Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perpisahan Terakhir, Jejak Abadi

Perpisahan Terakhir, Jejak Abadi

Selama enam bulan, aku menahan derita penyakit misterius demi mendukung Baskara, suami arsitekku. Namun, pengabdianku dibalas pengkhianatan saat ia memilih asistennya yang sedang hamil. Bahkan ibuku sendiri justru membelanya dan mengabaikan rasa sakitku. Kini, diagnosis kanker otak stadium akhir memastikan hidupku tak lama lagi. Tanpa dukungan keluarga, aku berhenti menjadi korban. Aku akan menghabiskan sisa usiaku demi diri sendiri dan membiarkan Baskara memikul penyesalan abadi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sudut Pandang Arini Basuki:

Jemariku gemetar saat mengirim pesan-pesan itu, campuran amarah dan mual bergejolak di perutku. Aku adalah Arini Basuki, seorang desainer grafis yang menciptakan keindahan dari kekacauan, seorang istri yang membangun hidupnya di atas cinta dan kepercayaan. Aku bukan tipe wanita yang mendapati dirinya terlibat dalam pertukaran pesan teks larut malam yang kotor dengan selingkuhan suaminya. Aku tidak pernah berpikir akan menjadi seperti ini.

Tiga titik di gelembung obrolan Karin menghilang, lalu muncul kembali. Dia sedang menyusun jawabannya, memilih kata-katanya dengan presisi yang sama seperti yang mungkin dia gunakan pada denah bangunannya.

Akhirnya, sebuah pesan muncul. Sederhana, dan sangat dingin.

`Karin: Datang dan lihat sendiri.`

Sebuah alamat menyusul. Itu adalah alamat sebuah gedung kondominium mewah di pusat kota, salah satu menara kaca ultra-modern baru yang baru-baru ini dipuji Baskara di sebuah majalah arsitektur.

Jantungku berdebar kencang di dada. Ini adalah sebuah tantangan. Sebuah ajakan untuk berperang.

Tanpa berpikir dua kali, aku bergegas berdiri. Gerakan tiba-tiba itu membuatku pusing, dan aku harus berpegangan pada sandaran sofa untuk menyeimbangkan diri. Mengabaikan protes dari tubuhku yang sakit, aku terhuyung-huyung ke kamar tidur, mengenakan celana jins dan sweter pertama yang kutemukan. Aku tidak repot-repot merias wajah; wanita pucat dengan mata cekung yang menatapku dari cermin itu adalah orang asing.

Perjalanan ke pusat kota terasa kabur, jalanan licin dan lampu lalu lintas yang menyatu dalam kegelapan menjelang fajar. Pikiranku dipenuhi badai pertanyaan. Apa yang akan kukatakan? Apa yang akan kulakukan? Sebagian dari diriku, bagian yang rasional dan lelah, berteriak agar aku berbalik, menangani ini dengan martabat, menunggu sampai Baskara pulang dan memberikan alasan menyedihkan apa pun yang telah dia siapkan.

Tapi bagian diriku yang terluka, bagian yang baru saja menyaksikan hidupnya terbakar dalam serangkaian foto, perlu melihat si pembakar.

Aku memarkir mobil di parkiran tamu gedung yang steril dan megah itu. Saat aku berjalan menuju lobi, sebuah mobil Alphard hitam mengkilap berhenti di tepi jalan. Pintu belakang terbuka, dan Baskara melangkah keluar.

Dia tidak sendirian.

Karin Anindita muncul setelahnya, gambaran energi masa muda. Dia mengenakan mantel yang pas di badan yang menonjolkan sosoknya yang ramping, dan rambutnya, air terjun sutra gelap, bergoyang di setiap langkahnya. Dia bersinar, sehat, bersemangat—semua yang kurasa tidak kumiliki.

