
PERTAMA UNTUK NAIMA
Bab 3
Albe dan Viran segera menjalankan misi mencari penolongnya. Mobil Viran menjadi trasportasi kali ini karena mobil Albe masih dalam perbaikan.
“Lo naik busway aja bro, enak dari apartemen lo sekali doang.” Viran memberi saran Albe, Albe walau orang kaya namun paling benci jika harus menggunakan taksi, alasannya malas berduaaan dengan cowok. Nah ini dengan Viran bukannya cowok.
“ Aku pertimbangkan, aku malas mendengarkan curhatan pengemudi jika menggunakan taksi," seloroh Albe dengan muka malas, Viran tertawa terbahak.
“Ga usah lo dengerin, pura-pura aja ngorok, pasti diem.”
“Aku tidak pandai berpura pura, tidak seperti kamu.”Albe mencibir kelakuan Viran. Namun sang empunya hanya mendengus.
“Nanti pakai kartu gue, ada banyak tuh,”tunjuk Viran kearah laci dashboard, Albe hanya mengacungkan jempol. Hatinya berdegup tak menentu, tidak sabar bertemu dengan dewi penolongnya.
Tiba di jalan yang di sebutkan bapak ojek, Viran melajukan mobilnya pelan, mencari rumah dengan nomor 80. Hingga sampai ujung jalan dan sudah berganti nama jalan, mereka tidak menemukan angka 80 pada masing masing rumah. Viran memutar balikkan mobil, Kembali mengecek nomor rumah yang tertera. Namun hasilnya tyetap nihil, rumah setan apa Viran membatin
“Ga ada nomor 80, jangan-jangan setan, Al?”ucap Viran berlagak merinding.
“Kalau setan mana mungkin yang melihat banyak. Perawat di dalam ambulan juga bilang yang mengantarkan aku wanita. Wanita Vir, dan kakinya menginjak tanah memakai sepatu,”sungut Albe sebal. Viran tertawa tanpa henti, menikmati wajah kesal teman sekaligus koleganya ini.
“Coba kita turun, kita tanya ibu-ibu yang sedang gibahin tetangga mereka,”usul Viran menunjuk sekelompok ibu-ibu yang sedang mengerumuni tukang siomay. Albe berdecih malas, tapi tetap keluar menemui mereka.
“Selamat siang Ibu … ” Albe menyapa dengan takut-takut. Namun tekad kuatnya mengalahkan ketakutannya.
“Siang Mister bule … waduh ganteng banget ya ... ” seorang ibu dengan daster kebesaran mendekati Albe. Dengan senyum lima jari menghiasi wajah bulatnya.
“Bisa minta foto mister,” sela ibu yang lain Albe hanya meringis sungkan.
“Mister turis kesasar ape?” Seorang ibu bertanya dengan logat Betawinya
“Maaf ibu saya disini mau mencari seorang wanita, Namanya Naima apakah ibu-ibu ada yang mengenal?” tanya Albe ramah. Albe mencoba mempercepat misisnya, tak betah dia belama-lama di sini.
Albe mencoba bersabar, Viran yang berdiri di sisi mobil tertawa hingga menelungkupkan badannya di mobil. Benar-benar teman tidak pengertian, Albe mengumpat dalam hati.
“Sepertinya ga ada mister, mungkin yang rumahnya gedong itu," Si ibu menunjuk rumah bagian depan, Albe menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kok ga nyari saya saja mister,”Ibu dengan dandanan menor mencoba menggapai tangan Albe, Albe berjengit mundur.
“Heh elu ini misternya takut tu, jangan jangan acara prank nyoutuber-nyoutuber!!”seru seorang ibu . Suasana tambah tidak kondusif, Albe segera berlari menjauh, dan masuk mobil dengan cepat. Mengerikan sekali ibu-ibu itu. Albe mengelus dadanya, seumur dia di negeri ini, tak pernah sekalipun berinteraksi dengan masyarakat umum yang agresif seperti mereka.
