
Pernikahan Kontrak Berakhir
Bab 3
Althea tidak tahu harus ke mana, namun langkahnya terasa seperti keputusan yang harus ia ambil. Dunia sekelilingnya tampak buram, tidak jelas, seolah menyesuaikan dengan perasaannya yang hancur. Setiap langkah yang ia ambil menambah beban di pundaknya, tetapi setidaknya ia tidak lagi terbelenggu dalam pernikahan yang penuh kebohongan dan pengkhianatan. Di luar sana, jauh dari ruang yang gelap dan penuh bayang-bayang Darius, Althea merasa ada sedikit ruang untuk bernapas.
Namun, hatinya masih dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Mengapa Darius begitu mudah melepaskannya? Mengapa ia begitu diam, bahkan ketika kenyataan mengarah padanya? Darius bukanlah tipe pria yang akan begitu saja membiarkan segalanya berlalu. Ada sesuatu yang tersembunyi, sesuatu yang lebih besar dari apa yang bisa dilihat oleh mata Althea. Tapi apa?
Pikirannya berlarian ke tempat yang tak terduga, ke wajah Cika yang menatapnya dengan mata penuh kemenangan, seolah dia telah merencanakan semuanya sejak awal. Apakah ini semua hanya bagian dari permainan mereka yang lebih besar? Apakah Cika dan Darius benar-benar memiliki rencana yang jauh lebih dalam daripada sekadar hubungan gelap mereka?
Tiba-tiba, ponsel di dalam tasnya bergetar, suara itu mengganggu lamunannya. Tanpa ragu, ia mengeluarkan ponselnya dan melihat nama yang muncul di layar. Darius.
Sebuah napas berat terlepas dari bibirnya. Tidak ada gunanya menghindari kenyataan. Dengan jari yang gemetar, Althea mengangkat telepon itu.
"Althea," suara Darius terdengar lebih berat kali ini, penuh dengan sesuatu yang tidak bisa Althea tafsirkan. "Kamu tidak bisa hanya pergi begitu saja."
Althea menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata tajam yang ingin ia lontarkan. "Aku sudah membuat keputusan, Darius. Ini sudah selesai."
"Aku tahu kamu marah," Darius melanjutkan, "Tapi kamu tidak tahu seluruh ceritanya."
Mata Althea terbuka lebar, seolah ada sesuatu yang mendalam dalam suara Darius. "Cerita apa lagi yang kamu sembunyikan dariku? Apa yang belum aku tahu?" tanyanya, suaranya mengandung kebingungan yang tak terelakkan.
Darius terdiam beberapa detik, dan ketika ia berbicara lagi, ada ketegangan yang sangat terasa. "Cika bukanlah apa yang kamu pikirkan. Dan aku-aku bukan seperti yang kamu anggap. Ada hal yang jauh lebih besar dari apa yang terlihat di permukaan."
Althea merasakan gelombang ketegangan yang melingkupi dirinya. Ia merasa bingung, dan ada bagian dari dirinya yang merasa terhimpit oleh rasa ingin tahu yang semakin kuat. Namun, hatinya juga penuh dengan perasaan marah dan kecewa yang begitu dalam. Mengapa Darius baru sekarang mengatakan hal ini? Mengapa tidak dari dulu?
"Apa yang kamu katakan tidak akan mengubah apapun, Darius. Ini sudah berakhir," jawab Althea dengan suara yang lebih tenang daripada yang ia rasakan di dalam hatinya.
"Kamu benar," kata Darius, suaranya kini lebih lembut, seperti sebuah pengakuan yang lama terpendam. "Aku tidak bisa memaksa kamu untuk tetap tinggal. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah menganggap enteng apa yang kita miliki. Meskipun itu hanya pernikahan kontrak."
Althea bisa merasakan sesuatu yang mengganjal di hati, sebuah perasaan yang sulit dijelaskan. Di satu sisi, ia ingin melanjutkan hidupnya tanpa beban dari masa lalu. Di sisi lain, perasaan terabaikan dan dipermainkan begitu mendalam, seolah-olah ia telah memberi segalanya dan menerima begitu sedikit kembali. Namun, di dalam kekosongan itu, ada sebuah pertanyaan yang terus berputar-apakah ia bisa percaya Darius sekarang, setelah semuanya yang telah terjadi?
"Aku... tidak tahu lagi, Darius. Aku sudah terlalu terluka," jawabnya akhirnya, suara serak, mengandung keputusasaan yang begitu terasa.
"Althea," Darius kembali bersuara, kali ini suaranya penuh dengan keputusasaan. "Aku tidak ingin kamu pergi tanpa mengetahui kebenarannya. Aku berjanji, setelah semuanya selesai, aku akan memberi tahu kamu semua yang kamu inginkan."
Althea menutup matanya, berpikir sejenak. Apa yang seharusnya ia lakukan? Ia sudah terlalu terluka, terlalu hancur untuk percaya pada kata-kata Darius yang kini terasa seperti bayangan kosong. Tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa sepenuhnya menutup pintu itu. Mungkin, hanya mungkin, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pengkhianatan ini. Sesuatu yang mungkin bisa mengubah segala pandangannya.
Dengan napas yang masih terasa sesak, Althea menghela napas panjang. "Aku akan memikirkan itu, Darius," jawabnya pelan. "Tapi aku perlu waktu untuk diriku sendiri sekarang."
Sebelum Darius bisa menjawab, Althea memutuskan panggilan itu. Ia menatap ponselnya sejenak, merasa terperangkap dalam perasaan yang tak terungkapkan. Di satu sisi, ia ingin melupakan semuanya dan pergi begitu saja. Namun, di sisi lain, ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang tidak bisa ia singkirkan begitu saja. Mungkin, kebenaran yang selama ini tersembunyi, yang ada di balik semua pengkhianatan ini, bisa memberi jawaban yang selama ini ia cari. Tapi untuk itu, ia harus menghadapi kenyataan pahit yang lebih besar lagi.
Dengan langkah mantap, Althea melangkah menuju ke arah yang tidak pasti, meninggalkan semua kebingungan, pengkhianatan, dan rasa sakit yang begitu mendalam.
Anda Mungkin Juga Suka





