Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Paksa, Hari yang dikhianati

Pernikahan Paksa, Hari yang dikhianati

Dunia Liora runtuh saat mengetahui pengkhianatan Arvid, tunangannya, dengan adiknya sendiri, Eveline. Meski dianggap pengacau oleh keluarga yang memuja Eveline, Liora tetap menikahi Arvid demi kebebasan dan misi balas dendam. Namun, pernikahan itu justru menjadi penjara emosional karena Arvid mengabaikannya demi Eveline. Terjebak dalam cinta tak terbalas dan rasa sakit, Liora kini harus memilih antara tenggelam dalam derita atau bangkit melawan balik.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah upacara selesai, Liora merasa dunia seakan terbalik. Hari yang seharusnya menjadi titik awal dari kebebasannya, justru terasa seperti malam terpanjang dalam hidupnya. Setiap detik yang berlalu membawa rasa cemas yang semakin dalam. Gaun pengantin yang semula indah kini terasa kaku dan berat, seolah mengikatnya pada kehidupan yang tidak dia inginkan. Ketika pesta dimulai, tawa dan musik menghiasi ruang ballroom yang megah, namun Liora hanya bisa berdiri di sudut ruangan, mencoba menahan air mata yang hampir tidak bisa dia tahan.

Arvid, suaminya yang sah, berbaur dengan para tamu. Wajahnya tampak ceria, tersenyum ramah kepada semua orang, namun Liora tahu bahwa senyuman itu bukanlah untuknya. Tidak ada tatapan penuh kasih yang biasa diterima oleh pasangan pengantin baru. Tidak ada sentuhan lembut, tidak ada isyarat perhatian-hanya sekadar formalitas.

Liora memaksa dirinya untuk tetap tenang. Sebuah permainan besar sedang dimulai, dan dia tidak bisa mundur begitu saja. Jika dia ingin mendapatkan kebebasannya, dia harus memainkan peranannya dengan cermat. Tapi, semakin dia mencoba untuk mengabaikan kenyataan, semakin jelas bahwa apa yang dia hadapi jauh lebih gelap dari yang dia bayangkan.

Saat dia melangkah menuju meja minuman, tak sengaja dia melihat Eveline, adiknya yang begitu manis, sedang duduk di meja dekat jendela. Eveline tampak memikat, mengenakan gaun biru yang menyentuh lantai dengan sempurna, rambutnya diikat dengan elegan. Di sampingnya, duduk Arvid, berbicara dengan suara rendah yang hanya bisa Liora dengar jika dia mendekat.

"Tentu saja, aku ingin kamu bahagia, Eveline," Arvid berkata dengan nada yang penuh perhatian, namun Liora bisa merasakan adanya sesuatu yang lebih. Ada keintiman dalam cara mereka berbicara, sesuatu yang lebih dari sekadar pertunangan formal. Liora bisa melihatnya jelas, meskipun dia berusaha untuk tidak mengakui kenyataan itu.

Eveline tersenyum, matanya bersinar dengan cahaya yang berbeda dari biasanya. "Aku hanya ingin semuanya berjalan lancar, Arvid. Aku tahu ini bukan situasi yang mudah, tapi aku percaya kita bisa melewatinya."

Liora mendengus perlahan, merasakan luka yang mengiris di hatinya. Mereka berbicara seolah-olah dia tidak ada di sana, seolah-olah dia hanyalah penonton dalam drama yang tak diinginkannya. Hatinya tercekik oleh perasaan sakit yang tak terungkapkan. Apa yang sedang terjadi di depan matanya adalah pengkhianatan yang lebih besar dari apa pun yang pernah dia bayangkan.

Dia mencoba untuk berjalan melewati meja itu tanpa menarik perhatian, namun tanpa sengaja kakinya tersandung pada karpet yang sedikit terangkat, membuat dirinya terhuyung. Arvid dan Eveline langsung menoleh, keduanya terkejut melihatnya. Namun, yang paling mencolok adalah tatapan Eveline yang tidak dapat disembunyikan-tatapan yang seolah berkata, "Kamu tahu apa yang terjadi."