“Ya ampun bro, lo tu lucu banget ngalahin srimulet ... hahahahaha”Viran terbahak dengan tidak sopannya.
“Kamu sebagai pengacara saya, malah tidak memberikan pertolongan.” hardik Albe terlihat kesal, misi kali ini GAGAL.
“Sabar bro, sorry, jarang-jarang gue lihat komedi langsung,” timpal Viran menghentikan tawa dan mulai melajukan mobilnya, masih dengan kikikan geli.
“Gue anter kemana?" tanya Viran, setelah lumayan jauh dari daerah Hj. Syukur.
“Ke café aja, besok aku meminta Jaka saja yang menemani. Ditemani pengacara malah tidak beres,”keluh Albe masih tidak bisa terima.
“Ok. Maaf bro sebagai gantinya tuh ambil tiket pass naik busway, semua bawa aja,” Albe mengambil kartu dengan logo beberapa bank pemerintah di laci dashboard mobil Viran.
“Kamu jangan lupa kasus yang tadi, cari tahu siapa backingan mereka.”titah Albe. Viran memberi tanda hormat.
Setelah masuk ke café, Albe Kembali merebahkan diri. Badannya belum terlalu fit, tapi rasa penasaran akan perempuan penolong itu membuat ia harus menahan kondisi tubuhnya.
**
Naima menyantap mie ayam di pinggir jalan, setelah dari Café Kita, Naima melanjutkaan mencari lowongan. Ternyata banyak sekali restoran di daerah ini. Dan lebih senangnya lagi dengan busway hanya 1 kali naik saja.
Naima melamar di beberapa tempat, entah yang menjadi rezekinya yang mana. Namun usaha harus tetap maksimal.
Hari sudah mulai sore, setelah menyelesaikan makanannya Naima segera mencari shuttle terdekat. Tak lama bus dengan tujuan kost datang. Naima segera masuk, menempelkan kartu yang sudah dia beli tadi di shuttle pertama tadi pagi dan sudah mengisi lumayan banyak untuk beberapa hari ke depan. Melewati Café Kita Naima memperhatikan. Ternyata tidak jauh juga ada pemberhentian busway, dalam hati Naima berdoa semoga secepatnya di beri kepastian.
Sesosok pria tinggi memakai topi masuk dan menempelkan kartunya, tapi sepertinya tidak berfungsi. Petugas membantu mengecek, ternyata saldo kartunya tidak mencukupi. Ganteng sih masa ga punya uang, Naima memperhatikan. Postur pria itu tinggi besar, wajahnya tampan dengan rambut tipis di sepanjang rahang. Naima seperti mengenali, tapi entahlah. Petugas memberi solusi untuk mengisi manual, sang pria sibuk mencari sesuatu ke semua saku celananya.
"Shit!!" gumaman pria itu terdengar ke telinga Naima. Apakah orang ini kecopetan? Untungnya bus dalam keadaan lengang. Aku menepuk Pundak pria didepanku yang masih kebingungan.
“Silahkan pakai punya saya," tawar Naima menyerahkan kepada petugas dan di terima dengan senang hati.
“Terima kasih, saya baru sekali naik busway. Dompet saya tertinggal di meja kantor,”ucap Pria asing ini terlihat frustasi, suara tegas dan dalam membuat sesuatu dalam perutnya berdesir asing. Saat menoleh kearahnya, wajah tampan dan semakin terpatri di benak Naima terlihat pucat. Naima mengenyahkan. pria itu tersenyum samar dan menatap Naima.
“Tidak apa apa, santai saja," kata Naima, kemabli menyimpan kartu pass pada tas mungilnya. Sang pria duduk di seberang Naima. Menatapnya dengan pandangan terima kasih, Naima hanya tersenyum canggung. Kasihan sekali kalau tidak punya uang.
“Apakah membutuhkan sesuatu lagi?”Naima mencoba bertanya.