Dia tertawa mendengar sesuatu yang dikatakan Baskara, suara yang cerah dan riang yang dibawa angin langsung kepadaku. Baskara balas tersenyum, senyum tulus dan tanpa penjagaan yang sudah lama tidak kulihat ditujukan padaku. Dia mengulurkan tangan dan menyingkirkan sehelai rambut dari wajah Karin, sentuhannya bertahan sepersekian detik terlalu lama.

Keintiman biasa dari gerakan itu seperti pukulan fisik. Itu lebih memberatkan daripada foto mana pun.

Kakiku bergerak sebelum otakku bisa memproses keputusan.

"Baskara!"

Suaraku serak, pecah di udara dingin.

Mereka berdua membeku, berbalik ke arah suara itu. Senyum Baskara lenyap, digantikan oleh topeng keterkejutan dan kemudian, tak salah lagi, kekesalan yang luar biasa. Ekspresi Karin lebih sulit dibaca, tetapi saat matanya bertemu dengan mataku, secercah kemenangan, kilatan kemenangan yang diperhitungkan, muncul di kedalamannya.

"Arini? Kamu ngapain di sini?" tanya Baskara, nadanya tajam dan dingin. Dia mengambil setengah langkah ke depan, secara halus memposisikan dirinya di antara aku dan Karin. Seorang pelindung. Hanya saja bukan pelindungku.

"Aku ngapain di sini?" ulangku, suaraku meninggi karena tidak percaya. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, Bas. Aku meneleponmu sepanjang malam. Kupikir terjadi sesuatu."

Dia punya cukup kesopanan untuk terlihat malu sejenak, pandangannya jatuh ke trotoar. "Ponselku mati. Semalam suntuk merayakan proyek baru sama tim."

"Tim?" Aku melirik Karin, yang sekarang menyaksikan adegan itu dengan rasa ingin tahu yang acuh tak acuh, seperti penonton di sebuah drama yang sangat menarik. "Apa dia 'tim'-nya?"

Karin memberikan senyum kecil yang manis dan dibuat-buat. "Mbak Arini, ya? Mas Bas banyak cerita tentang Mbak, lho."

Nada merendahkan dalam suaranya begitu kental hingga membuatku tercekik.

Baskara meletakkan tangan menenangkan di lengan Karin. "Karin, mungkin kamu naik duluan saja." Dia menyuruhnya pergi, tapi rasanya seperti dia melindunginya, melindunginya dari emosiku yang berantakan dan merepotkan.

"Tidak," kataku, suaraku mendapatkan nada putus asa yang mentah. "Dia bisa tetap di sini. Aku ingin tahu apa yang terjadi. Di sini, sekarang juga."

"Arini, kamu bikin malu," desisnya, matanya melirik ke sekitar jalan yang sepi seolah-olah paparazzi akan segera turun. Citra publiknya. Selalu menjadi prioritas utamanya.

"Aku bikin malu?" Tawaku rapuh, tanpa humor. "Suamiku menghilang sepanjang malam, dan aku dikirimi foto-fotonya dengan... anak didiknya, dan aku yang bikin malu?"

Fasad kepolosan Karin retak. Dia menghela napas dengan dramatis. "Bas, mungkin kamu harus tangani ini. Dia kelihatannya... kurang sehat."

Kata itu—kurang sehat—membakar sisa kesabaranku.

"Jangan berani-beraninya kamu bicara tentang kesehatanku," geramku, melangkah lebih dekat.

Baskara meletakkan tangannya di dadaku, tidak dengan lembut, tapi dengan kuat, mendorongku mundur. "Cukup, Arini. Kamu histeris. Pulang sana. Nanti kita bicara."

Kekuatan dorongannya membuatku terhuyung. Ketidakadilan itu—sentuhannya, yang dulu menjadi pelabuhan amanku, sekarang digunakan untuk mendorongku menjauh demi perempuan itu—membuat sesuatu dalam diriku patah. Aku mendorongnya kembali, telapak tanganku mengenai dinding dadanya yang keras. "Jangan sentuh aku! Jangan berani-beraninya!"

