
Pernikahan Piutang Berujung Cinta
Bab 3
Aca mengingat saat pertama kali dirinya menjadi jaminan pelunasan hutang ju di Bapaknya.
Kala itu, Aca baru pulang sekolah dengan seragam yang basah kuyup, karena hujan deras, disertai petir, dan angin kencang.
Pria yang duduk bersama Bapaknya nampak terkesima melihat tubuh Aca yang kala itu terlihat jelas lekukan pinggangnya.
Walaupun saat itu Aca masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, tapi bentuk tubuhnya berbeda dari Anak-anak se-usia dirinya.
Tingginya kala itu sudah 145 CM, dan berat 45 KG. Berat dan tinggi badan Aca sudah seperti Wanita Dewasa, padahal, kala itu usia-nya baru menginjak 11 tahun.
"Itu Anak Lu?" tanya Teman Ayah Aca, Kita sebut saja Bagas.
"Iya, gimana? Cantik kan?" tanya Ayah Aca.
"Hm cantik sih! Berapa emang umurnya? Lagi cosplay jadi anak SD ya? Kok pakai seragam SD?" tanya Bagas.
"Cosplay lagi! Bukan! Coba tebak! Berapa umurnya?"
"Kalau dilihat dari badannya sih, kayak Cewek usia 17 tahun deh!"
"Salah!"
"Terus berapa dong?"
"Umur Dia baru 11 tahun."
"Hah? 11 tahun? Gak salah?"
"Ya enggak lah! Kan Dia, Anak Gw! Yakali salah!"
"11 tahun berarti masih SD dong?"
"Ya Lu kagak liat rok-nya apa?"
"Liat sih! Tapi kayak gak masuk akal aja gitu! Masa anak 10 tahun bentuk badannya kayak gitu!"
"Dia suka ngemil, tapi gak suka nasi, makanya kayak gitu tuh badannya!"
"Balik ke topik, jadi kapan Lu melunasi hutang-hutang Lu hah?" tanya Bagas.
"Apa Lu suka sama Anak Gw?" ucap Alva yang malah balik bertanya pada Bagas.
"Gw nanya, kenapa Lu malah nanya balik?" tanya Bagas kesal.
"Pertanyaan gw adalah jawaban Lu!" jawab Alva tersenyum menatapnya.
"Maksud Lu gimana?" tanya Bagas yang terlihat kebingungan.
"Itu bayarannya! Masa masih gak ngerti juga sih, Lu?" tanya Alva yang nampak kesal.
"Jadi Lu mau menjadikan anak Lu sebagai pelunasan hutang, Lu?"
"Benar sekali! Sana! Mumpung Dia habis hujan-hujanan!"
"Wahh...! Gila banget, Lu! Masa Anak sendiri Lu korbankan sih? Tapi beneran gak nih? Kalau beneran ya gw mau-mau aja! Walaupun gw gak suka Bocah, tapi badan Dia kayak bukan bocah."
"Ya kalau Lu mau, sana! Ayok! gw antar Lu ke kamarnya!" ajak Alva yang mengarahkannya untuk mengikutinya.
Bagas pun mengikuti Alva untuk pergi ke kamar Aca.
"Aca, buka pintunya, Nak!" pinta Ayahnya mengetuk-ngetuk pintunya.
"Iya, Pah!" jawab Aca membukakan pintunya.
Aca sedari tadi sedang mencari baju gantinya, dan masih mengenakan seragam sekolahnya yang basah kuyup.
"Kenapa, Pah?" tanya Aca yang berdiri di hadapan Mereka.
Alva dan Bagas langsung masuk ke dalam kamar Aca dan mengunci pintunya.
"Ada apa, Pah?" tanya Aca yang perlahan mundur sedikit demi sedikit.
Alva memberikan isyarat pada Bagas dengan tersenyum miring mengernyitkan dahinya.
Aca mulai nampak ketakutan, hingga akhirnya Ia sampai di ujung ranjang dan terduduk di ranjang.
Alva langsung mengangkat kedua tangannya, hingga Aca berbaring, sedangkan Bagas membuka rok dan kancing baju Aca.
"Gw gak tega sama nih Anak!" ucap Bagas menggelengkan kepalanya dan nampak merasa bersalah.
"Papa mau apa?" tanya Aca yang pucat karena ketakutan.
"Jadi Lu gak mau mulai duluan nih?" tanya Alva menatapnya.
