
Pernikahan Pengganti
Bab 3
Pagi pertama sebagai nyonya Evelyn Blackwood terasa... dingin.
Saat ia terbangun, cahaya matahari keemasan sudah masuk melalui jendela besar kamar hotel. Selimut di sampingnya masih rapi. Tidak ada bekas tubuh Adrian di sana, dan saat Evelyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, pria itu sudah tidak ada.
Tentu saja.
Adrian tidak pernah menganggap pernikahan ini sebagai sesuatu yang berarti.
Dengan napas panjang, Evelyn duduk di tepi ranjang dan memijat pelipisnya. Semua kejadian kemarin masih terpatri jelas di benaknya-penghinaan di altar, Adrian yang tiba-tiba menawarkan diri, pesta pernikahan yang lebih terasa seperti sandiwara, dan kata-kata Adrian yang terus terngiang di kepalanya.
Pernikahan ini bukan karena cinta, Evelyn.
Seolah ia perlu diingatkan akan fakta itu.
Evelyn turun ke lobi hotel dengan mengenakan dress sederhana berwarna krem. Meski wajahnya tetap tenang, ia bisa merasakan tatapan para staf yang mengenalnya. Bisikan dan gosip pasti sudah menyebar dengan cepat.
"Selamat pagi, nyonya Blackwood," salah satu pegawai menyapanya dengan sopan.
Evelyn terdiam sejenak. Ia masih belum terbiasa dengan sebutan itu.
"Tuan Blackwood menunggu di restoran," lanjut pegawai itu.
Evelyn mengerutkan kening. Adrian?
Dengan perasaan bercampur aduk, Evelyn berjalan menuju restoran hotel. Dan di sanalah pria itu berada, duduk tegap di meja dekat jendela dengan secangkir kopi hitam di tangannya. Setelan abu-abu yang dikenakannya rapi tanpa cela, mencerminkan auranya yang selalu dingin dan berkelas.
Ketika Evelyn mendekat, Adrian menatapnya tanpa ekspresi. "Duduklah."
Evelyn menarik napas dalam dan duduk di hadapannya. Seorang pelayan segera datang membawa teh untuknya-tanpa perlu dipesan. Evelyn menatap cangkir itu dengan alis berkerut.
"Kau tahu aku minum teh di pagi hari?" tanyanya.
Adrian mengangkat bahu. "Kau sering memesannya saat makan malam keluarga."
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Evelyn merasa aneh. Apakah Adrian benar-benar memperhatikannya selama ini?
Ia menepis pikirannya dan meneguk tehnya sedikit. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya langsung.
Adrian meletakkan cangkirnya dan menatapnya dengan serius. "Kita perlu membicarakan beberapa hal mengenai pernikahan ini."
Evelyn mendesah. "Akhirnya. Aku juga ingin tahu rencanamu."
Adrian menyandarkan punggungnya di kursi. "Pernikahan ini hanya formalitas. Aku tidak akan mengganggumu, dan aku berharap kau juga tidak menggangguku. Kita hanya perlu bertahan selama beberapa waktu sampai semuanya stabil, lalu kita bisa membicarakan opsi lain."
Evelyn menatapnya, mencoba membaca makna tersembunyi di balik kata-katanya. "Opsi lain? Kau ingin bercerai?"
Adrian tidak menjawab langsung. Ia hanya mengaduk kopinya dengan tenang. "Kau ingin hidup seperti ini selamanya?"
Evelyn menghela napas. Tidak. Tentu saja tidak.
"Tapi setidaknya aku ingin tahu kenapa Nathan meninggalkanku."
Tangan Adrian yang memegang sendok berhenti sesaat, namun hanya sekejap. Dengan cepat ia kembali tenang. "Itu bukan urusanku."
Evelyn mengepalkan tangannya. "Dia adikmu."
Adrian menatapnya lama sebelum menjawab, "Dan sekarang aku suamimu."
