Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perselingkuhan Gila Istriku

Perselingkuhan Gila Istriku

Lidya, istriku yang baru 25 tahun, punya segalanya untuk mencari kesenangan di luar. Namun, kecurigaanku memuncak; benarkah dia pergi bersama rekan kantornya, atau ada sosok lain? Saat kebohongannya terungkap hari ini, aku tak lagi bisa menahan diri. Di atas ranjang, aku menindih tubuhnya dengan perasaan yang berkecamuk hebat. Antara amarah karena dikhianati dan gairah yang tertahan sejak pagi, aku menuntut kejujuran di balik pengkhianatan gila ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku merebahkan tubuhku ke senderan sofa, memejamkan mata dan mencoba mengatur nafas yang tak beraturan.

Setelah sedikit tenang, aku coba meraih-raih ponselku… aku akan coba menghubungi istriku.

TUUUUT…. TUUUUUT……TUUUUUT

Nada memanggil… namun tak jua diangkat sampai nada terakhir. Aku coba menghubunginya kembali, dengan perasaan kesal.. sekilas aku melihat lagi foto Lidya dan selingkuhannya itu yang kini sudah berlumuran cairan sperma kentalku. “Anjg!!! Nambah-nambah kerjaan aja!”, gerutuku lalu berdiri beranjak mencari lap khusus laptop dan cairan pembersih screen, sambil masih mencoba menghubungi Lidya.

Kubersihkan laptopku sampai bersih dan ini adalah panggilan teleponku yang keempat namun belum terjawab juga. Aku lempar ponselku ke sofa. Aku termenung menatap layar laptop. Kemudian aku mencoba mencari petunjuk lain, siapa tahu bukan cowok itu yang kini sedang jalan dengan Lidya. Pencarian kumulai lagi.

Setelah aku ubek-ubek semua postingan istriku, setiap comment pun kini aku baca, memang banyak lelaki tak dikenal yang memuji kecantikan dan kemolekan tubuh istriku. Tapi tak ada satupun yang Lidya tanggapi. Hanya ada satu nama lelaki yang selalu ditanggapi Lidya, yaitu Pak Ridwan. Bahkan Pak Ridwan tak ragu memberikan pujian tentang fisik Lidya. Begitu juga istriku terkadang genit membalas komentar atasannya itu. Menurutku sebagai orang yang bersikap kaku, hal itu agak berlebihan untuk ukuran hubungan atasan-bawahan.

Tapi jika dilihat dari wajah Pak Ridwan, maaf bukan maksud merendahkan, sepertinya aku tidak kalah dengan dia. Tubuhnya pendek, perawakannya kecil, rambutnya hampir habis.. hanya menyisakan bagian belakang dan pinggirnya saja. Masa iya Lidya tertarik dengannya? Pada lelaki tua yang lebih pantas menjadi ayahnya.

Aku juga berpikir meskipun Pak Ridwan jabatannya sudah lumayan tinggi, tapi aku yakin ia belum mampu membeli mobil seharga 2 M. Tetapi Pak Ridwan menjadi cocok jadi tersangka, karena tadi pagi aku sempat melihat di ponsel Lidya, nama awalnya tertulis ‘BA’, bisa saja Bapak Ridwan kan? Auk ah gelap!

Itu menurutku, tapi bagaimana menurut pikiran pembaca semua disini? kira-kira istriku ini lagi dekat dengan Pak Ridwan atau lelaki pertama yang sementara kita sebut saja sebagai Mr. X?

Siapapun lelaki itu, aku harus mengorek informasi yang lebih banyak. Darimana? Dari siapa? Aku cukup lega karena sudah menemukan jawabannya. Aku harus mendekati Vina!!! sahabat kantornya Lidya.

Akupun masuk ke halaman Insxxxxram-nya Vina, mudah saja menemukan akunnya karena dia rajin comment di setiap postingan Lidya. Akupun mengirimkan direct message berbunyi,

‘Vin, ini Kang Arief suaminya Lidya.. kamu ada waktu ga? Ada yang pengen dibicarain, tapi ini rahasia… jangan bilang-bilang Lidya’.

Setelah mengirimkan pesan itu, aku mencoba menelusuri postingan Vina. 3 foto pertama adalah postingan terbaru yang ia post sekitar pukul 12, sekitar satu jam yang lalu. Anehnya ia berfoto bersama sekumpulan orang yang diperkirakan sebaya dengannya, namun tidak kutemukan sosok istriku. Lebih kaget lagi ketika di caption-nya tertulis….

