Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pesona Duda Manja

Pesona Duda Manja

Dikhianati sang istri justru memicu Rizaldi Takki bangkit mandiri. Berbekal kecerdasan teknologi, ia sukses memikat investor global hingga menjadi pengusaha ternama. Namun, saat luka hatinya mulai pulih, Rizaldi terjebak dilema rumit. Mantan istrinya mendadak minta rujuk, sosok wanita baik hati berubah drastis, sementara gadis sederhana justru menolak dinikahi. Di balik kesuksesannya, mampukah sang duda menghadapi kerumitan cinta dan sifat manja dalam dirinya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Jemari kami masih saling menggenggam, aku tak akan mau melepaskan karena hal ini sudah lama tak kami lakukan. Aku selalu senang jika bertemu banyak orang, dengan begitu kemesraan kami akan kembali, dan aku selalu berharap kemesraan itu terbawa sampai kami di rumah.

"Tadi itu, Lina ngeliatin kamu terus. Ada hubungan apa kamu sama dia?"

"Lina siapa?" tanyaku santai, sambil memesan kendaraan online dengan telepon di tangan kanan.

"Anak psikologi, mantan Teguh. Dulu dia kan sempet gangguin hubungan kita."

"Oh,"

"Oh doang! Kamu tuh kebiasaan sok kegantengan, itu yang membuat cewek-cewek kegeeran kalo di deket kamu! Gak perlulah tebar pesona, kamu tuh sudah nikah! Awas aja kalau sampai macem-macem, aku gak akan segan ngancurin hidup kamu!" ucapnya sambil melepas kasar jemariku.

"Kamu jangan ngaco dan gak perlu juga ngancam-ngancam suami! Tebar pesona bagaimana, kamu gak lihat sepatu aku sudah gak layak? Kamu gak liat kerah baju aku sudah rusak? Bahkan saat ini, aku gak tau sudah berapa lama tidak keramas, demi mengirit! Seharusnya kamu yang berkaca," lanjutku sambil menaik turunkan pandangan melihat penampilannya. "Lihat dirimu, setiap kondangan, baju selalu mau baru. Sepatumu beli belum ada dua minggu. Belum lagi makeup yang berlebihan itu, siapa di sini yang layak disebut tebar pesona?"

Kata-kataku keluar begitu saja, ketika logika kesabaran melewati garis batas maksimalku. Aku paling tak suka dicemburui, dan ia sangat tau itu namun tetap saja melakukannya.

Langkah kami terhenti ketika sebuah lamborgini menghampiri, kaca mobil sang pengengemudi turun perlahan. Tampak seorang wanita cantik berkaca mata hitam menyapa ramah. "Zal, jangan berantem di jalan. Bahaya."

"Siapa yang berantem! Inilah bumbu-bumbu rumah tangga, jika tak ada rumah tangga akan terasa hambar. Cup." Lagi-lagi, Ardila mengeluarkan pertunjukannya. Aku cukup senang dengan sikap sepontannya, karna dengan itu aku mampu mengobati rindu kemesraan kami yang dulu. Ingin sekali aku membalas kecupan itu, namun aku yakin dia akan sangat marah seperti  kejadian sebelumnya.

"Zal, aku dengar kau dan papa akan melakukan kerjasama? Aku sudah baca sebagian proposalnya, ide-idemu sangat bagus, trobosan terkeren yang pernah aku pelajari, aku suka!" ucap Rosa semangat, sambil membuka seatbeltnya.

"Sorry, jemputan kita sudah datang. Ngobrolnya dilanjut kapan-kapan, ya ..."

Dan kami langsung menaiki mobil pesananku, mobil online dengan harga fantastis. Dan karena nominalnya, aku harus menggantinya dengan besok berangkat lebih pagi.

"Kalau tadi aku gak stop, sampai kapan kamu akan ngobrol sama dia?"

"Mana aku tau, kan tadi gak sempat terjadi."

"Selalu aja jawabannya begitu. Pokoknya aku gak mau tau! Aku mau, kamu gak usah kontrak kerja dengan orang tuanya Rosa!"

"Kenapa? Ini kesempatan besarku, aku sudah persiapkan semua ini dengan matang."

"Ya pokoknya aku gak mau tau! Kamu kan bisa cari orang lain, gak mesti orang tuanya Rosa!"

"Terus siapa?" tanyaku kesal.

"Ya siapa kek! Kamu usaha dong! Cari yang bener! Jika perlu, cari orang asing. Orang kaya di dunia ini kan banyak, gak mesti ayahnya si Rosa!"

"Gak bisa! Aku akan tetap lanjut. Ini kesempatan besar untukku dan keluarga kecil kita. Kalau kontrak ini lancar aku janji, aku akan langsung belikan kamu berlian." Ia diam sejenak, sepertinya ia sedang mempertimbangkan penawaranku yang menggiurkan.

"Gak usah sok bae. Aku gak mau tau, pokoknya batalin kontraknya! Kalo gak mau batalin, kita cerai!"