Liora merasa panas menyebar ke wajahnya. Dia ingin berteriak, meluapkan segala amarah yang sudah lama terpendam, namun dia hanya bisa menatap mereka dengan mata penuh kebencian. "Apa yang kalian bicarakan?" Liora bertanya dengan suara rendah, namun tajam. Setiap kata keluar dari mulutnya seperti pisau yang mengiris.

Eveline tersenyum pahit, namun tidak ada kebahagiaan di matanya. "Tidak ada yang penting, Liora. Kami hanya berbicara tentang bagaimana mengatur semuanya dengan baik," jawabnya dengan suara yang penuh dengan nada yang sulit dipahami.

Liora merasa darahnya mendidih. "Mengatur semuanya?" Liora mengulang kata-kata itu dengan sarkastis. "Apa yang harus diatur? Atau... mungkin aku hanya bagian dari permainan kalian yang tidak berarti?" dia hampir tidak bisa menahan kata-kata itu.

Arvid tampak terkejut, namun hanya sejenak. "Liora, kita perlu bicara," katanya dengan suara lebih serius. "Tidak ada yang terjadi antara kami berdua. Eveline dan aku hanya..."

"Tunggu!" Liora memotong, suara itu lebih keras dari yang dia inginkan. "Aku tidak butuh penjelasan. Aku sudah cukup melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri." Tatapan tajamnya menyapu ke arah Eveline, yang tampaknya terperangah. "Kamu... kamu sudah lama tahu, kan?"

Eveline tidak menjawab. Wajahnya yang dulu selalu penuh kelembutan kini berubah menjadi datar, seolah-olah dia memilih untuk tidak mengungkapkan kebenaran yang terlalu menyakitkan. Liora bisa merasakan ketegangan di udara, namun dia tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja. Dia harus tahu segalanya.

"Apa yang sedang terjadi di antara kalian berdua?" tanya Liora, suaranya hampir seperti bisikan yang dipenuhi kebencian. "Berani kalian berbohong di hadapanku? Beraninya kalian..."

Arvid tampak cemas, namun Eveline justru berdiri dan berjalan mendekat, matanya yang lembut kini terpatri dengan sesuatu yang lebih keras. "Liora, aku tidak ingin membuatmu terluka," kata Eveline, suara yang begitu penuh penyesalan, meskipun dia tahu bahwa penyesalan itu tidak akan mengubah apa pun. "Aku tahu aku telah melukai kamu, tetapi aku tidak bisa menahan perasaanku."

Liora terpaku. Kata-kata itu, meski penuh dengan penyesalan, hanya membuat luka di hatinya semakin dalam. "Kalian... kalian saling mencintai, kan?" tanya Liora, suaranya hampir pecah.

Eveline menunduk, tidak bisa menatap Liora. Arvid menghela napas, tak tahu bagaimana menjelaskan situasi yang begitu sulit ini. Namun, keheningan itu sudah cukup bagi Liora untuk mengetahui jawabannya.

Dia merasa dunia seakan gelap. Semua yang dia lakukan, semua yang dia jalani, hanya untuk menjadi bagian dari permainan yang lebih besar dari dirinya. Dalam pernikahan ini, dia hanyalah sebuah alat-sebuah alat yang digunakan oleh keluarganya untuk menjaga status mereka, sebuah alat yang tidak pernah dimaksudkan untuk merasakan cinta atau kebahagiaan.

Liora mundur selangkah, perasaan hancur dalam dadanya semakin dalam. "Aku sudah cukup," katanya, suaranya serak. "Aku sudah cukup menjadi boneka. Kalian boleh berpura-pura, tapi aku tidak akan lagi diam."

