
PERNIKAHAN PAKSA : Menikah Tanpa Cinta
Bab 2
Sarah mengangguk. "Tadi aku ingin mengunjunginya di ruang rias, tapi dia sedang tidak ada. Sepertinya dia ada di lantai atas."
Baskara berjalan memasuki lift, setelah di dalam ia menekan tombol lantai atas untuk menemui calon istrinya. Ia ingin bertemu bukan karena ingin melihat penampilan dari wanita yang akan ia nikahi nanti, melainkan untuk menawarkan sebuah kesepakatan.
Tapi kalau wanita itu tidak mau menerima, tanpa sungkan ia akan memaksa.
Di saat pintu lift sudah terbuka sempurna, ia keluar. Dengan pandangan serius ia menjelajahi seluruh sudut ruangan sepi itu. Sepertinya di sana hanya terlihat beberapa orang yang berlalu lalang.
Merasa tidak menemukan seorang wanita manapun, ia langsung bertanya kepada salah satu staff yang kebetulan ada di sebelahnya. Orang itu mengangguk kemudian mengacungkan jari telujuknya ke arah kanan sambil memberikan sedikit informasi.
Tanpa basa-basi lagi Baskara berjalan cepat menuju arah yang ditunjuk. Setelah mengikuti pengarahan, ternyata jalannya berakhir dengan sebuah pintu kayu besar yang sedikit terbuka. Perlahan Baskara membuka pintu. Dan saat matanya memandang lurus ke depan, ia menemukan seorang berbaju pengantin yang sedang menatap keluar jendela, sehingga ia hanya dapat melihat rupanya dari belakang.
"Kau ...." Ia mendekati wanita berambut hitam panjang itu. "Sedang apa?"
Orang yang dipanggil sedikit menoleh, lalu membalikkan badannya untuk menjawab. "Mencari angin. Ruang tata rias terlalu banyak orang."
Langkah Baskara akhirnya berhenti setelah tepat di hadapannya. Karena jarak pria itu sudah sangat dekat, Hanna mendongakan wajah untuk melihatnya. Tapi karena mendapat tatapan tajam dari yang punya mata, ia menunduk lagi karena takut. "kamu sendiri?"
"Apa kau calon istriku?" Tanyanya langsung, matanya masih menatap mata Hanna dengan tajam.
Ia menatap Baskara lagi, lalu mengangguk. "Apa kamu melihat gadis selain aku yang memakai gaun pernikahan?"
Basakara terdiam, tempat ini sudah di sewa untuk pernikahanya seorang dan sejak tadi dia hanya menemui Hanna yang memakai baju pengantin dengan warna senada dengan warna bajunya.
"Aku mau buat perjanjian."
Tiba-tiba saja sebuah suara yang Hanna kenal betul memanggil namanya, Ayahnya mencari keberadaan putrinya itu. Dan tanpa permisi Hanna pergi meninggalkan Baskara sendiri.
***
Hanna tampak gugup meski tangannya digandeng Ayahnya. Pasalnya semua mata yang berada di tempat itu menatapnya kini, hanya mata Baskara yang memalingkan pandangannya.
Hadi mengantar putri semata wayangnya ke depan altar, menghadap calon mempelai pria dan seorang Pastur yang telah menunggunya, upacara pernikahan mereka segera di mulai.
"Baskara Adiputra, bersediakah kau menerima Hanna Laveda Soemarno sebagai pendamping hidupmu dalam suka dan duka, sakit maupun sehat, miskin dan kaya, hingga kematian memisahkan kalian?" suara Pastur begitu jelas terdengar menanti jawaban Baskara.
Di bangku paling depan, Teno harap-harap cemas pada anaknya meski istrinya itu sejak tadi mengelus punggung tangannya untuk menenangkan. Teno tetap merasa gugup.
Baskara mengedarkan pandangannya, mencari Viona di bangku tamu. Tapi lelaki itu tidak juga menemukan kekasihnya. Ia sengaja mengulur waktu jika saja Viona datang dan Ia akan membuat ke hebohan terjadi, tak peduli jika reputasi keluarganya hancur.
Pastur itu mengulang pertanyaan yang ditunjukan untuk Baskara, beberapa tamu juga ikut menunggu, dengan enggan Baskara menjawab. "Aku bersedia."
Mendengar jawaban dari putra bungsunya membuat napas Teno lega, setidaknya anak itu tidak membuat hal konyol yang akan mencoreng namanya.