Dia tersandung, wajahnya campuran antara kaget dan murka. "Ada apa denganmu, sih? Kamu bertingkah seperti orang gila."

"Gila?" teriakku, kata itu merobek tenggorokanku. "Kamu meninggalkanku, kamu membohongiku, kamu berdiri di sini bersamanya, dan aku yang gila?"

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku, ekspresinya mengeras menjadi ekspresi penolakan yang dingin. Dia memunggungiku, meletakkan tangan lembut di bahu Karin. "Ayo kita pergi. Aku akan urus ini."

Keputusan final dari tindakannya, dari dia yang memilih Karin dengan begitu tegas, menghancurkanku. Dia bahkan tidak menoleh ke belakang saat dia membimbing Karin masuk ke lobi yang berkilauan, meninggalkanku sendirian di trotoar yang dingin dan basah.

Melalui pintu kaca, aku melihat Karin menoleh ke belakang. Dia tidak tersenyum lagi. Dia hanya mengamatiku, matanya dingin dan menilai, seolah-olah aku adalah masalah yang sudah diselesaikan.

Aku melihat bayanganku di kaca gelap gedung itu. Wanita yang menatap balik adalah hantu—pucat, kurus, dengan mata liar dan jejak air mata menodai pipinya. Kurang sehat. Mungkin mereka benar.

Perjalanan pulang adalah kabut kesedihan. Aku tidak ingat lalu lintas atau rutenya. Aku hanya ingat memarkir mobil dan masuk ke apartemen kami yang sunyi.

Dia masih belum ada di sana.

Rasa sakit di tubuhku, yang tadinya hanya nyeri tumpul, kini menajam menjadi denyutan yang menyiksa. Aku merosot ke sofa, pandanganku jatuh pada anggrek dalam pot di meja kopi. Kelopaknya berwarna cokelat dan layu, batangnya terkulai sedih. Aku lupa menyiramnya. Kami berdua lupa.

Aku ingat ketika Baskara memberikannya padaku, bertahun-tahun yang lalu. "Ini seperti kamu, Rin," katanya, jari-jarinya menelusuri lekukan halus kelopak bunga. "Anggun, cantik, tapi butuh perhatian ekstra biar bisa mekar sempurna."

Sekarang, anggrek itu sekarat. Sama seperti yang lainnya.

Kebutuhan putus asa dan primal akan penghiburan menyelimutiku. Aku butuh ibuku. Aku butuh beliau untuk memberitahuku semuanya akan baik-baik saja, untuk memelukku dan membuat dunia berhenti menyakitkan sejenak.

Tanganku gemetar saat aku menekan nomornya.

"Arini? Sayang, ada apa? Pagi sekali."

"Bu," isakku, kata itu nyaris tak terdengar. "Boleh... boleh aku ke sana? Sebentar saja?"

Ada jeda di ujung telepon. Aku bisa mendengar keraguannya.

"Ini tentang Baskara?" tanyanya, suaranya melembut tapi diwarnai kelelahan yang akrab. "Kalian bertengkar lagi?"

"Ini lebih dari itu, Bu. Ini..."

"Arini, dengarkan Ibu," potongnya dengan lembut. "Baskara itu laki-laki baik. Dia pencari nafkah yang hebat. Setiap pernikahan punya masa-masa sulit. Kamu harus lebih pengertian. Dia sedang banyak tekanan di kantor. Jangan bikin susah. Pulang saja, istirahat, dan besok pagi semuanya akan terlihat lebih baik."

Kata-katanya bukanlah penghiburan. Itu adalah penolakan. Dia tidak mendengarkan rasa sakitku; dia mengelola ekspektasiku, menutupi retakan untuk menjaga citra sempurna pernikahan putrinya yang sukses.