DEG

lagi-lagi kalimat itu keluar dari lisannya dengan mudah. Entah sudah berapa kali ia lontarkan kata-kata itu ketika kami ada masalah.

"Aku gak suka dengan suami yang nanti kerjaannya sama wanita lain. Kalau kamu masih melanjutkan kontrak kerja itu, kita cerai! Kali ini aku gak main-main. Besok aku akan ke pengadian dan layangkan gugatan!"

Jahat, jahat sekali ia melakukan itu padaku. Hanya karena rasa cemburunya, ia rela menghancurkan impianku, impian yang di dalamnya selalu ada dirinya.

Aku diam, di dalam kendaraan itu aku terdiam sama sekali tak mengeluarkan suara. Genggaman tangan kami sudah terlepas sejak tadi, aku hanya mampu mengepalkan jemari dengan kuat. Aku kesal dengan cara berfikirnya, aku kesal dengan caranya memandang kehidupan.

Seharusnya dia lebih dewasa, aku melakukan semua ini demi dia. Dia menggantungkan kebahagiaan padaku, aku rela pergi gelap hari dan pulang larut malam demi dia yang sangat kucintai. Tapi lagi-lagi keegoisannya mendominasi dan setiap saat aku harus memahami.

Yang kutau, Ardila istriku tak seperti itu. Dulu ia begitu manis, penurut, baik dan menerimaku apa adanya. Hingga akhirnya, aku memutuskan berhenti kuliah dan lebih fokus bekerja demi menafkahi istriku yang saat itu sedang hamil muda.

Saat itu aku sedang fokus bekerja di salah satu perusahaan games yang sedang naik daun. Istriku menghubungi dan mengabarkan bahwa saat itu ia di rumah sakit mengalami pendarahan hebat. Singkat cerita kami memutuskan untuk melakukan oprasi, karena anak kami tak dapat diselamatkan.

Entah apa yang terjadi pada dirinya, sejak kejadian itu sifatnya benar-benar berubah. Ia bukan lagi Ardila istriku yang dulu, ia mulai menunjukan sifat aslinya. Ia penikmat nikotin berat, dan terkadang ia mengkonsumsi minuman beralkohol dengan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.

Penyesalan masih hinggap dalam diriku hingga kini. Perubahan drastisnya aku fikir karana kehilangan bayi kami, bayi yang sangat kuharapkan untuk mengisi hari-hari kami berdua, namun hilang karena tuhan lebih menyanginya.

Ribuan bahkan jutaan kata maaf aku ucapakan tiap kali melihatnya bersedih dan kesal sendiri. Aku salah, karena membiarkannya sedirian di rumah. Aku salah seharusnya memberinya fasilitas kehamilan yang lebih baik. Aku salah, seharusnya saat itu kuturuti semua keinginannya. Dan akhirnya akupun berusaha memenuhi segala keinginannya, bahkan terkadang di luar logikaku.

Demi memperbaiki hubungan kami, aku rela menjual rumah peninggalan kedua orang tuaku, hanya untuk membeli kendaraan roda empat demi menutupi gengsinya. Aku pun rela tak kuliah, demi membiayai S1nya. Dan akupun rela berhenti kerja, demi meluangkan banyak waktu bersamanya, hingga akhirnya kuputuskan berprofesi sebagai ojek online.

Aku tak pernah merasa diriku benar sendiri, aku yakin setiap masalah pasti kedua belah pihaklah yang salah. Masing-masing dari kami memiliki andil di dalamnya.

Aku tau salahku, aku belum cukup bisa membahagiakannya. Dan saat ini aku sedang berusaha memberi kebahagiaan untuknya. Dengan cara aku kerja lebih giat dan lebih banyak menghasilkan uang. Namun usahaku disalahgunakan, kepulanganku yang terkadang larut malam membuatnya semakin liar dan tak lagi menghiraukan keberadaanku. Kemiskinan yang kami rasakan saat ini selalu ia jadikan alasan.

Segala cara telah kucoba, dari mengajaknya berbicara, merayunya, mengajak jalan-jalan ke tempat yang ia suka, menginap di hotel meski bukan hotel mewah, hingga melarang dan menguncinya rumah, cara itu pun telah aku lakukan. Namun percuma, tak satupun cara menemukan titik terang. Justru terkadang membuat kami bertengkar hebat dan semakin membuat jarak lebih parah.

Dan kini, aku memutuskan untuk pasrah. Pasrah dengan kami tak pernah lagi melakukan hubungan suami istri. Pasrah dengan apa yang ingin ia lakukan, dan berusaha pasrah atas perlakuannya padaku.

Aku masih teramat mencintainya, dan akupun yakin ia masih merasakan hal yang sama. Dari tatapannya aku masih bisa melihat cintanya, dari rasa bangganya di depan teman-temanku aku masih bisa merasakan kasih sayangnya. Hanya karna kemiskinan dan ketidaksabarannya, ia mampu menutupi hati nuraninya sendiri. Itu yang kutau.

