
Pernikahan Piutang Berujung Cinta
Bab 2
"Siapa ya itu cewek? Cantik banget! samperin ah!" batin Deryl saat melihat seorang Perempuan yang ada di depannya.
"Hai," panggil Deryl, karena tidak tahu siapa nama Perempuan itu.
"Oh hai!" ucap Dia yang nampak kebingungan.
"Boleh kenalan?" tanya Deryl.
"Boleh!" jawab Aca tersenyum menganggukkan kepala.
"Aku Deryl Hector, panggil aja Deryl, nama Kamu siapa?" tanya Deryl.
"Acasha Agape, panggil aja Aca," jawab Aca tersenyum menatapnya.
"Kamu kelas berapa? Kok aku gak pernah lihat Kamu ya di sini?" tanya Aca.
"Aku gak sekolah di sini, aku sekolah di SD sebelah," jawab Deryl tersenyum menatapnya dan menunjuk sekolahnya yang tepat berada di sampingnya.
"Oh... Dari SD 03," ucap Aca menganggukkan kepala.
"Iya, Kamu kelas berapa?" tanya Deryl menatapnya.
"Aku kelas lima, Kamu?" tanya Aca.
"Aku kelas empat," jawab Deryl.
"Berarti lebih tua aku sama Kamu," ucap Aca.
"Iya!" jawab Deryl tersenyum menganggukkan kepala.
"Ya udah, aku duluan ya!" ucap Aca.
"Iya!"
Aca pergi bersama Ica temannya, sedangkan Deryl senyam-senyum sendiri dibuatnya.
Bel pulang sekolah berbunyi, Aca yang baru ke luar dari sekolahnya, sudah dihampiri oleh Deryl yang sedari tadi menunggu di depan sekolah Aca.
"Aca," panggil Deryl mengangkat tangannya.
Aca yang mendengar pun langsung mencari asal suaranya.
Aca yang melihat Deryl, segera menghampirinya.
"Lu balik duluan aja! Gw ada urusan!" ucap Aca yang langsung berlari meninggalkan Classica.
"Yeh! Dasar! Dapat cowok aja gw ditinggal!" gerutu Ica.
Ica pun pulang terlebih dahulu meninggalkan Aca.
"Ada apa Deryl?" tanya Aca menghampirinya.
"Pulang bareng yuk!" ajak Deryl.
"Ayok!" jawab Aca tersenyum.
"Yes! Akhirnya! Dengan begitu, gw jadi tahu, di mana rumah Aca!" batin Deryl menatapnya.
"Kenapa?" tanya Aca menatapnya kebingungan.
"Gak apa-apa kok!" jawab Deryl tersenyum menggelengkan kepalanya.
Setelah beberapa langkah berjalan, Mereka tiba di rumah Aca.
"Mau mampir dulu gak?" tanya Aca menatapnya.
"Boleh," jawab Deryl tersenyum menganggukkan kepala.
Aca membuka pintu pagarnya dan mengajak Deryl untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Siapa Dia?" tanya Ayahnya.
"Dia teman aku," jawab Aca ketus.
"Ke kamar aku aja yuk!" ajak Aca menarik tangan Deryl.
Setibanya di kamar, Deryl menanyakan siapa Pria tadi.
"Tadi itu Ayahmu ya?" tanya Deryl.
"Iya, itu tadi Ayahku," jawab Aca menundukkan kepalanya.
"Kamu kelihatannya kayak gak akur gitu deh sama Ayah Kamu, ada masalah apa?"
"Gak apa-apa kok!" jawab Aca menggelengkan kepalanya.
"Hm... Ya sudah, kalau Kamu gak mau menceritakannya padaku tak apa."
"Iya!"
"Hm Aca, aku langsung balik ya, takut Ibu aku nyariin aku!" ucap Deryl tersenyum menatapnya.
"Oke!" jawab Aca mengantarkan Deryl ke depan.
Baru saja Deryl pergi dari rumahnya, Ayahnya menghampirinya.
"Aca, ikut Papa!" pinta Ayahnya yang langsung menarik tangan Aca.
Aca berusaha melepaskan diri, namun tidak bisa.
Alva membawa Aca ke sebuah hotel mewah.
"Papa mau apa?" tanya Aca panik.
"Udah diam saja! Nanti Kamu juga akan tahu dengan sendirinya kok!" jawab Ayahnya.
Alva mengajak Aca ke salah satu kamar hotel dan bertemu dengan seorang Pria paruh baya.