“Reuni Angkatan XX SMA Kasih Harapan Ilmu, Bandung… yeaaay akhirnya balik Bandung ketemu temen2 lama, selalu kangen dgn kota ini”.

Vina tidak sedang di salon atau gym! Vina sedang di Bandung! Lidya tidak mungkin juga ikut reuni tersebut karena Lidya SMA-nya di Bogor, beda angkatan pula! Sudah terang benderang kali ini, Lidya memang sudah membohongiku!!!! Tanpa perlu mengorek info dari postingan yang lain, aku sudah semakin yakin dan misteri ini sedikit terkuak, sambil berharap-harap cemas kalau Vina membalas pesanku, namun kutunggu hampir satu jam setengah, pesan itu belum terbalas.

Sampai akhirnya jam setengah 3 Lidya menelepon, aku langsung angkat telepon itu.

“Pah, tadi telepon?...”, Lidya membuka percakapan. Tapi dari suaranya seperti orang yang sedang mengatur nafas keletihan. Namun mungkin ini aku yang salah mendengar.

“Iya, Mamah kemana aja koq ga diangkat-angkat?”, jawabku dengan tegas dan to the point.

“i…iya Paah”…………………………………..

TUT TUT TUT TUT TUT

Telepon terputus, dan aku mencoba kembali menghubunginya, namun kali ini teleponnya tidak aktif. Berkali-kali aku coba tapi tetap sama.

Jika nada suara yang pertama mungkin aku salah dengar, tapi suara yang terakhir sebelum terputus aku mendengar jelas ada suara nafas Lidya yang tersengal. Pikiranku kembali melayang jauh, mungkin akibat terlalu sering menonton film JAV yang menceritakan seorang istri yang berselingkuh, kemudian menelepon suaminya saat sedang berhubungan badan dengan selingkuhanya. TIDAAAAAAAAAAK!!!!!!

Aku merutuki diri sendiri, bodohnya aku yang tidak menanyakan lokasi salon dan tempat Gym, walaupun aku tahu itu bohong. Tapi setidaknya aku bisa mengeceknya langsung sekarang, membuktikan bahwa itu benar-benar bohong. Tapi sekarang? Aku harus mencari istriku kemana???? Bagaimana cara membuktikannya????

Saking lelahnya dengan pikiranku aku tertidur di sofa bed depan TV, karena aku tak tahu lagi harus berbuat apa, selain pasrah!​

***

Aku terbangun di sebuah ruangan gelap, “ah sial.. aku ketiduran. Lampu-lampu belum dinyalakan!”, gumamku masih keadaan belum sadar 100%. Setelah kunyalakan seluruh lampu di rumahku kulihat jam sudah menunjukan pukul setengah 7 malam.

“Mah…. Maaah!!”, aku memanggil-manggil istriku dan mencarinya ke dalam kamar dan juga kamar mandi, namun tak kutemui sosoknya. Aku memaki diriku sendiri, mengapa aku terlalu bodoh, sudah tahu lampu tadi gelap, sudah barang tentu istriku belum pulang!!!

Aku ingat ucapan Lidya di hari kemarin kalau ia akan pulang jam 5 sore, tapi kini sudah satu jam setengah melebihi waktu kepulangan sesuai janjinya. Aku ambil bungkusan rokok yang disembunyikan di salah satu jaketku yang tergantung di kamar. Tadinya aku memang perokok berat, tapi setelah pendapatanku menurun, aku merasa malu untuk merokok di rumah apalagi depan istriku, walaupun tak ada larangan dari dia. Cuma ya malu saja, udah ga punya uang masih ‘bakar-bakar uang’. Tapi malam ini dengan segala kekalutanku, aku sulut sebatang rokok dan kuhisap di ruang tamuku.

Aku pilih ruangan ini karena letaknya paling depan sehingga dari kaca jendela besarnya aku bisa tahu kalau istriku pulang. Aku coba kembali menghubungi nomor ponselnya, tapi masih tidak aktif. Aku gelisah, benar-benar gelisah, kemana perginya istriku ini?

Sambil menghisap rokok dalam-dalam aku mondar-mandir di dalam rumahku sendiri. Aku yakin, seyakin-yakinnya kalau istriku memang berselingkuh. Mungkin kini dia sedang berada di kamar hotel, apakah dia tidak akan pulang malam ini? Atau jangan-jangan ia tak akan pernah kembali lagi ke rumah ini, yang masih menyisakan angsuran 12 tahun lagi? Mungkin ia memilih berbahagia dan melepas beban bersama lelaki tampan gagah rupawan pemilik mobil seharga 2 M. Cuiiiih!!!

