
Pernikahan Paksa, Hari yang dikhianati
Bab 2
Setelah upacara selesai, Liora merasa dunia seakan terbalik. Hari yang seharusnya menjadi titik awal dari kebebasannya, justru terasa seperti malam terpanjang dalam hidupnya. Setiap detik yang berlalu membawa rasa cemas yang semakin dalam. Gaun pengantin yang semula indah kini terasa kaku dan berat, seolah mengikatnya pada kehidupan yang tidak dia inginkan. Ketika pesta dimulai, tawa dan musik menghiasi ruang ballroom yang megah, namun Liora hanya bisa berdiri di sudut ruangan, mencoba menahan air mata yang hampir tidak bisa dia tahan.
Arvid, suaminya yang sah, berbaur dengan para tamu. Wajahnya tampak ceria, tersenyum ramah kepada semua orang, namun Liora tahu bahwa senyuman itu bukanlah untuknya. Tidak ada tatapan penuh kasih yang biasa diterima oleh pasangan pengantin baru. Tidak ada sentuhan lembut, tidak ada isyarat perhatian-hanya sekadar formalitas.
Liora memaksa dirinya untuk tetap tenang. Sebuah permainan besar sedang dimulai, dan dia tidak bisa mundur begitu saja. Jika dia ingin mendapatkan kebebasannya, dia harus memainkan peranannya dengan cermat. Tapi, semakin dia mencoba untuk mengabaikan kenyataan, semakin jelas bahwa apa yang dia hadapi jauh lebih gelap dari yang dia bayangkan.
Saat dia melangkah menuju meja minuman, tak sengaja dia melihat Eveline, adiknya yang begitu manis, sedang duduk di meja dekat jendela. Eveline tampak memikat, mengenakan gaun biru yang menyentuh lantai dengan sempurna, rambutnya diikat dengan elegan. Di sampingnya, duduk Arvid, berbicara dengan suara rendah yang hanya bisa Liora dengar jika dia mendekat.
"Tentu saja, aku ingin kamu bahagia, Eveline," Arvid berkata dengan nada yang penuh perhatian, namun Liora bisa merasakan adanya sesuatu yang lebih. Ada keintiman dalam cara mereka berbicara, sesuatu yang lebih dari sekadar pertunangan formal. Liora bisa melihatnya jelas, meskipun dia berusaha untuk tidak mengakui kenyataan itu.
Eveline tersenyum, matanya bersinar dengan cahaya yang berbeda dari biasanya. "Aku hanya ingin semuanya berjalan lancar, Arvid. Aku tahu ini bukan situasi yang mudah, tapi aku percaya kita bisa melewatinya."
Liora mendengus perlahan, merasakan luka yang mengiris di hatinya. Mereka berbicara seolah-olah dia tidak ada di sana, seolah-olah dia hanyalah penonton dalam drama yang tak diinginkannya. Hatinya tercekik oleh perasaan sakit yang tak terungkapkan. Apa yang sedang terjadi di depan matanya adalah pengkhianatan yang lebih besar dari apa pun yang pernah dia bayangkan.
Dia mencoba untuk berjalan melewati meja itu tanpa menarik perhatian, namun tanpa sengaja kakinya tersandung pada karpet yang sedikit terangkat, membuat dirinya terhuyung. Arvid dan Eveline langsung menoleh, keduanya terkejut melihatnya. Namun, yang paling mencolok adalah tatapan Eveline yang tidak dapat disembunyikan-tatapan yang seolah berkata, "Kamu tahu apa yang terjadi."
Liora merasa panas menyebar ke wajahnya. Dia ingin berteriak, meluapkan segala amarah yang sudah lama terpendam, namun dia hanya bisa menatap mereka dengan mata penuh kebencian. "Apa yang kalian bicarakan?" Liora bertanya dengan suara rendah, namun tajam. Setiap kata keluar dari mulutnya seperti pisau yang mengiris.
Eveline tersenyum pahit, namun tidak ada kebahagiaan di matanya. "Tidak ada yang penting, Liora. Kami hanya berbicara tentang bagaimana mengatur semuanya dengan baik," jawabnya dengan suara yang penuh dengan nada yang sulit dipahami.
Liora merasa darahnya mendidih. "Mengatur semuanya?" Liora mengulang kata-kata itu dengan sarkastis. "Apa yang harus diatur? Atau... mungkin aku hanya bagian dari permainan kalian yang tidak berarti?" dia hampir tidak bisa menahan kata-kata itu.
Arvid tampak terkejut, namun hanya sejenak. "Liora, kita perlu bicara," katanya dengan suara lebih serius. "Tidak ada yang terjadi antara kami berdua. Eveline dan aku hanya..."
"Tunggu!" Liora memotong, suara itu lebih keras dari yang dia inginkan. "Aku tidak butuh penjelasan. Aku sudah cukup melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri." Tatapan tajamnya menyapu ke arah Eveline, yang tampaknya terperangah. "Kamu... kamu sudah lama tahu, kan?"
Eveline tidak menjawab. Wajahnya yang dulu selalu penuh kelembutan kini berubah menjadi datar, seolah-olah dia memilih untuk tidak mengungkapkan kebenaran yang terlalu menyakitkan. Liora bisa merasakan ketegangan di udara, namun dia tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja. Dia harus tahu segalanya.
"Apa yang sedang terjadi di antara kalian berdua?" tanya Liora, suaranya hampir seperti bisikan yang dipenuhi kebencian. "Berani kalian berbohong di hadapanku? Beraninya kalian..."
Arvid tampak cemas, namun Eveline justru berdiri dan berjalan mendekat, matanya yang lembut kini terpatri dengan sesuatu yang lebih keras. "Liora, aku tidak ingin membuatmu terluka," kata Eveline, suara yang begitu penuh penyesalan, meskipun dia tahu bahwa penyesalan itu tidak akan mengubah apa pun. "Aku tahu aku telah melukai kamu, tetapi aku tidak bisa menahan perasaanku."
Liora terpaku. Kata-kata itu, meski penuh dengan penyesalan, hanya membuat luka di hatinya semakin dalam. "Kalian... kalian saling mencintai, kan?" tanya Liora, suaranya hampir pecah.
Eveline menunduk, tidak bisa menatap Liora. Arvid menghela napas, tak tahu bagaimana menjelaskan situasi yang begitu sulit ini. Namun, keheningan itu sudah cukup bagi Liora untuk mengetahui jawabannya.
Dia merasa dunia seakan gelap. Semua yang dia lakukan, semua yang dia jalani, hanya untuk menjadi bagian dari permainan yang lebih besar dari dirinya. Dalam pernikahan ini, dia hanyalah sebuah alat-sebuah alat yang digunakan oleh keluarganya untuk menjaga status mereka, sebuah alat yang tidak pernah dimaksudkan untuk merasakan cinta atau kebahagiaan.
Liora mundur selangkah, perasaan hancur dalam dadanya semakin dalam. "Aku sudah cukup," katanya, suaranya serak. "Aku sudah cukup menjadi boneka. Kalian boleh berpura-pura, tapi aku tidak akan lagi diam."
Dia berbalik, berjalan menjauh dengan langkah yang cepat, tidak peduli lagi dengan pandangan Arvid dan Eveline yang membuntutinya. Liora tahu, dia tidak bisa lagi terjebak dalam ilusi ini. Permainan baru saja dimulai, dan dia akan membuat mereka membayar atas apa yang telah mereka lakukan.
Anda Mungkin Juga Suka