"Hanna Laveda Soemarno bersediakah kau menerima Baskara Adiputra sebagai pendamping hidupmu dalam suka dan duka, sakit maupun sehat, miskin dan kaya, hingga kematian memisahkan kalian?" pertanyaan berulang itu kini ditunjukan pada Hanna.
Gadis itu menatap ayahnya. Senyum sumringah itu tampak terpampang diwajahnya, Hanna membelasnya dengan senyum getir yang sebisa mungkin ditutupi dirinya.
"Aku bersedia." kalimat itu terlontar dari mulutnya.
Pastur mengangguk dan tersenyum kepada mereka. "Kalian boleh mencium pasangan kalian masing-masing."
rona merah sudah mendominasi wajah Hanna, mereka saling berhadapan dan bertatapan. Lalu Baskara membuka jaring putih yang menutupi wajah milik istrinya.
Melihat jarak mereka sudah semakin minim, Hanna langsung mendorong dada Baskara berharap bibir pria itu tidak berhasil mengenai bibir merahnya. Namun, seakan tau pergerakan Hanna, Baskara langsung menahan dorongan itu dan kembali mendekatkan jarak.
"Sudahlah, jangan buat ini jadi lama." Dengan nada dingin Baskara meraih tengkuknya agar bisa mendiamkan penggerakan sang istri.
Tapi kali ini Hanna melawan dengan menutup bibir dengan kedua tangan. Tampaknya ia masih bersikeras.
"Tidak! Tidak mau," tolaknya cepat.
Melihat kelakuan mereka berdua, pastur berserta semua tamu undangan langsung mengernyitkan alis. Tapi ada beberapa yang malah menonton dengan serius melihat siapa yang akan kalah dan menang.
Lalu, tanpa aba-aba Baskara langsung membuka paksa kedua tangan Hanna dan menarik wajahnya mendekat sampai akhirnya bibir mereka saling bertemu dengan keras.
Mereka berciuman. Pupus sudah keinginan Hanna untuk berciuman di hari pernikahan dengan lembut selayaknya pangeran dan putri kerajaan dongeng. Dan kecupan itu berlangsung lama, karena Baskara sempat memagutnya perlahan.
Hanna sesak napas sendiri. Wajahnya memerah, kedua matanya terpejam, dan jantung yang berdegup tak normal, sampai aliran darah di dalam tubuhnya terasa pecah berhamburan.
Setelah berhasil mendapatkan bibir merah Hanna, beberapa saat kemudian Baskara melepaskannya. Tapi bukannya disambut oleh tepuk tangan, para tamu malah menyempatkan diri untuk berteriak karena mendadak Hanna jatuh pingsan.
Dan yang lebih hebatnya lagi, Hanna terjatuh sambil meniban Baskara, dan secara otomatis membuat bibir mereka kembali bertemu.
"Sejak kapan ciuman di hari pernikahan menjadi dua kali?" tanya seorang tamu di belakang.
Sarah yang mendengar pertanyaan itu malah tersenyum dan melihat baskara yang sekarang sudah dibantu orang-orang kembali mendirikan Hanna yang pingsan.
***
Setelah pingsan selama beberapa saat, akhirnya disinilah ia berada. Duduk di kasur yang sudah tertabur bunga-bunga yang wanginya memenuhi ruangan.
Dengan pakaian pengantin yang lengkap, ia menutup wajahnya yang dipenuhi oleh air mata, membuat satu-satunya penghuni lain ruangan itu menjadi terganggu. Baskara yang dari tadi hanya menyandar di tembok akhirnya menghela napas berat dan berjalan mendekat.
"Apa kau tidak tau kalau tangisanmu itu berisik?" Desisnya yang sontak saja membuat tangisan Hanna semakin terisak. "Kau menangis seakan tidak pernah dicium orang lain."
"Itu memang pengalaman pertamaku." sahutnya jujur
"Sudahlah, itu hanya ciuman dan aku belum berbuat lebih padamu," tuturnya malas
Tangisan Hanna semakin menjadi, sepertinya ia semakin terpuruk dengan kalimat barusan. "Aku tidak akan bisa lagi menikah ...."
"Kau sudah menikah denganku!" Potongnya langsung. "Dan aku mau bicara padamu."
Suara bentakan Baskara membuatnya terdiam meski mata hitam Hanna tetap mengeluarkan air mata yang tak kunjung berhenti.
"Kau ...." Baskara menatap gadis itu dari kejauhan. Dengan tangan yang sudah terkepal erat, ia melangkahkan kakinya mendekati Hanna yang sudah terduduk di tepi ranjang.
Anda Mungkin Juga Suka