TIK TEK TIK TEK TIK TEK TIK TEK

Suara detak jarum jam dinding seolah sedang mengolok-olokku yang gelisah sepanjang hari. Jam 7 ia belum pulang, jam 8 belum juga pulang. Jam 9, aku masih tetap berada di ruang tamuku. Jujur, harapanku semakin menipis akan kedatangan Lidya, tapi aku masih berharap istri kesayanganku itu pulang, apapun yang telah dia lakukan, akan aku terima dengan lapang dada. Meskipun sangat sakit dikhianati, tapi bagiku ditinggalkan untuk selamanya jauh lebih sakit.

Setiap kendaraan yang melintas di depan rumahku membuat kepalaku menoleh ke arah jendela. Aku berharap itu Lidya. Tapi yang kutunggu tak kunjung tiba.

Sampai pukul sepuluh malam kurang delapan menit akhirnya sebuah minibus berwarna silver berhenti di depan rumahku. Sepertinya taxi online, karena kali ini yang datang adalah jenis mobil sejuta umat. Aku kegirangan, istriku pulang!!!

Namun rasa bahagiaku hanya sesaat, berganti dengan gemuruh yang kembali bergejolak di dalam dada. Tak ada tanda-tanda orang turun dari mobil itu. Sekitar 2 menit, atau mungkin itu berlebihan karena aku tidak memegang stopwatch. Yang pasti terasa lama olehku….. oleh aku yang sedang menunggu seseorang yang paling aku cintai.

Entah perasaanku saja atau benar ini terjadi, aku melihat mobil yang terhenti itu sedikit bergoyang…. pelan. Aku coba memperhatikan lagi lebih seksama, ah entahlah.

Setelah goyangan misterius (sumpah aku tak bisa memastikan apakah mobil goyang itu benar atau tidak), kemudian memang benar Lidya yang turun dari mobil itu, namun lagi-lagi mengapa dia duduk di kursi depan?

Setelah Lidya menuruni mobil, pintunya masih belum ia tutup. Lalu setengah tubuhnya kembali masuk ke dalam mobil itu dengan posisi tubuh Lidya sedikit condong ke dalam, sehingga aku bisa melihat setengah bulatan pantat indah Lidya, setengah lagi terhalang oleh pintu mobil. Tidak terlalu lama Lidya berbuat seperti itu, sampai akhirnya ia menutup pintu mobil dan langsung melangkah masuk ke halaman rumah.

Dari kaca jendela jelas terlihat wajahnya lelah, langkahnya pun tak sesemangat saat ia pergi. Mengapa ‘selingkuhannya’ berganti mobil? Jika benar si Mr. X berganti mobil, rasanya terlalu jomplang antara mobil yang tadi pagi dengan mobil yang barusan aku lihat. Ah suka-suka si Mr. X lah, kenapa harus aku pikirin? Atau jangan-jangan….. beda laki-laki, Ah Lidyaaa!!!

Lidya membuka pintu rumah, aku sudah berdiri di baliknya sambil menatap tajam wajahnya. Aku memang senang dengan kepulangannya, tapi rasa kesal terlalu tebal menyelimutiku. Melihat ekspresi wajahku yang tampak marah, Lidya langsung memelukku sambil berucap manja, “Papaaah ma’aaaaf”.

“Darimana aja jam segini baru pulang?”, aku bertanya secara tegas. Ketegasan yang hampir tak pernah aku tampakkan selama beberapa bulan terakhir. Aku memang tidak punya uang, tapi demi mempertahankan harga diri sebagai seorang kepala rumah tangga... rasanya malam ini aku harus berani bertindak tegas.

“Iya nanti aku cerita, aku mandi dulu yaaa?”, Lidya meminta izin masih dengan posisi memelukku erat. “Papah, udah makan?”, lanjut Lidya dengan mengangkat wajahnya yang letih, sorot mata sayu itu kini menatapku. Kami bertatapan, tapi aku masih menampakkan wajah kesal.

“Udah! ya udah sana mandi dulu”, jawabku dengan nada ketus, aku melepaskan pelukannya dengan sedikit memaksa. Aku berbalik menuju ruang TV, kunyalakan televisi berpura-pura menonton walau sebenarnya pikiranku masih dilanda kekalutan.

Lidya yang seharusnya masuk ke kamar untuk mandi malah kembali menghampiriku, kali ini dia bersimpuh dihadapanku yang sedang duduk di sofa. Lidya menggenggam kedua tanganku dan menciuminya berkali-kali. Kulihat dari sudut bola matanya tampak menetes butiran air mata.