"Enggak! Gw gak tega! Kalau Lu tega, ya Lu aja! Gw gak mau mulai duluan!" jawab Bagas menggelengkan kepalanya.
Alva melepaskan tangan Aca dan membuka resleting celananya.
Aca yang tidak mengerti apapun, hanya terdiam melihatnya, terlebih yang berdiri di hadapannya itu Ayah Kandungnya sendiri.
"Ahh ...!" teriakan Aca terdengar sangat nyaring yang membuat Bagas memejamkan matanya.
Bagas nampaknya masih memiliki hati nurani, berbeda dengan Alva yang tega memakan Anaknya sendiri.
"Ahh ...!" lenguhan Alva menghiasi suasana kamar yang menegangkan.
Aca yang merasa kesakitan, terus berusaha melepaskan diri, dan air matanya terus menetes, karena nasibnya di hujan kala itu.
"Sini Lu!" ajak Alva memanggil Bagas yang nampak tertekan, hingga tubuhnya gemeteran.
Bagas duduk diatas meja belajar dan nampak tidak tega pada Aca.
Alva yang terus sengaja bermain di depan mata Bagas yang akhirnya Bagas terlena, walaupun sebenarnya hatinya juga merasa bersalah pada Aca.
Mengingat hal itu, badan Aca gemeteran, dan air matanya terus menetes.
"Jika benar Ayah adalah cinta pertama bagi Anak Perempuannya, namun mengapa tidak denganku? Bahkan Ayahku sendiri yang tega membuatku mengalami trauma Medusa terus-menerus ..."
"... Aku tidak tahu apa yang diinginkan oleh takdir padaku, hingga harus sedalam ini luka dan trauma yang harus aku terima. Aku dipaksa dewasa sebelum waktunya ..."
"... Disaat Anak-anak se-usia ku sedang bahagia-bahagianya bermain, justru aku malah sedang menangis sejadi-jadinya, hanya karena perbuatan Papa terhadapku ..."
"... Aku hanya bisa berharap, dan terus berharap, hingga akhirnya, Medusa pergi dengan sendirinya meninggalkan ku. Entah sampai kapan, aku harus hidup berdampingan dengan Medusa ..."
"... Tapi semoga saja, ada hal baik di depan sana, yang akan membuatku bisa mengatakan "inilah yang aku tunggu selama ini!" dan entah kapan," ucap Aca tertawa dengan air matanya yang menetes.
Aca terdiam sejenak dan menertawakan dirinya sendiri.
"Sekarang, siapa Pria yang mau menerimaku nantinya? Pasti nanti, Orang-orang bilang aku murahan, segala macamnya, padahal aku menjadi seperti ini, karena ulah Ayah Kandungku sendiri ..."
"... Deryl, aku berharap, suatu saat, Kamu akan datang untuk menyelamatkanku dari Ayah Kandung ku sendiri, atau semoga saja, takdir berpihak padaku, dengan menjauhkan ku dari Ayah Kandung ku sendiri ..."
"... Ya Allah, ini happy ending kan? Atau justru malah sad ending? Jika Medusa tetap bersamaku sampai aku tutup usia, aku lebih memilih mempercepat usiaku, daripada aku terus-menerus dihantui oleh rasa trauma ku ..."
"Ya Allah, aku mohon, akhiri penderitaan ku secepatnya, aku lelah! Aku lelah terus-menerus dihantui oleh bayang-bayang Medusa! AKU JUGA BERHAK BAHAGIA KAN?" tanya Aca tersenyum meneteskan air matanya.
Aca tersenyum dan menghapus airmata yang terus membanjiri pipinya itu.
Aca tiba-tiba menampar pipinya sendiri dan memukul-mukul tubuhnya sendiri.
"Ahh ...!" teriak Aca yang nampak kesal.
"Aku membenci diriku sendiri yang bahkan tidak bisa berbuat apapun untuk menolong diriku sendiri! Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa?" tanya Aca berteriak kencang dan langsung menunduk, memejamkan matanya.
Airmatanya kembali menetes walaupun dengan matanya yang terpejam.
"Ya Allah, tolong aku! Tolong selamatkan aku! Tolong hadirkan Pria yang bisa menyembuhkan segala luka dan traumaku terhadap Ayah Kandung ku sendiri! Aku tahu ini salah, tapi aku mohon, cabut nyawaku, atau cabut nyawa Ayah Kandung ku! Aku sudah tidak sanggup lagi hidup dengan semua ini!" ucap Aca menangis sesenggukan.
Anda Mungkin Juga Suka





