
Perselingkuhan Gila Istriku
Bab 2
Dihadapanku kini sudah tersaji 3 telur rebus campur kecap yang kusajikan sendiri, namun rasanya pagi ini aku sangat tidak berselera, pikiranku masih berkutat dengan kekhawatiran pada istriku yang entah akan pergi dengan siapa. Sampai terdengar suara nada dering dari ponsel milik Lidya di kamar, dari meja makan aku mendengar Lidya kemudian berbincang dengan seseorang, tak jelas apa yang dibicarakan.
Aku yang sudah diliputi penuh rasa curiga sedari tadi, langsung berdiri dan mendekati arah kamar sambil mengendap-endap agar suara langkahku tak terdengar oleh Lidya. Beruntung pintu kamarnya terbuka sehingga suara Lidya kini semakin terdengar jelas. Setelah jarak jangkauan suara terasa cukup walau masih di luar kamar, aku menghentikan langkah dan coba fokus dengan apa yang kudengar dari dalam kamar. Walaupun sudah mencoba fokus, tapi sesungguhnya aku terganggu oleh suara gemuruh dari degup jantungku sendiri yang berdetak cepat tak beraturan.
“iya… iyaaaa…..”, dengan suara manja Lidya menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya. Seolah Lidya menyetujui sesuatu. Kemudian hening.
“ini juga udah ampir beres koq”, lagi-lagi Lidya berucap dengan nada manja. Sepertinya aneh jika kemanjaannya itu ditujukan pada seorang perempuan.
“iya, ini juga pake yang waktu itu…. Ga bosen emangnya?”, ucap Lidya melanjutkan percakapan. Nadanya kali ini sedikit merajuk, atau kurang lebih seperti seorang wanita yang sedang mencoba bersabar dengan keinginan dari lawan bicaranya. Hening sejenak, lalu terdengar tawa Lidya namun tak lepas karena sepertinya ia tahan agar suara tak terdengar keluar kamar…. “ih, dasaaaar”, suara Lidya kini semakin manja.
Darahku semakin mendidih namun tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya bisa mematung sambil mendengarkan percakapan Lidya, pikiranku menerka-nerka apa yang sebenarnya mereka obrolkan. Bahkan mungkin aku berpikir terlalu jauh, di benakku saat ini… Lidya sedang ditelepon oleh seorang pria, dan aku curiga jika kalimat “pake yang waktu itu” adalah permintaan lelaki tersebut pada Lidya untuk mengenakan pakaian yang pernah Lidya kenakan saat dulu bertemu dengan orang itu, apakah pikiranku ini terlalu mengada-ada?
“iya udah….. iiiih jangan disini ah”, kali ini Lidya berkata, entah apa maksudnya.
“iya, iya… nanti aja… kan ketemu”, Lidya seolah menolak dengan halus sebuah permintaan dan menawarkan sesuatu yang entah apa disaat pertemuan nanti.
“ssst, udah ah ga beres-beres aku dandannya”, kali ini suara Lidya terlihat normal dan sedikit tegas.
“ih, ngga… ngga di telepon… udah ah”, kali ini Lidya menutup pembicaraan seperti dengan nada kesal namun tetap dengan suara yang manja.
Aku kira percakapan sudah berakhir, tapi ternyata Lidya kemudian berkata lagi, “iya janji…. Pokoknya terserah aja mau gimana hiihihihi”, walau dibarengi tawa namun kali ini Lidya berbicara dengan sedikit berbisik. Seolah ucapannya itu tak ingin terdengar oleh orang lain selain mereka. Dan ucapannya kali itu benar-benar mengakhiri percakapan telepon mereka.
Aku langsung bergegas kembali ke meja makan dan melanjutkan sarapanku. Sambil mengunyah telur rebus aku terus berpikir, mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk, apanya yang jangan disini? Apanya yang nanti aja? Apanya yang ngga di telepon? Lidya, kamu berjanji untuk apa? Terserah mau gimana… itu maksudnya apa, Lid? Kamu mau diapain Lid?!?!?
Aku sudah tak mampu mengontrol pikiranku, aku sudah berprasangka jauh, bahkan sangat jauuuuuh. Dan dengan segala kekalutanku ini, mengapa batang penisku ikut-ikutan menegang? Mengapa begini? Seolah-olah penisku turut mengiyakan apa yang ada di dalam benakku, tentang Lidya…. tentang yang akan dilakukannya bersama lelaki itu!!!
***
Jika yang tadi menelepon adalah driver taxi online, itu sangat mungkin, biasanya sang driver menelepon untuk menanyakan posisi atau memberitahukan kalau ia sudah hampir sampai. Tapi tak seharusnya juga Lidya menjawab hanya dengan kata ‘hmmm’. Terdengar sangat kaku dan tak seperti biasa Lidya lakukan saat berkomunikasi dengan driver online, petugas pengirim paket, tukang antar galon air mineral. Ia biasanya ramah, tak kaku dan secanggung itu.
