
Pernikahan Kontrak Berakhir
Bab 2
Althea berjalan dengan langkah pelan, kaki-kakinya terasa lebih berat dari sebelumnya. Setiap langkah yang ia ambil mengingatkan pada kenyataan pahit yang baru saja dihadapi. Tidak ada kegembiraan dalam kebebasan yang seharusnya menjadi haknya, hanya kehampaan yang menyesakkan dada. Dalam kepalanya, bayang-bayang wajah Darius dan Cika terus mengganggu, seperti bayang-bayang yang tidak bisa dipadamkan meskipun ia berusaha keras.
Namun, langkahnya terhenti ketika suara langkah kaki mendekat, suara yang tak asing lagi. Darius.
Dia berdiri di ambang pintu, mengenakan jas hitam dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca. Ada kekosongan di matanya, sesuatu yang mungkin hanya bisa dipahami oleh Althea-sebuah ketidakhadiran yang menggelisahkan. Dia memandangnya dengan tatapan datar, tidak menunjukkan emosi apapun. Itu bukan Darius yang ia kenal dulu, yang biasanya selalu penuh kepercayaan diri, yang bisa mengguncang dunia dengan satu gerakan.
"Aku mendengar keputusanmu," kata Darius, suaranya datar dan penuh kebingungan. "Namun, aku ingin tahu, kenapa sekarang? Kenapa tidak lebih awal?"
Althea bisa merasakan tatapan Darius yang memintanya untuk memberikan penjelasan, namun perasaan itu bagaikan pisau yang kembali menancap di hatinya. Dia menahan napas, mencoba menemukan kata-kata yang tepat. "Karena aku tahu tentang Cika, Darius. Dan aku tidak bisa bertahan dalam pernikahan ini jika aku tahu ada orang lain di hatimu."
Darius tidak bereaksi seketika, seolah kata-kata itu tidak menghantamnya sebagaimana mestinya. Althea menatapnya tajam, melihat ekspresinya yang kosong. "Aku tidak tahu kenapa kamu merasa seperti itu," kata Darius akhirnya, suaranya terdengar lelah, seperti sebuah pengakuan yang sudah terlalu lama terpendam. "Tapi aku juga tidak bisa menahanmu jika kamu sudah memutuskan seperti itu."
Althea merasa sakit di dadanya. Ternyata, selama ini ia hanyalah tempat berteduh sementara bagi Darius, sebuah sosok yang mudah digantikan. Cika, wanita yang selama ini begitu dekat dengan Darius, ternyata sudah cukup untuk mengusir semua harapannya yang terlambat.
"Darius..." kata Althea, mencoba menahan air matanya yang sudah mulai menggenang. "Kenapa kamu tidak berusaha sedikit saja? Kenapa kamu tidak peduli?"
Darius terdiam, tatapannya semakin terdistorsi, seolah kebingungan yang dialaminya semakin mendalam. "Aku... tidak tahu lagi. Mungkin aku terlalu terbiasa dengan semuanya. Dengan kamu, dengan pernikahan ini, dengan cara hidup yang tidak perlu banyak pertanyaan."
Althea merasakan hatinya hancur lebih dalam lagi. Dia bukan apa-apa lebih dari sekadar kewajiban baginya. Pernikahan mereka bukanlah sesuatu yang dibangun di atas dasar cinta atau pengertian, hanya sesuatu yang terjadi begitu saja, seperti sebuah kewajiban yang dipenuhi tanpa ada usaha untuk menciptakan hubungan yang berarti. Itu semua hanya kebiasaan, rutinitas yang diikuti tanpa ada rasa sungguh-sungguh.
Dengan tangan yang gemetar, Althea berbalik, hendak pergi. Tidak ada lagi yang bisa ia katakan, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Semua keputusan sudah diambil, dan ia tidak akan kembali. Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, Darius berkata dengan suara yang lebih rendah, lebih penuh penyesalan, "Aku akan membiarkanmu pergi, Althea. Tapi ingatlah satu hal-aku tidak pernah benar-benar menginginkan semuanya berakhir seperti ini."
Tangan Althea terhenti di udara, dan untuk sejenak, dia merasa terombang-ambing di antara perasaan yang bertentangan. Ada rasa marah, ada rasa kecewa, namun ada juga sedikit penyesalan yang meresap dalam dirinya. Apakah ia bisa percaya kata-kata Darius? Ataukah semuanya hanya penghiburan kosong untuk menutupi kenyataan pahit yang lebih besar?
"Terakhir kali aku mengingatkanmu, Darius," jawab Althea dengan suara serak. "Aku bukan sekadar istri yang bisa kamu abaikan begitu saja."
Tanpa menunggu jawaban, Althea melangkah keluar dari ruangan itu. Ia tidak tahu apakah ini keputusan yang benar, namun hatinya yang terluka lebih memilih untuk pergi daripada tetap tinggal dan terus menderita dalam kebohongan. Di luar, angin sore yang sejuk menyapu wajahnya, membawa serta perasaan kosong yang sulit diungkapkan.
Namun, dalam langkahnya yang mantap, Althea tahu bahwa meskipun dirinya kehilangan banyak hal-termasuk pernikahannya yang tak pernah utuh-dia masih memiliki satu hal yang lebih berharga dari semuanya: kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Sebuah perjalanan yang penuh dengan ketidakpastian, namun jauh lebih baik daripada hidup dalam bayang-bayang kebohongan dan pengkhianatan.
Anda Mungkin Juga Suka