Dia berbalik, berjalan menjauh dengan langkah yang cepat, tidak peduli lagi dengan pandangan Arvid dan Eveline yang membuntutinya. Liora tahu, dia tidak bisa lagi terjebak dalam ilusi ini. Permainan baru saja dimulai, dan dia akan membuat mereka membayar atas apa yang telah mereka lakukan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta hilang kembali pulang
9.4
Rachel memohon agar Nathan melepaskannya pergi bersama putri mereka, Key. Namun, Nathan yang diliputi amarah menolak keras karena tak ingin ditinggalkan lagi. Ia mengklaim Key tengah bahagia bersamanya dan melarang Rachel menemui anak itu. Meski terlihat kejam dengan menahan Rachel, Nathan sebenarnya melakukan ini karena rasa cinta yang mendalam. Ia tidak berniat menyakiti, melainkan hanya ingin memastikan Rachel dan Key tetap berada di sisinya selamanya.
Sampul Novel Derita Gadis Ternoda
8.2
Ana adalah gadis polos yang malang. Hidupnya hancur setelah menjadi korban pemerkosaan hingga hamil, yang membuatnya diusir sang ayah. Di Jakarta, ia bertemu Lukman yang baik hati, namun Ana justru mengalami penyiksaan kejam dari Juju, istri Lukman. Di tengah penderitaan dan benih cinta yang mulai dirasakan Lukman padanya, takdir membawa Ana bertemu kembali dengan sosok pria yang dulu menghancurkan kehormatannya. Akankah luka lama itu membelenggu hidupnya?
Sampul Novel Dimanja Suami Psikopat
8.8
Menikah dengan pria penderita sindrom XYY membuat hidupku penuh obsesi. Setelah dipaksa menikah melalui ancaman, suamiku yang miliarder memasang cip pelacak di tubuhku, namun ia juga sangat memanjakanku tanpa ragu menyingkirkan siapa pun yang menggangguku, termasuk keluarganya sendiri. Demi mendapatkan bayi yang sehat, ia bahkan mendanai teknologi medis khusus. Namun, saat kehamilanku terwujud, ibu mertuaku memfitnahku berselingkuh dan menyiksaku hingga sekarat tepat sebelum suamiku tiba.
Sampul Novel Dusta di Balik Janji
8.0
Lima tahun menikah, Kathleen hancur saat divonis kanker hati. Joshua, suaminya, justru berniat mendonorkan hati bagi wanita simpanannya yang telah memiliki anak. Menolak menyerah pada pengkhianatan, Kathleen bertekad merebut kembali hak donornya. Ia memutuskan pergi ke Jaxperton demi menjalani operasi dan meminta Joshua menjemputnya dalam tiga hari. Namun, kepergian Kathleen justru meninggalkan lubang keputusasaan mendalam bagi suaminya yang menyesal.
Sampul Novel Gemintang
8.8
Gemintang Farhana hancur saat Bachdim, cinta pertamanya, memutuskan hubungan secara sepihak. Demi mengobati luka, ia pindah kerja namun justru terpikat oleh Amar Dwirangga, atasan sekaligus seniornya. Meski perhatian Amar menyembuhkan hati Gemintang, takdir berkata lain. Hubungan indah mereka terbentur restu semesta yang memaksa keduanya berpisah. Kini, mereka terjebak dalam kerinduan mendalam tanpa bisa bersatu, menyisakan kenangan manis yang tak selamanya berujung bahagia.
Sampul Novel Hadiah Madu Untuk Suamiku
9.6
Indana Zulfa Hewatun menganggap poligami sebagai solusi agar ia bisa mengejar impian kuliah di luar negeri. Ia bahkan rela menjodohkan Jidan, suaminya, dengan seorang santriwati dari pesantren ayahnya. Namun, rencana itu terancam gagal saat Jidan mencurigai hubungan Inda dengan sang mantan kekasih. Akankah kepercayaan yang hancur membatalkan perjodohan ini? Sebuah kisah tentang perjuangan meraih cita-cita tanpa harus mengorbankan pernikahan.