Jantung Evelyn berdebar. Ada sesuatu dalam cara Adrian mengatakannya yang membuat tengkuknya meremang.
"Kau menyembunyikan sesuatu," desisnya.
Adrian tersenyum tipis, tapi senyumnya tanpa kehangatan. "Hati-hati, Evelyn. Tidak semua jawaban yang kau cari akan membuatmu bahagia."
Hari itu terasa panjang. Setelah meninggalkan hotel, Evelyn mengikuti Adrian menuju rumah baru mereka-sebuah mansion besar di pinggiran kota yang dikelilingi taman luas dan pagar tinggi. Begitu mereka memasuki bangunan itu, Evelyn menyadari sesuatu: rumah ini terasa kosong.
Bukan dalam arti furnitur atau kemewahan. Tidak. Setiap sudut rumah ini dipenuhi dengan dekorasi elegan dan barang-barang berkelas. Tapi tidak ada kehangatan. Tidak ada tanda bahwa tempat ini benar-benar dihuni.
"Kau tinggal di sini sendirian?" tanyanya saat mereka memasuki ruang utama.
Adrian membuka jasnya dan melemparkannya ke sofa. "Sebagian besar waktu, ya."
Evelyn mengamati sekeliling. Tidak ada satu pun foto keluarga atau benda pribadi yang memberi kesan bahwa ini adalah rumah seseorang. Semua terasa terlalu rapi, terlalu steril.
"Bagaimana dengan Nathan? Dia pernah tinggal di sini?" tanyanya hati-hati.
Adrian berhenti sejenak sebelum menjawab. "Nathan punya tempat sendiri."
Evelyn menggigit bibirnya. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tapi Adrian jelas tidak berniat membicarakannya.
"Kamar tidurmu ada di lantai atas," kata Adrian akhirnya, mengakhiri percakapan. "Kedua."
Evelyn mengernyit. "Kedua?"
"Aku tidak tidur di kamar yang sama denganmu, Evelyn."
Kata-katanya dingin dan jelas.
Evelyn mengangguk, pura-pura tidak peduli. "Bagus."
Adrian tidak menanggapi dan langsung berjalan ke ruang kerja, meninggalkannya sendirian di ruang tamu yang luas dan sunyi.
Malamnya, Evelyn berbaring di ranjang besar dengan pikirannya yang terus berputar.
Ada yang tidak beres.
Bukan hanya soal Nathan yang menghilang begitu saja di hari pernikahan mereka, tapi juga soal Adrian. Evelyn selalu mengira pria itu hanya sekadar dingin dan tidak peduli, tapi semakin lama ia berada di dekatnya, semakin jelas bahwa Adrian menyimpan sesuatu.
Dan yang lebih mengganggunya-mengapa Adrian bersikeras menikahinya?
Pikiran itu terus menghantuinya sampai ia hampir tertidur. Namun, tepat saat matanya mulai terpejam, suara lirih di luar jendela membuatnya tersentak.
Seseorang berbicara di luar.
Jantung Evelyn berdegup kencang. Dengan hati-hati, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati jendela. Cahaya bulan redup menerangi halaman belakang rumah, dan di sana, di dekat pagar, Evelyn melihat sosok Adrian.
Pria itu sedang berbicara di telepon, suaranya rendah dan nyaris tidak terdengar.
Evelyn menahan napas.
"Aku sudah melakukan bagianku," kata Adrian, suaranya tajam dan dingin.
Hening.
Evelyn tidak bisa mendengar jawaban dari orang di seberang.
Kemudian Adrian berbicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih rendah.
"Dia tidak boleh tahu yang sebenarnya."
Jantung Evelyn hampir berhenti.
Siapa yang dimaksud 'dia'? Apa yang tidak boleh aku ketahui?
Evelyn mundur dari jendela, napasnya memburu.
Ia sudah menduganya.
Adrian menyembunyikan sesuatu.
Dan apapun itu... Evelyn bersumpah akan mencari tahu.
Anda Mungkin Juga Suka