“No thanks,” Jawabnya singkat, Naima mengangguk.
Naima turun di 2 shuttle berikutnya. Ia merasa ada yang menatapku saat berdiri, mencoba mengabaikan. Ia segera turun tanpa menyapa pria asing tadi. Jalan menuju kost ternyata rame pada sore hari, banyak pedagang menjajakan dagangannya. Naima segera membersihkan diri dan mengistirahatkan badan. Kakinya pegal setelah berkeliling hampir sepanjang jalan.
Tiga hari berlalu, tapi belum ada satupun panggilan, Naima memutuskan hari ini untuk mencari kelokasi lain.
Berjalan menelusuri trotoar lebar dengan pemandangan gedung tinggi yang menjulang, angin pengap dan panas karena polusi menerbangkan rambut Naima yang ia biarkan terurai. Seperti burung yang lepas dan bebas Naima berpetualang. Menjelajahi setiap sudut kota berharap lebih mengenal kota ini, walau sendiri tanpa ada yang Naima kenal disini.
Naima duduk sambil menikmati minuman yang dia beli, bersantai di bangku di sebuah taman kota. Menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Naima mengeluarkan dari dalam tas mungilnya.
"Assalamu'alaikum, selamat siang." Naima menyapa melihat nomor yang tidak dia kenal, tapi kode area jakarta tertera di depannya.
"Wa'alaikumsalam. Apakah benar ini dengan Kakak Naima Ayundia?" tanya suara merdu di seberang sana, Naima berdehem menetralkan kegugupannya.
"Iya benar kak," jawabnya cepat.
"Baik, Kakak bisa besok bersedia datang ke Cafe Kita pada pukul 8 pagi?" tanya wanita itu lagi.
"Bisa kak bisa," Naima menjawab dengan bersemangat.
"Baik, besok silakan datang dengan kemeja putih dan celana bahan hitam ya kak, sepatu hak maksimal lima centimeter dengan rambut di cepol rapi. Apakah ada yang ditanyakan?"
"Sepertinya sudah cukup jelas kak." kata naima, merekam apa yang wanita di seberang sana katakan.
"Baik, kalau begitu terima kasih atas waktunya. Kami tunggu kedatangannya. Selamat siang."
Rasanya Naima ingin sujud syukur sekarang juga, tapi Naima tersadar dia berada di taman kota. Naima berfikir apa yang tidak dia punya untuk besok? Sepatu dengan hak?
Naima berinisiatif memasuki Mall yang tidak jauh dari taman yang dia datangi, mencari referensi untuk kehadiran besok. Naima mengamati pelayan di bagian footcourt. Model sepatu yang mereka kenakan dan bentuk cepol rambut mereka. Naima terkikik geli. Hidup di desa dan jarang masuk Mall tidak membuat Naima seperti gadis udik. Rasa penasaran yang tinggi dan jiwa pekerja kerasnya melarangnya untuk abai terhadap perkembangan jaman. Walaupun bukan tipe terbaru gawainya cukup untuk menyimpan beberapa aplikasi yang dia anggap penting. Sosial media juga perlu untuk saat ini, berita dan informasi lebih up to date melalui sosial media.
Naima memang bukan dari keluarga berada, namun Almarhum kedua orang tuanya adalah orang yang modern. Menginginkan anak mereka menjadi pribadi yang mandiri dan mau bekerja keras dan tidak menutup mata pada perkembangan teknologi. Naima memang gadis kampung namun dia tidak lemah.
Mengunjungi stand sepatu, Naima memilih yang sesuai dengan seleranya dan juga harga yang masih ramah di kantongnya. Dia harus berhemat, tabungan peninggalan orang tuanya tidak banyak. Tidak bijak menghambur hamburkan untuk kondisinya saat ini.
"SEMANGAT MENYAMBUT HARI BARU!!" seru Naima dalam hati.
Anda Mungkin Juga Suka