"Aca, Kamu tunggu di sini sebentar, Papa mau ngomong sama Om ya!" ucap Ayahnya tersenyum mengelus pundak Aca.
"Enggak Pah! Aca gak mau di sini Pah!" jawab Aca menggelengkan kepalanya dan nampak ketakutan.
Alva dan Pria paruh baya itu ke luar dengan menutup pintunya, sedangkan Aca menunggu di dalam kamar hotel.
"Jadi itu Anak Kamu?" tanya Pria itu.
"Iya!" jawab Alva.
"Cantik juga! Oke! Baiklah! Sesuai dengan kesepakatan Kita diawal, jika hutang Kamu akan aku anggap lunas, tinggalkan Kami berdua dulu, nanti baru Kamu balik lagi untuk menjemputnya, oke!"
"Oke!"
Alva pergi meninggalkan Aca bersama dengan Pria paruh baya itu. Pria paruh baya itu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.
"Papa mana? Kenapa pintunya dikunci?" tanya Aca.
"Papa Kamu lagi ada urusan sebentar, Kamu main sama Om saja ya!" ucap Pria itu berusaha mendekatinya.
"Gak mau!" teriak Aca yang berusaha untuk terus melawannya, namun akhirnya tubuh kecilnya kalah, dan akhirnya Mereka pun bermain.
Beralih pada Alva, setelah meninggalkan anaknya begitu saja, Alva pergi ke suatu tempat untuk bertemu teman-temannya.
Ternyata Alva merupakan seorang pen ju di, dan Aca sebagai bayarannya, karena Alva sudah tidak bisa lagi untuk membayarnya.
Aca terpaksa bermain dengan Pria paruh baya itu dengan terus berusaha berteriak dan melawannya. Air matanya jatuh menetes, karena tidak bisa melakukan apapun.
Rupanya ini bukan pertama kalinya Alva melakukan hal itu padanya yang membuat Aca tadi menjawab pertanyaan Alva dengan ketus, karena Ia sangat membencinya.
Pria itu meninggalkan Aca begitu saja seorang diri di dalam kamarnya.
Pria itu menghubungi Alva untuk menjemput Aca, karena Ia sudah selesai bermain dengan Aca.
"Jemput Anak Lu tuh! Gw udah selesai mainnya sama Dia!" notifikasi WhatsApp dari Pria paruh baya itu.
"Oke!" jawab Ayah Aca.
Aca duduk termenung dan terus meneteskan air matanya mengenang nasib buruknya.
"Kenapa Papa se-tega itu padaku? Hingga berulangkali Ia menjadikan ku sebagai pelunasan hutang ju di-nya. Apa salahku sebenarnya? Aku sering sekali memberitahukan hal ini pada Mama, namun Mama selalu menganggap itu hanyalah sebuah lelucon semata, padahal itu nyata adanya ..."
"... Mama selalu membela Papa, dan bahkan Mama selalu menampar pipiku disaat aku mengatakan sesuatu hal yang buruk tentang Papa, padahal aku hanya ingin terbebas dari semua ini ..."
"... Aku berharap Mama bisa menghentikan Papa, namun kenyataannya, malah aku lagi yang salah, padahal aku di sini adalah korbannya, tetapi mengapa, seolah aku adalah pelakunya ..."
"... Mama selalu marah saat aku berani melawan Papa, padahal Papa dengan teganya menjadikanku sebagai pelunasan semua hutangnya ..."
"... Apakah seumur hidupku harus seperti ini Ya Allah, aku lelah! Aku juga ingin hidup bahagia dan tenang, sama seperti Anak-anak se-usia ku, namun mengapa, Engkau tidak mengizinkannya? Apa salahku, Ya Allah?" tanya Aca menangis tersedu-sedu memeluk dirinya sendiri.
Aca berulangkali menghapus air matanya, namun berulangkali juga air matanya menetes.
Aca menatap tubuhnya yang terlihat memperihatinkan setelah bermain dengan Pria paruh baya tadi.
Sekujur tubuhnya memerah. Aca harus menahan perih di sekujur tubuhnya, dan juga perih di dalam hati dan pikirannya.
Ayah yang katanya cinta pertama bagi seorang Anak Perempuan, malah justru menjadi perusak mental pertamanya.
Mental Aca hancur, karena perbuatan Ayahnya yang semena-mena pada dirinya itu.
"Mengapa aku harus diberikan Papa yang berbeda seperti itu? Alih-alih menjadi pelindungku, justru malah merusak mentalku," ucap Aca meneteskan air matanya dan memejamkan matanya.
Anda Mungkin Juga Suka





