
Pernikahan Pengganti
Bab 2
Evelyn merasa seakan tubuhnya melayang. Langkahnya terasa ringan, tapi bukan karena kebahagiaan-melainkan karena pikirannya kosong. Di sisinya, Adrian berdiri tegak, wajahnya tanpa ekspresi, seolah pernikahan ini hanyalah sebuah transaksi bisnis yang harus diselesaikan.
Tangan mereka bersatu saat cincin pernikahan melingkar di jari manis Evelyn. Dingin. Sama seperti pria yang kini resmi menjadi suaminya.
Pendeta menyelesaikan upacara dengan suara yang nyaris terdengar jauh di telinganya. "Dengan ini, saya menyatakan kalian sebagai suami dan istri. Anda boleh mencium pengantin wanita."
Hening.
Seluruh gereja menunggu.
Evelyn menegang. Adrian tidak menunjukkan tanda-tanda akan mendekat, bahkan tidak ada sedikit pun kelembutan di wajahnya. Setelah beberapa detik yang terasa seperti seabad, pria itu mendekat dan mencondongkan tubuhnya.
Bukan kecupan penuh kasih.
Hanya sentuhan singkat di pipi.
Itu saja.
Tidak ada sorakan bahagia. Tidak ada tepuk tangan meriah seperti yang seharusnya ada di pernikahan. Yang ada hanyalah keheningan yang mengerikan, sebelum akhirnya satu per satu tamu berdiri dan meninggalkan gereja.
Evelyn menatap cincinnya. Benda itu terasa berat di jarinya, bukan karena ukurannya, tapi karena maknanya.
Ini bukan yang ia inginkan.
Saat mereka berjalan keluar, Adrian masih tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya menggenggam tangan Evelyn dengan erat, seakan menegaskan bahwa ia tidak akan lari dari tanggung jawabnya.
Namun, Evelyn tidak bisa menahan diri lagi.
Begitu mereka masuk ke dalam mobil limusin yang sudah menunggu di luar gereja, Evelyn menarik tangannya. "Berhenti berpura-pura."
Adrian menoleh, mata abu-abunya tajam, tetapi tetap tanpa emosi. "Pura-pura?"
Evelyn tertawa pahit. "Pura-pura menjadi suami yang peduli. Pura-pura menikahiku karena alasan baik." Ia menatap Adrian dengan kemarahan yang ia tahan sejak tadi. "Kenapa kau melakukan ini, Adrian? Kau membenciku. Kau bahkan hampir tidak pernah berbicara denganku sebelumnya."
Adrian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, seakan menimbang sesuatu.
Akhirnya, ia berkata dengan nada rendah, "Aku tidak ingin keluarga kita dipermalukan."
Evelyn mencengkeram gaun pengantinnya. "Itu saja?"
Adrian tidak menjawab.
Evelyn tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan jawaban yang lebih baik dari pria ini. Adrian selalu seperti ini-dingin, misterius, dan sulit ditebak. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam cara Adrian menatapnya yang membuat Evelyn merasa ada hal yang belum ia ketahui.
Sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang berhubungan dengan Nathan.
Pesta pernikahan mereka diadakan di ballroom hotel mewah milik keluarga Adrian. Namun, suasana di dalamnya terasa canggung dan aneh.
Semua tamu berusaha bersikap seolah tidak ada yang salah, tapi jelas sekali mereka semua masih memikirkan skandal yang baru saja terjadi.
"Selamat, Evelyn," suara lembut namun penuh sindiran terdengar di belakangnya.
Evelyn menoleh dan menemukan Lillian-mantan kekasih Adrian, berdiri dengan segelas sampanye di tangan. Wanita itu tersenyum, tetapi matanya penuh ejekan.
"Tak pernah kuduga, akhirnya kau menikah dengan Adrian." Lillian mengaduk sampanyenya perlahan. "Apa rasanya menikah dengan pria yang bahkan tidak pernah melihatmu sebagai pilihan?"
Darah Evelyn mendidih.
Adrian yang berdiri di sampingnya, hanya diam.
Tentu saja. Ia tidak akan membela Evelyn.
Dengan suara setenang mungkin, Evelyn tersenyum. "Kau benar. Aku tidak pernah mengira akan menikah dengannya." Ia mencondongkan tubuh sedikit, memastikan hanya Lillian yang bisa mendengar kalimat berikutnya. "Tapi tetap saja, sekarang akulah istrinya, bukan kau."
Wajah Lillian mengeras, tapi sebelum wanita itu sempat membalas, Adrian sudah menarik Evelyn menjauh.
"Kau tidak perlu membalas orang seperti dia," katanya dingin.
Evelyn mendengus. "Kau membiarkannya menghina istrimu di hari pernikahanmu sendiri."
Adrian menatapnya, ekspresinya tetap datar. "Pernikahan ini bukan karena cinta, Evelyn. Jangan bertingkah seolah kita pasangan yang sebenarnya."
Evelyn merasa dadanya sesak.
Bukan karena kata-kata Adrian, tapi karena ia tahu pria itu benar.
Pernikahan ini memang bukan karena cinta.
Tapi mengapa ada perasaan sakit yang mulai menjalar dalam hatinya?
Malam itu, di kamar hotel tempat mereka menginap sebagai pasangan pengantin baru, Evelyn duduk di tepi tempat tidur. Gaun pengantinnya sudah diganti dengan piyama sutra, tetapi ia tetap merasa tidak nyaman.
Adrian berdiri di depan jendela, punggungnya menghadap Evelyn.
"Hari ini melelahkan," kata pria itu tanpa menoleh.
Evelyn tertawa kecil. "Begitukah? Kupikir kau sudah terbiasa dengan drama seperti ini."
Adrian menoleh, matanya menatapnya dengan tajam. "Aku tidak menikmati ini, Evelyn."
Evelyn balas menatapnya. "Kau pikir aku menikmatinya?"
Keheningan mengisi ruangan.
Akhirnya, Adrian berjalan menuju sofa di sudut ruangan. "Aku akan tidur di sini. Kau bisa menggunakan tempat tidur."
Evelyn menatap tempat tidur king-size yang luas. Ada jarak di antara mereka, baik secara fisik maupun emosional.
"Terserah kau," katanya akhirnya.
Malam itu, Evelyn menatap langit-langit kamar, tidak bisa tidur.
Ia mencoba mengabaikan kenyataan bahwa pria yang tidur di sofa adalah suaminya.
Dan bahwa pernikahan ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.
Anda Mungkin Juga Suka





