dengan terpaksa ia harus melanggar perintah Reiji, sebab ia pikir Reiji dan Moana kemungkinan besar dalam keadaan terdesak, karena jumlah musuh yang sangat banyak.

"Silakan Tuan Jendral Jeffrey, aku menunggumu membawa kemenangan," balas Kiara dengan enggan. Ia selalu menikmati film animasi favoritnya ini meskipun ia menontonnya berulang-ulang kali.

Jeff sudah terbiasa berada dalam situasi yang penuh ancaman, tapi kali ini begitu berbeda. Ini adalah untuk yang pertama kalinya ia merasa seseorang telah memiliki hatinya dengan utuh, dan ia ingin melindunginya. Jeff merasakan hal itu itu sejak pertama kali Kiara memanggilnya 'kakak' dengan wajah imut dan suara cadelnya.

"Kiara, kakak pergi," desis Jeff lirih seraya memeluk dan mencium kening gadis kecil itu, seperti yang biasa dilakukan Reiji saat menenangkan Kiara. Jeff terlihat sangat kaku, sementara Kiara hanya tersenyum polos tanpa dosa.

Jeffrey Tanaka keluar dari bunker dengan menghunus senapan laras panjang M16 kaliber 5,56, yang sering digunakan militer Amerika, satu pistol revolver di saku celananya sebagai cadangan, dan sebuah sabuk khusus yang berisi pisau-pisau kecil melilit pinggangnya. Tak ada ketakutan yang tersirat sedikitpun dari mata hazel-hijau miliknya yang indah. Iya, mata itu, sedingin apapun atau sepanas apapun temperatur di dalam hati pemiliknya, mata itu tak pernah kehilangan pesona.

Jeff berjingkat menuju tembok di hadapannya, menempelkan punggungnya di sana, lalu merangsek perlahan-lahan dengan kesiagaan penuh, tujuannya adalah mencari Moana dan Reiji.

#Bersambung

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HQR" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HQR
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Amelia Bangkit, Balas Dendam Dimulai
9.2
Setelah delapan tahun berjuang demi kehamilan, Amelia justru mendapati suaminya, Aditya, berselingkuh dengan Nasywa yang tengah mengandung. Dorongan kasar Aditya mengakibatkan Amelia keguguran dan kehilangan segalanya. Lima tahun berlalu, Amelia bangkit menjadi sosok sukses dan berkuasa. Saat Aditya kembali dalam kondisi hancur untuk memohon pengampunan, Amelia hanya menatapnya dingin. Baginya, wanita lemah yang dulu mencintai suaminya itu telah lama mati.
Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
8.6
Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Sampul Novel BURONAN
9.5
Sammy, mantan perwira militer yang difitnah dan disiksa di penjara, berhasil melarikan diri sebagai buronan Interpol demi mencari adik angkatnya. Untuk bertahan hidup dalam pelarian, ia beralih profesi menjadi pembunuh bayaran yang dingin. Namun, hidupnya berubah saat ia jatuh cinta pada gadis jelita bernama Rheyna. Konflik batin memuncak ketika Sammy menyadari bahwa target pembunuhan berikutnya adalah orang terdekat dari wanita yang sangat ia cintai itu.
Sampul Novel DANCING WITH DESTINY
8.2
Jane Miles adalah dokter andal yang sangat mencintai kehidupan damainya. Namun, kecelakaan tragis di masa lalu membuatnya menderita Amnesia Retrograde, hingga seluruh ingatannya terkunci rapat. Keadaan berubah total saat Rafael Klein muncul dan memaksa masuk ke dunianya. Pria itu mengacaukan segalanya demi satu tujuan: menuntut Jane menerima takdir sebagai pewaris tunggal klan Klein yang berkuasa. Kisah romansa dewasa ini penuh dengan konflik dan rahasia masa lalu.
Sampul Novel Disangka miskin diperantauan
8.4
Sisil dan orang tuanya terus-menerus dikucilkan serta dianggap rendah oleh keluarga besar mereka. Karena dipandang miskin, ia dilarang terlibat dalam urusan keluarga. Tak tahan dihina, Sisil bertekad mengubah nasib dan mengangkat derajat orang tuanya di mata dunia. Ia memulai langkah besar untuk membuktikan kesuksesannya sekaligus membalas rasa sakit hati terhadap mereka yang dulu meremehkannya. Perjuangan Sisil pun dimulai demi sebuah harga diri.
Sampul Novel Gerhana
9.6
Gerhana Putri Alam tak menyangka perselisihannya dengan preman garang bernama Tangguh Langit Ramadhan justru menumbuhkan benih cinta. Meski Tangguh bersikap dingin dan merasa tidak pantas bersanding dengan putri seorang jenderal, Gerhana tetap yakin ada perasaan tulus di balik sikap acuh tersebut. Tangguh bersikeras menepis kenyataan itu, namun Gerhana balik menggoda rahasia sang pria yang diam-diam sering menatap fotonya. Akankah perbedaan status menyatukan mereka?