"Tapi Bu—"

"Ibu harus pergi, sayang. Ibu dan Ayah mau main golf pagi-pagi. Nanti kita bicara lagi. Jadilah anak yang baik."

Sambungan telepon terputus. Aku sendirian. Benar-benar sendirian, ditinggalkan oleh dua orang yang seharusnya paling mencintaiku.

---

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Nafsu
7.9
Kehidupan Ayu sempat terbelenggu oleh nafsu bejat mertuanya sendiri. Kini, ia berjuang meniti masa depan bersama Alfons, cinta sejatinya, di tengah ancaman dendam Maharani yang gelap mata. Meski dikelilingi kekejaman dunia mafia berseragam yang penuh intrik, kesucian cinta mereka tetap tak ternoda. Hubungan ini membawa keduanya melintasi berbagai belahan dunia, bertahan hidup dari kejaran musuh demi menjaga ketulusan perasaan yang mereka miliki.
Sampul Novel Gairah Liar Masa Puber
8.0
Berlatar di sebuah kota kecil, kisah ini mengikuti perjalanan Kino dalam mengarungi gejolak masa remaja hingga menjadi pria dewasa. Sebagai pemuda biasa, ia mengalami fase pendewasaan yang sarat akan sensualitas dan drama emosional. Meski pengalaman kehilangan keperjakaan serta pembentukan seksualitasnya adalah hal yang lumrah dialami banyak orang, Kino memiliki sisi unik yang sering kali disembunyikan. Sebuah narasi tentang rahasia di balik kedewasaan.
Sampul Novel Istri Pengganti Tuan Muda!
8.8
Demi menjaga martabat keluarga Wijaya dan Maduswara, seorang ayah memohon kepada putrinya untuk menjadi pengantin pengganti. Jika pernikahan besar ini sampai batal, reputasi leluhur mereka akan hancur seketika. Tak hanya itu, nasib perusahaan yang telah dibangun sang ayah selama bertahun-tahun kini berada di ujung tanduk. Sang putri pun dihadapkan pada pilihan sulit untuk menyelamatkan kehormatan serta masa depan bisnis keluarganya.
Sampul Novel Kakakku Menjadi Gila Setelah Kematianku
7.9
Dalam novel misteri modern Kakakku Menjadi Gila Setelah Kematianku, hubungan darah tidak menjamin kasih sayang. Sang kakak sangat membenci adiknya dan terang-terangan berharap agar dia lenyap. Pertanyaan pilu sang adik tentang status persaudaraan mereka hanya dibalas dengan penolakan dingin bahwa ia tidak menganggapnya ada. Namun, setelah sebuah kecelakaan mobil tragis merenggut nyawa sang adik malam itu juga, penyesalan dan misteri mulai mengubah segalanya hingga membuat sang kakak perlahan kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel Love with my penyiarku
8.7
Muhammad Ghifarial Siregar, seorang pria flamboyan yang sangat populer, menambatkan hatinya pada sosok Ariana Martha. Meski perjalanannya dipenuhi luka mendalam dan jiwa yang rapuh, ia tetap teguh meyakini kehadiran cinta sejati. Baginya, perasaan tulus adalah takdir Tuhan yang harus diikhlaskan layaknya suara merdu di angkasa. Ia bertekad menjaga rasa yang tumbuh di relung hati agar terus mekar selamanya, hingga maut datang memisahkan mereka berdua.
Sampul Novel My Rental Woman
9.3
Demi membiayai pengobatan sang ibu, Alana terjebak dalam tawaran Bernando Thomas, dokter muda yang kehilangan istrinya meninggal secara misterius di luar negeri. Orang tua Thomas tidak mengetahui kematian tersebut, sehingga kehadiran Alana yang memiliki wajah sangat mirip dengan mendiang Calista menjadi solusi penyamaran. Thomas bersedia menanggung seluruh biaya medis ibu Alana, asalkan ia mau menjadi istri sewaan. Akankah Alana menerima kesepakatan rahasia ini?