Lalu mengapa juga ia begitu panik dan terburu-buru? Bahkan ia melupakan hal yang sangat mendasar dalam berumah tangga. Biasanya cium tangan sudah otomatis ia lakukan disaat hendak pergi, apapun kondisinya.
Hal yang tak biasa lainnya adalah ketika Lidya memilih duduk di kursi depan sebelah sopir. Memang tidak ada aturan penumpang taxi online duduk di depan atau belakang, bebas dan aku tahu itu. Tapi kebiasaan Lidya tidak seperti itu. Ia biasanya selalu memilih kursi belakang jika menaiki taxi online.
Keganjilan yang lain adalah jenis mobil sedan buatan eropa yang menurutku terlalu mewah untuk ukuran taxi online. Tapi ini juga bukan sesuatu yang mutlak, bisa saja itu terjadi… walau sepanjang pengalamanku menumpang taxi online, tak pernah aku mendapatkan kendaraan semewah itu, mobil yang aku taksir harganya diatas 2 M!!!
Banyak sekali pertanyaanku yang berkecamuk di kepala, semua tentang Lidya, istriku di pagi ini. Tapi aku tak tahu harus mencari tahu mulai darimana, semuanya terasa sangat janggal. Akupun masuk ke kamar tidurku dan membaringkan tubuh di ranjang. Sambil memandang langit-langit kamar aku mencoba untuk memulai berpikir, namun kali ini kuusahakan untuk lebih relax.
Ok, kali ini aku akan berpikir seperti seorang detektif. Aku mulai dengan teka-teki kalimat yang Lidya ucapkan saat ia menelepon dengan seseorang di kamar ini tadi. “pake yang waktu itu”. Kalimat itu sempat aku tangkap dan aku menduga bahwa itu berhubungan dengan permintaan sang penelepon pada Lidya untuk mengenakan pakaian yang sama, saat Lidya pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya. Aku harus mengingat-ingat kapan saja dress berwarna biru muda itu Lidya kenakan.
Memang setiap kali Lidya pergi, tidak selalu aku melihatnya, terkadang Lidya pamit pergi disaat aku berada di toko, jadi aku tidak pernah tahu pakaian apa saja yang pernah ia gunakan saat bepergian. Tapi aku mencoba mengingat semampuku saja.
Setelah berpikir keras mengandalkan memori otakku yang memang jarang terpakai, akhirnya aku ingat kalau Lidya memang pernah mengenakan dress biru itu saat pergi bersamaku, ya… tapi itu sudah lama sekali, saat ekonomiku masih baik-baik saja. Dan seingatku saat pergi dengan pakaian itu, kita tidak bertemu dengan siapa-siapa. Entahlah, memang itu sudah terlalu lama.
Sampailah aku mengingat pada saat Lidya hendak pergi ke sebuah undangan pernikahan teman kantornya. Sekitar 1 atau 2 bulan yang lalu, itupun aku tidak ikut. Tapi aku ingat kalau Lidya memang mengenakan pakaian itu. Kalau tidak salah, saat itu Lidya memadukan dress birunya bahkan tanpa pakaian luar lagi. Aku masih ingat karena saat itu aku memang terkagum-kagum walau sebenarnya dalam hati tidak setuju pada penampilannya yang terlalu sexy.
Aku seperti mendapat ilham, langsung melompat dan bergegas untuk membuka laptopku yang berada di meja depan ruang TV. Akupun langsung membuka halaman InsXXXXram dari browser. Kemudian login menggunakan fake account yang memang sengaja aku buat untuk men-stalking kegiatan istriku. Akupun langsung masuk ke halaman InsXXXXram istriku.
Lidya cukup aktif membagikan foto-foto aktivitas kesehariannya di sosmed ini. Bahkan setiap kali ia pergi pun, tak pernah lepas dari kegiatan berfoto, dasar perempuan! Tapi ada untungnya juga, setidaknya aku jadi tahu kemana dia pergi. Kemudian aku men-scroll dan memperhatikan dengan seksama setiap foto Lidya yang selalu terlihat cantik (aku yakin dia tak pernah menggunakan filter), dari angle manapun. Di bagian awal tidak ada satupun foto Lidya yang memakai dress biru! Sampai kemudian aku menemukan sebuah foto bersama diatas pelaminan. Aku menemukannya!
Aku zoom foto itu, ya… foto ini memang pernah aku lihat, bahkan Lidya sendiri yang memperlihatkannya kepadaku dari ponselnya. Foto grup kantor bersama mempelai itu sebenarnya cukup miris, di saat orang lain berpasangan, hanya Lidya yang sendiri tanpa pendamping.
Namun di layar kanan foto ada tanda panah, yang menandakan bahwa Lidya memang meng-upload lebih dari 1 foto. Aku langsung mengklik tanda panah itu, DEGGGGG!!!