Sudah tiga hari kami tak saling bicara, ia akan berbicara hanya ketika meminta uang dan merasa lapar ketika tak ada makanan di rumah.

"Kapan kamu ada uang lagi?"

"Bonus belum keluar, mungkin tanggal 25," jawabku sambil mencuci piring di wastafel.

"Oh, aku order sesuatu. Mungkin akan sampai tanggal 24, nanti kamu yang bayar, ya," ucapnya santai sambil menikmati sarapan pagi yang kubuat.

"Satu juta yang kemarin, sudah habis?"

"Ya udahlah. Itu kan hanya satu juta, cukup apa uang satu juta jaman sekarang? Mulai deh perhitungan, waktu pacaran kamu gak pernah hitung-hitungan, kenapa sekarang jadi perhitungan? Kalau aku tau kamu begini, ogah banget aku nikah sama kamu!"

"Pokoknya, aku gak mau tau. Barang datang, kamu harus ada uang!"

Hanya cukup diam, untuk meladeninya ketika banyak bicara. Yang kutau wanita dalam sehari harus berbicara 20.000 kata, maka dari itu kubiarkan saja ia puas berbicara. Namun inti dari perkataannya tetap kucerna, dan tentu saja mampu membuatku pusing, "cari uang kemana? Huft."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Liar dan terpendam Sang CEO
9.3
Nindy terjebak dalam situasi mencekam saat Devien, sang CEO yang terobsesi, menyatakan ambisinya untuk memilikinya secara paksa. Meski Nindy berteriak histeris meminta pertolongan, upayanya sia-sia karena mereka berada di ruangan kedap suara yang mengisolasi segalanya. Hasrat liar yang selama ini terpendam dalam diri Devien kini meluap sepenuhnya, membuatnya tak terkendali dalam mengejar keinginan nafsunya tanpa memedulikan penolakan dari Nindy.
Sampul Novel Pernikahan Kontrak CEO
9.1
Clara kehilangan pekerjaan dan kekasih secara bersamaan. Dalam keputusasaan di sebuah pesta, ia bertemu Arkan, CEO kaya yang menyelamatkannya saat mabuk. Tak hanya memberi posisi di perusahaannya, Arkan tiba-tiba mengajak Clara melakukan pernikahan kontrak. Namun, pilihan itu justru menyeret Clara ke dalam pusaran masalah rumit. Di balik kemewahan hidup barunya, Arkan menyimpan rahasia masa lalu kelam yang menguji ketahanan Clara sebagai istri kontrak.
Sampul Novel Rivalku, Harapan Satu-Satuku
9.2
Didesak ibu memilih tunangan, aku menolak Alexander Adhitama. Di masa lalu, pengkhianatannya begitu kejam; dia memalsukan kematian demi hidup bersama wanita lain, lalu membiarkan teman-temannya menenggelamkanku. Hanya rival masa kecilku, Darrian Kencana, yang tulus menangisi kepergianku. Kini, setelah terbangun kembali di masa lalu, aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama. Aku memilih Darrian, satu-satunya pria yang benar-benar berduka untukku.
Sampul Novel Sekretaris Cupu Vs Boss Arrogant
8.5
Carla Azannadia, putri seorang asisten rumah tangga, terjebak dalam nasib kelam setelah kecelakaan pesawat merenggut ibunya dan keluarga Barrack. Kini, ia bekerja di Royal Group bukan sekadar menjadi sekretaris, melainkan mata-mata bagi Gerald Barrack Amyts. Di balik kemewahan dunia kelas atas, Gerald justru menjadikan Carla sebagai pion dalam permainan hatinya yang kejam. Mampukah Carla lepas dari jerat sang bos arogan dan menemukan cinta sejatinya?
Sampul Novel Simply, you
9.5
Nadyne berambisi menjadi pengacara perceraian demi membalas dendam pada selingkuhan ayahnya yang merampas harta keluarga. Namun, ia justru terjebak perjodohan dengan Daniel, pewaris kaya raya. Pernikahan tanpa cinta ini terasa hampa karena Daniel masih terikat masa lalu. Saat ibunya wafat, Nadyne menuntut cerai, tapi Daniel menolak demi reputasi. Kini Nadyne memanfaatkan kekayaan Daniel untuk membalas dendam, meski ia malah dijebak dalam skandal perselingkuhan yang mengancam kariernya.
Sampul Novel Suamiku Miskin Tapi Bohong
8.2
Rizky tetap tenang meski dihina oleh keluarga istrinya, terutama Rahayu. Sebagai pewaris tunggal Wiranata Group, ia justru menikmati hinaan tersebut karena merindukan perhatian yang tak didapat dari orang tuanya yang kaku. Meski mencoba membangun hidup mandiri tanpa harta, Rizky terpaksa bertindak saat nyawa orang tuanya terancam. Ia harus mengungkap dalang di balik teror tersebut sambil terus menghadapi tekanan berat dari keluarga sang istri yang merendahkannya.