“Udah sana, katanya mau mandi?”, aku masih belum menurunkan tensi bicaraku.

Lidya kembali mencium tanganku tiga kali lagi, kemudian tanpa berbicara ia langkahkan kakinya pelan untuk masuk kedalam kamar.

Sekitar 10 menit kemudian aku menyusulnya, tampaknya dia masih mandi. Aku lalu menyenderkan tubuhku di kepala tempat tidur, menunggu istriku selesai mandi. Pikiran kotorku kembali mendatangi, Lidya istriku mungkin sedang membersihkan bekas sperma yang berceceran di vagina dan tubuhnya. Bangsat!

Istriku keluar kamar mandi dengan berbalut handuk. Setengah bagian atas payudaranya terlihat menyembul. Lidya tersenyum manis ke arahku, kali ini sudah tidak ada butir air mata seperti yang ia perlihatkan saat tadi dia memohon maaf.

Aku tak menghiraukan senyumannya, tapi konsentrasi memperhatikan setiap inchi tubuh istriku yang aku lihat jelas dari tempatku bersandar, aku tidak menemukan tanda merah sisa ‘pertempuran’ atau apapun di tubuhnya yang putih mulus itu. Hmmmm, main aman rupanya…..​

Bersambung

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Marilyn terjebak dalam fitnah keji setelah sebuah pesan singkat menjadikannya kambing hitam atas hancurnya hubungan sang kakak. Christian, sang miliarder yang murka karena reputasinya tercemar, menuduh Marilyn sebagai wanita haus harta yang licik. Sebagai bentuk pembalasan dendam, Christian memaksa Marilyn masuk ke dalam pernikahan yang ia janjikan akan menjadi neraka dunia. Di tengah tuduhan tanpa bukti, Marilyn hanya bisa terdiam menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Darah Muda
8.4
Menjadi remaja berarti menyelami dunia penuh euforia dan dinamika rasa yang membuncah. Terinspirasi dari semangat darah muda yang legendaris, kisah ini merajut memori manis sekaligus pelik tentang perjalanan anak manusia. Anda akan diajak bernostalgia menyusuri setiap kepingan masa lalu yang bergejolak di dada. Namun, di balik itu semua, terdapat alur yang panjang dan rumit untuk diungkap. Mari rasakan kembali sensasi masa muda yang penuh suka duka dalam narasi ini.
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya mengira pernikahannya dengan Adnan akan membawa kebahagiaan abadi, namun realitanya justru menjadi neraka penuh kekerasan. Adnan melampiaskan dendamnya terhadap mertua dengan menyiksa istrinya secara keji setiap hari. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang mendalam, sosok dari masa lalu Saschya tiba-tiba muncul kembali. Akankah kehadiran mereka membantu Saschya lepas dari belenggu Adnan, atau justru menambah konflik baru dalam hidupnya yang hancur?
Sampul Novel Hanya Menjadi Wanita Pengganti
9.8
Demi menjaga martabat keluarga setelah Naila kabur di hari pernikahan, Diandra Sahanaya alias Naya nekat menggantikan posisi adiknya untuk dinikahi Zayn. Meski Zayn menegaskan hanya mencintai Naila, Naya tetap berjuang memikat hati pria yang selama ini dipujanya itu. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh di hati Zayn, alasan tersembunyi di balik kepergian Naila terungkap. Akankah Zayn berpaling kembali pada Naila atau memilih mempertahankan Naya?
Sampul Novel ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir
9.2
Isabella terjebak dalam dunia prostitusi eksklusif setelah dikhianati ayahnya sendiri. Di tengah kegelapan itu, ia menemukan cinta yang berakhir tragis saat calon suaminya tewas secara misterius. Bertekad menuntut balas, ia justru menemukan fakta bahwa Ronald, pria pertama yang membelinya, adalah sang pembunuh. Kini, Isabella harus menghadapi konspirasi dendam antar keluarga yang mengincar nyawanya sambil mengungkap identitas aslinya yang tersembunyi.
Sampul Novel Kutunggu Jandamu
9.8
Benara terjebak dalam situasi rumit setelah menjadikan Laras sebagai kekasih palsu demi ayahnya. Ia tak menyangka bahwa wanita itu ternyata sudah bersuami. Namun, setelah menyaksikan perlakuan buruk sang suami terhadap Laras, niat Benara berubah. Alih-alih menjauh, ia justru memanfaatkan keadaan tersebut untuk mendekati Laras secara ugal-ugalan. Benara bertekad mengejar cinta Laras meski status pernikahan wanita itu menjadi penghalang besar bagi mereka.