Tampak foto yang memperlihatkan 4 orang dengan wajah menghadap kamera dengan tersenyum bahagia. Dari background-nya aku yakin kalau foto ini diambil masih di acara pernikahan itu. Lidya ada di sisi paling kanan, wajah cantiknya semakin terpancar dengan senyuman yang ia lepaskan saat berpose, tubuh Lidya tampak condong ke sosok di sebelahnya, bahkan lengan putih mulus Lidya menempel di dada lelaki itu. Lelaki tampan dengan mata sedikit sipit itu memiliki postur yang tinggi dan atletis, dari penampilannya tampak kalau dia orang berduit, wajahnya putih namun tulang wajahnya yang tegas menampakan kejantanannya. Aku perhatikan dengan seksama, aku belum pernah sekalipun bertemu dengan lelaki ini, sepertinya bukan teman kantor Lidya, itu mungkin mengapa lelaki ini tidak ada di foto pertama, saat seluruh teman kantornya berfoto bersama pengantin. Sedikitnya juga aku tahu teman-teman kantor istriku, yang sering aku temui saat aku mengantar atau menjemput Lidya bekerja.
Usia lelaki yang tampak seperti keturunan Asia Timur itu mungkin sama sepertiku, 32 tahun. Atau mungkin dia sedikit lebih tua, hanya dia awet muda, sedang aku tampak lebih tua.
Sementara disamping lelaki itu, aku tahu persis kalau itu adalah Pak Ridwan, atasan langsung Lidya.. satu level diatas Lidya. Kemudian di samping Pak Ridwan, tampak seorang perempuan yang sepertinya seusia dengan Pak Ridwan, sekitar 45 tahunan, aku belum pernah melihatnya. Tapi aku menduga kalau itu adalah istri Pak Ridwan.
Aku kembali fokus pada lelaki di samping Lidya, aku men-zoom foto itu hingga kini hanya memperlihatkan Lidya dan lelaki itu, posisi tubuh mereka sangat dekat bahkan bersentuhan sehingga tampak seperti pasangan yang serasi.
Tidak seperti di postingan Lidya yang lain yang penuh dengan comment, di foto itu hanya ada 4 komentar saja, dimana 3 komentar tampaknya biasa saja….. hanya comment dari @Ridz_XXOOXXOOXX (yang setelah aku klik ternyata itu adalah Pak Ridwan), hanya menuliskan kata ‘ehm’, kata pendek namun mengandung seribu arti dan penuh teka-teki, komentar pendek itu kemudian di-reply oleh Lidya hanya dengan emoticon wajah pipi merona merah. Penisku menegang maksimal!
Aku menyandarkan tubuhku ke sofa bed yang terletak di ruang keluarga rumahku ini, dengan tatapan yang masih tak berpaling dari layar laptopku, tanpa berpikir lagi aku turunkan celana dan mengeluarkan penisku yang mulai meronta-ronta. Kukocok batang kemaluanku dengan tempo cepat, diiringi racauan yang keluar dari mulutku.
“Oooooouch Lidya, itukah selingkuhanmu….? Kamu datang ke undangan itu sama dia kaaaan?...., aaaaah, tega kamu sa…yaaang!”
“Sekarang kamu pergi sama dia lagiiii? Kamu udaaah diapain, Yaaang…. ??? ngenttooootin kamu Yaaaang”
“Bibir yang tadi aku mau cium tapi kamu tolak…… sekarang udah dikasihin ke diaaa???? Lidah kalian sekarang udah saling iseepppp, ouuuuch Lidya.. sampe air liur kamu netes-netes, nakal kamu Lidyaaaa!!! Uuuh Aaaaaaaach”
Tak ada jeda aku mengocok penisku ini, aku semakin dekatkan wajahku agar menatap lebih jelas foto yang ter-zoom antara Lidya dan terduga selingkuhannya itu, sepertinya ini masturbasi paling menggairahkan sepanjang hidupku.
“Sayaaang, toketmu itu sayang…. lagi diapain sekaraaang? Pasti badan kamu lagi ditindih badan pacarmu yang gede itu yaaa…?? kenap..pa kaaamu ke…eeenaakan Lidyaaaaa???? Kenapa kamuuu mendesaah Istrikuuuuu? Memekmmmmu…. Aaaaaah ouuuuuch aaaaaaaaaaaaaaah!!!!!”
CROTTTT CROTTTT CROTTTT
Belum selesai aku berimajinasi tentang istriku, cairan spermaku sudah menyembur 3 kali tembakan, yang sengaja aku arahkan pada foto Lidya dan ‘kekasih gelapnya’ itu di layar laptopku. Dalam bersenggama, biasanya aku kuat bertahan minimal 15 menit, tapi entah kenapa dengan sensasi gila ini aku hanya mampu bertahan mungkin kurang dari 3 menit. Cemburu yang membawa nikmat, sekaligus cemburu yang berlebihan ini telah mengantarkanku pada kondisi ejakulasi dini.
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





