
Pernikahan Terhimpit Rahasia
Bab 2
Kata-kata itu menghantam Rowena lebih keras daripada apapun yang pernah dia rasakan. Seperti sebuah petir yang menyambar langsung ke jantungnya, membuatnya terdiam di tempat.
"Apa maksudmu?" suara Rowena nyaris pecah, tapi dia berusaha untuk tetap tegar, untuk tidak menunjukkan kelemahan di hadapan wanita tua itu.
Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan kepedihan dan penyesalan. "Kau tak tahu, kan?" Dia berbisik, wajahnya semakin mendekat, seolah berbagi rahasia yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah kehilangan segalanya. "Kau tidak tahu siapa yang benar-benar mengendalikan pernikahanmu. Siapa yang benar-benar menginginkanmu di sana."
Rowena mundur selangkah, merasakan darahnya mendingin. Sesuatu di dalam dirinya berontak, tapi dia tidak bisa mengabaikan perasaan semakin tercekik yang muncul di dadanya.
"Tidak... kau salah. Cassian..."
Wanita itu tertawa, tawa yang penuh kepahitan, hampir seperti sebuah ejekan. "Cassian? Ah, Cassian Aldric adalah alat, Rowena. Sama seperti dirimu. Kau hanya pion dalam permainan ini. Kalian berdua. Tidak ada yang lebih, tidak ada yang kurang."
Langit malam tiba-tiba terasa begitu berat. Rowena merasa seperti kehilangan pijakan, dan seketika itu juga, semua pertanyaan yang telah mengganggunya selama ini berputar dalam pikirannya dengan kecepatan yang luar biasa.
Pernikahan mereka. Pengabaian Cassian. Kesendirian yang terus merundungnya. Semua ini... benar-benar hanya sebuah permainan?
Sebuah angin dingin bertiup, menyapu wajahnya, dan dia menggigil. "Aku tidak mengerti. Apa maksudmu?"
Wanita tua itu menatapnya dengan mata yang penuh dengan kebencian, namun juga ada sesuatu yang mirip dengan pengertian. "Kau tidak perlu mengerti sekarang, Rowena. Kau akan tahu nanti. Semua rahasia ini akan terungkap satu per satu. Dan saat itu terjadi, kau akan tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali."
Rowena merasa seluruh tubuhnya terasa kaku. Ia ingin berlari, ingin lari sejauh mungkin dari wanita itu, tapi ada sesuatu yang memanggilnya untuk mendengarkan lebih banyak. Apakah ini petunjuk yang selama ini ia butuhkan? Sesuatu yang selama ini tersembunyi dari pandangannya?
Wanita itu melangkah mundur ke tepi jurang, seolah sudah tidak peduli dengan hidupnya lagi. "Cassian Aldric... dia bukan pria yang kau kira. Jangan terlalu bergantung padanya. Kau akan kecewa."
Dengan satu gerakan yang hampir tak terlihat, wanita itu melompat, dan tubuhnya hilang ke dalam kegelapan malam.
Rowena berdiri terpaku, tidak tahu harus berbuat apa. Waktu seakan berhenti, dan detak jantungnya terasa sangat keras di telinganya.
Dia tidak tahu mengapa, tapi rasa takut yang mendalam menyelimutinya. Wanita itu tahu sesuatu. Sesuatu yang tidak ia pahami, dan bahkan lebih menakutkan, dia merasa wanita itu mungkin benar.
Tidak lama kemudian, langkah-langkah cepat terdengar di belakangnya. Rowena berbalik, terkejut mendapati Cassian muncul dari balik kegelapan. Wajahnya tampak datar, tetapi ada ketegangan yang jelas tergambar di matanya, seolah-olah ia baru saja tiba dari suatu tempat yang sangat jauh.
"Ada apa?" suara Cassian terdengar kaku, dan Rowena tahu dia sedang berusaha menjaga jarak. "Kau kenapa di sini?"
Rowena menatapnya dengan rasa kecewa yang semakin dalam. "Aku... aku hanya ingin tahu. Apa yang terjadi pada kita, Cassian? Apa yang sebenarnya kau inginkan dari aku?"
Cassian terdiam. Untuk sesaat, ada keraguan yang tercermin di wajahnya, namun segera digantikan dengan ekspresi yang lebih sulit dibaca. "Ini bukan waktunya untuk membahas hal itu. Ayo pulang."
Rowena merasa seolah-olah sebuah tembok besar terbentuk antara mereka. Kata-kata itu... kata-kata yang dingin dan tidak peduli... semakin menambah rasa terasing yang sudah ada di dalam hatinya.
"Pulangkan aku ke mana?" Rowena hampir tidak bisa menahan suaranya yang bergetar. "Pulangkan aku ke rumah yang kosong ini? Pulangkan aku ke tempat di mana aku tidak dihargai? Di mana aku tak pernah dihargai sejak pertama kali kau meninggalkan aku, Cassian?"
Dia tidak bisa menahan air matanya lagi.
Cassian terdiam, tidak ada penyesalan, hanya sebuah tatapan kosong yang membuat Rowena merasa lebih hancur daripada sebelumnya.
"Kau harus kembali, Rowena. Keluarga kita menunggu."
Kata-kata itu menusuk hati Rowena lebih dalam. Ia tahu itu bukan tentang dia. Itu hanya tentang menjaga wajah keluarga yang terhormat.
Dia menggeleng, ingin mengatakan sesuatu yang bisa mengubah semuanya, tapi kata-kata itu terkunci di tenggorokannya.
Apa yang ia harapkan dari Cassian? Sesuatu yang jelas tidak akan pernah dia dapatkan.
Dengan langkah berat, Rowena berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Cassian yang tetap berdiri di tempat, tidak berusaha mengejarnya.
Tidak ada lagi yang bisa diharapkan.
Anda Mungkin Juga Suka





